Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Monday, September 28, 2015

"Saharan Blues" at the 12th Konya Mystic Music Festival, Turkey

You need to check out this old music group to know--which was supposed to be one of the oldest instruments on earth--that Ibn Battuta reported seeing one in the court of Mansa Musa. It is known to have existed before 1352. This group performed on Sept 24, 2015 at Maulana Rumi Culture Center, Konya.




Sunday, August 30, 2015

Film Turki dan Intrik Budaya Populer di Indonesia

Versi Cetak, Jawa Pos 29 Agustus 2015

Acara Meet & Greet Elif and All Stars di salah satu stasiun swasta di Indonesia telah menggoda saya untuk menulis catatan singkat ini. Dengan mengggunakan bahasa Turki, para pemain Elif menyapa penggemar setia serial Elif yang sudah tayang di SCTV dalam beberapa bulan terkahir. Panggung budaya populer khususnya dunia tontonan Indonesia pun mulai dihiasai oleh salah satu pendatang baru yang kali datang dari Negeri Dua Benua (Eurosia) tersebut, bukan lagi melulu dari Amerika/Eropa, India dan Korea/Jepang.

Budaya populer Turki (yang diwakili oleh dunia sinema) bisa dibilang baru satu tahun terakhir mulai merambah publik Indonesia, setidaknya bisa ditandai khususnya setalah serial Abad Kejayaan ternyata disukai oleh penonton telivisi di tanah air. Setelah itu, secara beruntun drama-drama Turki pun mulai ditayangkan di Indonesia seperti Zahra, Elif dan Cinta di Musim Cherry.

Sejauh ini kita mengenal Turki lebih karena faktor sejarah dan peradaban tua yang masih bisa dikunjungi, termasuk situs perjumpaan sejarah Islam dan Kristen seperti Hagia Sophia dan Blue Mosque yang menjadi ikon dunia. Selain itu, pelajaran sejarah perkembangan Islam banyak menyebutkan imperior Islam terakhir bernama Ottoman di mana Turki menjadi suksesornya.

Nuansa drama Turki jelas berbeda dengan drama-drama yang sebelumnya sudah membombardir kita. Misalnya drama Korea. Turki mempunyai perbedaan yang signifikan dalam aspek tradisi dan kebudayaan. Semua pemiarsa Indonesia saya pastikan akan menemukan cirikhas dan karakter yang berbeda dalam konteks tradisi dan budaya secara signifikan. Turki menjadi salah satu negara yang cukup tertutup dalam aspek kebudayaan luar. Secara kebudayaan, jika pandangan kita bersepakat dengan kaca mata dan perspektif globalisasi dan liberalisasi, Turki termasuk negara dengan mayoritas masyarakat yang mempunyai pandangan inward-looking, sebuah perspektif yang meyakini bahwa Turki-lah segala-galanya sehingga mereka tidak tertarik dengan gedebus perkembangan budaya popular di luar sana.

Meskipun film-film Hollywood, Jepang dan negara-negara Eropa bisa masuk, aspek-aspek tradisi dan kebudayaan komunal mereka tetap dijaga dengan baik, atau setidaknya bisa bertahan lebih alot. Salah satu faktor yang menjaga mereka adalah kebanggaan kepada negara republik yang dibangun oleh Mustafa Kemal Ataturk dan sejarah-sejarah kebesaran mereka yang terus ditanamkan secara kuat sejak di bangku sekolah dasar. Di samping itu, rasa nasionalisme dengan setangkup mitos-mitos kebesaran sebagai bangsa terus dipupuk subur, seperti keyakinan bahwa Turki adalah bangsa penakluk, pekerja keras, pernah menguasai setidaknya sepertiga dunia dan sebagainya.

İmplikasi dari penanaman nilai-nilai sejarah republik Turki adalah nasionalisme yang sangat kental dan kuat di jiwa masyarakatnya. Bisa dipastikan bahwa Turki menjadi satu dari sedikit negara yang bangsa terus-menerus mengibarkan bendera di banyak tempat hingga ke pelosok negeri. Di Turki Anda akan kesulitan menemukan nama-nama orang selain nama khas Turki itu sendiri, padahal masyarakat Turki terdiri dari suku-suku bangsa yang berbeda. Alih-alih bergaya nama Barat seperti Michael, Bernando, Robert, Johanna, dll. Dalam konteks ini, proyek nasionalisme Turkinisasi oleh Ataturk berhasil. Hingga hari ini film-film yang masuk di Turki dan tayang di bioskop pasti melewati sensor ketat dengan rata-rata sistem dubbing.

Sementara itu, dalam satu dekade terakir apabila ada film-film baru dari bahasa Inggris masuk ke Indonesia, dipastikan judulnya tidak akan berubah. Bahkan film-film lokal yang dibikin oleh sineas kita justru memakai judul bahasa Inggris (buat gaya atau apa?). Di Turki, Anda tidak akan menemukan panorama demikian. Meskipun ada, itu hanya satu dua. Tidak masif. Judul film semudah apapun teks bahasa Inggris pasti dialihbahakan ke Turki, misalanya Final Destination menjadi Son Durak dan Don Quixote pun menjadi Don Kişot.

Ada satu kebijakan lagi yang membuat saya begitu kagum dan sekaligus respek: semua pelajar internasional yang mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Turki (Türkiye Bursları) harus melewati kursus bahasa Turki di kelas persiapan. Meskipun di kelas pengantarnya akan memakai bahasa Inggris, skenario beasiswa oleh pemerintah kali ini harus diikuti. Penerima beasiswa yang jumlahnya mencapai sekitar 50 ribu dari semua negara harus melewati kursus bahasa Turki dengan sertifikat. Skenario Turki untuk menjadi suatu kekuatan dunia pada tahun 2030 sudah dipersiapkan secara rapi sejak satu dekade terakhir di bawah pemerintahan AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan). Salah satunya dengan “memaksa” pelajar asing yang dibiayai oleh negara harus tahu bahasa Turki yang secara gamblang bisa dipahami bahwa mereka akan menjadi agen-agen kebudayaan Turki di masa depan, setelah para pelajar ini lulus dan kembali ke negara masing-masing. Bisa dibayangkan betapa akan terus bertambah jumlah kuantitas generasi muda dari negara-negara berkembang yang bisa berbahasa Turki!

Strategi Budaya

Semakin maraknya nama Turki disebut dan disiarkan ke publik Indonesia baik oleh sebagian partai politik sebagai fans berat Recep Tayyip Erdogan dan partainya, apresiasi besar dari kelompok keagamaan tertuntu, hingga berkembangnya budaya populer Turki di Indonesia semakin menjustifikasi bahwa Turki telah masuk di depan mata kita. Saya tidak akan mempersoalkan buruk atau tidaknya fenomena masif yang berkembang tersebut. Tetapi, sebagai mahasiswa Indonesia di Turki, saya cukup merasakan gesekan dan intrik di balik strategi kebudayaan melalu jalur-jalur hubungan politk, ekonomi dan politik kebudayaan itu sendiri. Salah satu intrik terbaik dari strategi budaya tentu saja lewat kerjasama beasiswa besar-besaran yang dipraktikkan Turki terhadap negara-negara berkembang lainnya.

Perlu dicatat bahwa Indonesia tidak menjadi prioritas Turki atau mungkin begitu juga sebaliknya. Hubungan kerjasama Indonesia-Turki bisa dibilang kecil dan tidak masif, tidak seperti kerjasama dengan China, Jepang dan Amerika. Tengarai ini bisa saja berujung pada satu titik, yaitu  karena aliran investasi dan uang Turki dilihat tidak cukup menggiurkan bagi Indonesia yang akhir-akhir ini makin kepitalis-liberal. Tetapi kenapa aspek budaya populer Turki justru hadir dengan mulus? Yang pasti, ada aspek menarik atau mungkin intrik ke tengah kondisi masyarakat kita yang makin haus budaya populer-bombastis dan pola pikir yang bergeser ke arah sekuler-liberal begini.

Intrik dan strategi budaya inilah yang harus digarisbawahi sebagai pelajaran penting bagi kita di Indoneisa. Karena kenyataannya produk-produk kebudayaan kita banyak kalah bersaing di depan negara-negara berkembang sekalipun atau bahkan kita kurang kelihatan sebagai negara yang aspek kebudayaannya patut diperhitungkan. Tetapi sebaliknya, Indonesia sebagai negara dengan penduduk besar justru menjadi objek jualan yang potensial oleh pasar internasional. Aspek budaya populer menjadi pintu masuk menanamkan dan menjual branding.

Lebih lanjut, strategi budaya yang berkembang dewasa ini, miminjam istilah Douglas Holt dan Douglas Cameron dalam Cultural Strategy: Using Innovative Ideologies to Build Breakthrough Brands, berlumur strategi branding yang memanfaatkan spirit cultural innovation dengan tujuan untuk menciptakan dan sekaligus menjual brand itu sendiri. Cultural mimicry yang disebut oleh penulis sebagai cultural orthodoxy sudah dilampau dengan membentuk budaya baru yang sembunyi dalam penyediaan ruang subculture (2010). Aspek-aspek masif subcultures inilah yang kemudian membuka ruang-ruang bebas terbentuknya inovasi-inovasi kultural dalam masyarakat. Pesan dan warna kebudayaan yang dibawa oleh drama-drama Korea atau Turki akan menciptakan branding baru di tengah masyarakat kita yang makin sekular dan liberal tetapi lemah dalam aspek kesadaran kultural.

Akhirnya, secara sadar harus diakui bahwa dalam konteks kebudayaan kita adalah bangsa yang sangat aktif mencari bentuk-bentuk ekspresi subculture yang datang dari luar untuk mengisi ruang-ruang kosong atau memodifikasi kejemuan waktu luang pada ruang tontonan yang monoton. Budaya populer Turki dengan cirikhasnya dapat menambah dan sekaligus menambal ruang ekspresi kebudayaan kita, dan di waktu bersamaan kita harus siap menerima berbagai branding yang dijual sebagai strategi inovatif dari keubudayaan. Mari kita cermati bersama-sama bagaimana ikon-ikon tradisi, bahasa, emosi, sejarah dan kebudayaan Turki akan menjadi salah satu tontonan alternatif yang mengisi memori pemiarsa televisi di Indonesia.

Foto oleh Ahmad Muhli Junaidi

Saturday, August 29, 2015

Ada Kopi Tiwus, tapi Dapatnya dari Jawa Barat

Features Jawa Pos, Sabtu, 29 Agustus 2015
"Desain kedai Filosofi Kopi maupun kopi racikan dibuat seperti dalam cerita karya Dewi Lestari. Diharapkan jadi tempat bertemunya para kaum kreatif."

Oleh Gunawan Sutanto, Jakarta


MEMASUKI Filosofi Kopi untuk kali pertama tak ubahnya memasuki sebuah arena teka-teki. Seperti diajak menebak: hayo, bagian mana dari kedai di Blok M, Jakarta, itu yang dititiskan dari buku, film, atau yang malah tidak ada di dua-duanya?

Bar tempat barista yang terletak di tengah kedai? Itu ada di buku Filosofi Kopi, kumpulan cerita pendek dan prosa karya Dewi "Dee" Lestari. Lantai dan dinding yang terbuat dari kayu berserat kasar? Itu juga ada di buku yang masuk lima besar Khatulistiwa Literary Award 2006 tersebut. Tapi, perangkat kopi yang ditata rapi, berbaris memanjang di atas meja bar, itu se­pertinya tak dideskripsikan secara mendetail di buku. Itu “bahasa” dalam film yang diangkat dari buku tersebut dan dirilis April lalu itu.

Di sana, diurut dari kiri, ada mesin espresso merah menyala merek Nuova Simonelli. Di sebelahnya berjejer tiga mesin grinder. Lalu kompor elektrik tanam dan ketel. Tak ketinggalan alat seduh manual: Syphone, Aeropress, dan V60.  “Saya ingin tak sekadar membuat film, tapi juga membuat sebuah brand tentang kopi Indonesia,” kata Handoko Hendroyono, salah seorang pemilik kedai dan produser film Filosofi Kopi

Di kedai itu pula penggambaran film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko tersebut dilakukan. Desainnya pun dipertahankan seperti dalam film yang antara lain dibintangi Rio Dewanto (sebagai Jody) dan Chico Jericho (sebagai Ben) itu. Kisah Filosofi Kopi berfondasi pada kedai yang didirikan Ben dan Jody. Di dunia nyata, kedai tersebut dibangun empat orang: Handoko, Anggia Kharisma, Rio, dan Chico. “Selain kami berempat, tentu banyak teman yang men-support kami dengan berbagai macam cara,” ucap Handoko.

Nah, kuatnya citraan fiksi itulah yang barangkali membedakan kedai tersebut dengan berbagai kedai kopi lain yang belakangan menjamur di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Kedai Filosofi Kopi mungkin kedai kopi pertama yang dibangun berdasar karya fiksi. Mirip Museum of Innocence di Istanbul, Turki, yang dibangun berdasar novel dengan judul serupa karya Nobelis Sastra Orhan Pamuk. 

Museum itu berisi simbol dan artefak yang dicuplik dari isi novel dengan judul dalam bahasa Turki Masumiyet Muzesi tersebut. Penulis Bernando J. Sujibto dalam esainya di Jawa Pos pada 22 Februari menulis, mengunjungi museum itu seperti sebentuk ziarah untuk merasai luka perih dan ketulusan cinta fiktif yang pernah dialami tokoh cerita bernama Kemal. 

Di kedai Filosofi Kopi, nama-nama house blend atau kopi racikan pun dibuat seperti dalam karangan Dee. Kopi tiwus misalnya. Bedanya, kalau di buku disebutkan kopi itu didapat dari kebun kecil milik Pak Seno di sebuah desa daerah Jawa Tengah, dalam realitasnya di kedai di Blok M tersebut, kopi tiwus merupakan hasil pencarian Handoko dkk dari perkebunan kopi di daerah Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Rabu sore lalu itu (26/8) Jawa Pos sempat menjajal kopi yang diseduh manual menggunakan saringan V60 tersebut. Sedap! Handoko memang berharap kedai Filosofi Kopi tak hanya berhenti sebagai “monumen” dari karya fiksi. Tapi juga turut berperan mengangkat kopi Indonesia.  Sebelum film Filosofi Kopi tayang, sebenarnya Handoko, Anggia, Rio, dan Chico “empat orang itu” telah menggagas wujud kedai kopi. Tapi, konsepnya berupa food truck, tepatnya VW Combi yang dimodifikasi. 

VW Combi Filosofi Kopi itu tiap akhir pekan mendatangi sebuah ruang publik. Mereka lantas menginformasikan keberadaan kedai kopi mobile tersebut secara viral, via media sosial dan aplikasi smartphone. Tiga bulan setelah film Filosofi Kopi tayang di bioskop, empat sahabat itu lantas mematangkan niat membuka kedai kopi yang sesungguhnya. Sebuah kedai yang sama persis seperti dalam cerita Filosofi Kopi. 

Upaya tersebut diawali dengan hunting bangunan yang akan disewa sebagai kedai. Mereka sempat memiliki beberapa pilihan tempat di Jakarta. “Kami sempat cocok dengan sebuah bangunan di kawasan kota tua. Tapi, kami pikir lagi kurang pas,” kenang Handoko.

Rio, yang sore itu sibuk menjadi kasir, kemudian punya usul kedai dibuat di sekitar kompleks Blok M Square, kawasan Jalan Melawai. Alasannya, keberadaan kedai harus  mampu menghidupkan kembali citra positif kawasan Blok M. “Dulu ini tempat anak muda banget. Rasanya belum gaul kalau tidak nongkrong di Blok M dan Melawai,”ujar aktor kelahiran 28 Agustus itu saat meluangkan waktu menemani Handoko menemui Jawa Pos.

Empat serangkai tersebut akhirnya menyewa sebuah bangunan yang sudah 17 tahun tak terpakai. Lokasinya berada di tengah kompleks Blok M Square. Bangunan ruko itu terdiri atas dua lantai. Namun, pemiliknya hanya menyewakan lantai dasar yang luasnya sekitar 80 meter persegi. “Tidak tahu kenapa yang punya bangunan tidak mengizinkan lantai 2 digunakan” ujar Handoko.

Menurut Handoko, meski hanya boleh menggunakan lantai 1, hal itu sama sekali tidak mengurangi kemiripan kedai yang ada dalam cerita fiksi. “Dalam cerita filmnya kan kedai kopi itu dibangun di atas bekas toko kelontong milik orang tua Jody,” ujarnya. Empat sekawan tersebut butuh waktu sekitar 2,5 bulan untuk mendesain interior dan eksterior kedai Filosofi Kopi. Desain luar dan dalam tentu dibuat semirip cerita asli se­perti di buku dan film.

Selain kopi tiwus, di kedai itu tersedia kopi lestari dan perfecto. Kopi lestari merupakan house blend berbagai biji kopi dari Gayo, Aceh. Sementara perfecto yang juga bisa ditemukan di dalam buku merupakan campuran kopi terbaik dari Kintamani, Bali.  Handoko mengatakan, kedainya sangat serius dalam membuat house blend. Mereka melibatkan sejumlah pakar kopi Indonesia. ”Kami juga lakukan tes rasa agar menghasilkan racikan yang terbaik,” katanya.

Handoko berharap keberadaan kedai Filkop (Filosofi Kopi) menjadi tempat bertemunya para kaum kreatif. Dia mulai menginisiatori hal itu dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengajak kolaborasi para seniman untuk membantu membuatkan furnitur dan merchandise Filosofi Kopi. “Ini kursi kami bukan beli jadi, tapi buatan teman-teman seniman. Itu ada yang belum jadi,” tunjuk Handoko ke sebuah kursi di teras kedai. 

Handoko menyebutkan, dari sisi bisnis, kedai Filkop mulai menguntungkan. Bahkan, akhir tahun ini mereka sudah membuka cabang di dua tempat, yakni di Bintaro, Jakarta Selatan; dan Renon, Denpasar, Bali. Tapi sayang, ada satu gimmick dari cerita di buku yang hilang dari kedai tersebut. Sejak Jawa Pos datang, memesan kopi, dan mengakhiri wawancara, tak ada secarik kartu kecil yang menerangkan filosofi dari kopi yang baru diminum. Kertas itu diberikan Ben kepada pengunjung yang memesan kopinya. Mungkin karena sore itu Ben sedang tidak di tempat, jadi kartu tersebut lupa diberikan. Mungkin. (jpg/p2/c1/fik).

Monday, June 29, 2015

Kemenangan Kelompok Minoritas di Turki

Versi cetak dari tulisan ini dimuat di Majalah GATRA, edisi 1 Juli 2015

Pemilihan Umum Turki 7 Juni 2015 silam menyajikan hasil mencengangkan dan sekaligus akan menjadi turning point bagi masa depan demokrasi di Turki sendiri. Pasalnya, partai politik yang didukung oleh mayoritas suku Kurdi (dan tidak pernah mendapatkan tempat di parlemen sepanjang sejarah Republik Turki) akhirnya meraih tiket duduk di DPR dalam periode empat tahun ke depan. Partai HDP (Halkların Demokratik Partisi/ Peoples' Democratic Party), partai berhaluan sosialisme demokratik dan anti-kapitalis terkuat di Turki, telah melampaui persyaratan Seçim Barajı (Parliamentary Threshold) dengan mendapatkan 13 % suara nasioanl. Turki adalah satu-satunya negara demokrasi yang mematok Seçim Barajı dengan minimal 10% suara pemilu nasional.

Data terakhir hitung cepat yang dilakukan media-media lokal telah membeberkan perolehan suara dan kursi di parlemen: AKP (Partai Pembangunan dan Keadilan) 258 kursi (40.86%), CHP (Partai Rakyat Republik) 132 kursi (24.96%), MHP (Partai Gerakan Nasionalis) 80 kursi (16.29%), dan HDP (13.12%) dengan 80 kursi. Perolehan suara HDP tidak lepas dari partisipasi pemilih luar negeri yang signifikan. Selain merebut suara mayoritas di daerah Turki timur dan tenggara, sebagai basis suku Kurdi, HDP mengantongi suara berlimpah dari warga Turki di luar negeri. Seperti dilaporkan, perolehan suara dari luar negeri tercatat: AKP 49.30%, HDP 21.03%, CHP 17.02% dan MHP 9.15%. Perebutan kursi di parlemen Türkiye Büyük Millet Meclisi yang berjumlah 550 sudah final dengan kehadiran kandidat baru yang akan meramaikan proses demokrasi di Turki.

Sejak awal berkiprah di ranah politik nasional, sepak terjang HDP mengundang memang decak kagum kelompok-kelompok minortas. Sejak pemilihan presiden Turki yang dihelat secara langsung 10 Agustus 2014 silam, Selahattin Demirtaş sebagai ketua partai dan sekaligus calon presiden hadir di pentas politik nasional dengan penuh simpatik dan kharismatik. Namun begitu, dia harus rela berada di posisi ketiga dengan perolehan suara 9.76%, tertinggal jauh dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang meraup suara 51.79%. Sementara tren dukungan positif yang ditunjukkan oleh pemilih dikelola dengan sangat cerdik oleh HDP sebagai bekal menghadapi Pemilu yang sebenarnya ini.

HDP didirikan tahun 2012 oleh kelompok sayap kiri yang bertekad menembus Seçim Barajı di parlemen Turki, sekaligus sebagai satu-satunya corong pro-Kurdi di panggung politik, setelah partai-partai sebelumnya seperti BDP  (Peace and Democracy Party) atau BDP (Democratic Regions Party) gagal menarik simpati. Partai ini dibentuk dengan kematangan ideologi dan strategi politik yang nyaris tanpa celah. Jika ditilik ke dalam sistem internal partai, sudah sangat jelas dipersiapkan bagaimana nilai-nilai demokrasi, partisipasi dan kesetaraan yang menjadi jualannya tercermin sangat jelas. HDP adalah satu-satunya parpol di Turki yang memakai sistem kepemimpinan co-presidential dengan dua ketua yang terwakili secara gender: Demirtaş dan Figen Yüksekdağ. Di samping itu, calon anggota DPR yang maju dari partai ini pun sangat beragam dalam aspek latar belakang dan kelas sosial.

Diskriminasi Minoritas

Meskipun suara mayoritas milik AKP, kehadiran HDP di parlemen akan mewarnai proses politik di parlemen. Kebijakan pluralis dan multikultiralis yang diusung HDP menjustifikasi geliat kelompok-kelompok di minoritas di Turki. Sebagai parpol pro-Kurdi, yang sekaligus dapat ditandai sebagai simbol gerakan minoritas, suara disumbang penuh oleh Kurdi diaspora, kelompok-kelompok minoritas seperti pemeluk Yahudi, Kristen dan LGBT ataupun kelompok left-wing yang ingin melihat keterwakilan mereka di di parlemen Turki. Keberhasilan HDP adalah kemenangan kelompok minoritas. Perjuangan suku Kurdi di Turki khususnya setelah Era Republik menjadi simbol penting gerakan minortas yang tak pernah padam.

Ahli Kurdi terkemuka Martin van Bruinessen, antropolog dan profesor di Utrecht University, telah menyajikan serangkaian hasil penelitian penting selama puluhan tahun untuk melihat secara komprehensif gerakan suku Kurdi baik di Turki, Iran ataupun Irak. Bersama intelektual lokal Turki seperti Ismail Beşikçi dan Kemal Burkay, Bruinessen adalah ahli Kurdi terdepan yang menerabas isu maha tabu tersebut sejak akhir 60-an. Identitas Kurdi digencet rapat selama puluhan Tahun. Bahasa, pakaian, cerita-cerita rakyat, nama-nama dan simbol-simbol lokal dilarang oleh pemerintah Turki (Bruinessen,1984). Dalam perjalanan ke daerah Turki tenggara seperti Diyarbakir, Mardin dan Batman musim panas tahun kemarin, saya bertemu dengan masyarakat Kurdi yang tidak bisa berbahasa Turki. Meksipun daerah-daerah tersebut sudah dibangun secara pesat di bawah pemerintahan AKP, fakta ini tidak bisa dinafikan bahwa diskriminasi selama puluhan tahun telah menyiksa mereka.

Tidak hanya secara kultur mereka diredam, aspirasi di ranah politik pun dijegal. Batas Parliamentary Threshold setinggi 10% secara tersurat untuk mengekang suara-suara minoritas seperti Kurdi. Di tengah tekanan yang bertubi-tubi, justru semangat kemerdekaan Kurdistan semakain benderang. Tidak mendapatkan kebebasan di Turki, mereka menjadi diaspora di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Di sana energi perlawanan terus dipupuk. Ditambah oleh kepentingan negara-negara tetangga yang tidak suka Turki semakin kuat telah ikut andil mendukung penuh gerakan-gerakan Kurdi di luar negeri.

Bagaimana pun, kehadiran HDP di pentas politik akan memperkuat proses demokrasi yang plural dan mewakili kelompok-kelompok minoritas di Turki. Partai yang berafiliasi kuat dengan gerakan sosialis transnasional seperti Syriza di Yunani dan Podemos di Spanyol ini akan mengawal era baru politik Turki dengan ideologi politik minoritas.

Kebangkitan left-wing?

Menariknya, keberhasilan HDP di Turki bisa dilihat juga dalam konstelasi politik sayap kiri transnasional yang semakin bergeliat khususnya di Eropa setelah mengalami kemunduran ekonomi akibat resisi tahun 2010. Di Eropa, khususnya negara-negara Mediteranea, potensi kebangkitan politk buruh, kelompok minoritas dan kaum sosialis mulai terbaca setidaknya dalam lima tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir milsanya kita menyaksikan tren positif kebangkitan partai Syriza di Yunani. Terbukti pada Januari 2015 silam partai yang mendukung penuh massa turun ke jalan melawan penghematan pemerintah merebut 149 dari 300 kursi parlemen dan mendaulat ketua umum partai Alexis Tsipras menjadi PM Yunani. Tak berselang lama, pada pemilu regional akhir bulan Mei kemarin di Spanyol, muncul kebangkitan baru politik sayap kiri Podemos.

Uniknya, ketiga partai politik yang beroperasi di tiga negara berbeda ini mempunyai afiliasi ideologis yang kuat. Syriza yang mulai hadir sebagai sentral kekuatan baru dalam politik sayap kiri di Eropa menjadi barometer dan pengayom benih-benih ideologis dari partai politik yang menyebar di beberapa negara termasuk Turki. Bahkan Iglesias melalui akun Twitter-nya @Pablo_Iglesias_ menyampaikan ucapan selamat kepada kompatriot idologisnya: The wind of change keeps blowing. Congratulations, @HDPgenelmerkezi. ¡Venceremos!

Dalam empat tahun ke depan, kita akan menyaksikan kiprah politik sayap kiri di Turki yang sudah absen dalam 20 tahun terakhir. Di samping itu, suara-suara minoritas akan semakin semarak mewarnai diskursus politik parlemen ataupun di ranah praktis.

Note: photos thanks to Byan and Mbak Akriz

Friday, June 26, 2015

Shalat Terawih in Konya, Turkey



Saya selalu menikmati perbedaan sebagai rahmat dan keindahan. Termasuk dalam praktik shalat terawih di halaman masjid yang bersebelahan dengan makam dan museum Jalaluddin Rumi. Praktik-praktik seperti shalawat dan syair setelah shalat isya', sebelum kemudian mendirikan terawih, dibaca dengan khas Turki, seperti irama syair-syair Rumi. Islam di Turki adalah Islam yang menyatu dengan sufisme dan tasawuf. Di sini, konteks lokal menyatu dan berasimilasi dengan praktik keislaman.

Friday, June 05, 2015

Taman Kota Amed

Siang renta di awal musim gugur. Angin tak menentu bertiup dari segala arah, sesekali menghantarkan aroma akar dan batang-batang sayuran yang baru saja dipanen dari tepi Sungai Tigris. Ia, tokoh kita kali ini, tersedot di tengah-tengah denyut massa yang memadati sebuah alun-alun kota Amed yang telah menjadi tempat kedua setelah rumahnya. Semasa kecil ia biasa datang ke taman itu untuk bermain ragam permainan rakyat seperti kurt kardeş dan tarian-tarian tradisional seperti çepik, delilo, dan çaçan. Taman itu telah membuat hidupnya begitu berwarna.

Sementara itu suara riuh yel-yel dan lagu tradisional dengan gendang dan terompet terdengar meledak-ledak. Gendang ditabuh semakin kencang. Massa membikin lingkaran sambil menari dan sesekali meneriakkan protes di sela musik yang melengking.

“Ini waktu yang tepat!”

Menjauh dari pusat keramaian yang berkonsentrasi tepat di bagian sayap kanan alun-alun, ia melenggang ringan ke sebuah patung yang disanggul beton.

Ia menatap patung itu dengan muka masam. Geram!

“Engkau telah mencabik-cabik tanah kami!” Kalimat ini akhirnya melesat begitu saja bagai peluru buta arah. Setumpuk orang yang hilir mudik di sampingnya pasti mendengar teriakannya. Ia tak peduli meski ada dua orang (sepasang kekasih bergandengan tangan di tengah gejolak massa) sedari awal menatapnya dengan muka penuh tanya. Ia hanya berbekal satu keyakinan bahwa mereka yang berjubel di taman itu adalah saudara satu bangsa yang sama-sama memperjuangkan haknya.

Semakin lama menatap pelipis patung itu (seingatnya, ia tak pernah melihat senyum ramah dari foto, sketsa ataupun patung yang bertebaran di setiap taman kota, sejak İlkokul sampai Lise), ia seperti melihat kobaran api—menyembur dari kedua mata patung. Mungkin saja patung itu marah kepada massa demonstran yang kerap berteriak menyumpahserapahi namanya. Lehernya mulai terasa lelah menyanggah kepala yang sedari tadi mendongak ke patung yang tingginya sekitar 10 meter itu.

Dua meter dari patung itu, sebuah bendera menjulang dan berkibar. Kibaran bendera berwarna merah dengan bulan sabit dan sebiji bintang berwarna putih di tengahnya. Bendera dan sosok dalam patung itu bagi kembar identik. Dua simbol yang disakralkan itu pasti dijumpai di sekolah, kantor pemerintah, bangunan milik negara, taman kota dan bahkan tak jarang di rumah pribadi sekalipun. Bendera dan sosok pada patung itu dikenalnya sejak di bangku İlkokul. Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, ia ditunjuk menjadi pemimpin di kelas untuk membaca öğrenci andı (dan sumpah ini berlaku untuk semua sekolah dasar seantero negeri). Ketika di akhir ortaokul, ia menyadari telah membohongi dirinya sendiri. Ia tak ingin menyalahkan para guru yang telah mewajibkan semua murid membaca sumpah. Ini sudah menjadi kewajiban nasional. Akhirnya, sumpah yang ditulis oleh seorang dokter itu dikenangnya sebagai kepalsuan yang telah dialami dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia mulai terang-terangan menunjukkan sikapnya kepada teman-teman dekat yang biasa bermain di sekitar taman. Mengajak mereka untuk membaca sejarah dan pertentangan sengit yang terus menghantam kotanya.

“Seandainya aku sudah tahu sejak di bangku İlkokul, Vallah aku tidak akan pernah memimpin pembacaan öğrenci andı di depan kelas. Tidak pula membaca sumpah itu!” Ia ingat betul kalimat ini suatu kali pernah disampaikannya kepada Beritan dan Murat, dua teman dekatnya yang selalu satu kelas hingga Lise. Meskipun waktu itu kedua temannya diam, ia yakin apa yang dipikirkannya sama seperti teman-temannya yang lain.

“Kita masih bocah ingusan waktu itu. Tidak tahu apa-apa,” tanggap Murat.

“Betul. Mulai saat ini, ajak dan kasi tahu orang-orang terdekat. Kita orang Kurdi, bukan orang Turk! Tak perlu mengucap sumpah palsu seperti itu!”

Murat bergeming. Pandangannya kosong. Sebuah peristiwa di tahun pertama ortaokul ketika neneknya harus dirujuk ke rumah sakit di kota Amed lamat-lamat menyergapnya bagai hembusan angin musim gugur. Peristiwa itu lalu ditandainya sebagai tragedi: nenek dan keluarga yang mengantarnya dilarang berbahasa Kurdi oleh pihak rumah sakit. Neneknya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Turki menatap Murat dengan remang airmata. Saat itu, Murat melihat diri dan keluarganya bagai orang asing di tanah kelahirannya sendiri!

“Seharusnya kita bersumpah atas nama tanah dan dan bangsa kita sendiri!” suaranya terdengar serak, sembari menatap patung dan kibaran bendera.

Ia mendekat ke beton yang menyanggah patung tembaga berwarna hitam legam itu. Tangan kanannya meragah tiang bendera yang berdiameter 10 cm. Sementara tangan kirinya menyentuh beton dingin berwarna putih pucat. Saat tangannya dibuka lebar mendepa, ia kembali mendongak menatap langit, tepat di tengah-tengah antara patung dan bendera. Saat itu, ia menatap langit yang begitu sempit, diapit patung dan kibaran bendera yang sesekali ditiup angin ke arah patung. Lalu melepas kaos dan melemparkannya ke patung. Tapi sayang, kaos itu keburu disergap angin dan kembali jatuh ke tanah berumput. Ia biarkan kaosnya tergeletak begitu saja di atas tanah bekas jejak kaki yang mengubur kenangan masa kecilnya. Kini yang ada dalam pikirannya adalah kebebasan. Ia ingin segera menjelangnya.

Sementara di ujung taman yang menghadap jalan raya lima arah, suara para demonstran semakin menggaung. Terdengar terompet yang ditiup dengan nafas penuh seluruh. Ia menoleh ke arah kanan, lalu mendekap tiang bendera. Saatnya ia menjemput kebebasan nan maha luas. Suara-suara gemuruh membuat tubuhnya begitu ringan.

Satu panjatan terasa begitu berat. Ia memang bukan orang kampung, seperti Beravan, Serdem, Fatih atau Veysel, yang dikenalnya sejak di bangku Lise. Mereka yang datang dari pinggiran Amed untuk sekolah di kota terkenal dengan kelihaian memanjat dan meniti jembatan kecil sekalipun. Sayangnya, ia tak pernah belajar bagaimana teknik meringankan tubuh ketika meliuk-liuk di atas sebilah batang kayu tipis. Panjatan kedua, ketiga dan seterusnya semakin meringankan tubuhnya. Suara-suara gemuruh para demonstran seolah menyulap dirinya bagai seekor tupai. Tiang besi yang dingin meresap ke jantungnya, seperti ada partikel dari surga maha jernih yang merasuk di balik dadanya.

Pada dakian keduabelas, ia mendengar gelegar makin hebat. Gelegar itu, suara-suara jeritan yang telah menyembulkan semangat, menyeruak arahnya. Ia makin fokus segera sampai di puncak tiang. Telinganya ditempelkan pada tiang besi, mereguk spirit yang mengalir deras dari tanah kelahirannya. Pada tiang itu, getar dan pekik perjuangan menggumpal. Saat tangannya keerakan, ia bertumpu pada kedua kakinya dan bersengkelit pada batang tiang.

Di puncak tiang nanti, ia ingin meluapkan semua amarah yang membuncah, berteriak kepada teman dekatnya, Beritan dan Murat: “Hewal, lihatlah kemenangan kita hari ini. Aku ingin kalian mendengarnya, dan melihatku dengan hati nurani. Entah dimana pun kalian berada kini. Setelah kita berpisah dan memilih meninggalkan sekolah di tahun kedua Lise, kalian memilih pergi ke Ankara dengan alasan belajar teori-teori gerakan dan gerilya kepada hoca efendi. Setelah kita berpisah sejak lima tahun silam, aku tidak lagi melihat batang hidung kalian! Biarkan kalian menyaksikan sendiri apa yang kuperjuangkan sejak di akhir ortaokul terus bergelora!”

Makin tinggi getar kibaran bendera berukuran 1,5 meter itu makin bergegar. Angin berhembus aneh. Ia pun lupa ini panjatan keberapa. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat tubuhnya sejajar dengan kepala patung. Seandainya bisa meloncat, ia ingin menerjangnya keras-keras hingga kepalanya terjungkal. Satu kali gayutan lagi ia sudah melampaui ketinggian patung itu. Pekikan suara massa semakin menukik. Ia tak tahan menggerakkan mukanya ke arah kepala patung. Alangkah terkejutnya, ribuan massa telah berjubel mengelilinginya.

Her biji…. Her biji…. Her biji…!!!”

Mereka meneriakkan kalimat-kalimat yang makin membangkitkan jiwanya. Ia tak bisa menahan bulir-bulir gerimis yang tumpah dari sudut matanya. Dalam remang pandanganya, ia melihat massa yang meneriakkan her biji dengan kepalan tangan dan muka yang ganas. Dua dakian lagi ia akan sampai di ujung tiang. Dan ketika menyentuh bendera, tubuhnya seperti dialiri ribuan kromosom kemerdekaan yang tak terwariskan.

“Abdullaaaah….!!!” sebuah teriakan seperti memekakkan gendang telinganya.

Lolongan suara itu membuatnya terperangah. Ia seperti tersengat listrik ketika menoleh ke sumber suara. Di sana ada Murat yang tengah memanjat patung dengan sebilah kapak besar.

“Lihatlah ini, Abdullaaaaah!” teriaknya histeris sembari memenggal kepala patung berkali-kali hingga tersungkur. Sontak suara massa melengking saat kepala patung terkapar di tanah. Dengan gagah Murat meloncat dan membiarkan kapaknya menancap pada leher patung.

Pada waktu bersamaan, Abdullah dengan beringas merobek kain bendera dengan gigi dan tangan kidalnya. Serupa singa yang kalap memangsa. Bendera itu langsung dilemparkan sekenanya ke tengah kerumunan massa. Sebelum bendera mendarat ke tanah, lamat-lamat ia mendengar namanya disebut berulang-ulang oleh mereka. Pasti si Murat telah menggerakkan masa untuk menyanyikan namanya. Namun tiba-tiba suara mereka tak terdengar lagi di telinganya. Tubuhnya sendiri amruk. Matanya padam. Abdullah jatuh seperempat detik sebelum bendera itu sampai di tangan massa. Tersungkur di atas kaosnya sendiri berwarna merah-putih-hijau-kuning.

Dua timah panas telah memecah jantugnya!

Di tengah jeritan dan gemuruh massa yang makin melesat, Murat meloncat dan memeluknya sembari menyebutkan namanya berkali-kali; membiarkan darah Abdullah berlumuran di dadanya. Massa berhamburan kalang-kabut. Bom-bom molotov yang sedari tadi disimpan para demonstran akhirnya dilemparkan ke mobil-mobil baja milik polisi.

Menyaksikan kabut hitam yang mulai membumbung dan teriakan histeris di tengah taman kota Amed, dari lantai lima Hotel Dicle, aku meringis melanjutkan cerita ini. Satu hal ingin kusampaikan sebagai penutup: Demi Tuhan aku yakin, penembak jitu yang telah mengirimkan dua timah panas tepat di jantung tokoh kita kali ini ada di hotel yang sama, bahkan di lantai yang sama: di kamarku!


(Untuk Ömer Mutlu, pemuda yang kini menjalani hukuman 13 tahun penjara karena menurunkan bendera Turki di Diyarbakir, Juli 2014)
Versi cetak cerita ini dimuat di Kedaulatan Rakyat, Ahad 17 Maret 2015

Keterangan:

Amed (Kurdi)                          : Nama lain Diyarbakir
Kurt kardeş (Turki)                 : Permainan tradisioanl di Diyarbakir dan sekitarnya
Çepik, delilo, çaçan,
dan şemame (Turki)                : Tarian rakyat khas Turki Tenggara.
İlkokul (Turki)                         : SD
Ortaokul (Turki)                      : SMP
Lise (Turki)                              : SMA
Vallah (Turki)                          : Demi Allah
Hewal (Kurdi)                         : Sebutan akrab untuk teman karib
Her biji (Kurdi)                       : Semoga Tuhan memberkati (doa semangat).
Hoca effendi (Turki)                : Sebutan untuk guru alim yang dihormati.
Biber gazi (Turki)                    : Gas airmata
Öğrenci andı (Turki)               : Sumpah siswa (isi sumpah):

Aku Turk, jujur, pekerja keras; prinsipku adalah menjaga generasi muda, menghormati orang-orang tua, mencintai tanah kelahiran dan bangsaku melebihi diri sendiri; eksistensiku akan didedikasikan kepada eksistesi Turki.

Sunday, May 31, 2015

Terjemahan Bahasa Turki Sajak "Aku Ingin" Karya Sapardi Djoko Damono

Berikut ini adalah terjemahan saya atas puisi berjudul "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono. Semoga ke depan bisa lebih banyak lagi memperkenalkan puisi-puisi Indonesia ke masyarakat Turki.

İSTERİM

Zorlamadan sevmek isterim seni
söylenemez bir sözle
odun ateşe altıldığında değiştiren küle
Zorlamadan sevmek isterim seni
anlatilamaz bir işaretle
yağmur yok eden buludu

===###===

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
      dengan kata yang tak sempat diucapkan
      kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
      dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
      awan kepada hujan yang menjadikannya tiada...

===###===

I WANT

(by John H. McGlynn)
I want to love you simply
in words not spoken:
tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simply
in signs not expressed:
clouds to the rain which make them evanesce