Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Monday, September 15, 2025

Membangun Ruang Diskursif

Di tengah proses mencermati dan belajar tentang perkembangan manusia dengan segala kompleksitasnya, saya semakin menyadari ruang diskursif sudah benar-benar sekarat di tengah masyarakat kita. Ruang yang sama maksud ini adalah suatu arena di mana gagasan, ide, wacana dan pengetahuan bisa dinegosiasikan, diperdebatkan dan sekaligus dihargai sebagai gagasan dari seorang manusia! Bagi saya ini esensial. Karena di "ruangan" ini manusia harus membuka topeng, menaruh semua status, dan mengesampingkan semua hierarki, sehingga yang muncul dan bertarung adalah semata-mata hanya ide, gagasan, argumentasi dan diskusi. Orang tidak boleh lagi mundur dan bersembunyi di balik statemen dan sikap yang ditunjukkan, karena di saat bersamaan argumentasi sebagai basis penting bagi reasoning harus dikedepankan dan diperdebatkan. 

[Gambar hanya pemanis. Saya comot dari media sosial yang liar]

Di mana ruangan dan arena yang bisa menjadi alternatif? Saya terus coba mencarinya, hingga akhirnya saya menemukan di mana saya bisa melakukannya secara langsung, yaitu ruang kelas di sebuah universitas!

Jika sebagian pembaca menakar ada ambisi yang berlebihan dari statemen ini, jawaban saya terletak pada abstraksi begini: Saya mendapati suatu kecenderungan semakin masifnya "polisi moral", "tekanan moral", "standar aturan", "hierarki standar dan selera," dan sebagai dalam kehidupan sosial kita. Dalam konteks bernegara, kita sedang mengalami pendisiplinan pikiran dan daya pikir sekaligus: Orang-orang mau demo harus sopan, mau mengkritik harus dengan solusi, dan sebagainya. Semua itu diproduksi oleh aparat negara, oleh mereka yang berkuasa, mereka yang punya power dan bahkan status quo dan sifatnya masif-sistematis, dan tentu saja menekan. Semua narasi itu menjadi tekanan besar yang mengerangkeng--bahkan pun untuk berpikir. 

Pembungkaman terhadap diskursus begini sangat berbahaya. Karena logika dan rasionalitas bisa jongkok dan payah dalam situasi demikian.

Tapi naifnya, beberapa pengalaman dan praktik media sosial--hanya karena bisa anonim, menjadi pendengung (influencer), dan sebagainya--menjadikan media sosial sebagai kendaraan untuk melampiaskan uneg-uneg yang sporadik dan chaos. Orang bisa bertindak apa saja, dengan tanpa kesadaran logis! Kemudian minta maaf sedemikian rupa setelah mendapat tekanan dan teguran, dan terutama ancaman hukuman. Ini juga berbahaya. Kita menjadi barbar. Tidak punya landasan logika dan kesadaran. Potensi hebat manusia seperti akal-pikir bisa punah kalau begini terus-menerus.

Untuk itu, mulai semester ini, secara tegas saya sampaikan ke teman-teman mahasiswa di depan kelas secara radikal: (1) kalian bebas bisa kuliah atau tidak, karena presensi tidak saya hitung. Saya hanya ingin belajar bersama dengan orang-orang yang ingin belajar dan berpikir; (2) kalian tidak perlu menghormati saya hanya karena saya dosen Anda. Tunjukkan stance, sikap, attitude, dan moral yang Anda pegang dan Anda yakini. Bahwa saya menghormati orang lain adalah sikap dan moral saya. Tapi, kalian harus punya reasoning dan argumentasi mampu memberikan rasionalisasi terhadap apa yang Anda tunjukkan dalam praktik hidup Anda (saya pastikan bahwa saya akan membuka diskusinya di kelas ini). Saya bisa di-WA kapan saya Anda mau, boleh pakai salam, selamat, hormat dll., saya tidak butuh dan tidak memperhatikan itu. Jadi semua hal terkait standa moral, kita diskusikan di kelas.

Belum selesai menyampaikan itu, seorang mahasiswa yang duduk paling depan di kelas tiba-tiba berdiri dan mengambil HP yang berdering dan sedang dicas, lalu mengobrol dengan suara orang di ujung jaringan sana. Tanpa pamit dan izin kepada saya sebagai dosen yang berdiri tepat hanya sekitar satu meter! Saya terdiam dan tersenyum senang. Karena saya mendapati contoh yang bagus terhadap apa yang saya sampaikan (tapi orang ini adalah sosok yang menarik dan kompleks, di pertemuan kedua semakin saya mendapatkan konfirmasinya). Setelah selesai teleponan, saya minta segera duduk.

Saya secara verbatim tidak ingat pasti obrolan dengan sosok mahasiswa yang satu ini. Tapi kira-kira begini....

"Mas, terima kasih kamu sudah menawarkan suatu praktik dan contoh menarik."

Dia diam dengan tatapan yang kosong.

"Saya mau bertanya, apakah  kamu sudah biasa melakukan hal begini. Di depan guru kamu biasa tidak memperhatikan atau bicara sendiri; di depan keluargamu yang sedang mengobrol suatu hal serius tapi kamu main HP atau ngerjain yang lain? Apakah begitu itu sudah menjadi kehidupanmu?"

Dia masih diam. Saya khawatir dia belum paham. Untuk itu, saya tegaskan lagi.

"Mas, kamu tidak salah melakukan itu. Saya tidak punya hak menyalahkan kamu. Santai ya. Saya dan mungkin teman-teman yang lain ingin mendengarkan kenapa kamu melakukan itu? Apakah itu sudah menjadi kebiasaan atau gimana?"

Dia akhirnya membuka suara, "Maaf, Pak, saya salah."

Saya langsung bilang ke depan kelas secara umum. "Bukan itu jawaban yang saya harapkan. Yang saya harapkan adalah kalian dengan kokoh bisa memberikan alasan, berargumentasi dan mempertahankan sikap yang kalian ambil dan lakukan, jika itu adalah ekspresi dan praktik yang berdasarkan pada kesadaranmu, atau dari basis habitus yang kalian lakukan. Saya dengan senang hati akan mendengarnya, standar mana dan ukuran apa yang kalian gunakan."

Mungkin karena ini kelas angkatan 2025, mahasiswa semester satu, diskusinya masih sepi. Tapi saya, karena memilih ingin membangun ruang diskursif, ingin terus menstimulasi bagaimana mereka mendapatkan pengetahun, seperti apa caranya, dan bagaimana aplikasinya.

Terima kasih, mahasiswaku semua. Saya belajar kepada kalian! Di kelas saya kita bangun ruang diskursif karena di luar sana kalian sudah dijinakkan oleh sedemikian rupa sistem, struktur dan institusi.

  


Monday, October 14, 2024

Kecelakaan Bersama Ef dan Mosada

Saya terbilang tidak pernah mengalami kecelakaan lalu lintas, selain hari ini, tepatnya pada 14 Oktober 2024, sekitar pukul 10:20 WIB. Saya tidak punya dokumen apa-apa, selain ingatan ini yang saya tuliskan ketika sudah sampai di tempat kerja. Laiknya para pemburu momentum, saya mestinya foto dulu, tapi itu tidak mungkin, karena saya sedang bersama dua anakku. Separuh hidupku seperti terhenti di tengah-tengah mereka.

Pagi itu, seperti biasa saya menemani dua anakku bangun, mandi, sarapan dan siap-siap bersekolah. Saya memang membiarkan mereka bangun pagi sesuai waktu biologisnya. Anak-anak kadang bangun pukul 07 atau bahkan pernah sampai pukul 08. Bagi saya, mereka masih butuh menikmati jam tidur, memaksimalkan mereka bermain juga. Urusan belajar, dalam hal ini terkait sekolah, bagi saya adalah sekunder. Tetapi belajar tentang hidup adalah yang utama. Belajar tidak harus di sekolah, karena di manapun adalah ruang pembelajaran--tinggal sepeka apa kita menghadapinya!

Pendidikan yang saya tekankan adalah pendidikan kehidupan; bagaimana mereka mengenal, mempelajari, berpikir dan menerima kehidupan sebagai hal-hal yang riil di depan mereka. Pada dasarnya, yang penting dalam hidup ini adalah kekuatan emosional, karena manusia hidup sebagai manusia, bukan robot. 

Setelah mandi pagi dan sarapan, saya bersiap-siap membawa Ef dan Mosada dengan motor, kendaraan andalan yang sering saya pakai karena lebih cepat, luwes dan tidak bingung soal parki jika butuh ke mana-mana untuk urusan kerja. Sekali dua kali pakai mobil, lebih-lebih karena kebutuhan.

Berangkat dari rumah, seperti biasa, kami bercerita tentang apa saja. Tak jarang juga masih mampir di tengah jalan—entah lihat sapi, orang kerja di sawah, pemulung, pengamen atau peristiwa apapun dalam kehidupan ini.

Ini bisa dibilang kecelakaan pertama saya dengan motor. Saya biasa melewati ring road di dekat kampus UAD dan putar balik di situ. Pagi itu, mungkin ini bisa jadi alasan: saya masih mengantuk. Maklum, saya baru bisa tidur jam 2-an karena harus memastikan si bungsu Mosada tidur. Jika dia belum tidur, saya tidak bisa memejamkan mata. Dan pagi sebelum jam 6 saya sudah harus bangun. Setelah salat Subuh, kadang lanjut tidur sampai jam 07 menemani mereka juga. Tapi pagi itu tidak. Karena saya masih WA-an dengan istri, ada beberapa hal yang harus dibereskan.

Ya, akhir-akhir ini saya memang banyak pikiran. Maklum akhir tahun, ada beberapa projek dan kerjaan harus beres. Selain itu, istri juga sedang merancang beberapa rencana yang juga menguras pikiran.

Saya tidak melamun, tentu saja. Tapi mungkin jangkauan mata agak terbatas. Tepat ketika putar balik, saya melewati tumpahan kalau bukan oli ya solar di atas aspal. Karena reflek, ada ketidakseimbangan antara rem dan tubuh kami. Prak, kami jatuh... dalam kondisi pelan tentu saja. Yang saya rangkul pertama adalah si bungsu Mosada, memastikan anak 3 tahun itu tidak terjadi apa-apa. Alhamdulilah aman. Hanya Ef sedikit lecet di lututnya karena dia pakai celana pendek. Saya sendiri mengalami urat terkilir di pergelangan tangan. Nyeri. Selebihnya aman.

Satu hal sebagai lesson-learned adalah tentang teriakan Mosada ketika mau dibantu diangkat oleh mbak-mbak yang menghampiri kami. Dia ketakutan—antara terkejut dan takut dengan orang asing. Yang saya khawatirkan adalah trauma. Saya tidak ingin--atau seminimal mungkin--anak saya mengalami trauma. Memang, itu manusiawi, tapi trauma bagi saya tidak baik, apalagi sampai phobia. No, nauzubillah.

Sekejap saya pastikan mereka berdua menepi.

Setelah motor berdiri dan saya mengembalikan mereka ke posisi, sebelum menyalakan motor, saya bilang ke mereka, “Ini namanya kecelakaan, Nak. Kalian sudah merasakannya. Tapi syukur tidak parah dan berbahaya. Maafkan Babah, ya,” sembari saya memeluk mereka.

Tulisan ini agar kelak menjadi pengingat bagi mereka tentang kehidupan kita begini, kelak. Pasti Ef atau Sada akan membaca catatan ini dan mengingat bahwa kita adalah manusia, juga rakyat kecil, yang merasakan panas dan asap bersama-sama.

Sunday, February 13, 2022

Eftalya Ruhum: Pempers kan Jadi Sampah!

Saya betul-betul berjuang untuk membuat Ef tidak memakai popok sebisa mungkin. Ini bukan soal membeli popok (bagian ini saya ceritakan di akhir), tetapi sebuah percobaan yang saya lakukan untuk anak pertama kami ini.

Sejak usia 15 bulan, latihan toilet saya lakukan dengan konsisten, tentu saja sebisa saya. Apa yang saya lakukan? Maksimal setiap dua jam, saya membawa Ef ke toilet dan memintanya untuk pipis (jika mau pipis tentu saja). Di tengah-tengah saya bekerja menulis, bab latihan toilet ini sudah menjadi prioritas yang harus selalu saya kerjakan. Dan ternyata manjur. Satu bulan lebih berlatih, Ef berhasil setiap mau pipis akhirnya minta dibawa ke tolilet, bahkan termasuk ketika tidur di tengah malam. Dirinya risih untuk ngompol di tempat tidur.

Ef nyaris tidak pernah ngompol sejak 16-28 bulan. Ngompol pun bisa dihitung dengan jari. Kami tentu saja sangat senang dengan perkembangan ini. Tetapi kebiasaan itu tidak berlanjut setelah Ef disapih. Ada pengalaman berbeda di luar kendali dan “kemampuan" kami. Gara-garanya: kami tidak bisa menyapih sendiri. Apalagi saya, mendengar tangis Ef sudah cukup membuat runtuh pikiran dan empati.

Akhirnya Ef dibawa ke rumah neneknya di Cilacap. Ya, Ef disapih di sana dengan cara dipisahkan langsung dari ibunya. Berhasil disapih tetapi sebagai ongkosnya adalah minum dot. Apalagi di waktu yang sama ada kakak sepupunya yang masih ngedot di usia 4 tahun. Klop, Ef punya role model dengan minum susu formula (bahkan bisa sampai dua botol besar sebelum tidur).

Kembali ke Jogja, saya menghadapi situasi yang cukup berat. Saya sangat bertekad Ef kembali ke semula: tidak ngompol di tempat tidur. Tapi coba bayangkan, seorang anak dua tahunan harus meminum susu dot berisi 240 ml dan rata-rata dua botol dot sebelum tidur. Saya hanya bertahan 3 malam mengajaknya ke kamar mandi untuk pipis setiap 2-3 jam. Tapi gagal, karena bahkan Ef ngompol baru sekitar 15 menit setelah tidur.

Jalan yang harus ditempuh adalah memakaikan popok. Tiap malam dari usia 28 bulan hingga tadi malam (12 Februari 2022), 6 hari sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-3. Entah kenapa, Ef datang ke kamar kerja saya dan meminta untuk tidur bareng saya. Tanpa minum susu lagi. Keesoan harinya saya ajak mengobrol Ef.

“Terima kasih, ya Nak, sudah tidak memakai popok lagi dan Ef tidak ngompol.”

“Kan Ef udah gede.” Ini kalimat yang terus diulang-ulang untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak bayi lagi. Misalkan ketika mau pakai baju, dia ingin memakainya sendiri; ketika ingin mandi, pun minta mandiri sendiri (meski sering main air) dengan mengatakan kalimat yang sama. Kalimat ini sebenarnya sugesti dari saya biar Ef makin suka makan, karena kalau doyan makan nanti akan cepat gede, cepat kuliah dan cepat ke mana-mana sendiri.

Selain “Ef udah gede”, saya menceritakan bagaimana popok menjadi sampah.

“Sampah kita dibuang ke mana, Nak?”

“Ke truk sampah.”

“Setelah dari truk sampah dibuang ke mana?”

“Nggak tahu,” timpal Ef. Saat begini saya bisa bercerita bawa sampah kita, termasuk popok Ef, dibuang di TPA Piyungan. Saya ceritakan bagaimana sampah orang se-Jogja dikumpulkan di sana. Saya dramatisir sampah seperti gunung yang bau busuk. Orang-orang yang tinggal di sekitarnya setiap hari mencium bau sampah.

“Apakah Ef mau mencium bau sampah setiap hari?”

“Tidaak hueeek.”

Saya memeluk Ef, lalu membisiki, “kalau begitu, kita harus mengurangi membuang sampah ya, Nak.”

Ef sepertinya tidak paham kalimat terkahir saya. Tidak apa-apa. Saya sudah biasa berdrama dengan Ef sedemikian rupa.  

Malam ini, pukul 20:21 Ef sudah sudah tidur. Normalnya jam tidurnya antara pukul 21 hingga 23 tiap malam. Ef tidur awal, sekitar pukul 19:00 tadi. Satu jam setelahnya saya bangunin Ef dan membisikkan untuk pipis di kamar mandi. Ternyata belum mau. Tepat pukul 20:10 saya goda dengan membisikkan kalimat, “Bentar tak pakein pampers lho kalau tidak pipis dulu.”

Ef buka meminta untuk dibawa ke kamar mandi sembari berkata di tengah sadar dan ketidaksadarannya:

“Pempers kan jadi sampah.”

Saya sangat terharu dan bersyukur Ef akan berubah! Bismillah.

Sunday, November 07, 2021

"Membuang Ibu"

Petang hari, kami bertiga biasa bermain dan bercengkrama. Sejak awal, saya dan istri memang sengaja memperhatikan dan menandai perubahan-perubahan Ef setelah tahu bahwa adiknya akan segera lahir. Kami menceritakan berulang-ulang tentang adiknya yang sedang dikandung di perut ibunya. Kami mengajak Ef untuk menyapa adiknya, atau membacakan salawat dan sebagainya. Satu di antara respon Ef adalah menolak dengan alasan adik sedang tidur di perut ibu dan tidak boleh diganggu.

Di awal-awal usia kandungan masih sekitar lima bulan, kondisi kehamilan istri belum terlihat, Ef menunjukkan ketidaksukaanya ketika ibunya bercerita ada adik di dalam perut. Masa-masa ini, di usia Ef yang menjelang 30 bulan, dia cenderung agresif seperti memukul dan menerjang perut ibunya. Ketidaksukaannya mulai terlihat sejak itu.

Respon lain yang paling kentara adalah sikap manja Ef yang tidak ketulungan. Apa-apa memaksa ibunya yang mengerjakan: menemani ke toilet, membikinkan susu dan sebagainya. Bagian ini, saya nyaris tidak bisa masuk dan bernegosiasi, meski kadang bisa menggantikan peran ibunya agar saya bisa menangani dan menemani Ef. Tapi itu porsinya sedikit. Saya minta istri harus lebih sabar menghadapi pengalaman unik begini.

Petang itu, ada satu kalimat yang membuat saya terperangah, diucapkan di sela-sela kami bermain. “Bah, ibu buang aja ya ke belakang!” Saya terhenyak, diam dan berpikir keras. Apa gerangan makna di balik kalimat itu? Saya memeluk Ef lebih erat dan mengobrolkan kenapa ibu mau diubang? Bukannya Ef sayang sama ibu, seperti sayang Babah kepada ibu dan Ef? Jawabnya masih ketus, “Ya, buang aja!

Dalam situasi demikian, saya memainkan kode mata dengan istri. Saya merasakan betul secara alamiah bagaimana anak pertama begitu susah menerima calon adiknya. Karena secara pengalaman banyak orang, ini momen di mana seorang kakak harus menghadapi kenyataan kasih sayang yang akan terbagi—tidak lagi bercurah kepada anak pertama, Eftalya Ruhum. Tetapi berkali-kali pula saya membisikkan kata sayang, cinta dan bahagia bersama-sama untuk mensugesti bahwa kami tetap seperti sedia kala.

Tetapi saya sangat senang Ef melontarkan ekspresi demikian. Saya menjadi tahu bagaimana rasa dan perasaan dia dalam situasi seperti ini. Dengan begitu kami harus lebih sadar dan awas menjelang kehadiran anak kedua kami, yang insya Allah laki-laki.

Doakan kami, handai tola dan seluruh semesta, atas keselamatan proses bersalin istri kami Desember nanti!


Tobratan, 08/11/2021: 12:34

Wednesday, September 15, 2021

Cerita untuk Eftalya Ruhum

(Nak, temukan tulisan ini saat kamu sudah bisa mencerna bacaan, pahami babahmu dari selaksa tulisan ini. Niscaya kamu akan paham lubang-lubang kecil di balik dada babahmu).

Betul bahwa "hayatımın en mutlu anıymış, bilmiyordum" (Ini adalah kenangan hidupku paling bahagia, meskipun aku tidak tahu, meminjam kalimat pembuka novel Orhan Pamuk, Museum Kepolosan), tetapi hari ini, tepatnya pagi ini, saya menjumpai kebahagian itu menemuku begitu polos, lewat mata dan mulut seorang bocah bernama Eftalya Ruhum, di usianya yang ke 2 tahun 7 bulan.

“Ibu guru, Ef datang…” suara anakku terdengar tergesa-gesa, antara diteriakkan atau bercakap begitu saja tepat ketika saya mengangkatnya dari motor, menaruhnya di pintu gerbang halaman sekolah. Dari pintu sekolah Penitipan Anak (TPA), daycare, muncul seorang guru. Saya bergemim, sepertinya Ef ingin menyapa gurunya bahwa dia sudah datang. [Ef sudah sekitar 5 kali diantar ke sekolah ini. Sebelum hari ini, saya pernah mengantarnya sendiri, tapi saya bawa balik lagi dan memanggil ibunya biar dia yang naruh ke sekolah itu. Saya belum bisa. Itu saja!]

Tapi pagi itu, semua begitu mudah!

Saya tercekat begitu hebat. Kikuk dan tidak bisa berkata banyak, selain memanggilnya sekali lagi, dan melambaikan tangan da-da-da-da. Air mata seorang ayah tiba-tiba merembes di sepanjang jalan saya kembali tergesa-gesa ke rumah untuk mengampu kuliah.

Ini peristiwa intrik kebudayaan yang luar biasa dalam diri saya. Sebagai orang yang relatif konservatif dalam soal mendidik anak dan keluarga—misalkan, anak kecil sebelum usia sekolah PAUD (4 tahunan) harus bersama dengan orang-orang terkasih di rumah, dan khususnya bertumbuh dalam didikan dan kebersamaan keluarga). Namun, zaman terus berkembang. Modernitas dan segala anak cucunya lahir tumpah ruah mengubah pola pikir, pendekatan dan cara hidup manusia. Working family menjadi satu di antara produk-produknya yang paling ganas menantang.

Saya dan istri sama-sama bekerja di luar rumah, menjadi working family (tapi pandemi menyelamatkan saya dari katakutan demi ketakutan, nanti saya punya bahasan khusus soal ini). Jam kerja istri lebih ketat. Saya membebaskannya tentu saja, asalkan tanggung jawab berkeluarga sama-sama dihidmati. Dalam situasi begitu, ketika sama-sama siap merencanakan untuk punya anak, tak ada cara lain selain menitipkan anak saya ke day care. Tapi saya orang yang paling susah memasrahkan anak kepada orang lain, begitu saja.

Ef sudah direncanakan untuk dititipkan di usianya yang masih 8 bulan. Saya gamang, tapi istri saya menguatkannya. Saya tidak bisa mengiyakan. Saya masih mencari cara lain yang memungkinkan bahwa anak saya ada di rumah, bersama keluarga. Dan alhamdulilah, neneknya bisa menemaninya meski tidak selalu datang ke Jogja, tetapi beliau bisa datang jika kami mau. Lagi-lagi, istri saya yang menguatkan agar mama pulang kampung dan kami tangani sendiri anak pertama ini.

Di usia 8 bulan itu, saya pernah mengantar Ef ke salah satu penitipan. Usia segitu Ef hanya bisa melafalkan kosa kata “nenen, babah, mama” dan sedikit lainnya. Saya ingat pagi itu harus segera ke kampus ada pekerjaan wajib. Saya menitipkannya dalam kondisi tidur sekitar pukul 07:00 WIB. Ketika saya tidurkan di kasur, matanya terbuka dan memanggil nama saya. Saya nyaris tidak bisa bergerak dan ingin berada di sisinya untuk menemaninya. Tapi saya harus melangkah, dan sisa tangis di belakang saya seperti diksi yang berkeliaran sepanjang saya di perjalanan menuju kampus.

Mungkin saya teramat sentimentil? Betul sekali.

Mungkin juga tidak semua ayah begitu? Saya tidak tahu. Saya hanya ingin belajar menjadi ayah secara baik, dan saya mulai itu sejak istri hamil dan melahirkan. Selain karena saya ditingggal ayah di usia sebelum bersekolah SD, kesadaran saya menjadi ayah adalah tanggung jawab bahwa saya dan istri sudah dititipi tanggung jawab oleh Allah berupa seorang anak. Dan doa saya hanya satu: semoga anak-anak saya bermanfaat bagi semua, dan tidak membuat kerusakan!

[Kepada bumi, yang kamu pinjam dari anak cucumu, jagalah; kepada kekayaan, yang dititipkan kepadamu, jagalah dan amanahlah; kepada agama, yang menjadi basis kesadaran bagi tindakan kehidupanmu, mengabdilah; kepada masyarakat, yang telah membesarkanmu menjadi manusia, berbaktilah; kepada keluargamu, yang telah membersamaimu hingga besar kelak, hargailah…]

Awal tahun 2019, saat pandemi mulai digubris di Indonesia, mama kami minta kembali ke kampung dan Ef sepenuhnya bersama saya. Karena istri hanya libur sekitar tak sampai 2 bulan setelah itu harus datang dengan sistem piket, lalu masuk setengah hari. Terhitung sejak Mei 2019 sampai akhir tahun, saya benar-benar sehari-hari bersama Ef; melihatnya berkembang, belajar berjalan langkah demi Langkah, belajar bicara kata demi kata hingga akhirnya fasih. Di usia ke-16 bulan, Ef sudah tidak memakai popok karena latihan toilet alhamdulilah berhasil. Saya bersyukur, setidaknya saya memperlambat sirkulasi sampah!

Sepanjang tahun 2019 adalah masa-masa paling intens saya bermain dengan Ef, mempelajari setiap inci perubahan dan perkembangannya. Dari sini saya belajar keajaiban demi keajaiban, kehebatan demi kehabatan, dan anugerah demi anugerah tentang bocah kecil. Darinya, sisi-sisi yang tak tertulis dalam rumus dan teori saya nikmati dengan setulus dan sepolos hati.

Satu sisi, pandemi memberikan hikmah bagi saya untuk mengerti arti rumah, makna kebersamaan bersama Ef dan istri, dan pandangan-dunia tentang unit sosial terkecil beranama keluarga.

Tahun 2020, mama kembali menemani Ef secara lebih intens, dan sekaligus beliau semakin keberatan jika Ef dititipkan sebelum usia 2 tahun. Akhirnya, meski tidak saya sampaikan ke istri, saya sangat lega karena Ef akan tumbuh bersama kami di rumah. Tahun pandemi 2020 membuat hidup saya tetap lebih banyak di rumah, mengisi kuliah dan sebagainya, sementara istri tetap pergi ke kantor untuk tugas setengah hari.

Setelah libur musim kemarau menjelang selesai tahun 2021, kami kembali membicarakan rencana sekolah Ef. Kali ini saya lebih lega karena Ef sudah cukup paham dan secara usia sudah makin gede, meski sebenarnya saya tetap tidak selugas ibunya untuk menitipkannya ke sekolah. Rentang Agustus-September 2021, saya sering mengantarkan Ef ke ibunya, lalu bersama ibunya, Ef diantar ke sekolah. Karena, sekali lagi, saya tidak cukup kuat melihat Ef meminta pulang, mengajak main, jalan-jalan dan memancing dan sebagainya.

Akhirnya, hari ini, setelah dilatih pelan-pelan agar mulai bersekolah (Ef sudah coba bersekolah di lima daycare!), Ef tampak menyukainya, menceritakan teman-temannya di sekolah.

Dan ketika kalimat itu, “Ibu guru, Ef datang…”, keluar dari mulutnya, saya sangat senang dan terharu sekaligus.

Tobratan, 15 September 2021

Thursday, April 18, 2019

Tiga Hari Menjelang 17 April 2019

Saya pulang ke kampung halaman pada tanggal 12 April malam dengan kereta jurusan Yogyakarta-Surabaya. Niat saya pulang adalah untuk akikah anak pertama, Eftalya Ruhum, bertemu dengan kawan yang tengah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di provinsi Jawa Timur, dan—ini yang terpenting—bertemu dengan keluarga dan sanak saudara di kampung.
[Jalan di kampungku ketika musim hujan]
Kedatangan saya tepat menjelang akhir musim hujan, tetapi hujan terus mengguyur kampung. Bisa dipastikan, jalan-jalan yang tak beraspal—berapal pun tapi cepat rusak karena proyek yang berorientasi menghabiskan uang belaka—berhambur lumbur di mana-mana. Saya sebenarnya menikmati kondisi seperti itu sebagai cara  untuk menampar saya bahwa saya bagian kondisi seperti itu. Ya, di saat seperti itu, perubahan alamat KTP dari Sumenep ke Jogja menjadi lebih terasa: apakah saya lari dari keserbarumitan itu menuju kenyamanan? Tidak, tentu saja. Setiap ada kesempatan untuk membangun kampung adalah anugerah bagi saya. Tapi tugas kerja di Jogja harus saya jalani, dan semoga panjang umur, saya ingin mengabdikan kehidupan saya di daerah, suatu kelak!

Saya datang ke sanak saudara dan tetangga untuk mengundang mereka selametan dan syukuran akikah. Satu per satu. Sekali-kali terlibat dalam obrolan terbaru soal Pilpres (Jokowi atau Prabowo). Di tanah kelahiran saya sendiri kampung Tanggulun, narasi untuk kedua Capres masih imbang. Khusus untuk mereka yang punya preferensi ke Prabowo mengatakan hal berikut ini:

- Jokowi berdoa saja belepotan (la-sala / ga’-gala’ga’);
- Jokowi berasal dari keluarga Kristen dan Komunis (ini isu lama sejak 2014);
- Pro-Kristen, seperti membiarkan Ahok tidak segera dipenjara;
- Harga punya petani dibeli murah, harga dari pasar dijual mahal;

Empat narasi di atas merata di antara sanak saudara dan tetangga saya. Mereka mempunyai bahasa beda tetapi intinya bisa dikategorikan ke dalam empat pesan di atas.

Selanjutnya, saya juga coba menanyakan kenapa mereka mau mendukung Prabowo? Alasan mereka tak banyak:

Didukung oleh para ulama (ada ijtima’)’

Jawaban di atas sangat dominan. Mereka menyatakan diri “bermakmum kepada ulama”, karena demi menghentikan “misi” Jokowi yang mereka dapatkan di atas. Di selatan rumah saya, di daerah Daleman, menurut cerita keluarga saya, ada seorang yang tengah memakai kaos bergambarkan Jokowi diminta dilepas paksa di sebuah acara di tempat publik. Ada pula persaksian—ini dari teman saya dari desa sebelah—dua orang yang pro-Jokowi tidak disediakan minum kopi ketika acara tahlilan!

Bahkan, ada salah satu dari keluarga saya yang bercerita begini: Di pantai utara Madura (Laut Jawa), di kecamatan Ambunten, Sumenep, ada seorang kaya dan bisnisman membeli tanah pinggir pantai kepada salah satu masyarakat. Usut punya usut, ternyata yang membeli tanah dekat pantai tersebut adalah orang keturunan China. Di waktu kemudian tersebar kabar bahwa di tanah tersebut akan dibangun gereja. Akhirnya rakyat sekitar berang, kiai dan tokoh masyarakat di sekitar mereka menjadi motor penggerak untuk menolak yang kemudian dipakai untuk kampanye anti-Jokowi.

Kabar tentang akan dibangunnya gereja di tanah tentu saja menyebar dari mulut ke mulut. Tidak bisa dipastikan kebenarannya. Rakyat juga belum tahu bagaimana proses pembangunan tempat ibadah (!). Dan satu hal lagi, rakyat tidak paham peta “pencaplokan tanah-tanah di Madura” pasca-Suramadu. Mereka tidak mengerti juga bahwa sudah banyak tanah di sekitar pantai, khususnya di bagian selatan dari Bangkalan ke Sumenep sudah dikuasai oleh pemodal. Pengetahuan mereka belum sampai ke sana! Urusan peta bisnis properti dan patgulipat penguasaan lahan sama sekali mereka tidak tahu. Saya jelaskan sedikit soal ini, mereka tercengang!

Selanjutnya, saya pergi ke tanah kelahiran Ayah dan sekaligus tempat kuburannya, di desa Sana Tengah, Pasean, Kabupaten Pemekasan. Daerah ini termasuk yang paling terbelakang di Pamekasan. Pemekasan terkenal dengan pelayanan dan pengelolaan birokrasi paling bersih di Madura, tapi di kecematan ini bisa dibilang indeks manusianya termasuk yang cukup rendah ketimbang kecematan lain karena daerah ini berada di paling utara (pantai utara) Pamekasan.

Selesai mengaji ke makam Ayah, saya biasa mewajibkan diri untuk mampir setidaknya ke dua paman yang masih ada di desa tersebut. Di sini lebih ekstrim, lebih intens dan masif kepada Prabowo. Meski keluarga saya di sini minta pandangan saya, saya tetap tidak ingin mencampuri apa yang mereka ketahui. Satu hal saja saya hanya memastikan bahwa mereka tidak mempunyai narasi dan perspektif lain dari pro-Jokowi. Kenapa tidak ada? Karena di daerah ini sami’na wa atho’na-nya lebih kuat. Rata-rata mereka mondok di Batabata dan Banyu Anyar yang kiai-kiainya mendukung Prabowo. Dalam pengakuan paman, di desa mereka selalu ada pengajian yang diisi oleh kiai-kiai pro-Prabowo baik yang datang dari kota Pamekasan maupun mereka yang berasal dari sekitar Pasean. Di daerah ini, politisasi agama sangat kentara. Dibangun juga laskar-laskar yang khusus menjadi pembela Prabowo dalam pemilu, misalnya LPI (Laskar Pembela Islam) Madura. Sepupu saya menjadi bagian dari laskar ini dan diundang ke luar kota untuk ijazah dan kegiatan lainnya (sepupu saya ini paling getol dan percaya bahwa Prabowo menang, meski rilis resmi KPU belum keluar).

Akhirnya, narasinya nyaris tunggal. Yang pro-Jokowi, kata paman, tidak bisa bersuara lagi dan diam. Bahkan, kata paman dan bibi, di daerah Pasean sendiri ada satu rumah dibakar massa karena berani memasang spanduk bergambar Jokowi! Di pasar-pasar tradisional, kata bibi, menyebar rasanan dan ajakan untuk memilih Prabowo secara terbuka di antara para pedangang.

Setelah itu, seperti biasa saya coba mendengarkan apa alasan mereka memilih Prabowo:

- Kalau Jokowi menang akan ada pernikahan sesama jenis;
- Jokowi mengkriminalisasi ulama;
- Harga-harga sembako mahal dan punya petani dibeli murah;\
- Kalau Jokowi menang Indonesia akan di-Kristen-kan;
- Jokowi melarang rakyat untuk menyembelih sapi betina;

Lagi-lagi, saya menanyakan apa alasan saudara saya di daerah ini memilih Prabowo: mengikuti kiai! “Bramma’a pole, cong, areya la daddi se umum e dinna’. Keae la toron kabbi ka pangajian-pangajian (Gimana lagi, ini sudah menjadi hal umum di sini. Para kiai sudah turun gunung ke pengajian-pengajian).”

Mereka meminta pandangan saya. Saya jelaskan perkara yang saya tahu pasti, selebihnya saya berujar: ”Karena paman dan bibi bermakmum, yang berdosa adalah mereka!”

Saya kembali ke rumah yang jaraknya sekitar belasan kilometer di tengah gerimis yang terasa miris di kulitku. Masa kecilku bersama Ayah terbayang-bayang di belakang. Semoga Ayah tenang di sisi Allah. Amiin.

Monday, October 10, 2016

Kepada Adikku: Semakin Jauh, Hatiku Semakin Dekat

Selamat Ulang Tahun, Adikku Izza

Di kebun bareng adik-adikku...
Di tengah waktu terus mempersiapkan yang terbaik buat akhir studiku, rinduku kepada ibu, kamu dan keluarga sangat menggebu. Sesegera mungkin, ingin sangat aku ada di samping kalian, mendengarkan cerita dan pengalaman hidup selama ini kita berjauhan. Dan kamu sudah tumbuh dewasa, menjadi mahasiswi dengan beasiswa di salah satu Perguruan Tinggi terbaik. Semua ini adalah buah doa ibu, para guru dan perjuanganmu.

Aku menulis surat ini di tengah-tengah jeda di antara tumpukan buku untuk tesisku, di ruang perpustakaan kampusku. Perpustakaan, nama yang selalu akrab di antara kita, bukan? Di antara kakak kita dan saudara-saudara kita di rumah, perpus adalah warisan abadi. Karena keluarga kita tumbuh dari orang-orang yang suka membaca.

Adikku, aku tergerak harus menyelesaikan surat ini saat aku mendapatkan sebuah kabar tentang kejuaraan yang kamu menangi. Bukan soal kamu juara satu, dapat uang, lalu diucapkan selamat dan gempita di sekitarmu, atau apa-apa. Bukan. Senang, iya. Itu pasti dialami aku sebagai kakakmu. Tapi jauh ke depan, semua itu—kebahagiaan dan kesusahan di tengah perjalanan panjangmu ini—hanya ibarat penanda dan “catatan kaki” bagi lorong hidup yang kamu tempuh. Di situ, kamu harus diam, berefleksi, mengambil pelajaran dan bersyukur. Di tengah perjalananmu ada proses, ketekukan, kerja keras, istiqamah dan kesehajaan.

Adikku, tak ada batas untuk kreativitas. Allah memberikan kita akal, pikiran dan hati adalah agar kita berkarya buat agama, keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Kamu harus tetap semangat dan optimis. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum tegar, tumbuh jadi perempuan yang mempunyai prinsip dan memperjuangkan prinsipmu itu. Kamu mempunyai kemampuan, adikku. Kamu bebas mengembangkan keinginan dan cita-citamu untuk masa depanmu. Nikmati semua prosesmu dengan menyenangkan dan bersyukur kepada Allah. Karena semua itu adalah titipan dariNya.

Adikku, bekal ilmu dan pengetahuan yang kamu punya dari pesantren dan para kiai, jangalah sampai hilang. Kemampuan baca kitab kuning dan bahasa Arab tidak boleh luntur meski kamu belajar di jurusan umum. Seperti pernah aku bilang, kamu akan semakin hebat dan spesial di mata dosenmu dan teman-temanmu ketika kamu mampu menghadirkan referensi (bacaan) dari khazanah peradaban Islam klasik (bocoran: sangat-sangat sedikit dari dosen-doesenmu yang paham sumber-sumber dari kitab klasik). Sumber dan khazanah ilmu pengetahuan dari masa Nabi, masa-masa kejayaan Islam—khususnya yang sesuai dengan jurusanmu, tentang falsafah negara dan kewarganegaraan—sejak Abbasiyah hingga Ottoman ditambah kemampuanmu mengkomparasikan dengan sumber-sumber kontemporer berbahasa Inggris dari Barat akan membuatmu semakin kuat dan bukan “tong kosong”. Aku kakakmu ini yakin kamu akan lebih hebat dariku dan kakak-kakakmu yang lain. Terus asah dan kembangkan kemampuan dan bakatmu. Juga, harus dipegang: tetap tawadhu’.

Bagi orang macam kita, tumbuh dari keluarga pas-pasan dan miskin secara materi, tidak boleh merasa rendah diri. Kita diajarkan untuk tidak mundur atas prinsip dan kebenaran. Kita punya hati yang kaya, pikiran yang luas, keyakinan yang berlimpah dan kasih sayang yang tak terbatas. Kita tumbuh dari keluarga seperti itu, adikku. Insya Allah kamu akan memahaminya pelan-pelan.

Aku memang terbatas melihat perkembanganmu. Kamu kecil, aku di pesantren. Kamu remaja, aku di Jogja kuliah. Dan sampai kini aku semakin berjarak jauh dari keluarga. Aku pula yang memulai bagaimana cara memahami dan mengukur batas antar negara dan benua. Ternyata, semakin aku jauh, hatiku semakin dekat. Kalian di hati selamanya.

Adikku, tetap semangat, tersenyum selalu dan rendah hati ya. Kami menyayangimu, selalu...



Saturday, April 09, 2016

Tujuh Cerita di Taman Tulip

Pesona Tulip di Alladdin Tepesi, Konya
/1/
Kita tengah memburu aroma keindahan, handai
taman bunga yang tumbuh di tanah redam badai
kenangan lusuh dan kecemasan yang mengintai 
di pundak kita merayap, menyusun sunyi sendiri
tapi lupa aku bagaimana cara tersenyum, handai
di tengah pesona yang kau bawa dari seberang
di tengah aroma yang dipanjat dari tebing Toros
di tengah gelak tawa yang dititipkan di saku celana
para pengungsi
di tengah taman tulip...

/2/
Ke tengah-tengah taman kita datang dengan segala warna
masing-masing, dari lorong rahasia bernama masa lalu
ia yang disembunyikan selalu bercerita lebih jujur, bukan?
pengap sengketa dan kehendak-kehendak yang runtuh
menikmati buah takdir pada setiap ruas warna
hitam legam atau putih bercahaya, kuning atau merah
tetapi di langit, kenapa warna tak pernah berubah? 
Bisik seseorang yang sekali-kali menatap langit

/3/
Di mata seorang pemuda perang terus berkobar
kuncup tulip adalah selongsong peluru yang menembus
dada sanak saudaranya. Ia merapal doa dan sungging naas
pada wajahnya yang menatap tanah kelahiran di selatan
suriah, nama kenangan keindahan yang teramat getas
jadi taman air mata dan darah. Ia tidak pernah lupa
lambaian ayahnya mengiringi mereka pergi mengungsi

/4/
Di mata seorang kakek warna-warni tulip adalah sekantong doa
tersimpan di sudut jiwanya. Dia mamanjatkannya untuk langit
siapa tahu langit menampung warna pelangi dari lapisan tulip
anak-cucunya terbang menjadi bidadari dan tak pernah mendengar
cerita-cerita maha luka dan pekik tangis kepala dihantam timah
di langit tumbuh tulip yang akarnya dibasuh hujan pagi hari

/5/
Di mata seorang gadis aroma tulip adalah sisa kecupan pacarnya
parfum pada kerah bajunya selalu ia ingat sebagai riwayat terakhir
untuk sebuah pengkhianatan, sebelum ia diperkosa demi bukti cinta
demi lelaki bertubuh singa sebelum ia pergi menyisakan gempita
di celah celana dalamnya

/6/
Di mata lelaki tambun tulip adalah luka
setumpuk puja-puji demi menjaga kemegahan
di atas jerit tangis. “Jangan pernah tersenyum
di balik kecantikan bunga ini. Di tanah Anatolia
aku melihat ribuan rakyat kelaparan saat tulip
tumbuh dan ditanam di tubuh kami. Ini kebesaran
bagi orang-orang tuli dan buta!” Ia lalu menjauh
meninggalkanku

/7/
Di mataku, mata yang kupinjam dari keramaian,
tulip adalah maha pesona, privilege tanpa batas
menghimpitku dalam aroma nyeri yang tragis!


Turki, 2014-2015

Catatan:
The Tulip Period (Tulip Era) atau: Lâle Devri (July 1718-September 1730) adalah periode penting dalam sejarah Ottoman, di mana tulip menjadi simbol bagi kepongahan para pembesar Ottoman!


Wednesday, March 23, 2016

Di Balik Turkish Spirits

It's never too late to start over! Ya, kalimat ini yang terngiang di kepala waktu saya terpikir untuk star-up media berbasis online yang kelak kami kasi nama Turkish Spirits (TS). Sebenarnya saya tidak ingin ada huruf ‘s’ pada kata spirit, tapi karena ditolak Google oleh sebab sudah ada akun serupa, akhirnya dengan rela hati menerima nama Turkish Spirits dengan ‘s’.

Nama Turkish Spirit jelas penuh risiko, dan saya siap menjelaskannya. Misalnya, orang-orang yang detail tahu Turki dan jenis minuman khususnya, mendengar nama ini akan langsung mengarah kepada minuman arak tradisional khas Turki sendiri, yaitu rakı. Tagline rakı  memang Turkish spirit. Coba saja googling, entri pertama di google yang muncul dijamin rakı.

Tapi, bagi mereka yang jauh lebih detail tahu Turki—daripada sekedar menikmati hal-ihwal artifisalnya—saya yakin implikasi nama ini akan memuncratkan makna yang kompleks dan saya rasa semakin komprehensif. Karena Turkish Spirit sendiri adalah judul dari sebuah proyek besar novel yang tak selesai, dan naskah ini terus diperbincangkan hingga detik ini.

Nama Turkish Spirit saya ambil dari judul novel yang tak selesai tadi—penulisnya meninggal duluan sebelum merampungkannya. Novel itu ditulis oleh novelis besar Turki Oğuz Atay dengan judul Türkiye'nin Ruhu. Nah, berangkat dari ide dan proyek besar yang tak selesai itu, saya berpikir untuk sekedar memberikan warna—atau lebih tepatnya mengapresiasi judul itu—ke dalam media penerbitan website ini.

Di sela-sela lelah mengerjakan tesis, saya kemudian memulai situs ini yang awalnya dari blogspot, mengontak teman-teman dekat terlebih dadulu: Hari Pebriantok, Abdul Ghaffar dan Labib Syauqi (mereka semua pelajar dan juga alumni Turki). Lalu saya menghubungi Naelil Maghfiroh (Izmir) dan Durrotul Mas’udah (Kocaeli) untuk saya minta pandangan, masukan dan partisipasi mereka untuk media yang diniatkan untuk media penerbitan kolektif pelajar-pelajar Indonesia di Turki.

Seiring waktu, karena ternyata TS banyak diminati dan interaksi/korespondensi cukup padat, saya berpikir serius untuk membicarakan penerbitan online ini ke depan. Kemudian saya hubungi Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Naufal Ubaidillah (Izmir), Kaharuddin Ali (Konya), Didit Haryadi (Istanbul) dan Azahra Nurhabiba (Zonguldak) dan Hadza Min Fadhli R (Eskisehir).

Kenapa harus star-up TS? Secara umum, saya tergerak untuk mewujudkan TS ini karena alasan-alasan berikut:
  • Setelah mendapati banyak foto dan berita hoax tentang Turki baik yang dimuat di media sosial atau di media-media online;
  • Sebagai pelajar ilmu sosial, saya berpikir bahwa kepekaan observasi terhadap fenomena sosial secara umum, rangsangan untuk mencermati dan kemudian sampai pada proyeksi penelitian adalah jalan tunggal ilmuwan sosial. Jadi awalnya saya ingin menyediakan wadah bersama berupa penerbitan online di mana teman-teman pelajar dari jurusan ilmu-ilmu sosial (khususnya dari S1) bisa menulis asyik dengan topik khas dan unik (hasil observasi mereka). Apalagi Turki adalah laboratorium yang superkaya, khususnya bagi pelajar yang mendalami isu konflik dan kekerasan;
  • Melihat banyak karya tulis berbasis blog dari pelajar-pelajar Indonesia di Turki yang bermanfaat dan perlu disatukan yang nanti diharapkan menjadi pusat dokumentasi dan informasi sekaligus tentang Turki;
  • Sebagai proyeksi media bagi para pelajar yang akan menerjemahkan karya Turki ke Indonesia atau sebaliknya.
Tagline TS
“Melenturkan yang kaku, menghadirkan Turki lebih seru.”

Apa Tujuan TS
Karena yang dikenal Indonesia tentang Turki sejauh ini rata-rata isu seputar ‘politik, agama, kekerasab/konflik dan baru-baru mulai hadir film/drama’, TS ingin melengkapi dan menghadirkan Turki lebih lengkap: mengkaver hal-hal yang unik, seru, out of the box dan tentu bermanfaat. Tentu anti hoax! Jadi, distorsi tentang Turki harus menjadi perhatian kita. Nah, TS ada di ranah itu. 

Secara gamblang, TS ingin:  
  • Menampung karya tulis para pelajar Indonesia di Turki;
  • Berbagi informasi/berita hal-ihwal Turki (budaya, studi, ekonomi) dengan menerjemahkan portal berita dari Turki;
  • Menerjemahkan karya-karya penulis Turki yang tak mainstream tapi perlu (misalnya puisi dan cerita-cerita pendek);  
  • Menyebarkan semua tulisan hal ihwal Turki yang positif dan kontributif.

Salam,


Bernando J. Sujibto

Wednesday, February 03, 2016

Betapa Dahsyatnya PPI Turki

.....sebuah cerita kerinduan

Di PPI Turki saya adalah orang luar, serupa seorang eksil. Kalimat wujuduhu ka adamihi mungkin sangat tepat untuk menggambarkan di mana posisi saya di organisasi untuk pelajar terbesar ini. Namun demikian, saya punya cerita tentang dahsyatnya PPI Turki.

Tepat di hari-hari kampanye calon ketua PPI Turki 2014, yang saat itu muncul dua calon (yaitu Arya Sandhiyuda dan satunya lagi Aditya Sasongko), sekitar akhir tahun 2013—hanya beberapa bulan saya tinggal di Turki—saya membuat sebuah pernyataan “menggelikan” bagi sebagian dan mungkin membahagiakan bagi sebagian yang lain.

“Arya, satu suara untukmu,” tulis saya di dinding Facebook grup PPI Turki.

Sebagian teman banyak mempertanyakan pernyataan di atas. Tak banyak neko-neko. Saya hanya ingin memastikan sejauh mana organisasi “mahasiswa di luar negeri ini” memosisikan diri di tengah dinamika intelektual dan diskursus kritis. Sejak awal saya tahu identitas Arya dari mana; saya juga sudah kenyang dengan pengalaman organisasi (pengkaderan dan perebutan massa) mahasiswa ala Indonesia. Apakah organisasi “mahasiswa di luar negeri” ini juga ikut cawe-cawe dengan urusan begini, atau ia mampu berdiri sebagai organisasi mini Indonesia?

Dan sekitar beberapa minggu setelah Arya terpilih jadi ketua PPI Turki, saya dihubungi oleh Arya melalui message Facebook agar bersedia terlibat dalam kepengurusannya. Tapi saya menolak dengan alasan ada banyak teman-teman lain yang butuh belajar dan terlibat dalam organisasi PPI.

Saya mungkin hanya seorang yang sentimentil, mengingat bahwa lembaga serupa ini pernah menjadi lokus untuk memperdebatkan kemerdekaan kita menjadi INDONESIA. Mohammad Hatta mendirikan Indonesisch Vereniging (Perhimpoenan Indonesia), sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan Raden Tumenggung Djaksodipoera tahun 1926 di Belanda. Mereka sengit membicarakan ruh kemerdekaan demi menjadi Indonesia dengan ribuan pulau dan bangsa-bangsa itu.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Cikal-bakal pengkaderan yang dikomandoi oleh Arya, ketua PPI yang saya pilih itu, bermula—di mana PPI Turki menjadi media perebutan massa (yang pada akhirnya) merebahkan diri dan penuh aroma politik. Karena Arya adalah seorang kader politik militan PKS.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Ada seorang teman seangkatan saya (sama-sama mendapatkan beasiswa YTB) bernama Fauzi Ahmad, salah satu didikan terbaik Arya dan teman-temannya. Menurut statuta dan skema beasiswa YTB, angkatan saya yang studi master hanya berdurasi 3 tahun (1 tahun belajar bahasa Turki dan 2 tahun studi formal). Tetapi Fauzi berani mencalonkan diri sebagai ketua PPI Turki dengan masa jabatan 1 tahun ke depan. Dan kasus ini membuat saya terperangah. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Karena yang saya tahu penerima beasiswa Turki atau pelajar di Turki tujuan pertama adalah belajar (menyelesaikan studi) sebaik mungkin. Tetapi, Saudara Fauzi mempunyai semangat berbeda. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini!

Misalnya, kalau Saudara Fauzi beasiswanya diputus oleh YTB (karena sudah lewat masa studi), berarti dia harus menanggung sendiri semua biaya baik di kampus ataupun living cost. Dalam konteks ini, saya sungguh salut, betapa hebatnya pengabdian Fauzi kepada PPI Turki (jika nanti terpilih). Atau dia sudah ditugaskan secara khusus oleh majelis internal kelompoknya? Allah bilir…

Di samping Saudara Fauzi, dua calon yang lain adalah Herry Cahyadi dan Azwir Nazar. Dua calon ini masih punya waktu panjang untuk studi di Turki.

Herry datang jauh-jauh dari Istanbul ke Konya untuk kampanye. Sebuah usaha yang luar biasa. Tetapi sayangnya, yang katanya sok sibuk, Herry datang ke Konya dari İstanbul tanpa sempat ziarah ke makam Rumi. Sebuah pengalaman yang istimewa dan unik di telinga saya. Ini menjadi pengalaman pertama yang saya dengar dari seorang pelajar Indonesia dan muslim. Saya tidak tahu apa alasannya. Apakah kebesaran nama dan kealiman seorang Rumi dan ayahnya—yang dijuluki sebagai sulthanul ulama dan sekaligus menjadi qadi kesultanan Saljuk Anatolia—itu tidak cukup mengetuk hati para generasi muda Muslim seperti kita hari ini?

Untuk Azwir, mohon maaf kita belum berjodoh jumpa di Konya….

Sunday, December 27, 2015

2015: Tiga Ihwal Simbol (atawa Peristiwa) Keagamaan

Satu, ketika menghantar beberapa kawan dari Indonesia yang sedang liburan di Turki terjadi perdebatan dan komplain di lobi motel. Karena ada kekeliruan malam itu rombongan kami tidak mendapatkan kamar. Ketika nada suara di antara kami mulai menghentak tinggi, si penerima tamu motel, "kamu berjilbab dan saya menghormatinya. Tidak perlu dengan suara tinggi seperti itu," berujar dengan sedikit menundukkan kepada dan meletakkan tangan kanannya di dadanya (tanda hormat dalam kultur Turki).
Dua, seorang temannya temanku masuk kamar. Dengan beragam kalimat sumpah serapah (swear words)--dalam keseharian pemuda Turki, Anda akan sangat-sangat mudah menemukan kata-kata kasar menyertai obrolan mereka--ia menunggu temanku yang tengah bersiap-siap. Ketika hendak keluar kamar dan melihat Al-Qur'an yang saya taru di atas lemari, sontak dia berujar "astaghfirullah, taubat ya."

Tiga, larut malam di rumah teman. Kami sedang tidak mengantuk. Dua temanku menyalakan laptop dan membuka salah satu situs live porno. Malam itu satu teman lagi tidak sedang ingin menontonya. Dia minta situs itu ditutup. Karena tidak direpon, dia langsung menyetel lagu religius tepat di sampingnya. Sontak kedua temanku ngomel-ngomel dan menutup jendela situs tadi. Mereka minta lagu itu dimatikan! 

Ini tentu saja hanya kasus-kasus kecil, atau dalam penelitian ilmu sosial disebut sebagai small-case crossword clue. Yang menarik, kejadian ini mengaburkan pikiran saya tentang proyek modernisme dan segenap mitosnya di Turki. Apakah taring rasionalisme yang diusung dari Eropa sudah menancap di kepala bangsanya? Bagi Turki, saya merasa bahwa semua itu adalah sejumput jargon yang tumbuh liar di mana-mana--tanpa akar yang kuat dan pupuk yang cukup--khususnya di halaman para 
borjuis (karena proyek ini dilakoni dan dihembuskan dari ranah elit politik dan kelompok "bangsawan"), tetapi secara partikuler belum (atau sulit) menciptakan akulturasi. Dus, hal-hal partikuler dari interaksi sosial masyarakat tumbuh lepas di luar rencana dan harapan mereka.

Artinya, di lubuk paling dalam hati mereka--yang dibentuk oleh budaya dan tradisi ratusan tahun--ada ruang yang didekasikan untuk melawan, atau setidaknya menjaga struktur kesadaran yang telah terbentuk dari proyek kebaruan-kebaruan yang dirancang mendadak, atau bahkan kasar! Atau, dan itu pasti, ada sesuatu yang lain dan butuh ditelusuri lebih dalam...

Akhirnya, saya berpikir bahwa bentuk-bentuk konservatisme pada setiap orang--apakah sebagai warna kultur atau hanya perilaku personal--adalah justifikasi tentang yang-berjarak-dan-tak-tersentuh dan juga adanya batas-batas dalam setiap diri.

Tuesday, December 08, 2015

Turki-Rusia dan Para Keledai

Sejak jet tempur Rusia ditembak jatuh oleh Turki pada hari Selasa pagi, 24 November 2015, banyak teman tanya dan sekaligus mencemaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Pesawat Su-24 milik AU Rusia yang ditembak oleh 2 pesawat F-16 milik Angkatan Udara Turki di daerah perbatasan Suriah-Turki, tepatnya di Yayladagi, Hatay itu memang bikin ramai di antara rakyat Turki sendiri. Daripada mengikuti perdebatan antara kedua kubu (Turki/NATO dan Rusia), saya justru lebih mencermati ekspresi dan respon teman-teman di Turki sendiri. Karena dengan begitu saya dapat mempelajari bagaimana mereka memaknai nasionalisme, melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan kekhawatiran-kekhawatiran apa selanjutnya.

Namun begitu, banyak sekali kabar dan berita yang saling menghantam, tentu dengan perangkat kepentingan masing-masing. Ada kelompok yang bermanuver untuk mengambil simpati dan keuntungan, ada yang menyerang, ada pula yang mereproduksi video lama yang tidak ada sangkut pautnya dengan membuat caption baru untuk kepentingan masing-masing.

Saya yang sedang studi di Turki mengamati kondisi begini sungguh miris, dan ternyata cara-cara begitu sudah biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat kita: bermain dengan hoax. Entah kenapa mereka bisa setega itu membuat berita-berita bohong—saya sungguh jadi bodoh menghadapi orang-orang "penyembah hoax" begini.

Ada dua poin penting yang ingin saya sampaikan dalam catatan ini. Pertama soal video. Saya kok tidak dengar kalau video yang saya dalam gambar ini terjadi baru-baru ini di/tentang Turki. Kalau itu benar-benar terjadi akhir-akhir ini selama saya di Turki, inşallah saya tahu. Video ini dipasang caption macam-macam oleh orang-kita untuk mencari simpati bagi negara Turki. Padahal negara besar seperti Turki ini (tidak besar sih, lebih besar Indonesia) tidak pernah secara spesifik menyebut penting Indonesia, lho. Saya tidak ingin  memprovokasi siapapun di sini, tapi sejujurnya nama Indonesia di sini redup tinimbang nama Malaysia. Indonesia hanya dikenal oleh mereka yang pernah naik haji dan bertemu kebaikan orang-orang Indonesia. Atau karena tragedi Tsunami di Aceh. Selebihnya, rasa persaudaraan sesama Muslim. Sementara secara relasi kedua negara—dalam artian kerjasama yang kuat dan simbiosis mutualistik meski sama-sama bercokol di G-20—harus diakui kita masih belum akrab. Mungkin Indonesia belum menganggap Turki penting atau sebaliknya. Tapi jangan salah, serial Turki sudah memukul kita bertalu-talu, tuh! Entah harus bangga atau sedih. Tapi daripada dipilin budaya Korea aku sih pilih dibuai hurem-hurem dari Turki. Sumplek cantik!

Kembali ke video, saya coba menelusuri kira-kira ini kejadian dimana dan kapan. Karena sekali lagi, kalau itu terjadi di Prancis (seperti banyak di-share ikhwan-akhwat Indonesia di Facebook dengan caption “upaya pembunuhan Menlu Turki di Paris.. Subhanallah...”) akhir-akhir ini khususnya setalah ledakan di sana, tentu orang Turki meradang, dong. Tapi kok diam? Saya curiga ini kerja tangan tak bertanggung jawab! Coba lihat dalam spanduk di video itu tertulis 19 (bulannya tidak kebaca) 2013. Setelah saya telusuri ternyata itu terjadi di Bulgaria, sebuah percobaan pembunuhan kepada ketua partai Movement for Rights and Freedoms bernama Ahmed Doğan (keturunan Turki tapi penduduk Bulgaria).

Kedua soal kasus penembakan jet tempur Rusia dan memanasnya hubungan Turki-Rusia. Sejujurnya, saya sulit menempatkan diri dalam kasus ini. Ini jelas butuh pengetahuan politik regional dan tetek bengek relasi hubungan internasional. Kedua kubu punya klaim masing-masing. Versi Turki dan NATO jelas dengan bukti rekaman peringatan 10 kali bahwa pesawat Rusia masuk ke airspace Turki. Versi Rusia itu tidak begitu. Rusia bersikukuh jetnya melintasi ruang udara Suriah. Kita bisa lihat sendiri betapa angkuhnya Putin dan tempramennya dia untuk menjaga harga dirinya sebagai negara blok Timur yang harus dihormati. Itu satu kasus.

Selanjutnya, dari kasus itu berkembang beberapa tuduhan-tuduhan: Turki membeli minyak dari ISIS dengan harga murah (yang kemudian diklaim bahwa Turki ikut mendudukung dana ISIS). Lalu, Rusia minta Turki untuk transparan membuka jaringan pembelian minyak ke publik (wartawan). Beberapa kali truk bantuan (versi media Turki) dari Turki dibom dari udara oleh Rusia sebagai rentetan “balas dendam.”

Sementara itu, pihak Turki sendiri meliris data (dengan bantuan intelejen US) bahwa minyak ISIS juga dibeli Suriah dan dibisniskan ke Rusia. Ada orang bernama George Hashravi, pengusaha minyak kelas kakap berpasport Suriah dan Rusia. Dia yang bermain minyak untuk kedua negara. Sementara Erdogan sendiri memang pernah berkoar-koar baik di Turki sendiri ataupun di luar negeri bahwa Turki tidak membeli minyak dari ISIS.

Kasus ini, bagi saya, adalah soal gengsi kedua blok: NATO diwakili Turki dan Rusia. Yang main di sini banyak kepentingan. Tentu Amerika dan negara-negara Eropa yang sejatinya tidak suka sama Turki. Kalau tidak hati-hati, Turki akan menjadi moncong senapan yang pelatuknya dipegang oleh mereka-mereka itu. Ini proxy war yang efektif dipakai oleh Amerika dan negara-negara Eropa sendiri. Tujuannya jelas: negara yang berpenduduk Islam tidak boleh menjadi kuat, meski mereka sangat-sangat kaya dengan minyak! Ingat, Rusia dan negara-negara Eropa/Amerika tidak suka dengan Turki. Itu pasti dan sudah dicatat dalam sejarah mereka! Dan, hanya tinggal Turki yang bisa dibilang berdiri sendiri dengan filosofi mereka.

Yang lain adalah keledai-keledai yang ditumpangi oleh hantu-hantu yang mengasuh dan membesarkan kesombongan demi kesombongan hafsu hewani mereka! Iya, mereka adalah keledai. Ya, mereka adalah saudara seiman saya: umat Islam!

Dalam situasi operasi intelejen seperti ini, saya tidak tahu dan lebih memilih diam. Karena kubu NATO dan Rusia bagi saya sama-sama setan yang memakai orang-orang kita (warga Muslim) jadi keledai. Itu saja. Tapi karena di Turki banyak keledai (misalnya Anda yang sempat baca cerita-cerita sufi Nasruddin Hoja) dan warga di sini sudah paham filosofinya sejak ribuan tahun silam, mereka dan pemerintah Turki akan hati-hati biar tidak menjadi keledai dengan penumpang gelap para cecunguk NATO atau negara-negara lain yang secara historis ataupun ideologis benci kepada Turki (dan Islam sekaligus).

Menurutku, bagi kita yang ingin mendukung dan membantu Turki, cara terbaik adalah dengan mendukung ekonomi Turki. Di Indonesia silahkan kita konsumsi bahan-bahan impor dari Turki misalnya. Karena saat ini Turki menghadapi tekanan serius dari Rusia berupa embargo ekonomi dengan tidak membeli lagi produk-produk Turki. Atau bagi yang kaya, silahkan datang ke Turki jadi turis (tapi jangan berniat pergi ikut ISIS) dan belanjakan semua duit kalian di sini. Kalau tidak bisa, sebaiknya kita berdoa saja semoga negara Muslim satu-satunya yang kuat ini dan berani melawan arus Barat tetap dimudahkan jalan oleh Allah. Tidak perlu mencari simpati dan manuver tanpa etika kebajikan.

Nah, bagaimana tentang ekspresi orang Turki yang saya singgung di awal? Saya punya proyek kecil tentang “imajinasi musuh” bagi orang-orang Turki. Saya sudah menemukan kata kunci dan topik ini. Insya Allah saya sambung dalam catatan selanjutnya ihwal topik partikular yang satu ini.

Sunday, November 22, 2015

Surat Motivasi Aplikasi Program MEP-Australia

(Setelah ada beberapa teman ingin membaca surat mutivasi atau dokumen untuk kegiatan MEP (Muslim Exchange Program) yang saya ikuti tahun 2011 di Australia, saya berpikir file ini perlu diselamatkan sebelum hilang atau tertumpuk lapuk. Jika teman-teman merasa perlu membaca sebagai pengkayaan perspektif, dengan senang hati dipersilahkan. Semoga bermanfaat.)  

Sebagai pertimbangan mengapa saya melamar dan berminat program ini, secara komprehensif-kronologis, berikut saya ceritakan tentang “kegelisahan dan pergulatan” intelektual saya sejak pendidikan menengah pertama di pondok pesantren, perguruan tinggi, hingga aktivitas saat ini yang sedang saya geluti. Sejak saya belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya mulai bersinggungan dengan beberapa komunitas diskusi tentang isu-isu keagamaan secara luas. Saya beruntung langsung terlibat dengan banyak organisasi bersama santri-santri senior yang bisa memberikan inspirasi dan sharing pengalaman yang akhirnya melecutkan kreativitas dan minat belajar saya.

Semasih duduk di Pondok Pesantren Annuqayah, periode MTs-MA, saya bisa menyebutkan beberapa organisasi, lingkaran diskusi, dan media penerbitan yang telah menjadi bagian dari proses panjang dalam pergulatan intelektual saya, seperti IKSAPATRA sebagai Seksi Pengembangan Intelektual, Koordinator Diskusi RADIAN ALMERSERY, Forum Malam Selasa, Koordinator Perkumpulan Santri-Penulis Annuqayah, dan menjadi Pimpinan Redaksi Mading ARENA, Pimpinan Umum Jurnal PENTAS, dan Staff Redaksi Majalah PERMAI di salah satu penerbitan LSM ternama di Madura, Jawa Timur, yaitu BIRO PENGABDIAN MASYARAKAT (BPM) PP. Annuqayah.

Di BPM-PPA ini, saya mulai bertemu dengan orang-orang dari luar “area” latar belakang saya. Mereka adalah dari kalangan pemerintahan, jaringan LSM nasional mauppun internasional, dan tamu-tamu penting yang sedang melakukan penelitian. Saya beberapa kali diutus mengikuti workshop dan pelatihan tentang isu-isu sosial dan lingkungan di luar Madura mewakili BPM-PPA. Di BPM pula, saya menemani dua volunteers dari Australia (Margaret Rolling dan John Rolling) yang mempunyai program mengajar Bahasa Inggris di pondok pesantren. Saya kerap bertukar pikiran bersama dua orang ini, dan mereka pula yang telah melecutkan semangat saya untuk terus belajar dan belajar. 

Selama proses tersebut, saya beruntung tetap bergelut dengan buku-buku bacaan dan menulis. Saya menjadi ketua dan pembina Perpustakaan Annuqayah dan Kepala Bidang Pengembangan Kepustakaan di BPM-PPA. Di bidang penerbitan, saya bersama teman menginisiasi penerbitan Buletin KEJORA di lingkungan pondok pesantren sebagai media yang mewadahi kreativitas santri. Kedekatan saya dengan buku dan kreativitas menulis akhirnya mengantarkan saya kepada banyak kesempatan. Sejak Madrasah Aliyah (sederajat SMA) saya sudah banyak memenangkan lomba karya tulis di tingkat kabupaten, dan tulisan-tulisan saya sudah mulai dimuat di media lokal ataupun nasional.

Tahun 2006 saya datang ke Yogyakarta untuk melanjutkan S1. Namun sebelum kuliah, saya harus dihadapkan dengan pembiayaan yang harus saya tanggung sendiri karena orang tua saya (tinggal Ibu sendiri) sudah tidak sanggup lagi membiayai. Saya harus bekerja serabutan dulu. Alhamdulilah saya bertemu dengan sosok kiai muda dan penulis produktif bernama (alm) K.H.A. Zainal Arifin Thaha. Saya diizinkan oleh beliau agar tinggal di gubuk sederhana bernama Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari. Di Yogyakarta, saya bisa lebih bebas lagi berkomunitas baik keseniaan, agama, filsafat, sosial, dsb. Di sini saya terlibat dengan banyak organisasi dan komunitas: pembina di Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Yogyakarta, koordinator Komunitas KUTUB, Koordinator Program Sastra di Tetaer ESKA UIN Sunan Kalijaga, salah satu Person in Charge Youth Program komunitas Peace Generation yang bekerja sama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, American Friends Services Committee (AFSC), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dll. Kebersamaan saya dengan mereka telah membuka ruang toleransi, multikultural, dan solidaritas sosial antara umat beragama dengan latar belakang yang beragam. Di sini pula saya bisa ikut terlibat di berbagai seminar dan konferensi  nasioanal ataupun internasional.

Sejak di Yogyakarta saya sudah menemukan “mini Indonesia” yang merepresentasikan multikulturalisme dan pluralisme. Di sini saya bisa membuka pemikiran dan perspektif saya yang lebih inklusif melalui pertemuan dan terlibat secara langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang baik agama, ras, etnis, dan bangsa. Semangat pluralisme ini telah menjadi landasan saya dalam praktik keberagamaan lebih lanjut ke depan. Kantong-kantong keberagamaan yang radikalis, ekstremis, fundemintalis, dan militan coba saya masuki demi membangun jembatan komunikasi dengan nilai-nilai Islam yang substantif dan holistik, mencari arah solusi terhadap praktik keberagamaan yang mereka jalani sejauh ini, untuk kehidupan manusia yang harmonis dan rahmatul lil ‘alamin. Spirit seperti ini telah menjadi bagian terpenting dalam proses kehidupan saya ke depan dengan komunitas yang saya gawangi, bersama orang-orang yang saya temui di setiap saat. Semua ini saya lakukan demi restorasi dan spirit kebangsaan yang secara prinsipil membutuhkan ruang-ruang diskursus yang beragam dan multikultur.

Keran pemahaman tentang multikultarilme dan spirit kebangsaan itu saya temukan secara lebih spesifik ketika bulan Juni-Juli 2010 saya mendapatkan beasiswa dari The Indonesian International Education Foundation (IIEF) dan US Embassy untuk belajar bahasa dan budaya ke Amerika Serikat. Saya tinggal di negara bagian South Carolina, belajar di University of South Carolina, bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa asing, mempresenitasikan budaya Indonesia. Arti keberagamaan dan kebangsaan saya semakin menemukan jawabannya secara holistik ketika saya banyak berkomunikasi dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar bangsa di dunia.

Jika saya terpilih dalam program ini, saya akan memanfaatkan pertemuan saya dengan berbagai pihak baik personal orang maupun lembaga-lembaga dan organisasi yang ada di Australia; saya akan sharing lebih dalam tentang pengelolaan organisasi dan penguatan jaringan dengan lembaga-lembaga luar. Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2011 ini tentu akan memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi saya untuk berbagi pemahaman dan praktik-praktik riil di lapangan dari pengalaman banyak orang maupun organisasi dari perspektif yang lebih luas.

Setelah terpilih dari program ini, saya akan berbagai pengalaman dengan memberikan suatu perspektif baru tentang organisasi maupun nilai-nilai pemahaman yang overseas sebagai landasan bagi pengembangan organisasi saya di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari dan organisasi lain yang sedang saya geluti. Program ini sangat membantu saya dalam proses transfer pengalaman dan transformasi pemahaman kepada lembaga dan komunitas masing-masing yang saya geluti sekarang. Proses interaksi dialogis yang lebih luas melalui program ini akan memberikan spirit dan nutrisi baru bagi keberlangsungan organisasi.

Masyarakat Indonesia yang saya rancang sebagai tujuan komunikasi dan gerakan setelah program ini adalah para pemuda (youth) karena mereka inilah yang akan meneruskan dan menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Saya akan mengajak para pemuda untuk berbagi dan sharing pemahaman tentang keberagamaan masing-masing demi restorasi kebangsaan. Saya melakukan kunjungan ke organisasi dan lembaga-lembaga pemuda yang ada di Yogyakarta. Sebagai contoh adalah ketika saya dan komunitas Peace Generation melalui kegiatan DO.Ci.Reng (Dolanan Cerita Bareng) melakukan assessment terhadap anak-anak korban erupsi Merapi di Magelang ataupun kegiatan Peace Camp, semacam program immerse yang mempertemukan mini Indonesia dalam satu kegiatan. Saya menemukan banyak pelajaran di sini bahwa pemuda harus menjadi elan-vital yang harus dipupuk kreativitasnya demi masa depan Indonesia.

Jika saya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegaitan MEP kali ini, organisasi/personal yang ingin saya kunjungi:
1.   Chaaban Omar, dari FAMSY Federation of Australian Muslim Student & Youth.
2.   Chair and Administrator of the Australian Federation of Islamic Council
3.   Dr Samina Yasmeen, the University of Western Australia
4.   Fadi Rahman, Muslim Youth Leader, ICRA (Independent Centre of Research Australia)
5.  Professor Abdullah Saeed, Sultan of Oman and Chair of Arab & Islamic Studies and Director of the Centre for the Study of Contemporary Islam.
6.   Ahmed Youssef, President of the Islamic Centre of Canberra
7. Anna Halafoff, Inter-religious & Intercultural Relations– Asia Pacific and Global Terrorism Research Centre at Monash University.
8.   Silma Ihram, Founder & Principal, Noor Al Houda Islamic College.