Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Showing posts with label other. Show all posts
Showing posts with label other. Show all posts

Sunday, May 31, 2015

Terjemahan Bahasa Turki Sajak "Aku Ingin" Karya Sapardi Djoko Damono

Berikut ini adalah terjemahan saya atas puisi berjudul "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono. Semoga ke depan bisa lebih banyak lagi memperkenalkan puisi-puisi Indonesia ke masyarakat Turki.

İSTERİM

Zorlamadan sevmek isterim seni
söylenemez bir sözle
odun ateşe altıldığında değiştiren küle
Zorlamadan sevmek isterim seni
anlatilamaz bir işaretle
yağmur yok eden buludu

===###===

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
      dengan kata yang tak sempat diucapkan
      kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
      dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
      awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...

===###===

I WANT

(by John H. McGlynn)
I want to love you simply
in words not spoken:
tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simply
in signs not expressed:
clouds to the rain which make them evanesce

Wednesday, March 18, 2015

Sebuah Obrolan dengan Kader Tarbiyah di Turki

Sekitar Januari 2014, obrolan imajinatif ini terjadi begitu saja dengan seorang kader Tarbiyah di Turki, tanpa intensi apapun—selain percapakan sebagai teman. Tetapi, ketika obrolan semakin dalam, potensi sebagai social researcher muncul tak terbendung. Sejujurnya saya sangat tertarik mengobrol dengan kelompok mereka. Karena waktu kuliah di Jogja saya punya kawan mahasiswi UGM yang keluar dari Tarbiyah dan menceritakan semuanya (intisarinya sama seperti dalam obrolan berikut). Di samping itu, saya sempat membantu beberapa penelitian seputar isu radikalisme dan multikulturalisme, termasuk jadi peneliti lapangan tentang proses radikalisasi organisasi pemuda di empat kota: Jakarta, Yogyakarta, Malang, Makassar dan Bukittinggi, pada medio 2012 kemarin.

Obrolan berikut, bagi saya, semacam kembangan saja; sesekali buat hiburan dan sesekali buat pelajaran. Apalagi si dia (D) menjelaskan dengan sangat gamblang dan detail. Tentu itu bonus, karena mungkin saja tidak semua kita mengetahuinya. Lain ceritanya bagi anak-anak pergerakan yang sudah banyak minum kopi pahit dunia begini. Demi menjaga kenyamanan, nama dan tempat dikaburkan (selain Anis Matta dll). Saya tidak mengedit selain kalimat-kalimat yang kalau tidak diedit EYD-nya akan sulit dipahami dan juga smiley (karena ketika diunggah ke blog merusak karakter tulisan). Catatan ini tak ada maksud menyinggung ataupun memaksa orang lain percaya, alih-alih jadi boomerang. Ini hanya tulisan awal saya sebagai pribadi, untuk kemudian dilanjutkan tulisan-tulisan berikutnya.

Saya membongkar file ini karena saya mulai menghadapi sebuah tantangan baru yang saya alami sendiri: yaitu adanya upaya penunggangan lembaga PPI Turki oleh salah satu kelompok: Tarbiyah dan PKS. Yang terakhir ini yang membuat saya merasa sedih dan memaksa saya untuk tidak diam. Saya sudah berhadapan langsung dengan mantan ketua PPI Turki periode sebelumnya sebagai orang pertama yang menggiring dan menjebloskan PPI Turki ke kelompoknya. Sejak akhir tahun 2014 saya juga mulai menulis catatan buat tokoh yang satu ini, sesorang yang dikenal baik tapi di hadapan saya bermuka dua. Tulisan tersebut akan saya posting nanti kalau sudah selesai. 

Saat ini, biar obrolan imajinatif dengan seorang kader perempuan berikut ini jadi warming up dulu.

Khusus untuk para mahasiswa di Turki, silahkan ingat lagi kegiatan DEYS (Democratic and Economic Youth Summit), Oktober 2013 ya…. Siapa tahu ada yang mulai tersadar.

Keterangan: Dia (D), Saya (S).

                                                                         ####

D: Bro, daku mau nanya. Dirimu ada temen orang keturunan Cina gak? Maksudnya Indo-Cina.
S: Ada
D: Bisa minta tolong tanyain dunk. Benar gak kalau di budaya mereka ada semacam adat kalau pernikahan dalam satu keluarga gak boleh dalam tahun yang sama. Misalnya saya orang Cina. Kakak saya mau nikah tahun ini. Otomatis kalau saya mau nikah harus nunggu tahun depan. Begitu?
S: Oke ntar tak tanyain. Km mau nikah sama keterunan Cina apa, hahaa?
D: Mau ngecek. Jangan2 saya dikibulin ama tu orang!
S: Duh. Jangan sampe.
D: Haha. Minta tolong tanyain ya, J. Maacih ea kakaaaaak.
S:  Iyaa pasti ntaran ya.
D: Okeh.
S: Kamu kebelet nikah ya? haha
D: Haha. Napa emang kok nanya gitu mbak? Eh kok manggil mbak, BJ maksudnya.
S: Duh, jadi mbak.
D: Iya ni. Lagi cari jodoh diriku.
S: Mbak BJ. Ga pa2... saya dukung.
D: Hahaha. Lucu juga Mbak BJ. Tanyain ya. Tapi saya harapnya dia gak bohong sih.
S: Iya iya...
D: (smiley)
S: “Ada juga yg aliran gtu, BJ. Diitung-itung 'tanggal baik'nya dlu, dan biar ga 'nglangkahin' gtu.. Tp ga bisa dipukul rata gtu smua, krn skrg yg smkin modern/terkristen jg bnyk, ga percaya gtu2an lg.. Jd balik k masing2 kluarganya..” Itu jawaban temanku setelah aku tannya.
D: Makasih, J. Tapi kalau keluarga yang masih memegang erat kultur mereka ya gak bisa nikah dalam satu tahun berarti. Hmmmm. Makasih berat, J. Ocean thanks.
S: Sampe
tenggelem ya.
D: Duh hhaha. Kayaknya emang keluarganya kentel abis Cina-nya. Soalnya mereka sih gak mslah kalau dia ngelangkahi kakaknya. Tapi yg jd mslah adalah tak boleh nikah dalam tahun yang sama. Kualat katanya. Uhuks.
S: Uh... Seru juga tuh ya.
D: Seru apanya.
S: Seru dengan kultur bgt.
D: Oooo.... tapi buat orang kayak saya artinya delay setahun.
S: Iya iya. Dia orang Jawa ya.
D: China-Cambodia (Cambodia editan)
S: Bisa jadi inspirasi buat novel tuh. Harus bersabar ya.
D: Ya. Sepertinya mau dimasukin ke bab: Cina
S: Besok juga akan datang kok jodohmu.
D: Hahay. Kalao saya sih sante aja. Ada hikmahnya. Saya udah bilang sama dia. Kalau ya jalan masing2 aja dulu.
S: Siapa yg ga santai lalu?
D: Saya cari yang lain yang bisa nikah tahun ini. Maksudnya saya gak santenya itu kalau dia ternyata bohong. Tapi kayaknya emang kenyataannya.
S: Harus tahun ini apa, D?
D: Saya udah tua, J. Udah 25.
S: Iya ngerti. Apa kriteriamu?
D: Seiman pasti. Yang lain sesuai kesepakatanlah. Bisa diatur.
S: Boleh tahu dong kesepakatan macam apa?
D: Saya kan ngaji. Dirimu tau ada halaqoh2 kan? Setidaknya dia mau ngaji juga. Biar satu pikiran.
S: Ngaji Qur'an atau apa? Iya halaqoh yg mana?
D: Ngaji Qur'an. Namanya halaqoh Tarbiyah. Jadi tiep minggu kami ada ngaji bareng. Acaranya ngaji abis itu bahas tentang Islam. Bisa sejarah, bisa tantangan yang dihadapi Islam saat ini. Dsb.
S: Oh gitu. Aku ngerti. Berarti di luar halaqoh ga bisa ya.
D: Bisa sih. Kami orangnya terbuka. Terserah mau darimana aja. Yang penting nanti mau ngaji. Itu aja. Karena menurut saya satu pikiran dan satu suhu itu penting dalam membina rumah tangga. Karena kita kan membangun peradaban. Nikah bukan hanya sekedar cinta.
S: Iya betul. Sejak kapan kamu masuk ke halaqoh gt, D?
D: Sejak kuliah S1. Sejak semester 1 dulu.
S: Oh oke. Berarti aku ga bisa masuk kriteriamu dong hihihi.
D: Wah. Jangan2 saya bakal dijadikan bahan riset nih sama BJ. Bisalah kalau kamu mau. Tapi ikutan ngaji.
S: Kl ngaji Qur'an pasti dong.
D: Luluslah.
S: Tp ga mau ikut halaqoh mereka. Berarti bisa nih lamar kamu ya hihi.
D: Bisa asal mau halaqoh. Karena halaqoh itu terdiri dari dua: ngaji dan ikut kajian tadi.
S: Susah ya. Ahay.
D: Iya. Susah. Hahaa. Kemarin juga yang China itu gak halaqoh. Saya bilang coba aja dulu masuk halaqoh.
S: Terus
D: Udah masuk. Kalau kamu ngerasa gak sanggup dan gak mau nikah sama aku lantaran gak mau ikut halaqoh ya silahkan. Terserah. Terus dia ikut halaqoh selama 3 bulan. Percobaan. Katanya sih awalnya ngerasa gak nyaman. Tapi lama2 jadi biasa. Tapi setelah syarat terpenuhi. Ternyata kami memang sepertinya gak jodoh. Karena hal yang saya tanyakan tadi. Yang gak bisa nikah tahun yang sama. Wah. Ini kok jadi curhat.
S: Iya ga pa2 D. Aku senang banget bisa mendengar ini dari kamu.
D: Iya. Bisa jadi bahan riset. Dirimu kan anak sosiologi.
S: Iya bisa juga gitu. Tp risetku bukan ttg beginian. Keren sekali ya halaqah. Gigih gt.
D: Sebenarnya hanya untuk memastikan jalan membangun peradaban itu. Batu bata penyusunnya sebaiknya satu bentuk. Bisa baca kisahnya Anis Matta yang menikahi orang Hungaria.
S: Iya iya. Keren emang.
D: Semua serba realistis.
S: Kl misalnya nikah dg org di luar halaqoh gmana?
D: Bisa2 aja. Tapi ya itu. Mau ikut halaqoh. Haha. Itu lagi.
S: Kl ga mau?
D: Saya sebenarnya sudah ada perasaan dengan yang Cina itu. Tapi saya juga harus realistis.
S: Misalnya aku ga mau.. tapi pingin nikah sama kamu.
D: Kalau gak mau ya saya juga gak mau. Karena menuruts saya membangun rumah tangga tidak hanya sekedar cinta. Tapi ada visi yang jelas kemana mau dibawa rumha tangga.
S: Iya ngerti.  Tp kan g harus dg halaqah to?
D: Visi saya ya memberi manfaat sebesarnya. Salah satu sarananya ya dengan itu. Halaqoh tadi. Ibaratnya halaqoh itu sebuah gerbong. Kalau kita pisah gerbong gimana mau jalan beriringan.
S: Visi saya ya memberi manfaat sebesarnya. Tp tdk dg halaqah. Terus gmana?
D: Kalau kita pisah gerbong gimana mau jalan beriringan.
S: Kan tujuannya sama.
D: Either saya yang pindah ke gerbong A atau kamu yang pindah ke gerbong lain.
S: Km siap kl pindah gerbong?
D: Saya gak mau pindah gerbong. Ibaratnya begini. Ada dua kereta berjalan beriringan dengan tujuan yang sama. Saya ada di kereta A. S ada di kereta B. Nah. Saya mau komunikasi sama S lewat jendela. Susah. Harus teriak2 dulu. Sedangkan kita dituntut efisiensi waktu. Kita tak punya waktu banyak hanya untuk sekedar komunikasi. Sedangkan agenda2 peradaban menanti didepan. Begitulah. Kok jadi berat kayak gini sih.
S: Oke. Agenda peradaban yg dimaksud apa konkretnya? Hihi
D: Hee. Masih mau nyimak gak?
S: Iya sangat mau dong.
D: Sebentar saya carikan file egenda peradaban dulu ya. Biar BJ gak salah ngerti.
S: Boleh boleh. Ditunggu ya.
D: Nah. Ketemu. Jadi agenda peradabannya begini: Tahapan paling tingginya adalah: Menjadikan Islam adalah sistem seluruh dunia. Rahmatan lil alamin lah bahasa kerennya. Untuk mencapai itu ada beberapa mihwar. Kami menyebutnya tahapan mihwar dakwah. Tahapan yang paling mendasar adalah mihwar pembentukan Muslim sejati. Kami mulai dengan halaqoh tadi. Tahapan kedua yakni mihwar pembentukan keluarga Islami. Dengan pembentukan keluarga Islami diharapkan kita dengan kelurga tersebut bisa menuju mihwar selanjutnya. Yakni: mihwar masyarakat Islami. Setelah itu baru negara, dan dunia. Makanya disebut misi peradaban.
S: Wah keren sekali ya. Sebuah strategy yg keren itu.
D: Nah. Saya ingin mengutip kata2 Anis Matta dan Ahmad Heryawan tentang peradaban ini: Ini bakal panjang saya ketik disini.
S: Oke ditunggu... Tokoh paling atas di Indonesia siapa, D?
D: Paling atas maksudnya?
S: Macam paling berpengaruh atau presidentnya gt.
D: Nanti saya jawab itu ya. Saya ketikkan ini dulu; ini pidato Anis Matta ketika kemarin datang ke Turki. Serta Pidato Ahmad Heryawan di acara DEYS: “Secara fisik di Turki banyak karya sejarah pembangunnya sudah wafat hari ini kita masih bisa memanfaatkan karya bangunan fisiknya. Dan karya2 pikiran ulama masa lalu. Di Indonesia, saya tinggal di Gedung Pakuan dibangun 1884 dan sampai sekarang masih kokoh. Gedung sate dibangun 1920 masih kokoh sampai sekarang. Bandingkan dengan bangunan zaman sekarang yang melalui proses tender. Biasanya umur manusianya masih hidup bangunannya sudah runtuh. Kenapa? Teorinya sederhana, karena ia tidak berpikir untuk membuat sejarah. Kami percaya bahwa setiap bangsa akan mendapatkan jatah untuk membangun peradaban dan sejarah di dunia: Arab sudah. Persia sudah. Turk sudah. Dan yang lainnya sudah. Giliran kita orang Malay yang belum. Dan kami percaya bahwa kita bangsa Indonesia adalah kandidat utamanya. Turki penduduknya berapa? 70-an juta. Satu negara besar di antara negara lain di kawasan ini. Karena Mesir 80-an juta. Iran 70-an juta. Ini adalah negara2 Arab yang kalau dikumpulkann ada 22 baru bisa menyamai jumlah penduduk Indonesia. Jadi bisa kita bayangkan perbedaan dalam skala. Bahkan salah satu politisi Kuawit terheran dengan besarnya jumlah kita. Tapi kita saudara2: sering mempersepsikan diri kita kecil. Dan karena itu kita tidak pernah membayangkan melakukan kerja2 besar seperti membangun peradaban dunia. Kita yang menganggap diri kita kecil padahal orang lain melihatnya sangat berbeda.”…..  Ini pendapat saya; dari visi di atas yang sudah jelas saya enggan untuk pindah gerbong. Tujuan memang sama. Tapi saya tidak pernah menemukan penjelasan yang membangkitkan semamgat seperti ini di gerbong2 lainnya. Bukan berarti gerbong yang lain salah, hanya saja saya merasa gerbong yang ini sesuai dengan saya.
S: Oke oke, D...
D: Gak salah dunk kalau saya minta calon suami saya juga melihat visi ini.
S: Makasih sudah sedia menjelaskannya. Kamu baik deh.
D: Sip deh. Biar orang tak salah mempersepsi kami. Karena saya sering mendapat kritikan bahwa: gerbong kamu ekslusif. Karena mereka belum lihat dari dalam sepertinya.
S: Iya betul mrk ga tahu kelompokmu dr dalam. Terus president gerbong kamu di Indonesia siapa sekarang. Tokoh2 yg yang terkenal gt.
D: Ya semacam Anis Matta, Ahmad Heryawan dan kawan2nyalah.
S: Ini kelompokmu bernama Hizbut Tahrir ya, D?
D: Beda. Hizbut Tahrir itu Ustadz Felix. Kalau saya Ikhwanul Muslimin.
S: Oh iya. Tapi sama lho..mau bikin khalifah juga...
D: HT dan IM beda. Kalau HT mereka gak berpolitik.
S: Kan sama mau bikin negara Islam. Oh gt.. Mencerahkan sekali deh chatting ini.  Makasih ya
D: Sama2. Semoga bermanfaat. Semoga BJ mempersepsi kami bukan gerakan yang aneh2.
S: Ga kok. Ga bakal. Saya dukung kalian jika baik. Tapi sayang jg banyak yg korup ya.
D: Wah. Saya masih dalam kepercayaan gak korup. Itu kayak filosofi SUMUR.
S: Apa lagi tuh?
D: Sudah pernah dengar?
S: Kayak Lutfi Hasan ga korup berarti?
D: Nanti lanjut lagi ya. Saya tunaikan kewajiban dulu: sholat. Hehe
S: Sip
D: Saya berkesimpulan dari pernyataan BJ bahwa ketika kita halaqoh itu artinya masuk partai. Pertama2 saya ingin menjelaskan bahwa ketika kamu masuk halaqoh bukan berarti kamu masuk partai. Partai hanyalah salah satu sarana kami. Kalaupun partai bubar kami tetap ada. Karena induknya adalah jamaah tadi, bukan partai. Misalnya saya. Ketika masuk halaqoh saya bukan orang partai. Kami berprinsip menebar kebaikan apapun kemampuan kamu. Lalu misalnya saya menebar kebaikan melalui tulisan. Itulah sebab kenapa saya rajin menulis. Karena disitu tempat saya mampu. Kami sebut muyul. Nah ada juga orang yang muyulnya di partai ya masuk partai. Muyul politik maksudnya……. Nah, mengenai FILOSOFI sumur tadi mau dijelasin gak?
S: Kakakku masuk PKS, lho. Mau dong.
D: Hehehe. Siap. Kamu pernah dengar teori konspirasi? Banyak yang tak percaya tentang teori konspirasi atas kami. Ini sebenarnya konspirasi internasional. Misalnya saja sekarang diterapkan di Turki. Karena di Indo mereka berhasil merusak citra kami, jadi sekarang mereka juga menerapkannya atas Turki. Ada saya punya tulisan tentang ini….. Sebentar ya….
S: Kasi link ja biar aku baca (tapi sayang file kiriman si doi soal ini saya lupa disimpan dimana. Semoga masih ada biar saya publis nanti). Terus soal korupsi Lutfi Hasan gmana?
D: Saya nulis di word. Gak saya terbitin karena isu sensitif. Sebentar. Biar runut. Apapun yang terjadi kami tetap mencintai Ustadz Lutfi Hasan. Sebab itu pidato pertama Anis Matta ketika menjabat sebagai presiden: kami tetep mencintai beliau. Tentang penjelasan logisnya seperti ini (si doi kirim file via word); Lalu mengenai kasus korupsi LHI ibarat cerita Nabi Yusuf yang masuk sumur? Kira2 analoginya seperti itu. Bisa jadi kami berdiri terlalu dekat dengan sumur jadi orang dengan mudah mendorong kami masuk sumur.
S: Berarti bukti2 semua di pengadilan gmana tuh?
D: Menurut BJ gimana? Uang 1 Miliarnya udah ditangan LHI? Blm. Kalau BJ sempat ikut mendengarkan live streaming sebenarnya bisa lebih jelas. Bahkan si Fatanah sempat meminta maaf kepada LHI atas perbuatannya. Live streaming pengadilan LHI maksudnya…… Jadi misalnhya nih BJ jatuh cinta sama saya dan udah beliin cincin buat saya. Ini misalnya ya. Terus di jalan BJ ditanya ama temennya: “kamu mau ngapain?” “Mau ngelamar D.” Nah apakah dengan pernyataan BJ tadi saya lantas dianggao sebagai tunangan BJ. Padahal cincin belum saya terima dan saya belum mengatakan iya….. Tapi itu hanya maslah segelintir kami. Tak menghalangi kami untuk tetap menebar kebaikan. Yang lalu biar berlalu. Makanya kami sekarang mengeluarkan AYTKTM: Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani. Lebib lengkapnya bisa tanya kakaknya BJ deh. Saya orang yang gak masuk politik kok. Saya menebar kebaikan lewat tulisan.
S: Hehee oke. Oke D. Senang deh dapat ilmu banyak dr kamu
.

Tuesday, August 05, 2014

Pengalaman bersama PlayPlus Indonesia

PENGANTAR 

Saya menulis catatan ini semata-mata sebagai catatan pribadi dan juga untuk jawaban dari beberapa teman yang bertanya seputar proyek PlayPlus yang sudah berlangsung sejak bulan Agustus 2013 hingga Januari 2014. Tulisan ini jelas versi saya—bukan mewakili tim—yang sudah menjalankan dan menyukseskan proyek ini. Karena teman-teman perlu tahu bahwa saya tidak ikut melaksanakan proyek di lapangan (karena saya memilih kuliah master dan meninggalkan teman-teman tim tanggal 19 September 2013). Saya hanya menjadi project leader di awal-kegiatan yang memperjuangkan proyek ini menang dan terpilih oleh Bureau of Education and Cultural Affairs - International Exchange Alumni tahun 2013. Proyek ini sifatnya kompetisi yang dipanel langsung oleh juri-juri di Amerika. Saya juga punya testimony

Friday, February 21, 2014

Testimoni PlayPlus Indonesia

(Saya tulis testimoni ini untuk salah satu rubrik dalam website PlayPlus. Tapi karena website-nya eror dan tidak bisa diakses, saya publis di blog sini dengan sedikit edit).

Bakerja bareng State Alumni baru terjadi kali ini. Sebelumnya saya nyaris tak pernah berhubungan secara intens dengan para alumni IELSP (Indonesia English Language Study Program). Saya diuntungkan “memaksa diri” untuk datang ke Alumni Meeting yang dihelat di Jogja pada sekitar bulan April 2013. Spiritnya hanya satu: karena saya mau ketemu dengan seorang kawan yang satu cohort saat ikut program ke Amerika, Ahyadi namanya. Namun setelah ketemu dengan semua cohort dan grantee IELSP, saya merasa nyaman dan mendapatkan setangkup kehangatan kebersamaan di bawah bendera keluarga alumni. Sehingga ketika ada kabar soal ada kompetisi bagi para alumni bernama Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) yang diselenggarakan oleh Bureau of Education and Cultural Affairs - International Exchange Alumni USAID tahun 2013, saya tidak segan-segan untuk mengontak teman-teman fellow yang sudah saya kenal di Yogyakarta.

Saturday, February 08, 2014

Surat Biasa untuk Andre Sutantyo

Kawan Andre yang baik....

Sejak mendengar tekadmu untuk ikut bursa calon legislatif (caleg) DPRD Salatiga tahun 2014, sejujurnya saya terperangah dan tercengang. Yang terpikir hanya satu: kamu benar-benar akan melewati lorong yang penuh intrik. Karena hingga sekarang saya menyaksikan sendiri bahwa jalan politik, di negeri tercinta ini, adalah lorong penuh jebakan dan banyak “main-main”-nya. Sedikit sekali yang murni datang dari hati nurani untuk memikirkan nasib mereka yang diwakili; sangat sedikit pula yang menjadikan politik sebagai seni mengelola “power” untuk memperkuat civil dan society. Tapi dalam praktiknya politik justru menegasikan “power” untuk menindas, menipu dan melemahkan rakyat itu sendiri. Atau tak jarang pula—lewat cara permainan itu—membuat rakyat chaos dan tidak tenang, dan selanjutnya mereka terbiasa berpesta di atas derita bangsanya sendiri. Tentu, itu sebentuk kejahatan struktual, bukan?


Saturday, August 17, 2013

Caring is Friendship

Kisah kali ini khusus buat seorang teman yang tiba-tiba menawarkan sebuah tiket pesawat ke Jakarta. Katanya, sebagai dukungan kepada saya agar mengambil beasiswa master di Turkey yang saya dapatkan tahun 2013 ini. Terima kasih kawan....

Dalam minggu ini saya sedang ada keperluan mengurus visa untuk study lanjutan di Turkey. Saya sejujurnya tidak ada persiapkan banyak uang untuk keperluan keberangkatan ke Turkey. Di samping kesibukan saya sebulan sebelum Ramadhan: menjadi project leader untuk sebuah kompetisi internasional untuk para alumni Amerika (saya ketepatan menjadi alumni IELSP) bernama PlayPlus--yang nyaris menjadi seorang diri berjuang untuk membuktikan bahwa project itu bisa menang dan terpilih di depan meja panel di Washington sana--ternyata lupa bahwa saya juga harus bekerja make money untuk pulang kampung (mudik) dan persiapan mengurus visa, akhirnya betul-betul terjadi dan menimpa saya minggu ini. I have no enough money for visa. I give some of much to my mom for their daily needs in kampung halaman. Dan ketika saya harus mengurus visa, uang saya menipis dan bahkan bisa dibilang habis. Ini jelas konyol. Sebuah perhitungan yang binasa! Saat begitu, saya bingung, pastinya. Tapi saya bukan tipe penyerah kepada keadaan.

Namun, begitulah hidup. Keyakinan saya berkarya setulusnya untuk PlayPlus, yang sekarang sudah menang bersama sekitar 50 proposal dan menyingkirkan lebih dari 800 proposal dari banyak negara di dunia, benar-benar dilihat Tuhan. Ada seorang kawan yang secara langsung meminjamkan duit dan membelikan tiket pesawat saya ke Jakarta. Saya sempat terdiam merenungi semua ini. Dan, saya sangat bersyukur kepada beberapa teman yang telah membantu saya.

Pasti, jika saya jadi berangkat study ke Turkey, grant sekitar $23.000 itu akan saya limpahkan kepada alumni yang menjadi team member saya. Meski sudah benar-benar menjadi pemilik hak project itu, dan tentu dengan grant yang didapatkan, saya tidak pernah kepikiran buat apa uang sebesar lebih dari Rp 200 juta itu. Karena sudah menjadi project leader, saya berkomitmen untuk menyelesaikan semua persiapan di awal biar selanjutnya teman-teman saya bisa lebih mudah dan akan saya habiskan tenaga di awal untuk membantu project ini. Dan terpaksa, pekerjaan saya yang lain pun terkatung. Begitulah indah-pahitnya sebuah pilihan!

Selanjutnya saya percaya, bahwa ketulusan bekerja untuk orang lain akan selalu mendapatkan hikmahnya yang manis, dari Tuhan, alam semesta, dan juga manusia. Terima kasih kawan....

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-68!

Monday, June 03, 2013

Caring is Friend #1

Mulai saat ini, saya ingin rajin menuliskan beberapa komentar, catatan (baik personal [tapi nggak personal banget] ataupun kritikan dari teman-teman [dekat atau jauh]). Karena saya disadarkan oleh kata-kata ajaib itu. Saya menyebutnya sebagai kata-kata ajaib dalam pengalaman dan pemahaman personal saya.

Untuk seri Caring is Friend #1 saya ingin mencuplik komentar dari seorang teman.

Saturday, May 18, 2013

"Pak, Dia Harus Bisa Baca-Tulis!"

Malam ini saya ikut meramaikan acara Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2013, setelah dari pagi hingga sore ikut kongkow bersama GusDurian di LKiS. Saya bantu apapun yang bisa saya lakukan di tempat acara, seperti ikut membagikan flayer. Acara serupa ini selalu ingin saya sambangi--dan beberapa kegiatan khususnya yang mempromosikan kesetaraan, nirkekerasan, perdamaian, dan isu sejenis.


Monday, December 10, 2012

Pengalaman Banjir Pertama di Kota Imajiner

Senin, 10 Desember 2012, sekitar pukul 14.40 menuju sore. Aku terjebak hujan di tengah jalan pulang dari daerah Kemang ke Kelapa Dua Depok. Dari angkot aku harus menepi dulu di emperan sebuah warung makan untuk beteduh, tepat di seberang sebuah rumah ibadah Pure, jalan menuju perumahan Bukit Cengkeh.

Ohya. Aku sangat lemah mengidentifikasi nama-nama daerah, khususnya di Jakarta. Bayangin, Kelapa Dua Depok saja aku imajinasikan sebagai Jakarta. Padahal bukan. Secara demografi dan pemerintahan berbeda. Tapi entahlah, pikiranku masih saja tidak bisa kompromi bahwa Jakarta dan sekitarnya adalah Jakarta. That's it all!

Di depan mataku hujan gemerincing deras. Bulirannya seperti logam yang memencar di tengah jalanan aspal. Hujan makan sekitar 1 jam!

Ke Jakarta kali ini sebenarnya aku cuma sebentar: menyiapkan bahan-bahan untuk riset di lapangan. Setelah itu minggat lagi ke kota lain: Makassar. Nah, pengalaman kali ini luar biasa karena aku merasakan bajir meski cuma selutut. Tapi setidaknya seru! Pengalaman ini bersanding dengan pengalaman pertama kali aku ke Jakarta. Pertama kali sekitar tahun 2008 awal, saat masih di semester 4, di dekat Istana Presiden, di Jalan Veteran sana, yang hanya selemparan ludah dengan deretan kantor Jaksa Agung dan Istina.

Entah kenapa, kota Jakarta bagiku adalah kota imajiner, tempat semua bayangan dan halusinasi menyerangai. Jangan salahkan aku sebagai pengunjung kota ini bilamana ingatan tentang Jakarta adalah perihal ini: korupsi, banjir, macet, dan kriminalitas. Jangan salahkan pengunjung sebuah kota seperti aku ini, ya! Karena kota sejatinya akan bercerita secara jujur kepada pengunjungnya.

Sekarang aku sudah benar-benar merasakan tentang Jakarta. Terkena banjir adalah cita-citaku untuk merasai kota Jakarta. Sepertinya, tanpa dikena banjir belum merasakan Jakarta!

Hujan reda. Hanya gerimis tipis saja. Aku memanggil ojek untuk kembali ke kantor, di Bukit Cengkeh 2. "Tidak banjir kan, Pak, menuju Bukit Cengkeh Dua?" Aku coba meyakinkan si tukang Ojek. "Iya, tapi dikit."

Akhirnya tubuhku dibawa ojek motor. Jalan di depanku masih hanya dilapisi aliran air sedikit. Ojek melejit. Makin jauh makin air semakin tebal. Semakin tebal. Semakin tebal, dan tebal. "Yakin, Pak, tidak apa-apa?" "Ayok coba aje." Tak sampai 100 meter lagi, ojek mati. Gleg gleg gleg..... Mungkin mesin motor kebanyakan minum air. Motor mati. Jarak arahku masih tinggal separuh. Jarak dari Pure ke tempatku sekitar 2 km. Ehm... motor sudah tak tertolong. 

"Sudah, Pak. Aku jalan kaki saja ya. Sudah dekat, kok." Kukasi goceng. Dia tersenyum. "Oh maaf, Dik." Aku paham motor tidak bisa diandalkan. Aku memilih jalan kaki dan menebas luapan air dari kali di sepanjang jalan itu. Ternyata bukan cuma ojek kami yang mati, di sepanjang jalan itu banyak juga motor yang dituntun. Oh.... kaki dalam sepatu basah, celana selutut juga basah. Oh, hatiku basah juga. Ih!

Aku jalan kaki. Di depanku air riuh rendah. Sesekali air naik sepaha ketika ada mobil lewat di sampingku.

Terima kasih Jakarta, eh Depok maksudku,  aku sudah merasakan air banjir!

Sunday, December 02, 2012

Memang "Cuma" Puntung Rokok

Masih ingat dengan semboyan "small is beautiful" kan? Pasti dong. Tinggal klik aja di Google kata kunci itu. Di situ akan tertera nama E. F. Schumache, ekonom Inggris asal Jerman. Di era "tab" ini semuanya bisa berada dalam gengaman--cepat melampaui kilat. 

Nah, saya nggak ingin membahas semboyan itu. Saya justru ingin mengatakan bahwa "small is dangerous"! Kenapa tidak? Ceritanya begini: hal-hal besar itu berasal dari hal-hal kecil. Sebelum menjadi "universe", semesta ini hanyalah gumpalan-gumpalan atom; sebelum menjadi manusia, tubuh ini cumalah belesatan sperma dan ovum; dan sebelum menjadi banjir, hanyalah sumbutan-sumbatan kecil pada aliran air, sanitasi, gorong-gorong, lalu sungai yang tersumbat oleh barang-barang kecil (yang kita anggap tak bermasalah) seperti selembar sampah plastik, puntung rokok, dan pembalut yang kemudian menumpuk dan menggunung. 

Then, the small things become the biggest one!

Ceritanya saya masih nge-kost. Sejak awal ada beberapa pertemuan dan kesepakatan untuk tidak membuang puntung rokok, bungkus saset sampo, bungkus sabun, dll dalam kamar mandi. Hampir setiap 3-4 bulan kost saya mengadakan obrolan bersama dan membahas hal-hal penting, dan bahkan tak jarang gotong royong bersih-bersih bareng. Itu keren pastinya. 

Tapi soal yang satu ini: puntung rokok dan sejenisnya di kamar mandi tak pernah beres! Setiap hari pasti ada. Oh shit! Manusia macam apatah kita ini?

Saya jadi ingat komentar teman di luar sana: "boleh saja kalian mau berak, pipis, mabok, narkoba, ngesex dan bahkan bunuh diri pun asal di kamar, di ruang pribadi dimana tidak mengganggu orang lain. SILAHKAN! Budaya kita sebaliknya: di kamar sendiri di-pel se-mengkilat mungkin dengan aroma parfum kelas dunia, dipoles dengan sedemikian indah sebagai "rumah surgaku", dan dirawat dengan ekstra supercantik, sementara di luar pintu, di halaman, di jalan raya, kita kerap lalai tentang kewajiban sebagai makhluk sosial. Oh.

*Catatan menjelang senja, sehabis boker!

Wednesday, October 31, 2012

Letter of Reference ~ CRB

Personal Reference – Bernando J. Sujibto

To Whom It May Concern,

I was fortunate to meet with Bernando J.Sujibto in 2011 when he came to Australia for the Indonesian Muslim Exchange Program run through Melbourne University. At that time I was supervisor for the Melbourne program.

Bernando was always ready to be involved in any discussions involving peace issues and the ways in which it could be possible to ensure that greater attention was focused on the issue of peace for the whole world. He has an open, highly enthusiastic and passionate approach to ideas for the development of peace in our world. He has a maturity beyond his years in the way he is not only happy to discuss his ideas for Peace building but also to listen attentively and respectfully to the ideas of others. This was highlighted during his time in Australia when he met with a number of interfaith groups and his passionate involvement with Peace development came through in the discussions which took place.

Even though I knew Bernando for a short time only, we have continued to maintain a correspondence and I am aware of his ongoing activities in the development of peace building activities within his own community. I am confident in saying that he is an outstanding young man who, I have no doubt, will have a major impact on the future of our world in his role as an advocate for peace and mutual understanding. He is intelligent, tireless and highly motivated and I couldn’t be happier to recommend him for the Program for Human Resource Development in Asia for Peace Building. This is a young man who will utilise whatever skills he is able to obtain from a program and put it to solid practical effect in the daily life of his community and the wider world.

He is an excellent candidate and I am honoured to be his referee.

Regards,

CRB

Wednesday, June 27, 2012

Surat untuk Bapak Dahlan Iskan

Yang terhormat
Bapak Dahlan Iskan

Mungkin surat ini lambat saya tulis kepada Bapak. Tapi daripada tidak sama sekali, saya lebih baik menuliskannya, mengiringi kesibukan dan aktivitas Bapak yang tak kenal lelah dan gigih demi perbaikan tanah pusaka ini ke depan.
Sort of my village

Saya tidak mengerti kenapa ingin sekali menulis surat ini, selain saya bangga menyaksikan kegigihan Bapak yang menembus tembok-tembok bernama sistem dan mainstream. Dan saya semakin yakin menuliskan suara hati ini ketika saya mendengar ada kasus korupsi di balik pengadaan Al-Qur'an di Kemeneg. Kitab suci seakan-akan sudah tidak berarti lagi; nilai-nilai kebaikan sudah dilabrak; dan akal sehat sudah dicederai.

Tuesday, June 19, 2012

Apa Kabar Anjing Anda?

Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Anjing? Ini hewan yang cerdas, oke; ini hewan yang cekatan, oke; ini hewan yang najis bagi sebagian agama, oke; ini hewan yang bisa menyebarkan rabies (penyakit anjing gila), oke; dan sebagainya. Apa lagi yang bisa Anda katakan tentang Anjing?

Sunday, April 29, 2012

Meragu dan Angka 01. 20 di HP Bututku

Ini tengah malam, dan sebuah angka di HP bututku telah menunjukkan angka satu--pertanda ini bukan malam lagi, tapi pagi sudah di depan mata. Ya, dingin udara sudah terasa lain di kulitku. Begitu hari terus berputar dan aku semoga tidak hanya berpura-pura mengikuti perputaran roda waktu. Perputaran waktu yang bringas, menggilas dan keras.

Tuesday, February 14, 2012

Yang Tersesat dalam Kerontang

Ini benar-benar menjadi pagi yang kering dalam hatiku. Perjalanan jauh yang kuikuti selama ini seperti menuju ke kegersangan yang lain, kegersangan hari yang lumpuh. Hatiku yang semakin kerontang, di manakah seteguk air atau oase? Aku ingin segera kembali. Aku ingin segera kembali.....

Thursday, December 29, 2011

Tanah Itu, Ya Darah!

Tulisan kali ini saya kutipkan dari Twitter saya @_bje yang mungkin hanya galau semata, tidak perlu, sia-sia, atau apatah namanya! Saya hanya suka berbagi, dan selebihnya adalah pikiran kita masing-masing yang menangkapnya!
Tanah Itu, Ya Darah! Ingin iseng-iseng bercerita ttg tanah #tanah
malam-malam, ketika tubuh ini telentang, pikiranku ingat tentang tanah, suatu yang urgen tapi kita jarang menghargai keberadaannya #tanah
atau mungkin kita lupa, atau mungkin belum sempat memikirkannya #tanah
Kita memang tidak sedang tidur di atas tanah secara langsung, tapi ingat bahwa tubuh kita dekat dengan tanah, yang setia menyanggah! #tanah
Namun, ia menjadi entitas yang berpisah—karena kebiasaan kita sering meludahi, memberaki dan menyumbatnya dg sampah #tanah
ia tidak pernah menyumpahi kita atas semua itu karena memang tanah diciptakan untuk memberi ruang hidup sekaligus memendam kematian #tanah
tanah sudah memberikan kita segalanya. Sebagai rumah kematian, tanah sudah menampung kita. Mungkin untuk itulah tanah diciptakan #tanah
Kekerasan dan pencaplokan yang berdasarkan penguasaan tanah sudah terjadi sejak ribuan tahun. Karena tanah sesuatu ttg kemerdekaan #tanah
dan di situlah tanah menjadi rebutan. penjajahan berawal dari perebutan tanah dan territori, penguasaan terhadap kekayaan tanah (SDA) #tanah
pada awalnya tanah adalah ttg territori, tapal batas yang memberikan ruang bagi trcptanya dinamika khdpan, dan kemerdekaan #tanah
tentang tanah telah mengobankan darah: ada Mesuji dan Sape. Itu yang baru aja muncul, entah di mana lagi yang akan menyusul #tanah
ingat lho, para pejuang kemerdekaan berperang hingga darah penghabisan, demi tanah air, kemerdekaan #tanah
krn kalau tanah hanya dinisbatkan dg petani, semakin jelas bahwa mereka yg berada di luar kpntingan itu merasa sah memperalat tanah #tanah
tanah itu ibarat Ibu kehidupan itu sendiri--bagi manusia, bukan hanya bagi petani #tanah
jk ingat petani, yg semua hidupnya digantungkan pada tanah, maka tanah adalah darah yang mengalirkan khpan bg mereka #tanah
saya merasakan itu, karena saya adalah anak petani, dan ikut bercocok tanam di atas tanah #tanah
saya percaya bahwa tanah adalah sebidang harapan masa depan, krn hidup berawal dari sana #tanah
pantas banget jika, umpanya, banyak petani yang tidak mau tanahnya dijual untuk perkebunan atau pertambangan #tanah
petani di Kulonprogo diobok-obok utk melepas #tanah mereka dg harga mahal, tapi mereka tidak pernah mau krn tanah adlh masa depan bkn uang
taruhlah sebidang tanah dihargai olh korporasi dg uang yang cukup untuk hidup 10 thn. Stlh 10 th, mrk disuruh mati apa? #tanah
di kampung saya, tanah adlh martabat, harga diri, dan harga mati! tidak boleh ada yang mengotak-atik itu #tanah
jk kita kenal CAROK, duel ala Madura yang sampai bikin darah bersimbah, salah satu pemicunya adlh TANAH. Tanah warisan #tanah
saya paham kenapa petani di Mesuji atau Bima rela hingga darah penghabisan--karena itu kemerdekaan bg mereka #tanah
para founding fathers bangsa ini sangat sadar ttg kebangsaan mereka, ttg tanah dan territori yg kita singgahi ini: negeri agraris! #tanah
sehingga Undang-Undang Dasar 1945 (UUD’45) Pasal 33 ayat 3 menyematkan ttg semangat tanah yang memakmurkan utk bangsa #tanah
aneh memang sih, ketika pola pikir teknokrat, atau pola-pola urban selalu dipaksakan dg menafikan esensi lokal #tanah
selamat malam tanah, selamat malam ibu kehidupanku, #tanah