Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Friday, June 05, 2015

Taman Kota Amed

Siang renta di awal musim gugur. Angin tak menentu bertiup dari segala arah, sesekali menghantarkan aroma akar dan batang-batang sayuran yang baru saja dipanen dari tepi Sungai Tigris. Ia, tokoh kita kali ini, tersedot di tengah-tengah denyut massa yang memadati sebuah alun-alun kota Amed yang telah menjadi tempat kedua setelah rumahnya. Semasa kecil ia biasa datang ke taman itu untuk bermain ragam permainan rakyat seperti kurt kardeş dan tarian-tarian tradisional seperti çepik, delilo, dan çaçan. Taman itu telah membuat hidupnya begitu berwarna.

Sementara itu suara riuh yel-yel dan lagu tradisional dengan gendang dan terompet terdengar meledak-ledak. Gendang ditabuh semakin kencang. Massa membikin lingkaran sambil menari dan sesekali meneriakkan protes di sela musik yang melengking.

“Ini waktu yang tepat!”

Menjauh dari pusat keramaian yang berkonsentrasi tepat di bagian sayap kanan alun-alun, ia melenggang ringan ke sebuah patung yang disanggul beton.

Ia menatap patung itu dengan muka masam. Geram!

“Engkau telah mencabik-cabik tanah kami!” Kalimat ini akhirnya melesat begitu saja bagai peluru buta arah. Setumpuk orang yang hilir mudik di sampingnya pasti mendengar teriakannya. Ia tak peduli meski ada dua orang (sepasang kekasih bergandengan tangan di tengah gejolak massa) sedari awal menatapnya dengan muka penuh tanya. Ia hanya berbekal satu keyakinan bahwa mereka yang berjubel di taman itu adalah saudara satu bangsa yang sama-sama memperjuangkan haknya.

Semakin lama menatap pelipis patung itu (seingatnya, ia tak pernah melihat senyum ramah dari foto, sketsa ataupun patung yang bertebaran di setiap taman kota, sejak İlkokul sampai Lise), ia seperti melihat kobaran api—menyembur dari kedua mata patung. Mungkin saja patung itu marah kepada massa demonstran yang kerap berteriak menyumpahserapahi namanya. Lehernya mulai terasa lelah menyanggah kepala yang sedari tadi mendongak ke patung yang tingginya sekitar 10 meter itu.

Dua meter dari patung itu, sebuah bendera menjulang dan berkibar. Kibaran bendera berwarna merah dengan bulan sabit dan sebiji bintang berwarna putih di tengahnya. Bendera dan sosok dalam patung itu bagi kembar identik. Dua simbol yang disakralkan itu pasti dijumpai di sekolah, kantor pemerintah, bangunan milik negara, taman kota dan bahkan tak jarang di rumah pribadi sekalipun. Bendera dan sosok pada patung itu dikenalnya sejak di bangku İlkokul. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, ia ditunjuk menjadi pemimpin di kelas untuk membaca öğrenci andı (dan sumpah ini berlaku untuk semua sekolah dasar seantero negeri). Ketika di akhir ortaokul, ia menyadari telah membohongi dirinya sendiri. Ia tak ingin menyalahkan para guru yang telah mewajibkan semua murid membaca sumpah. Ini sudah menjadi kewajiban nasional. Akhirnya, sumpah yang ditulis oleh seorang dokter itu dikenangnya sebagai kepalsuan yang telah dialami dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia mulai terang-terangan menunjukkan sikapnya kepada teman-teman dekat yang biasa bermain di sekitar taman. Mengajak mereka untuk membaca sejarah dan pertentangan sengit yang terus menghantam kotanya.

“Seandainya aku sudah tahu sejak di bangku İlkokul, Vallah aku tidak akan pernah memimpin pembacaan öğrenci andı di depan kelas. Tidak pula membaca sumpah itu!” Ia ingat betul kalimat ini suatu kali pernah disampaikannya kepada Beritan dan Murat, dua teman dekatnya yang selalu satu kelas hingga Lise. Meskipun waktu itu kedua temannya diam, ia yakin apa yang dipikirkannya sama seperti teman-temannya yang lain.

“Kita masih bocah ingusan waktu itu. Tidak tahu apa-apa,” tanggap Murat.

“Betul. Mulai saat ini, ajak dan kasi tahu orang-orang terdekat. Kita orang Kurdi, bukan orang Turk! Tak perlu mengucap sumpah palsu seperti itu!”

Murat bergeming. Pandangannya kosong. Sebuah peristiwa di tahun pertama ortaokul ketika neneknya harus dirujuk ke rumah sakit di kota Amed lamat-lamat menyergapnya bagai hembusan angin musim gugur. Peristiwa itu lalu ditandainya sebagai tragedi: nenek dan keluarga yang mengantarnya dilarang berbahasa Kurdi oleh pihak rumah sakit. Neneknya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Turki menatap Murat dengan remang airmata. Saat itu, Murat melihat diri dan keluarganya bagai orang asing di tanah kelahirannya sendiri!

“Seharusnya kita bersumpah atas nama tanah dan dan bangsa kita sendiri!” suaranya terdengar serak, sembari menatap patung dan kibaran bendera.

Ia mendekat ke beton yang menyanggah patung tembaga berwarna hitam legam itu. Tangan kanannya meragah tiang bendera yang berdiameter 10 cm. Sementara tangan kirinya menyentuh beton dingin berwarna putih pucat. Saat tangannya dibuka lebar mendepa, ia kembali mendongak menatap langit, tepat di tengah-tengah antara patung dan bendera. Saat itu, ia menatap langit yang begitu sempit, diapit patung dan kibaran bendera yang sesekali ditiup angin ke arah patung. Lalu melepas kaos dan melemparkannya ke patung. Tapi sayang, kaos itu keburu disergap angin dan kembali jatuh ke tanah berumput. Ia biarkan kaosnya tergeletak begitu saja di atas tanah bekas jejak kaki yang mengubur kenangan masa kecilnya. Kini yang ada dalam pikirannya adalah kebebasan. Ia ingin segera menjelangnya.

Sementara di ujung taman yang menghadap jalan raya lima arah, suara para demonstran semakin menggaung. Terdengar terompet yang ditiup dengan nafas penuh seluruh. Ia menoleh ke arah kanan, lalu mendekap tiang bendera. Saatnya ia menjemput kebebasan nan maha luas. Suara-suara gemuruh membuat tubuhnya begitu ringan.

Satu panjatan terasa begitu berat. Ia memang bukan orang kampung, seperti Beravan, Serdem, Fatih atau Veysel, yang dikenalnya sejak di bangku Lise. Mereka yang datang dari pinggiran Amed untuk sekolah di kota terkenal dengan kelihaian memanjat dan meniti jembatan kecil sekalipun. Sayangnya, ia tak pernah belajar bagaimana teknik meringankan tubuh ketika meliuk-liuk di atas sebilah batang kayu tipis. Panjatan kedua, ketiga dan seterusnya semakin meringankan tubuhnya. Suara-suara gemuruh para demonstran seolah menyulap dirinya bagai seekor tupai. Tiang besi yang dingin meresap ke jantungnya, seperti ada partikel dari surga maha jernih yang merasuk di balik dadanya.

Pada dakian keduabelas, ia mendengar gelegar makin hebat. Gelegar itu, suara-suara jeritan yang telah menyembulkan semangat, menyeruak arahnya. Ia makin fokus segera sampai di puncak tiang. Telinganya ditempelkan pada tiang besi, mereguk spirit yang mengalir deras dari tanah kelahirannya. Pada tiang itu, getar dan pekik perjuangan menggumpal. Saat tangannya keerakan, ia bertumpu pada kedua kakinya dan bersengkelit pada batang tiang.

Di puncak tiang nanti, ia ingin meluapkan semua amarah yang membuncah, berteriak kepada teman dekatnya, Beritan dan Murat: “Hewal, lihatlah kemenangan kita hari ini. Aku ingin kalian mendengarnya, dan melihatku dengan hati nurani. Entah dimana pun kalian berada kini. Setelah kita berpisah dan memilih meninggalkan sekolah di tahun kedua Lise, kalian memilih pergi ke Ankara dengan alasan belajar teori-teori gerakan dan gerilya kepada hoca efendi. Setelah kita berpisah sejak lima tahun silam, aku tidak lagi melihat batang hidung kalian! Biarkan kalian menyaksikan sendiri apa yang kuperjuangkan sejak di akhir ortaokul terus bergelora!”

Makin tinggi getar kibaran bendera berukuran 1,5 meter itu makin bergegar. Angin berhembus aneh. Ia pun lupa ini panjatan keberapa. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat tubuhnya sejajar dengan kepala patung. Seandainya bisa meloncat, ia ingin menerjangnya keras-keras hingga kepalanya terjungkal. Satu kali gayutan lagi ia sudah melampaui ketinggian patung itu. Pekikan suara massa semakin menukik. Ia tak tahan menggerakkan mukanya ke arah kepala patung. Alangkah terkejutnya, ribuan massa telah berjubel mengelilinginya.

“Her biji…. Her biji…. Her biji…!!!”

Mereka meneriakkan kalimat-kalimat yang makin membangkitkan jiwanya. Ia tak bisa menahan bulir-bulir gerimis yang tumpah dari sudut matanya. Dalam remang pandanganya, ia melihat massa yang meneriakkan her biji dengan kepalan tangan dan muka yang ganas. Dua dakian lagi ia akan sampai di ujung tiang. Dan ketika menyentuh bendera, tubuhnya seperti dialiri ribuan kromosom kemerdekaan yang tak terwariskan.

“Abdullaaaah….!!!” sebuah teriakan seperti memekakkan gendang telinganya.

Lolongan suara itu membuatnya terperangah. Ia seperti tersengat listrik ketika menoleh ke sumber suara. Di sana ada Murat yang tengah memanjat patung dengan sebilah kapak besar.

“Lihatlah ini, Abdullaaaaah!” teriaknya histeris sembari memenggal kepala patung berkali-kali hingga tersungkur. Sontak suara massa melengking saat kepala patung terkapar di tanah. Dengan gagah Murat meloncat dan membiarkan kapaknya menancap pada leher patung.

Pada waktu bersamaan, Abdullah dengan beringas merobek kain bendera dengan gigi dan tangan kidalnya. Serupa singa yang kalap memangsa. Bendera itu langsung dilemparkan sekenanya ke tengah kerumunan massa. Sebelum bendera mendarat ke tanah, lamat-lamat ia mendengar namanya disebut berulang-ulang oleh mereka. Pasti si Murat telah menggerakkan masa untuk menyanyikan namanya. Namun tiba-tiba suara mereka tak terdengar lagi di telinganya. Tubuhnya sendiri amruk. Matanya padam. Abdullah jatuh seperempat detik sebelum bendera itu sampai di tangan massa. Tersungkur di atas kaosnya sendiri berwarna merah-putih-hijau-kuning.

Dua timah panas telah memecah jantugnya!

Di tengah jeritan dan gemuruh massa yang makin melesat, Murat meloncat dan memeluknya sembari menyebutkan namanya berkali-kali; membiarkan darah Abdullah berlumuran di dadanya. Massa berhamburan kalang-kabut. Bom-bom molotov yang sedari tadi disimpan para demonstran akhirnya dilemparkan ke mobil-mobil baja milik polisi.

Menyaksikan kabut hitam yang mulai membumbung dan teriakan histeris di tengah taman kota Amed, dari lantai lima Hotel Dicle, aku meringis melanjutkan cerita ini. Satu hal ingin kusampaikan sebagai penutup: Demi Tuhan aku yakin, penembak jitu yang telah mengirimkan dua timah panas tepat di jantung tokoh kita kali ini ada di hotel yang sama, bahkan di lantai yang sama: di kamarku!


(Untuk Ömer Mutlu, pemuda yang kini menjalani hukuman 13 tahun penjara karena menurunkan bendera Turki di Diyarbakir, Juli 2014)
Versi cetak cerita ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Ahad 17 Maret 2015

Keterangan:

Amed (Kurdi)                          : Nama lain Diyarbakir
Kurt kardeş (Turki)                 : Permainan tradisioanl di Diyarbakir dan sekitarnya
Çepik, delilo, çaçan,
dan şemame (Turki)                : Tarian rakyat khas Turki Tenggara.
İlkokul (Turki)                         : SD
Ortaokul (Turki)                      : SMP
Lise (Turki)                              : SMA
Vallah (Turki)                          : Demi Allah
Hewal (Kurdi)                         : Sebutan akrab untuk teman karib
Her biji (Kurdi)                       : Semoga Tuhan memberkati (doa semangat).
Hoca effendi (Turki)                : Sebutan untuk guru alim yang dihormati.
Biber gazi (Turki)                    : Gas airmata
Öğrenci andı (Turki)               : Sumpah siswa (isi sumpah):

Aku Turk, jujur, pekerja keras; prinsipku adalah menjaga generasi muda, menghormati orang-orang tua, mencintai tanah kelahiran dan bangsaku melebihi diri sendiri; eksistensiku akan didedikasikan kepada eksistesi Turki.

Monday, September 08, 2014

Ela Gözlü

Setiap kali menikmati sepotong sore di balkon apartmennya, Eson acapkali melihat sosok perempuan muda duduk melindihkan tubuhnya ke jendela. Long dress putih dengan motif bunga dan betisnya yang dibiarkan tersingkap terlihat jelas di balik kaca. 

Awalnya Eson sama sekali tak terlalu menghiraukan penghuni baru di apartemen sebelah itu. Ia mungkin sedang beradaptasi dengan tempat baru, atau memang senang menikmati hamparan taman hijau dengan bunga-bunga mekar di akhir musim semi begini. Atau mungkin ia senang menikmati burung-burung merpati yang biasa hinggap di setiap jendela apartemen….

Tuesday, November 29, 2011

Andai Ia Tak di Jalanan…

Liburan memang tidak selamanya sesuai dengan rencana awal. Adakalanya di tengah perjalanan, sesuatu bisa terjadi dan memberikan banyak pelajalan (lesson learned) dari peristiwa itu. Bahkan kejadian-kejadian di luar rencana membuat liburan menjadi semakin memorable dan sangat impresif. Dan itu aku temukan di sini, saat aku dan teman-teman ramai-ramai menikmati liburan weekend bersama setumpuk kawan dari Jakarta yang liburan di Yogyakarta, 27-28 Nov 2011.

Langit masih menumpahkan gerimis,dan Malioboro dalam surup hari. Aku dan teman-teman tetap semangat menembus rintik gerimis demi menikmati Malioboro di senja hari, di samping itu mereka akan belanja oleh-oleh untuk kerabatnya. Saya, Seto, Dila, Doni dan tiga teman dari Ibu kota: Ita, Tya, dan B’de berjalan bergerombolan setelah check-in di salah satu hotel di belakang Malioboro.

Tuesday, April 12, 2011

Yang Semakin Takut Sekolah

Dalam dua hari ini, pikiran saya melingkari isu-isu dunia pendidikan dan kampus secara khusus. Imajinasi saya tentang dunia pendidikan dan kampus setidaknya disentil oleh dua hal. Pertama, karena saya menjumpai kawan-kawan dan adik angkatan di kampus yang sudah pada wisuda dengan selempang cumlaude atau nama-nama gelar lain yang mereka raih. Kedua, saya mendapati sebuah artikel di harian Kompas ditulis oleh seorang sastrawan Yudhistira ANM Massardi, seorang penulis puisi yang saya suka. Artikel betajuk Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! benar-benar mengajak saya, dan mungkin pembaca lain, merenung lebih dalam lagi: ihwal pendidikan dan tetek bengek di dalamnya.

Artikel itu terbit tanggal 8 April 2011, sehari sebelum senat terbuka di kampus saya: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dihelat. Bukan karena rencana, tapi betul-betul kebetulah! Bagi orang lain artikel tersebut mungkin tidak berefek apa-apa. Tapi bagi saya, seorang mahasiswa di tahun ke-5 di kampus, tulisan itu ibarat kado terindah yang mengiringi prosesi wisuda teman-teman dan adik-adik angkatan.

Friday, March 04, 2011

Kawan dengan Seribu Macam Warna

diambil saat pembuatan 
SIM di Kab. Sumenep

Di suatu petang yang terlanjur biasa, saya mengobrol dengan seorang kawan dari pulau Sumatra sana, seorang perempuan dengan paras, seperti yang saya tangkap dari foto di jejering sosial Facebook, cukup cantik. Dia memulai obrolan pertama kali setelah saling memperkenalkan diri bahwa dirinya sebagai penerima beasiswa dari IIE, program sama seperti yang pernah saya terima bulan Juni-Juli 2010 kemarin: belajar bahasa dan budaya di Amerika.

Jujur, saya lupa nama wanita itu. Nama bagi saya—kadang—tak seberarti daripada apa yang diobrolkan, setidaknya pada saat itu. Percakapan dimulai dari basa-basi soal program beasiswa ke negeri Paman Sam itu: sebuah obrolan standar, tak istimewa, selain berbagi soal persiapan, dan hal-hal apa saja yang mesti dibawa. Obrolan satu langkah lebih lanjut: menanyakan kuliah dan jurusan. Saya tegas soal ini, bahwa saya mahasiswa Sosiologi (hehe meski jadi mahasiswa tua yang tak rampung-rampung kuliah!) di sebuah universitas negeri yang tak terlalu berkelas di Jogja. Namun saya tetap mencintai almamater ini karena sudah terlanjur membesarkan saya dan sekaligus menjerumuskan saya kepada jalan-jalan yang penuh lika-liku!

Thursday, January 27, 2011

Blog, Kopi, dan Ingatan-ingatan

Ibarat awan tebal menunggu hujan. Tentu tak bisa diganggu apalagi dihentikan untuk tidak turun hujan—jika tidak ingin kilat melesat dan membuncah di tengah langit yang gelap seperti itu. Awan adalah kebanggan dan sekaligus cita-cita bagi hujan yang hendak turun untuk bumi. Begitu juga, kiranya, keinginan saya melanjtukan kesukaan sebagai blogger—menuliskan kegelisahan demi kegelisahan, dan pikiran-pikiran yang bahkan berseberangan. Saya seperti hujan itu, saat ini, yang hendak melahirkan dan melejutkan sekian “nafsu” menulis.

Dahulu, saya sempat mengasuh blog demi blog—untuk pikiran-pikiran kecil saya—ada blogspot, multiply, dan wordpress. Tapi kesemuanya menguap begitu saja dan tak terurus. Teman-teman, sebagian, ada yang mengingatkan agar mengurus blog tersebut. Tapi karena beberapa hal, saya lalai mengasuhnya. Dan akhirnya menjadi kenangan!

Saya sering ngeblog di tengah genangan kopi di gelas, atau teh manis yang sabar menemani hingga dingin sekalipun. Karena kopi, atau entah kenapa, seorang penulis kerap kali melanjutkan pengembaraannya, tekun menuliskan pikiran-pikirannya. Dan tak jarang dari mereka menjadi karya besar yang diamini banyak orang. Saya hanya berharap, meski nanti tak ada kopi atau teh, pikiran saya bisa terus lahir dan menuliskannya sendiri—seberat apapun itu!

Sekarang, saya ingin menjaga ruang kecil ini, merawatnya dengan kesabaran dan ketekunan. Kisah-kisah perjalanan dan semua perspektif terhadap apapun yang saya baca akan menjadi bagian dari bunga rampai di sini, menjadi rampai bagi buah pikiran saya sendiri.

Saya tidak ingin sekali tulisan-tulisan saya dipuja hanya karena mentereng dan dipublikasikan di media yang bisa diakses mudah oleh masyarakat umum. Sementara tulisan-tulisan tersebut hanya berumur sekedar, dan bahkan temporal. Habis itu mati tak terlihat juntrungnya. Saya ingin jika suatu nanti, narasi kecil di balik bunga rampai pikiran ini terus lahir dengan sabar dan menuliskan kisahnya sendiri secara tenang dan bersahaja.

Sebagai bagian dari sebuah negeri yang besar, Indonesia, sebagai pemuda yang masih dibangga-banggakan oleh negeri ini, tak akan salah jika saya dan semua kawan-kawan menjadi bagian yang kreatif dalam melahirkan pemikiran-pemikiran positif bagi bangsa dan negara ke depan.

Akhirnya, di tengah bala bencana yang terus tak henti menerjang Indonesia, saya tetap ingin sekali mengucap bismillah, demi kedamaian negeri saya, dan kekuatan pikiran dan sikap yang dipunyainya ke depan.

Bismillah… mari kita menjadi bagian yang kreatif untuk bangsa dan negara ini…

Wednesday, June 02, 2010

Kisah Sepatu Kita #1

1

"Andre, apa yang bisa mempertemukan kita setelah dari tanah asing ini?"
"Bukankah kita bisa saling berkunjung? Kamu di Madura dan saya di Salatiga."
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
"Aku ingin kita punya momentum ingatan, dan syukur jika itu bisa menjadi mimpi kita bedua."

Andre diam. Ia seperti tidak ingin melanjutkan obrolan di malam itu. Bulu matanya seperti sebuah pintu yang minta segera dikatupkan. Seperti juga mataku. Kantuk semakin mengeratkan jendela kamar apartemen. Mengunci suara-suara burung aneh yang berseleweran di luar kamar. Malam itu benar-benar senyap. Hanya bunyi kereta barang yang ketika jam dinding mematok angka 12 bagai serdadu perang.

"Kau sudah benar-benar mau tidur, Andre?"

Suaraku tidak digubris. Aku coba menatapnya dengan sisa tenagaku yang seharian kuperas untuk menikmati kota yang baru satu bulan lebih kutinggali. "Oh, sleep tight, bro!"

Kubiarkan tubuhku telentang pada sebuah ranjang seukuran dua tubuh orang dewasa. Ranjang kami hanya dipisahkan oleh meja kecil seperti lemari kotak tempat kami menaruh barang-barang penting untuk keperluan kampus, tentu dokumen-dokumen imigrasi yang harus kami jaga. Berseprei putih dengan dua bantal dan satu guling. Kamar ini selalu menjadi peraduan yang tak ada duanya ketika kami lelah karena aktivitas seharian yang tak kepalang. Tak jarang kami terlelap sebelum sempat mengobrol satu patah kata pun--tentang pengalaman hari ini atau tentang apapun yang mungkin menurut kami bisa diceritakan.

Posisi tidur kami aneh, begitu komentar si Rima, teman dari Indonesia yang sudah satu tahun studi di kampus yang baru kami kunjungin untuk short course. Setiap datang ke kamar untuk sekedar mengobrol atau bawa masakan Indonesia, Rima selalu bilang kenapa tidak tidur dengan arah yang sama. Aku tidak terlalu mengubrisnya meski terkadang ingin sekali tanya kenapa Andre selalu tidur dengan membelakangi jendela. Suatu ketika aku pernah bilang "coba tidur menghadap jendela mumpung bulan mau tenggelam" tapi Andre yang hanya diam seribu bahasa. Andre biasa tidur dengan membelakangi jendela (berarti ia menatap lemari kamar besar yang berisi koper dan tas kami, yang otomatis juga menatap pintu keluar). Sementara aku lebih suka menatap jendela, tepat di atas lemari kecil.

Meski rasa kantuk sudah menyerang sedari tadi, aku belum bisa memejamkan mata malam itu. Mataku semakin liar menjelajahi sela-sela reranting dan dedaunan pohon oak di luar kamar yang diterangi sinar bulan malam itu. Sinar bulan tanggal 19 hijriah masih cukup kuat untuk menerangi celah-celah pohon. Mataku tengah membayangkan ada seekor burung tertidur di salah satu rantingnya. Lalu aku dan teman-temanku mengendap-endap membawa senter dengan cahaya terang yang cukup untuk menyilaukan mata seekor burung. Cahaya itu lalu ditembakkan di matanya, dan aku dengan pelan memanjat pohon itu. Selama aku tidak menimbulkan gerak, burung itu pasti akan tertangkap. Itu sudah aku buktikan waktu aku masih kanak-kanak di kampung.

Tapi apakah aku akan melakukan itu sekarang? Apakah di pohon ini ada burung tidur? Atau jangan-jangan burung mempunyai apartemen seperti tempatku sekarang? Ah... pikiranku benar-benar meracau.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil balpen di atas meja kecil. Tak bantal yang sedari tadi sudah aku siapkan menyanggah kepala turut kubawa serta menuju ruang belajar di sebelah kamar tidurku. Di ruangan ini aku biasa menghabiskan waktu kesendirianku, baik ketika aku belajar, membaca, dan menulis ataupun ketika tidak bisa tidur. Ruangan ini rapi dengan sofa dan meja kaca yang cantik dan mengkilap. Ini cocok untuk ruang tamu sebenarnya. Tapi karena jarang ada tamu yang masuk ke apartemen kami, ruangan ini kami setting menjadi ruang belajar di mana buku dan laptop dibiarkan tergeletak di sana. Namun begitu, tak jarang aku terlelap di sana di atas sofa ketika kamar tidur tidak mampu meninabobokan mata dan pikiranku.

Kali ini aku inigin mencari kantukku di sana sembari membuka sebuah buku novel yang versi bahasa Indonesianya sudah pernah kubaca: The Old Man and The Sea, karya Ernest Hemingway, sebuah novel hadiah dari conversation partner-ku yang kebetulan sangat menyukai karya-karya sastra dunia. Tonis merasa sangat beruntung karena bertemu denganku yang sama-sama penyuka karya-karya sastra. Dia bahkan minta karya-karya prosais Indonesia yang rekommended. Saya tidak segan menyebutkan nama seperti Pramoedya Ananta Toer dan Umar Kayam. Tonis sudah pernah membaca sedikit informasi tentang Pram, tapi novel-novelnya belum pernah dia baca. Aku sudah menunjukkan beberapa novel Pram seperti tetralogi Pulau Buru yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dia begitu antusias untuk membeli empat novel berkelas itu.

Dua hari setelah mengobrol tentang buku Pram, Tonis tiba-tiba mengeluarkan novel Child of All Nations dari tas gendongnya. "Aku beli dari e-bay."

Aku hanya melongo. "Yeah, fantastik!" Tak ada lagi kata yang bisa kusodorkan untuk memberikan apresiasi kepada Tonis.
"Aku juga ingin beli punya Umar Kayam yang kamu maksud. Tapi belum aku temukan di Amozon."
Aku kembali melongo. "Saya bantu carikan, ya."
"Wow, terima kasih banyak, Eson."

"Sama-sama."

Mataku berkedip berat. Semakin berat. Wajah Tonis pelan-pelan menghilang dari ingatanku. Stiker bertuliskan Columbia University yang menempel pada laptopku perlahan mengawang bagai fatamorgana; mengombak dan semakin menjauh, sebelum semuanya benar-benar hitam dalam lipatan mataku.


***

Manhattan memang bukan sekedar kota biasa bagiku. Di sini semua menjadi serba mungkin. Ia seperti seperangkat kotak mimpi di mana aku bisa menikmati semua ketidakmungkinan menjadi mungkin. Aku mendapati hal-hal baru di luar pengalamanku. Orang-orang bisa begitu mudah menenteng botol alkohol dan menenggaknya sepanjang jalan mereka mau; mereka dengan mudah berciuman seperti sedang memulai sebuah percintaan menuju ranjang di malam hari. Begtiu panas. Dan yang membuatku selalu waspada adalah ancaman kriminal yang kapan saja bisa menghukumku.

Aku sadar, begitu juga Andre, untuk menghindari area-area rawan kriminal. Kami tidak ingin terlibat atau mendengar sedetik pun letusan pistol yang legal di sini.

Iya. Aku seorang anak kampung yang hidup dengan duniaku sendiri. Tapi di sini aku dipertaruhkan untuk sebisa mungkin belajar kepada pengalaman mereka.

Hari ini aku sendiri. Andre sedang bersama teman-temannya ke gereja. Aku memilih memunuhi sebuah undangan hang out bersama teman-teman baru dari Eropa yang se- program denganku. Untuk hari Minggu ini aku tidak ikut Andre ke gereja. Aku sudah pamit ingin ikut jalan-jalan bersama teman-teman baru. Kurasa sudah cukup selama tiga bulan kemarin aku tidak pernah absen bersama Andre ikut ke gereja. Meskipun aku tidak paham ritual yang mereka jalankan di gereja, aku hanya percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana dan aku bisa berdoa di mana pun. Di kota asing ini aku belajar melawan ketakutanku sendiri.

Sejak awal datang ke kota ini kita masing-masing sudah berkomitmen untuk saling membantu dan menyelamatkan. Karena kami di sini hanya berdua sebagai mahasiswa pertukaran. Mereka di luar sana adalah asing bagi kami. Kami sadar untuk saling menjaga diri kami masing-masing--sukses hingga program selesai selama satu semester ini.

Pengalaman bersama Andre adalah pelajaran yang sangat berharga bagiku. Agama tidak lagi menjadi sekat kami. Kami boleh berbeda keyakinan tapi jiwa kemanusiaan kami harus tetap saling dijaga, demi saling menyelamatkan. Aku juga sadar betapa baiknya Andre ketika dia bersedia menemaniku shalat Jum'at di sebuah masjid di tengah kota. Dia menawarkan diri agar bisa menemaniku ibadah di hari Jumat di minggu pertama aku sampai di Manhattan. Meski tidak masuk masjid, kesediaannya menemaniku ibadah sudah luar biasa. Dia Katolik taat yang mengerti agama sebagai ritual yang imbang antara kemanusiaan dan ketuhanan.

"Kring... kring.... kring...."

Bel kamar apartemen berdering. Tanpa pikir panjang aku segera membukakan pintu. Ternyata betul, mereka datang tepat waktu, seperti janji kami sebelumnya: pukul 3 pm.

"Hey man, bring your camera," sergap Susan ketika melihatku hanya dengan tangan kosong.
"Ohya, pasti dong. Mau masuk dulu?" pangkasku singkat.
"Tidak. Teman-teman sudah siap di bawah. Andre mana?"
"Okay. Beres. By the way, it's Sunday, Susan. Church time!" 

Susan hanya melongo polos. Begitu juga si Thomas. Hanya senyum datar yang terpintal dari muka mereka. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung menuju halaman apartemen.

Setelah masuk ke dalam mobil, Susan memperkenalkan dua teman barunya. Michael dan Kelly. Mereka bertiga adalah pemuda asli Manhattan, sepantaranku. Di jok belakang ada Stovak dari Rumania dan Muller dari Jerman. Mereka berdua sudah aku kenal. Mereka satu program bersama Susan, perempuan sintal dari Itali. Sementara dengan Thomas aku sudah kenal di kantin kampus saat makan bareng Susan.

"Dimana Andre?" tanya Stovak.
"Bareng teman-temannya ke gereja."
"Oh anak alim..."
"I think so."
"Ah kamu juga, Son."
"Itu bagian dari hidupku."
"Don't talk about it anymore!" Susan menyergap kami.

Kami hanya diam sebentar lalu tertawa lebar. Aku menikmati tawa mereka yang lepas dan menikmati juga ketika mereka tidak suka dengan segala urusan ibadah, seperti yang aku dan Andre lakukan.

"Kita mau kemana?"
"It's weekend, Eson. Time to hang out."

Susan benar-benar seperti seorang bos yang sudah mengatur semua rencana. Aku hanya mengangguk dan siap mengikuti arah perjalanan mereka.

Aku berada di jok belakang bersama Stovak dan Muller. Dengan suara kecil aku melanjutkan obrolan bersama mereka di tengah suara musik R&B yang mendominasi. Kami kadang lelah sendiri untuk mengobrol di tengah situasi seperti itu. Aku memilih menabur pandang menikmati suasana baru yang belum ketemui di sepanjang jalan yang kami lewati. Aku masih tidak tahu kemana tujuan kami.

"Sebenarnya kita mau kemana?" tanyaku seraya berbisik di telinga Muller.
"Saya tidak mengerti mau kemana ini." Muller lalu menggeleng.
"Ah, sudah. Ini weekend yang pasti bakal seru," Stovak ikut menenangkan pikiranku.

Aku masih tak habis pikir kenapa mereka berdua juga tidak tahu kemana akan hang-out. Saya curiga ini semua adalah skenario mereka bersama. Tapi aku percaya kepada Susan, Muller dan Stovak. Mereka adalah teman baik yang hangat dan akrab selama ini.

Sekitar 40 menit perjalanan, akhirnya mobil kami menepi dan mau parkir. Secara awas aku perhatikan sekeliling melalui kaca mobil yang terbuka. Aku tidak menemukan tempat istimewa untuk hang-out di sekitar. Kami pun keluar mobil. Susan sibuk mengeluarkan bungkusan plastik. Ada sekitar lima bungkus plastik bersama kami.

"Let's go!" suara Susan begitu nyaring terdengar di telinga kami.

Aku dan Muller membuntut dari belakang mengikuti langkah gontai mereka. Oh, di bawah sana ternyata ada taman luas dan orang-orang sedang ramai menikmati sore di musim panas. Ternyata tempat ini yang menjadi pilihan Susan untuk menghabiskan akhir pekan. Susan langsung mengeluarkan semacam piringan karet dari tasnya.

"Let's play Frisbee," ujar Susan
"Saya belum pernah main," akuku jujur kepada mereka.
"Jangan khawatir. Saya akan ajari," timpal Thomas.

Kami pun bermain Frisbee. Ternyata permainan ini tidak terlalu sulit bagiku dan aku pun langsung dengan baik bisa melempar dan menangkap piringan Frisbee. Kami membentuk lingkaran luas dengan tujuh orang.

Matahari sudah mulai tenggelam dan cahaya lampu taman menggantikan cahaya matahari. Kami sudah berhenti main Frisbee. Sebagian dari kami ada yang jogging ringan seperti kebanyakan orang-orang di taman ini. Aku, Muller dan Stovak hanya rebahan di atas rumput sambil menikmati air mancur buatan di sebelah kiri yang dibangun seperti sebuah bukit kecil. Taman Columbus ini sangat cocok untuk tempat jogging dan bermain di akhir pekan bagi masyarakat kota Manhattan. Mereka bisa menikmati akhir pekan dengan murah dan sehat. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, kami langsung mengambil tempat duduk. Susan mengeluarkan cola dan fast food: pizza dan kentang. Kami makan malam bersama-sama.

Perlahan mereka yang sedari tadi bermain di taman mulai berkumpul dan duduk-duduk santai di halaman yang sangat luas. Ada yang tiduran dengan alas seprai yang mereka bawa, ada pula yang membawa tempat duduk lipat dari kain yang mereka pasang di tengah taman. Di sore yang mulai remang itu, suasana seantero taman berubah menjadi semacam kafe-kafe kecil dengan hidangan masing-masing. Tanpa kusadari dari arah kananku ada sebuah panggung yang baru saja mereka pasang, panggung kecil dari lapak kayu dengan kain putih yang menutupi latarnya.

"Ada acara apa malam ini?" aku tanya kepada teman-temanku yang tengah menikmati kola.
"Nonton film bareng," jelas Thomas.
"Nonton bareng di taman begini?"
"Iya. Bagi yang suka silahkan. Saat musim panas begini kegiatan seperti ini pasti ada."
"Kita mau nonton?"
"Jelas dong!" timpal Susan.

Aku menatap wajah mereka sekilas. Mereka sepertinya sudah merencanakan nonton banreng di taman ini. Aku pun lalu mengangguk sembari pamit ke toilet. 

Cara pamit ke toilet seperti ini sudah menjadi senjataku untuk menyempatkan diri shalat Maghrib. Aku tahu di kota ini tidak mudah mencari tempat ibadah. Masjid ada tapi itu pun jarang dan jaraknya cukup jauh. Menghadapi situasi seperti ini aku tidak hilang akal untuk selalu menyiapkan segala perlengkapan ibadah di bodybag: sejadah kecil, sarung dan peci. Meski tidak pasti aku pakai, tiga barang tersebut akan selalu ada di tasku. Aku khawatir bila celanaku kena najis dan sarung bisa menyelematkan ibadahku, begitu juga sejadah akan sangat bermanfaat bagiku bila harus melaksanakan shalat di tepian taman seperti ini. 

Pengalaman seperti ini bukan hanya sekali dua kali aku lakukan selama di kota Manhattan. Aku sudah tidak ketar-ketir lagi dengan lirikan mata sinis mereka atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka melontarkan sehabis aku selesai shalat. Pernah suatu waktu aku shalat di pojokan ruang baca perpustakaan di kampusku. Mereka pada awalnya memang banyak tanya dan penasaran mengapa aku hingga sebegitunya melaksanakan ibadah. Namun pelan-pelan mereka mengerti tentang kewajiban yang sudah jadi kepercayaan bagiku, juga umat agama lain. Menghadapi kenyataan seperti itu aku merasa punya kewajiban untuk memberikan pemahaman tentang Islam kepada mereka agar perkenalan mereka tentang Islam yang hanya lewat media tidak lagi menjadi dasar klaim atas apa yang belum dipelajari secara tekun dan benar. Mendengarkan cerita-cerita seperti itu, banyak teman-temanku mulai beranjak paham dan berpikiran terbuka. Aku sangat senang bila penjelasanku bisa mengantarkan pemahaman Islam yang lebih terbuka dan aspek-aspek sosial dalam agama tidak lagi terhalangi oleh praktik-praktik kekerasan yang mencoreng nama agama Islam.

Selesai shalat, aku pun kembali bersama mereka. Aku tidak terkejut lagi jika di hadapan kami ada botol bir seperti yang kulihat saat itu. Dan pemandangan di taman itu pun menjadi berubah saat temaram seperti itu. Pasangan muda mudi mulai sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku tidak terkejut lagi menyaksikan mereka bebas berciuman sepuasnya. Suasana taman terasa menjadi liar dan panas di saat senja seperti itu.