Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Friday, August 02, 2013

"Saat Itu, Ibuku Menangis"

Buat kakakku Hermanto Junaidi ...
yang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat akan pergi sekalipun. Sulit membedakan apakah aku sedang pulang atau pergi--ketika semua risalah hidupku ditakdirkan untuk selalu pergi dan berjelajah, sehingga semua hal begitu asing dalam hidupku. Aku seperti sudah dipasrahkan menjadi anak panah bagi angin yang bergemuruh dari semua arah. Saat ini, aku tiba-tiba ingat semua hal tentang masa kecil, tentang Ibu, tentang (alm.) Ayah yang lamat-lamat kita gambar pada segumpalan benang bernama memori, saat aroma lebaran tiba-tiba menyeruak, yang kita bikin seru dengan tawa atau kebengalan kita masing-masing.....

Dari kamar kostku, di sebuah kota yang sangat kau pahami, aku duduk, berkemas; pikiranku berada di antara rumah, ibukota, pulang, pergi, negara orang, tanah kelahiran, rindu, cerita, Ibu--semua datang meringkusku tiba-tiba. Aku tidak bisa apa-apa selain menuliskannya saat ini, dan berharap engkau membacanya entah dengan cara apa. Pun aku yakin, Ibu sudah merasakannya, sebalum aku menuliskan catatan ini.

Saturday, July 27, 2013

Ambiguitas Perdamaian Sipil

PEKAN-PEKAN ini, jika Anda berkunjung ke Yogya, Anda akan menemukan suguhan menarik di ruang publik yang layak diperbincangkan lebih serius, yaitu spanduk-spanduk yang bertebaran di ruas-ruas jalan utama ataupun hanya selebaran-selebaran kecil yang disebarkan melalui kertas photo copy seadanya. 

Pesannya bernada sama: “Rakyat Yogya Menolak Premanisme‘ atau “Yogya tanpa Preman‘. Kalimat-kalimat tersebut antara lain: Sejuta Preman Mati, Rakyat Yogya Tidak Rugi, Anda Sopan Kami Hormat, Anda Preman Kami Sikat, dan khusus untuk pelajar, ada pesan begini: Ke Yogya belajarlah yang baik dan jadilah warga yang baik. Yogya Nyaman Tanpa Preman

Saturday, July 13, 2013

Mengkaji Perbedaan


Versi cetak dari tulisan ini ada di Suara Medeka

taken from www.suaramerdeka.com
Hari-hari ini, kehidupan kita sedang berada pada titik paling awas terhadap perbedaan. Perbedaan menjadi korpus sensitif yang banyak mempengaruhi perspektif kita dalam memahami konflik dan sekaligus strategi perdamaian di Indonesia. Artinya, terma perbedaan telah menjadi semacam lokus segala hiruk-pikuk tragedi kekerasan khususnya yang menyangkut tentang agama dan aliran kepercayaan, seperti dalam kasus Syiah di Sampang, Jawa Timur, misalnya.

Belajar dari kasus Syiah di Sampang, saya berhipotesis bahwa perbedaan telah menjadi lokus yang selalu didendangkan oleh logika mainstream anak bangsa dalam melihat konflik (atau potensi konflik) dan kekerasan di Indonesia.

Wednesday, June 19, 2013

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

Versi cetak tulisan ini ada di KOMPAS, 26 Mei 2013


Hasil jepretan kawan Fathulloh Muzammiel
By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments (IEP, 2013).

Di tengah eskalasi kekerasan yang terjadi dalam satu dekade lebih di Indonesia, saya melihat kita perlu semacam indeks perdamaian kota untuk melihat skala kekerasan dan sekaligus peringkat kota damai di Indonesia.

Sejauh ini, kita belum konsisten membuat indeks berdasarkan indikator dan metode penelitian terpercaya. Indeks seperti ini diharapkan menjadi parameter yang memaparkan kondisi riil skala perdamaian di tiap kota sehingga data seperti itu bisa menjadi otokritik bersama demi membangun perdamaian di republik ini. Kita bisa belajar pada Institute for Economics and Peace (IEP) yang tekun merilis hasil penelitian seputar isu perdamaian dan terorisme setiap tahun. Pada 24 April 2013, lembaga yang bermarkas di Sydney dan punya cabang di New York ini kembali merilis The UK Peace Index yang resmi disiarkan Steve Killelea selaku pendiri/direktur eksekutif.

Monday, June 03, 2013

Caring is Friend #1

Mulai saat ini, saya ingin rajin menuliskan beberapa komentar, catatan (baik personal [tapi nggak personal banget] ataupun kritikan dari teman-teman [dekat atau jauh]). Karena saya disadarkan oleh kata-kata ajaib itu. Saya menyebutnya sebagai kata-kata ajaib dalam pengalaman dan pemahaman personal saya.

Untuk seri Caring is Friend #1 saya ingin mencuplik komentar dari seorang teman.

Thursday, May 30, 2013

Kekerasan Pemekaran Daerah

taken from http://www.jurnas.com
ISU pemekaran wilayah kembali mencuat di Rupit, Musi Rawas, Sumatera Selatan. Kali ini kita dikejutkan dengan tindak kekerasan yang telah memakan korban nyawa. Seperti diberitakan sejumlah media massa, Selasa (30/4/2013), warga terus memblokade sebuah ruas jalan Lintas Sumatera di Kecamatan Rupit sebagai bentuk protes terhadap tewasnya empat warga dalam peristiwa yang terjadi satu hari sebelumnya terkait pemekaran Musirawas Utara (Muratara) yang berakhir ricuh.

Thursday, May 23, 2013

"Mainan" Pemekaran Wilayah

taken from http://www.suarakarya-online.com/
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi menilai, pemekaran wilayah yang terjadi hingga kini belum memuaskan bagi kesejahteraan rakyat. Bahkan dalam sebuah evaluasi yang dilakukan di internal kementrian, ia mengatakan, "Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pemerintah, 70 persen dari 205 Daerah Otonon Baru (DOB) telah gagal".

Di sini perlu dicermati hasil evaluasi dari pak Menteri. Untuk melihat secara proporsional tentang dampak pemekaran wilayah yang hingga hari ini terus didengungkan di beberapa daerah. Kesadaran untuk melihat secara kritis kasus ini adalah sebagai upaya untuk melihat sejauh mana efektifitas pemekaran daerah bagi kesejahteraan rakyat di daerah.