Monday, September 28, 2015
"Saharan Blues" at the 12th Konya Mystic Music Festival, Turkey
You need to check out this old music group to know--which was supposed to be one of the oldest instruments on earth--that Ibn Battuta reported seeing one in the court of Mansa Musa. It is known to have existed before 1352. This group performed on Sept 24, 2015 at Maulana Rumi Culture Center, Konya.
Sunday, August 30, 2015
Film Turki dan Intrik Budaya Populer di Indonesia
Versi Cetak, Jawa Pos 29 Agustus 2015
Acara Meet &
Greet Elif and All Stars di salah satu stasiun swasta di Indonesia telah
menggoda saya untuk menulis catatan singkat ini. Dengan mengggunakan bahasa
Turki, para pemain Elif menyapa penggemar setia serial Elif yang sudah tayang di
SCTV dalam beberapa bulan terkahir. Panggung budaya populer khususnya dunia
tontonan Indonesia pun mulai dihiasai oleh salah satu pendatang baru yang kali
datang dari Negeri Dua Benua (Eurosia) tersebut, bukan lagi melulu dari
Amerika/Eropa, India dan Korea/Jepang.
Budaya populer Turki (yang diwakili oleh dunia sinema)
bisa dibilang baru satu tahun terakhir mulai merambah publik Indonesia,
setidaknya bisa ditandai khususnya setalah serial Abad Kejayaan ternyata disukai oleh penonton telivisi di tanah air.
Setelah itu, secara beruntun drama-drama Turki pun mulai ditayangkan di
Indonesia seperti Zahra, Elif dan Cinta di Musim Cherry.
Sejauh ini kita mengenal Turki lebih karena faktor
sejarah dan peradaban tua yang masih bisa dikunjungi, termasuk situs perjumpaan sejarah
Islam dan Kristen seperti Hagia Sophia
dan Blue Mosque yang menjadi ikon
dunia. Selain itu, pelajaran sejarah perkembangan Islam banyak menyebutkan imperior
Islam terakhir bernama Ottoman di mana Turki menjadi suksesornya.
Nuansa drama Turki jelas berbeda dengan drama-drama yang
sebelumnya sudah membombardir kita. Misalnya drama Korea. Turki
mempunyai perbedaan yang signifikan dalam aspek tradisi dan kebudayaan. Semua
pemiarsa Indonesia saya pastikan akan menemukan cirikhas dan karakter yang
berbeda dalam konteks tradisi dan budaya secara signifikan. Turki menjadi
salah satu negara yang cukup tertutup dalam aspek kebudayaan luar. Secara kebudayaan,
jika pandangan kita bersepakat dengan kaca mata dan perspektif globalisasi dan
liberalisasi, Turki termasuk negara dengan mayoritas masyarakat yang mempunyai pandangan
inward-looking, sebuah perspektif
yang meyakini bahwa Turki-lah segala-galanya sehingga mereka tidak tertarik dengan
gedebus perkembangan budaya popular di luar sana.
Meskipun film-film Hollywood, Jepang dan negara-negara
Eropa bisa masuk, aspek-aspek tradisi dan kebudayaan komunal mereka tetap
dijaga dengan baik, atau setidaknya bisa bertahan lebih alot. Salah satu faktor yang menjaga mereka adalah kebanggaan
kepada negara republik yang dibangun oleh Mustafa Kemal Ataturk dan sejarah-sejarah
kebesaran mereka yang terus ditanamkan secara kuat sejak di bangku sekolah
dasar. Di samping itu, rasa nasionalisme dengan setangkup mitos-mitos kebesaran
sebagai bangsa terus dipupuk subur, seperti keyakinan bahwa Turki adalah
bangsa penakluk, pekerja keras, pernah menguasai setidaknya sepertiga dunia dan sebagainya.
İmplikasi dari penanaman nilai-nilai sejarah republik Turki
adalah nasionalisme yang sangat kental dan kuat di jiwa masyarakatnya. Bisa
dipastikan bahwa Turki menjadi satu dari sedikit negara yang bangsa terus-menerus
mengibarkan bendera di banyak tempat hingga ke pelosok negeri. Di Turki Anda akan
kesulitan menemukan nama-nama orang selain nama khas Turki itu sendiri, padahal
masyarakat Turki terdiri dari suku-suku bangsa yang berbeda. Alih-alih bergaya
nama Barat seperti Michael, Bernando, Robert, Johanna, dll. Dalam konteks ini, proyek
nasionalisme Turkinisasi oleh Ataturk
berhasil. Hingga hari ini film-film yang masuk di Turki dan tayang di bioskop
pasti melewati sensor ketat dengan rata-rata sistem dubbing.
Sementara itu, dalam satu dekade terakir apabila ada film-film
baru dari bahasa Inggris masuk ke Indonesia, dipastikan judulnya tidak akan berubah.
Bahkan film-film lokal yang dibikin oleh sineas kita justru memakai judul
bahasa Inggris (buat gaya atau apa?). Di Turki, Anda tidak akan menemukan
panorama demikian. Meskipun ada, itu hanya satu dua. Tidak masif. Judul film semudah apapun teks bahasa Inggris pasti
dialihbahakan ke Turki, misalanya Final
Destination menjadi Son Durak dan
Don Quixote pun menjadi Don Kişot.
Ada satu kebijakan lagi yang membuat saya begitu kagum dan
sekaligus respek: semua pelajar internasional yang mendapatkan beasiswa dari
Pemerintah Turki (Türkiye Bursları)
harus melewati kursus bahasa Turki di kelas persiapan. Meskipun di kelas
pengantarnya akan memakai bahasa Inggris, skenario beasiswa oleh pemerintah kali
ini harus diikuti. Penerima beasiswa yang jumlahnya mencapai sekitar 50 ribu
dari semua negara harus melewati kursus bahasa Turki dengan sertifikat. Skenario Turki untuk
menjadi suatu kekuatan dunia pada tahun 2030 sudah dipersiapkan secara rapi
sejak satu dekade terakhir di bawah pemerintahan AKP (Partai Keadilan dan
Pembangunan). Salah satunya dengan “memaksa” pelajar asing yang dibiayai oleh
negara harus tahu bahasa Turki yang secara gamblang bisa dipahami bahwa mereka
akan menjadi agen-agen kebudayaan Turki di masa depan, setelah para pelajar ini
lulus dan kembali ke negara masing-masing. Bisa dibayangkan betapa
akan terus bertambah jumlah kuantitas generasi muda dari negara-negara
berkembang yang bisa berbahasa Turki!
Strategi Budaya
Semakin maraknya nama Turki disebut dan disiarkan ke
publik Indonesia baik oleh sebagian partai politik sebagai fans berat Recep
Tayyip Erdogan dan partainya, apresiasi besar dari kelompok keagamaan tertuntu,
hingga berkembangnya budaya populer Turki di Indonesia semakin menjustifikasi
bahwa Turki telah masuk di depan mata kita. Saya tidak akan mempersoalkan buruk
atau tidaknya fenomena masif yang berkembang tersebut. Tetapi, sebagai mahasiswa
Indonesia di Turki, saya cukup merasakan gesekan dan intrik di balik strategi kebudayaan
melalu jalur-jalur hubungan politk, ekonomi dan politik kebudayaan itu sendiri.
Salah satu intrik terbaik dari strategi budaya tentu saja lewat kerjasama
beasiswa besar-besaran yang dipraktikkan Turki terhadap negara-negara
berkembang lainnya.
Perlu dicatat bahwa Indonesia tidak menjadi prioritas Turki
atau mungkin begitu juga sebaliknya. Hubungan kerjasama Indonesia-Turki bisa
dibilang kecil dan tidak masif, tidak seperti kerjasama dengan China, Jepang
dan Amerika. Tengarai ini bisa saja berujung pada satu titik, yaitu karena aliran investasi dan uang Turki dilihat
tidak cukup menggiurkan bagi Indonesia yang akhir-akhir ini makin kepitalis-liberal.
Tetapi kenapa aspek budaya populer Turki justru hadir dengan mulus? Yang pasti,
ada aspek menarik atau mungkin intrik ke tengah kondisi masyarakat kita yang
makin haus budaya populer-bombastis dan pola pikir yang bergeser ke arah sekuler-liberal begini.
Intrik dan strategi budaya inilah yang harus
digarisbawahi sebagai pelajaran penting bagi kita di Indoneisa. Karena kenyataannya
produk-produk kebudayaan kita banyak kalah bersaing di depan negara-negara berkembang
sekalipun atau bahkan kita kurang kelihatan sebagai negara yang aspek
kebudayaannya patut diperhitungkan. Tetapi sebaliknya, Indonesia sebagai negara
dengan penduduk besar justru menjadi objek jualan yang potensial oleh pasar internasional.
Aspek budaya populer menjadi pintu masuk menanamkan dan menjual branding.
Lebih lanjut, strategi budaya yang berkembang dewasa ini,
miminjam istilah Douglas Holt dan Douglas Cameron dalam Cultural Strategy: Using Innovative Ideologies to Build Breakthrough
Brands, berlumur strategi branding
yang memanfaatkan spirit cultural
innovation dengan tujuan untuk
menciptakan dan sekaligus menjual brand
itu sendiri. Cultural mimicry yang disebut oleh penulis sebagai cultural orthodoxy sudah dilampau dengan membentuk budaya baru yang
sembunyi dalam penyediaan ruang subculture
(2010). Aspek-aspek masif subcultures
inilah yang kemudian membuka ruang-ruang bebas terbentuknya inovasi-inovasi kultural
dalam masyarakat. Pesan dan warna kebudayaan yang dibawa oleh drama-drama Korea
atau Turki akan menciptakan branding
baru di tengah masyarakat kita yang makin sekular dan liberal tetapi lemah dalam
aspek kesadaran kultural.
Akhirnya, secara sadar harus diakui bahwa dalam konteks
kebudayaan kita adalah bangsa yang sangat aktif mencari bentuk-bentuk ekspresi subculture yang datang dari luar untuk
mengisi ruang-ruang kosong atau memodifikasi kejemuan waktu luang pada ruang
tontonan yang monoton. Budaya populer Turki dengan cirikhasnya dapat menambah dan
sekaligus menambal ruang ekspresi kebudayaan kita, dan di waktu bersamaan kita
harus siap menerima berbagai branding
yang dijual sebagai strategi inovatif dari keubudayaan. Mari kita cermati bersama-sama
bagaimana ikon-ikon tradisi, bahasa, emosi, sejarah dan kebudayaan Turki akan
menjadi salah satu tontonan alternatif yang mengisi memori pemiarsa televisi di
Indonesia.
Foto oleh Ahmad Muhli Junaidi
Saturday, August 29, 2015
Ada Kopi Tiwus, tapi Dapatnya dari Jawa Barat
Features Jawa Pos, Sabtu, 29 Agustus 2015
"Desain kedai Filosofi Kopi maupun kopi racikan dibuat
seperti dalam cerita karya Dewi Lestari. Diharapkan jadi tempat bertemunya para
kaum kreatif."
Oleh Gunawan Sutanto, Jakarta
MEMASUKI Filosofi Kopi untuk kali pertama tak ubahnya memasuki sebuah
arena teka-teki. Seperti diajak menebak: hayo, bagian mana dari kedai di Blok
M, Jakarta, itu yang dititiskan dari buku, film, atau yang malah tidak ada di
dua-duanya?Oleh Gunawan Sutanto, Jakarta
Bar tempat barista yang terletak di tengah kedai? Itu ada di buku
Filosofi Kopi, kumpulan cerita pendek dan prosa karya Dewi "Dee" Lestari. Lantai dan dinding yang terbuat dari kayu
berserat kasar? Itu juga ada di buku yang masuk lima besar Khatulistiwa
Literary Award 2006 tersebut. Tapi, perangkat kopi yang ditata rapi, berbaris
memanjang di atas meja bar, itu sepertinya tak dideskripsikan secara mendetail
di buku. Itu “bahasa” dalam film yang diangkat dari buku tersebut dan dirilis
April lalu itu.
Di sana, diurut dari kiri, ada mesin espresso merah menyala merek
Nuova Simonelli. Di sebelahnya berjejer tiga mesin grinder. Lalu kompor
elektrik tanam dan ketel. Tak ketinggalan alat seduh manual: Syphone,
Aeropress, dan V60. “Saya ingin tak sekadar membuat film, tapi juga
membuat sebuah brand tentang kopi Indonesia,” kata Handoko Hendroyono, salah
seorang pemilik kedai dan produser film Filosofi Kopi.
Di kedai itu pula penggambaran film yang disutradarai Angga Dwimas
Sasongko tersebut dilakukan. Desainnya pun dipertahankan seperti dalam film
yang antara lain dibintangi Rio Dewanto (sebagai Jody) dan Chico Jericho
(sebagai Ben) itu. Kisah Filosofi Kopi berfondasi pada kedai yang didirikan Ben
dan Jody. Di dunia nyata, kedai tersebut dibangun empat orang:
Handoko, Anggia Kharisma, Rio, dan Chico. “Selain kami berempat, tentu banyak
teman yang men-support kami dengan berbagai macam cara,” ucap Handoko.
Nah, kuatnya citraan fiksi itulah yang barangkali membedakan kedai
tersebut dengan berbagai kedai kopi lain yang belakangan menjamur di Jakarta
dan kota-kota lain di Indonesia. Kedai Filosofi Kopi mungkin kedai kopi pertama
yang dibangun berdasar karya fiksi. Mirip Museum of Innocence di Istanbul,
Turki, yang dibangun berdasar novel dengan judul serupa karya Nobelis Sastra
Orhan Pamuk.
Museum itu berisi simbol dan artefak yang dicuplik dari isi novel
dengan judul dalam bahasa Turki Masumiyet Muzesi tersebut. Penulis Bernando J.
Sujibto dalam esainya di Jawa Pos pada 22 Februari menulis, mengunjungi museum
itu seperti sebentuk ziarah untuk merasai luka perih dan ketulusan cinta fiktif
yang pernah dialami tokoh cerita bernama Kemal.
Di kedai Filosofi Kopi, nama-nama house blend atau kopi racikan
pun dibuat seperti dalam karangan Dee. Kopi tiwus misalnya. Bedanya, kalau di
buku disebutkan kopi itu didapat dari kebun kecil milik Pak Seno di sebuah desa
daerah Jawa Tengah, dalam realitasnya di kedai di Blok M tersebut, kopi tiwus
merupakan hasil pencarian Handoko dkk dari perkebunan kopi di daerah Malabar,
Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Rabu sore lalu itu (26/8) Jawa Pos sempat menjajal kopi yang
diseduh manual menggunakan saringan V60 tersebut. Sedap! Handoko memang berharap
kedai Filosofi Kopi tak hanya berhenti sebagai “monumen” dari karya fiksi. Tapi
juga turut berperan mengangkat kopi Indonesia. Sebelum film Filosofi Kopi
tayang, sebenarnya Handoko, Anggia, Rio, dan Chico “empat orang itu” telah
menggagas wujud kedai kopi. Tapi, konsepnya berupa food truck, tepatnya VW
Combi yang dimodifikasi.
VW Combi Filosofi Kopi itu tiap akhir pekan mendatangi sebuah
ruang publik. Mereka lantas menginformasikan keberadaan kedai kopi mobile
tersebut secara viral, via media sosial dan aplikasi smartphone. Tiga bulan
setelah film Filosofi Kopi tayang di bioskop, empat sahabat itu lantas
mematangkan niat membuka kedai kopi yang sesungguhnya. Sebuah kedai yang sama
persis seperti dalam cerita Filosofi Kopi.
Upaya tersebut diawali dengan hunting bangunan yang akan disewa
sebagai kedai. Mereka sempat memiliki beberapa pilihan tempat di Jakarta. “Kami
sempat cocok dengan sebuah bangunan di kawasan kota tua. Tapi, kami pikir lagi
kurang pas,” kenang Handoko.
Rio, yang sore itu sibuk menjadi kasir, kemudian punya usul kedai
dibuat di sekitar kompleks Blok M Square, kawasan Jalan Melawai. Alasannya,
keberadaan kedai harus mampu menghidupkan kembali citra positif kawasan
Blok M. “Dulu ini tempat anak muda banget. Rasanya belum gaul kalau tidak
nongkrong di Blok M dan Melawai,”ujar aktor kelahiran 28 Agustus itu saat
meluangkan waktu menemani Handoko menemui Jawa Pos.
Empat serangkai tersebut akhirnya menyewa sebuah bangunan yang
sudah 17 tahun tak terpakai. Lokasinya berada di tengah kompleks Blok M Square.
Bangunan ruko itu terdiri atas dua lantai. Namun, pemiliknya hanya menyewakan
lantai dasar yang luasnya sekitar 80 meter persegi. “Tidak tahu kenapa yang
punya bangunan tidak mengizinkan lantai 2 digunakan” ujar Handoko.
Menurut Handoko, meski hanya boleh menggunakan lantai 1, hal itu
sama sekali tidak mengurangi kemiripan kedai yang ada dalam cerita fiksi.
“Dalam cerita filmnya kan kedai kopi itu dibangun di atas bekas toko kelontong
milik orang tua Jody,” ujarnya. Empat sekawan tersebut butuh waktu sekitar 2,5
bulan untuk mendesain interior dan eksterior kedai Filosofi Kopi. Desain luar
dan dalam tentu dibuat semirip cerita asli seperti di buku dan film.
Selain kopi tiwus, di kedai itu tersedia kopi lestari dan
perfecto. Kopi lestari merupakan house blend berbagai biji kopi dari Gayo,
Aceh. Sementara perfecto yang juga bisa ditemukan di dalam buku merupakan
campuran kopi terbaik dari Kintamani, Bali. Handoko mengatakan, kedainya
sangat serius dalam membuat house blend. Mereka melibatkan sejumlah pakar kopi
Indonesia. ”Kami juga lakukan tes rasa agar menghasilkan racikan yang terbaik,”
katanya.
Handoko berharap keberadaan kedai Filkop (Filosofi Kopi) menjadi
tempat bertemunya para kaum kreatif. Dia mulai menginisiatori hal itu dengan
berbagai cara. Misalnya dengan mengajak kolaborasi para seniman untuk membantu
membuatkan furnitur dan merchandise Filosofi Kopi. “Ini kursi kami bukan beli
jadi, tapi buatan teman-teman seniman. Itu ada yang belum jadi,” tunjuk Handoko
ke sebuah kursi di teras kedai.
Handoko menyebutkan, dari sisi bisnis, kedai Filkop mulai
menguntungkan. Bahkan, akhir tahun ini mereka sudah membuka cabang di dua
tempat, yakni di Bintaro, Jakarta Selatan; dan Renon, Denpasar, Bali. Tapi
sayang, ada satu gimmick dari cerita di buku yang hilang dari kedai tersebut.
Sejak Jawa Pos datang, memesan kopi, dan mengakhiri wawancara, tak ada secarik
kartu kecil yang menerangkan filosofi dari kopi yang baru diminum. Kertas itu
diberikan Ben kepada pengunjung yang memesan kopinya. Mungkin karena sore itu
Ben sedang tidak di tempat, jadi kartu tersebut lupa diberikan. Mungkin. (jpg/p2/c1/fik).
Monday, June 29, 2015
Kemenangan Kelompok Minoritas di Turki
Versi cetak dari tulisan ini dimuat di Majalah GATRA, edisi 1 Juli 2015
Pemilihan
Umum Turki 7 Juni 2015 silam menyajikan hasil mencengangkan dan sekaligus akan
menjadi turning point bagi masa depan
demokrasi di Turki sendiri. Pasalnya, partai politik yang didukung oleh
mayoritas suku Kurdi (dan tidak pernah mendapatkan tempat di parlemen sepanjang
sejarah Republik Turki) akhirnya meraih tiket duduk di DPR dalam periode empat
tahun ke depan. Partai HDP (Halkların Demokratik Partisi/
Peoples' Democratic Party), partai berhaluan sosialisme
demokratik dan anti-kapitalis
terkuat di Turki, telah melampaui persyaratan Seçim Barajı (Parliamentary Threshold) dengan mendapatkan 13 % suara
nasioanl. Turki adalah satu-satunya negara demokrasi yang mematok Seçim Barajı dengan minimal 10% suara pemilu
nasional.
Data
terakhir hitung cepat yang dilakukan media-media lokal telah membeberkan perolehan
suara dan kursi di parlemen: AKP (Partai Pembangunan dan Keadilan) 258 kursi (40.86%),
CHP (Partai Rakyat Republik) 132 kursi (24.96%), MHP (Partai Gerakan
Nasionalis) 80 kursi (16.29%), dan HDP (13.12%) dengan 80 kursi. Perolehan suara
HDP tidak lepas dari partisipasi pemilih luar negeri yang signifikan. Selain merebut
suara mayoritas di daerah Turki timur dan tenggara, sebagai basis suku Kurdi, HDP
mengantongi suara berlimpah dari warga Turki di luar negeri. Seperti
dilaporkan, perolehan suara dari luar negeri tercatat: AKP 49.30%, HDP 21.03%,
CHP 17.02% dan MHP 9.15%. Perebutan kursi di parlemen Türkiye Büyük
Millet Meclisi yang berjumlah 550 sudah final dengan kehadiran kandidat
baru yang akan meramaikan proses demokrasi di Turki.
Sejak
awal berkiprah di ranah politik nasional, sepak terjang HDP mengundang memang decak
kagum kelompok-kelompok minortas. Sejak pemilihan presiden Turki yang dihelat
secara langsung 10 Agustus 2014 silam, Selahattin Demirtaş sebagai ketua partai dan sekaligus calon
presiden hadir di pentas politik nasional dengan penuh simpatik dan kharismatik.
Namun begitu, dia harus rela berada di posisi ketiga dengan perolehan suara 9.76%,
tertinggal jauh dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang meraup suara 51.79%.
Sementara tren dukungan positif yang ditunjukkan oleh pemilih dikelola dengan
sangat cerdik oleh HDP sebagai bekal menghadapi Pemilu yang sebenarnya ini.
HDP didirikan
tahun 2012 oleh kelompok sayap kiri yang bertekad menembus Seçim Barajı di
parlemen Turki, sekaligus sebagai satu-satunya corong pro-Kurdi di panggung politik,
setelah partai-partai sebelumnya seperti BDP
(Peace and Democracy Party)
atau BDP (Democratic Regions Party)
gagal menarik simpati. Partai ini dibentuk dengan kematangan ideologi dan
strategi politik yang nyaris tanpa celah. Jika ditilik ke dalam sistem internal
partai, sudah sangat jelas dipersiapkan bagaimana nilai-nilai demokrasi,
partisipasi dan kesetaraan yang menjadi jualannya tercermin sangat jelas. HDP
adalah satu-satunya parpol di Turki yang memakai sistem kepemimpinan co-presidential dengan dua ketua yang
terwakili secara gender: Demirtaş dan Figen
Yüksekdağ. Di samping itu, calon
anggota DPR yang maju dari partai ini pun sangat beragam dalam aspek latar
belakang dan kelas sosial.
Diskriminasi Minoritas
Meskipun
suara mayoritas milik AKP, kehadiran HDP di parlemen akan mewarnai proses
politik di parlemen. Kebijakan pluralis dan multikultiralis yang diusung HDP menjustifikasi
geliat kelompok-kelompok di minoritas di Turki. Sebagai parpol pro-Kurdi, yang
sekaligus dapat ditandai sebagai simbol gerakan minoritas, suara disumbang
penuh oleh Kurdi diaspora, kelompok-kelompok minoritas seperti pemeluk Yahudi,
Kristen dan LGBT ataupun kelompok left-wing
yang ingin melihat keterwakilan mereka di di parlemen Turki. Keberhasilan HDP
adalah kemenangan kelompok minoritas. Perjuangan suku Kurdi di Turki khususnya
setelah Era Republik menjadi simbol penting gerakan minortas yang tak pernah
padam.
Ahli
Kurdi terkemuka Martin van Bruinessen, antropolog dan profesor di Utrecht
University, telah menyajikan serangkaian hasil penelitian penting selama
puluhan tahun untuk melihat secara komprehensif gerakan suku Kurdi baik di
Turki, Iran ataupun Irak. Bersama intelektual lokal Turki seperti Ismail
Beşikçi dan Kemal Burkay, Bruinessen adalah ahli Kurdi terdepan yang menerabas
isu maha tabu tersebut sejak akhir 60-an. Identitas Kurdi digencet rapat selama
puluhan Tahun. Bahasa, pakaian, cerita-cerita rakyat, nama-nama dan
simbol-simbol lokal dilarang oleh pemerintah Turki (Bruinessen,1984). Dalam
perjalanan ke daerah Turki tenggara seperti Diyarbakir, Mardin dan Batman musim
panas tahun kemarin, saya bertemu dengan masyarakat Kurdi yang tidak bisa
berbahasa Turki. Meksipun daerah-daerah tersebut sudah dibangun secara pesat di
bawah pemerintahan AKP, fakta ini tidak bisa dinafikan bahwa diskriminasi
selama puluhan tahun telah menyiksa mereka.
Tidak
hanya secara kultur mereka diredam, aspirasi di ranah politik pun dijegal.
Batas Parliamentary Threshold setinggi
10% secara tersurat untuk mengekang suara-suara minoritas seperti Kurdi. Di
tengah tekanan yang bertubi-tubi, justru semangat kemerdekaan Kurdistan
semakain benderang. Tidak mendapatkan kebebasan di Turki, mereka menjadi
diaspora di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Di sana energi perlawanan
terus dipupuk. Ditambah oleh kepentingan negara-negara tetangga yang tidak suka
Turki semakin kuat telah ikut andil mendukung penuh gerakan-gerakan Kurdi di
luar negeri.
Bagaimana
pun, kehadiran HDP di pentas politik akan memperkuat proses demokrasi yang
plural dan mewakili kelompok-kelompok minoritas di Turki. Partai yang berafiliasi
kuat dengan gerakan sosialis transnasional seperti Syriza di Yunani dan Podemos di Spanyol ini akan mengawal era baru politik
Turki dengan ideologi politik minoritas.
Kebangkitan left-wing?
Menariknya,
keberhasilan HDP di Turki bisa dilihat juga dalam konstelasi politik sayap kiri
transnasional yang semakin bergeliat khususnya di Eropa setelah mengalami
kemunduran ekonomi akibat resisi tahun 2010. Di Eropa, khususnya negara-negara Mediteranea,
potensi kebangkitan politk buruh, kelompok minoritas dan kaum sosialis mulai terbaca
setidaknya dalam lima tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir milsanya kita
menyaksikan tren positif kebangkitan partai Syriza
di Yunani. Terbukti pada Januari
2015 silam partai yang mendukung penuh massa turun ke jalan melawan penghematan pemerintah merebut 149 dari 300 kursi parlemen dan mendaulat
ketua umum partai Alexis
Tsipras menjadi PM Yunani. Tak berselang lama, pada pemilu regional akhir bulan Mei kemarin di Spanyol, muncul kebangkitan baru
politik sayap kiri Podemos.
Uniknya, ketiga
partai politik yang beroperasi di tiga negara berbeda ini mempunyai afiliasi
ideologis yang kuat. Syriza yang mulai hadir sebagai
sentral kekuatan baru dalam politik sayap kiri di Eropa menjadi barometer dan pengayom benih-benih
ideologis dari partai politik yang menyebar di beberapa negara termasuk Turki.
Bahkan Iglesias melalui akun Twitter-nya @Pablo_Iglesias_ menyampaikan ucapan selamat kepada
kompatriot idologisnya: The wind of change keeps
blowing. Congratulations, @HDPgenelmerkezi. ¡Venceremos!
Dalam empat
tahun ke depan, kita akan menyaksikan kiprah politik sayap kiri di Turki yang
sudah absen dalam 20 tahun terakhir. Di samping itu, suara-suara minoritas akan
semakin semarak mewarnai diskursus politik parlemen ataupun di ranah praktis.
Note: photos thanks to Byan and Mbak Akriz
Friday, June 26, 2015
Shalat Terawih in Konya, Turkey
Saya selalu menikmati perbedaan sebagai rahmat dan keindahan. Termasuk dalam praktik shalat terawih di halaman masjid yang bersebelahan dengan makam dan museum Jalaluddin Rumi. Praktik-praktik seperti shalawat dan syair setelah shalat isya', sebelum kemudian mendirikan terawih, dibaca dengan khas Turki, seperti irama syair-syair Rumi. Islam di Turki adalah Islam yang menyatu dengan sufisme dan tasawuf. Di sini, konteks lokal menyatu dan berasimilasi dengan praktik keislaman.
Friday, June 05, 2015
Taman Kota Amed
Siang
renta di awal musim gugur. Angin tak menentu bertiup dari segala arah, sesekali
menghantarkan aroma akar dan batang-batang sayuran yang baru saja dipanen dari
tepi Sungai Tigris. Ia, tokoh kita kali ini, tersedot di tengah-tengah denyut
massa yang memadati sebuah alun-alun kota Amed yang telah menjadi tempat kedua
setelah rumahnya. Semasa kecil ia biasa datang ke taman itu untuk bermain ragam
permainan rakyat seperti kurt kardeş
dan tarian-tarian tradisional seperti çepik,
delilo, dan çaçan. Taman itu telah membuat hidupnya begitu berwarna.
Sementara
itu suara riuh yel-yel dan lagu tradisional dengan gendang dan terompet terdengar
meledak-ledak. Gendang ditabuh semakin kencang. Massa membikin lingkaran sambil
menari dan sesekali meneriakkan protes di sela musik yang melengking.
“Ini
waktu yang tepat!”
Menjauh
dari pusat keramaian yang berkonsentrasi tepat di bagian sayap kanan alun-alun,
ia melenggang ringan ke sebuah patung yang disanggul beton.
Ia
menatap patung itu dengan muka masam. Geram!
“Engkau
telah mencabik-cabik tanah kami!” Kalimat ini akhirnya melesat begitu saja
bagai peluru buta arah. Setumpuk orang yang hilir mudik di sampingnya pasti
mendengar teriakannya. Ia tak peduli meski ada dua orang (sepasang kekasih bergandengan
tangan di tengah gejolak massa) sedari awal menatapnya dengan muka penuh tanya.
Ia hanya berbekal satu keyakinan bahwa mereka yang berjubel di taman itu adalah
saudara satu bangsa yang sama-sama memperjuangkan haknya.
Semakin
lama menatap pelipis patung itu (seingatnya, ia tak pernah melihat senyum ramah
dari foto, sketsa ataupun patung yang bertebaran di setiap taman kota, sejak İlkokul sampai Lise), ia seperti melihat kobaran api—menyembur dari kedua mata
patung. Mungkin saja patung itu marah kepada massa demonstran yang kerap berteriak
menyumpahserapahi namanya. Lehernya mulai terasa lelah menyanggah kepala yang
sedari tadi mendongak ke patung yang tingginya sekitar 10 meter itu.
Dua
meter dari patung itu, sebuah bendera menjulang dan berkibar. Kibaran bendera
berwarna merah dengan bulan sabit dan sebiji bintang berwarna putih di
tengahnya. Bendera dan sosok dalam patung itu bagi kembar identik. Dua simbol
yang disakralkan itu pasti dijumpai di sekolah, kantor pemerintah, bangunan
milik negara, taman kota dan bahkan tak jarang di rumah pribadi sekalipun. Bendera
dan sosok pada patung itu dikenalnya sejak di bangku İlkokul. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai,
ia ditunjuk menjadi pemimpin di kelas untuk membaca öğrenci andı (dan sumpah ini berlaku untuk semua sekolah dasar
seantero negeri). Ketika di akhir ortaokul,
ia menyadari telah membohongi dirinya sendiri. Ia tak ingin menyalahkan para guru
yang telah mewajibkan semua murid membaca sumpah. Ini sudah menjadi kewajiban nasional.
Akhirnya, sumpah yang ditulis oleh seorang dokter itu dikenangnya sebagai kepalsuan
yang telah dialami dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia mulai terang-terangan menunjukkan
sikapnya kepada teman-teman dekat yang biasa bermain di sekitar taman. Mengajak
mereka untuk membaca sejarah dan pertentangan sengit yang terus menghantam
kotanya.
“Seandainya
aku sudah tahu sejak di bangku İlkokul, Vallah aku tidak akan
pernah memimpin pembacaan öğrenci andı
di depan kelas. Tidak pula membaca sumpah itu!” Ia ingat betul kalimat ini
suatu kali pernah disampaikannya kepada Beritan dan Murat, dua teman dekatnya
yang selalu satu kelas hingga Lise.
Meskipun waktu itu kedua temannya diam, ia yakin apa yang dipikirkannya sama
seperti teman-temannya yang lain.
“Kita
masih bocah ingusan waktu itu. Tidak tahu apa-apa,” tanggap Murat.
“Betul.
Mulai saat ini, ajak dan kasi tahu orang-orang terdekat. Kita orang Kurdi,
bukan orang Turk! Tak perlu mengucap sumpah palsu seperti itu!”
Murat
bergeming. Pandangannya kosong. Sebuah peristiwa di tahun pertama ortaokul ketika neneknya harus dirujuk
ke rumah sakit di kota Amed lamat-lamat menyergapnya bagai hembusan angin musim
gugur. Peristiwa itu lalu ditandainya sebagai tragedi: nenek dan keluarga yang
mengantarnya dilarang berbahasa Kurdi oleh pihak rumah sakit. Neneknya yang
sama sekali tidak bisa berbahasa Turki menatap Murat dengan remang airmata.
Saat itu, Murat melihat diri dan keluarganya bagai orang asing di tanah
kelahirannya sendiri!
“Seharusnya
kita bersumpah atas nama tanah dan dan bangsa kita sendiri!” suaranya terdengar
serak, sembari menatap patung dan kibaran bendera.
Ia
mendekat ke beton yang menyanggah patung tembaga berwarna hitam legam itu.
Tangan kanannya meragah tiang bendera yang berdiameter 10 cm. Sementara tangan
kirinya menyentuh beton dingin berwarna putih pucat. Saat tangannya dibuka lebar
mendepa, ia kembali mendongak menatap langit, tepat di tengah-tengah antara
patung dan bendera. Saat itu, ia menatap langit yang begitu sempit, diapit
patung dan kibaran bendera yang sesekali ditiup angin ke arah patung. Lalu melepas
kaos dan melemparkannya ke patung. Tapi sayang, kaos itu keburu disergap angin
dan kembali jatuh ke tanah berumput. Ia biarkan kaosnya tergeletak begitu saja
di atas tanah bekas jejak kaki yang mengubur kenangan masa kecilnya. Kini yang
ada dalam pikirannya adalah kebebasan. Ia ingin segera menjelangnya.
Sementara
di ujung taman yang menghadap jalan raya lima arah, suara para demonstran
semakin menggaung. Terdengar terompet yang ditiup dengan nafas penuh seluruh. Ia
menoleh ke arah kanan, lalu mendekap tiang bendera. Saatnya ia menjemput
kebebasan nan maha luas. Suara-suara gemuruh membuat tubuhnya begitu ringan.
Satu
panjatan terasa begitu berat. Ia memang bukan orang kampung, seperti Beravan, Serdem,
Fatih atau Veysel, yang dikenalnya sejak di bangku Lise. Mereka yang datang dari pinggiran Amed untuk sekolah di kota terkenal
dengan kelihaian memanjat dan meniti jembatan kecil sekalipun. Sayangnya, ia
tak pernah belajar bagaimana teknik meringankan tubuh ketika meliuk-liuk di
atas sebilah batang kayu tipis. Panjatan kedua, ketiga dan seterusnya semakin
meringankan tubuhnya. Suara-suara gemuruh para demonstran seolah menyulap dirinya
bagai seekor tupai. Tiang besi yang dingin meresap ke jantungnya, seperti ada
partikel dari surga maha jernih yang merasuk di balik dadanya.
Pada
dakian keduabelas, ia mendengar gelegar makin hebat. Gelegar itu, suara-suara
jeritan yang telah menyembulkan semangat, menyeruak arahnya. Ia makin fokus segera
sampai di puncak tiang. Telinganya ditempelkan pada tiang besi, mereguk spirit yang
mengalir deras dari tanah kelahirannya. Pada tiang itu, getar dan pekik perjuangan
menggumpal. Saat tangannya keerakan, ia bertumpu pada kedua kakinya dan bersengkelit pada batang tiang.
Di
puncak tiang nanti, ia ingin meluapkan semua amarah yang membuncah, berteriak
kepada teman dekatnya, Beritan dan Murat: “Hewal,
lihatlah kemenangan kita hari ini. Aku ingin kalian mendengarnya, dan melihatku
dengan hati nurani. Entah dimana pun kalian berada kini. Setelah kita berpisah
dan memilih meninggalkan sekolah di tahun kedua Lise, kalian memilih pergi ke Ankara dengan alasan belajar
teori-teori gerakan dan gerilya kepada hoca
efendi. Setelah kita berpisah sejak lima tahun silam, aku tidak lagi melihat
batang hidung kalian! Biarkan kalian menyaksikan sendiri apa yang kuperjuangkan
sejak di akhir ortaokul terus
bergelora!”
Makin
tinggi getar kibaran bendera berukuran 1,5 meter itu makin bergegar. Angin berhembus
aneh. Ia pun lupa ini panjatan keberapa. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat
tubuhnya sejajar dengan kepala patung. Seandainya bisa meloncat, ia ingin
menerjangnya keras-keras hingga kepalanya terjungkal. Satu kali gayutan lagi ia
sudah melampaui ketinggian patung itu. Pekikan suara massa semakin menukik. Ia
tak tahan menggerakkan mukanya ke arah kepala patung. Alangkah terkejutnya, ribuan
massa telah berjubel mengelilinginya.
“Her biji…. Her biji…. Her biji…!!!”
Mereka
meneriakkan kalimat-kalimat yang makin membangkitkan jiwanya. Ia tak bisa
menahan bulir-bulir gerimis yang tumpah dari sudut matanya. Dalam remang
pandanganya, ia melihat massa yang meneriakkan her biji dengan kepalan tangan dan muka yang ganas. Dua dakian lagi
ia akan sampai di ujung tiang. Dan ketika menyentuh bendera, tubuhnya seperti
dialiri ribuan kromosom kemerdekaan yang tak terwariskan.
“Abdullaaaah….!!!”
sebuah teriakan seperti memekakkan gendang telinganya.
Lolongan
suara itu membuatnya terperangah. Ia seperti tersengat listrik ketika menoleh
ke sumber suara. Di sana ada Murat yang tengah memanjat patung dengan sebilah
kapak besar.
“Lihatlah
ini, Abdullaaaaah!” teriaknya histeris sembari memenggal kepala patung berkali-kali
hingga tersungkur. Sontak suara massa melengking saat kepala patung terkapar di
tanah. Dengan gagah Murat meloncat dan membiarkan kapaknya menancap pada leher patung.
Pada
waktu bersamaan, Abdullah dengan beringas merobek kain bendera dengan gigi dan
tangan kidalnya. Serupa singa yang kalap memangsa. Bendera itu langsung
dilemparkan sekenanya ke tengah kerumunan massa. Sebelum bendera mendarat ke
tanah, lamat-lamat ia mendengar namanya disebut berulang-ulang oleh mereka.
Pasti si Murat telah menggerakkan masa untuk menyanyikan namanya. Namun tiba-tiba
suara mereka tak terdengar lagi di telinganya. Tubuhnya sendiri amruk. Matanya
padam. Abdullah jatuh seperempat detik sebelum bendera itu sampai di tangan massa.
Tersungkur di atas kaosnya sendiri berwarna merah-putih-hijau-kuning.
Dua
timah panas telah memecah jantugnya!
Di
tengah jeritan dan gemuruh massa yang makin melesat, Murat meloncat dan memeluknya
sembari menyebutkan namanya berkali-kali; membiarkan darah Abdullah berlumuran
di dadanya. Massa berhamburan kalang-kabut. Bom-bom molotov yang sedari tadi
disimpan para demonstran akhirnya dilemparkan ke mobil-mobil baja milik polisi.
Menyaksikan
kabut hitam yang mulai membumbung dan teriakan histeris di tengah taman kota
Amed, dari lantai lima Hotel Dicle, aku meringis melanjutkan cerita ini. Satu
hal ingin kusampaikan sebagai penutup: Demi Tuhan aku yakin, penembak jitu yang
telah mengirimkan dua timah panas tepat di jantung tokoh kita kali ini ada di
hotel yang sama, bahkan di lantai yang sama: di kamarku!
(Untuk Ömer Mutlu, pemuda yang kini menjalani hukuman 13 tahun penjara karena menurunkan bendera Turki di Diyarbakir, Juli 2014)
Versi cetak cerita ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Ahad 17 Maret 2015
Keterangan:
Amed (Kurdi) : Nama lain Diyarbakir
Kurt kardeş (Turki) : Permainan tradisioanl di
Diyarbakir dan sekitarnya
Çepik, delilo, çaçan,
dan
şemame (Turki) : Tarian
rakyat khas Turki Tenggara.
İlkokul (Turki) :
SD
Ortaokul (Turki) : SMP
Lise (Turki) : SMA
Vallah (Turki) : Demi Allah
Hewal (Kurdi) : Sebutan akrab untuk teman karib
Her biji (Kurdi) :
Semoga Tuhan memberkati (doa semangat).
Hoca effendi (Turki) :
Sebutan untuk guru alim yang dihormati.
Biber gazi (Turki) : Gas airmata
Öğrenci andı (Turki) :
Sumpah siswa (isi sumpah):
Aku Turk, jujur, pekerja keras; prinsipku adalah
menjaga generasi muda, menghormati orang-orang tua, mencintai tanah kelahiran
dan bangsaku melebihi diri sendiri; eksistensiku akan didedikasikan kepada eksistesi
Turki.
Sunday, May 31, 2015
Terjemahan Bahasa Turki Sajak "Aku Ingin" Karya Sapardi Djoko Damono
Berikut ini adalah terjemahan saya atas puisi berjudul "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono. Semoga ke depan bisa lebih banyak lagi memperkenalkan puisi-puisi Indonesia ke masyarakat Turki.
İSTERİM
Zorlamadan sevmek isterim seni
söylenemez bir sözle
odun ateşe altıldığında değiştiren
küle
Zorlamadan sevmek isterim seni
anlatilamaz bir işaretle
yağmur yok eden buludu
===###===
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...
===###===
I WANT
(by John H. McGlynn)
I want to love you simply
in words not spoken:
tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simplyin words not spoken:
tinder to the flame which transforms it to ash
in signs not expressed:
clouds to the rain which make them evanesce
clouds to the rain which make them evanesce














