Sunday, November 07, 2021

"Membuang Ibu"

Petang hari, kami bertiga biasa bermain dan bercengkrama. Sejak awal, saya dan istri memang sengaja memperhatikan dan menandai perubahan-perubahan Ef setelah tahu bahwa adiknya akan segera lahir. Kami menceritakan berulang-ulang tentang adiknya yang sedang dikandung di perut ibunya. Kami mengajak Ef untuk menyapa adiknya, atau membacakan salawat dan sebagainya. Satu di antara respon Ef adalah menolak dengan alasan adik sedang tidur di perut ibu dan tidak boleh diganggu.

Di awal-awal usia kandungan masih sekitar lima bulan, kondisi kehamilan istri belum terlihat, Ef menunjukkan ketidaksukaanya ketika ibunya bercerita ada adik di dalam perut. Masa-masa ini, di usia Ef yang menjelang 30 bulan, dia cenderung agresif seperti memukul dan menerjang perut ibunya. Ketidaksukaannya mulai terlihat sejak itu.

Respon lain yang paling kentara adalah sikap manja Ef yang tidak ketulungan. Apa-apa memaksa ibunya yang mengerjakan: menemani ke toilet, membikinkan susu dan sebagainya. Bagian ini, saya nyaris tidak bisa masuk dan bernegosiasi, meski kadang bisa menggantikan peran ibunya agar saya bisa menangani dan menemani Ef. Tapi itu porsinya sedikit. Saya minta istri harus lebih sabar menghadapi pengalaman unik begini.

Petang itu, ada satu kalimat yang membuat saya terperangah, diucapkan di sela-sela kami bermain. “Bah, ibu buang aja ya ke belakang!” Saya terhenyak, diam dan berpikir keras. Apa gerangan makna di balik kalimat itu? Saya memeluk Ef lebih erat dan mengobrolkan kenapa ibu mau diubang? Bukannya Ef sayang sama ibu, seperti sayang Babah kepada ibu dan Ef? Jawabnya masih ketus, “Ya, buang aja!

Dalam situasi demikian, saya memainkan kode mata dengan istri. Saya merasakan betul secara alamiah bagaimana anak pertama begitu susah menerima calon adiknya. Karena secara pengalaman banyak orang, ini momen di mana seorang kakak harus menghadapi kenyataan kasih sayang yang akan terbagi—tidak lagi bercurah kepada anak pertama, Eftalya Ruhum. Tetapi berkali-kali pula saya membisikkan kata sayang, cinta dan bahagia bersama-sama untuk mensugesti bahwa kami tetap seperti sedia kala.

Tetapi saya sangat senang Ef melontarkan ekspresi demikian. Saya menjadi tahu bagaimana rasa dan perasaan dia dalam situasi seperti ini. Dengan begitu kami harus lebih sadar dan awas menjelang kehadiran anak kedua kami, yang insya Allah laki-laki.

Doakan kami, handai tola dan seluruh semesta, atas keselamatan proses bersalin istri kami Desember nanti!


Tobratan, 08/11/2021: 12:34

Related Posts:

  • Tiga Hari Menjelang 17 April 2019Saya pulang ke kampung halaman pada tanggal 12 April malam dengan kereta jurusan Yogyakarta-Surabaya. Niat saya pulang adalah untuk akikah anak pertama, Eftalya Ruhum, bertemu dengan kawan yang tengah mencalonkan diri sebagai… Read More
  • Kepada Adikku: Semakin Jauh, Hatiku Semakin Dekat Selamat Ulang Tahun, Adikku Izza Di kebun bareng adik-adikku... Di tengah waktu terus mempersiapkan yang terbaik buat akhir studiku, rinduku kepada ibu, kamu dan keluarga sangat menggebu. Sesegera mungkin, ingin sangat a… Read More
  • Cerita untuk Eftalya Ruhum(Nak, temukan tulisan ini saat kamu sudah bisa mencerna bacaan, pahami babahmu dari selaksa tulisan ini. Niscaya kamu akan paham lubang-lubang kecil di balik dada babahmu). Betul bahwa "hayatımın en mutlu anıymış, bilmi… Read More
  • "Membuang Ibu"Petang hari, kami bertiga biasa bermain dan bercengkrama. Sejak awal, saya dan istri memang sengaja memperhatikan dan menandai perubahan-perubahan Ef setelah tahu bahwa adiknya akan segera lahir. Kami menceritakan berulang-ul… Read More
  • Eftalya Ruhum: Pempers kan Jadi Sampah!Saya betul-betul berjuang untuk membuat Ef tidak memakai popok sebisa mungkin. Ini bukan soal membeli popok (bagian ini saya ceritakan di akhir), tetapi sebuah percobaan yang saya lakukan untuk anak pertama kami ini.Sejak usi… Read More

0 comments: