Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Monday, January 31, 2011

Urat Leher: “Allahu Akbar”

Hari itu, Senin 31 Januari 2011, kasus Ariel Peterpan dengan video porno bersama Cut Tari dan Luna Maya memasuki babak putusan hakim di Pengadillan Tinggi Bandung. Ariel harus menerima kurungan 3,5 tahun, meski vokalis yang punya suara serak-khas itu masih punya hak untuk naik banding. Semua orang ramai berdatangan: para fans, handai tolan, kawan karib, dan para pendemo. Suara mereka terdengar riuh rendah—ada senyum sumbringah, harapan, dan kecemasan. Sesekali teriakan dengan urat leher yang menjilat ke luar terlontar dari luar gedung pengadilan.

Ariel yang sedang duduk di bangku pesakitan itu terlihat dengan sangat yakin. Senyum khasnya menyebar ke siapa pun yang sempat menjalin muka. Proses di pengadilan dengan pasal pornografi kepada Ariel adalah yang pertama, dan Ariel menjadi saksi sejarah terhadap Undang-Undang yang sempat molor dan kontroversi itu. Jelas ini pengadilan selebritis, artis, dan pablik figure—penuh gengsi dan perlu ditonton bagi yang menyukainya.

Friday, January 28, 2011

Betapa Tak Berartinya Rakyat Kecil di Negeri Ini!

--jangan halangi saya jika harus takut kepada negara sendiri!

Saya hanya bisa berkali-kali melongo dan tak percaya bahwa rakyat di negeri ini dianggap seperti sampah, tak berguna di mata pemerintah dan negara; mereka dibiarkan terbunuh begitu saja oleh berbagai macam kecelakaan karena keteledoran sistem yang digawangi manusia (human error), ataupun kecelakaan yang dibikin oleh pemerintah (apparatus state) sendiri, dan membiarkannya merajalela seperti skandal korupsi dan mafioso yang menggurita dan membunuh harapan mayoritas anak bangsa. Korupsi adalah kecelakaan sejarah paling fatal (lebih dari kriminal) yang—pelan-pelan tapi pasti—telah mengubur harapan masa depan bangsa ini.

Inilah negeri dengan seribu satu ragam bencana: bencana alam yang bertubi-tubi datang menggilas sendi-sendi tanah air dengan korban yang tak terhitung lagi; bencana kemanusiaan seperti korupsi dengan jumlah korban anak bangsa secara umum; dan “bencana pembiaran” seperti kerap menimpa alat-alat transportasi kita. Bencana terakhir adalah bencana kerena “ketidakacuhan” pemegang sistem tanah air tercinta ini. Orang-orang kecil yang menjadi korban bisanya hanya menjerit lantang dalam kekosongan realitas, karena jeritan mereka nyaris tanpa makna di mata negara dan pemerintahannya.

Thursday, January 27, 2011

Pasar Malam (bukan) Sekaten

Setiap mendekati bulan Maulud, sebagai cara memhormati makna sebuah kelahiran: kelahiran Sang Utusan Muhammad SAW, Alun-Alun yang telah menjadi simbol kebesaran sejarah kerajaan di Yogyakarta itu pasti selalu ramai, dipadati bukan hanya oleh penduduk lokal setempat, tapi para pendatang dari luar daerah pun berjejalan bertandang menikmati khazanah kebesaran Yogyakarta di balik untaian tradisi.

Mengantarkan seorang teman asal Korea Selatan berkeliling Yogyakarta, dua Alun-Alun di Kota Yogyakarta selalu menjadi salah satu rujukan sebagai ruang pubik yang bisa mengakses “keterbukaan Yogyakarta” di samping desain arsitektur dan tata ruangnya yang memincut mata para pengunjung. Alasan ini menjadi keyakinan saya untuk mengenalkan sebuah tradisi yang saat-saat sekarang mengisi Alun-Alun Utara.

Untuk "Suatu" Metafora

(Catatan pendek penghantar diskusi Being Community)


“metaphor intrinsically transcendental”.

Frase di atas saya temukan dari buku History and Tropology: The Rise and Fall of Metaphor karya Ankersmit, F. R. Kalimat ini semakin menambah kurang paham saya ketika metafor dibaca dalam perspektif filsafat—seperti teman-teman Being mau—lengkap dengan sejarah, tokoh dan cabang ranah pemikirannya. Sejauh ini, sebagai penulis dan penyuka sastra (puisi), saya memperlakukan metafor sebagai alat untuk membebaskan dan menghadirkan imajinasi dalam puisi-puisi saya. Soal perspektif filsafatnya, biar Being nanti membingkainya dan teman-teman sendiri yang bertanggung jawab mempersoalkannya.


Merunut kepada F. R. Kalimat, metafor adalah proposing that we see one thing in terms of another, sebuah perangkat kata, frase, atau bahasa yang bisa menghantarkan makna yang mendua dan lebih. Apakah makna mendua tadi sebagai absurditas ataupun ambivalensi adalah bergantung kepada interpretasi-interpretasi yang hadir berikutnya. Yang jelas bahwa kehadiran makna yang terikat (meaning-governed) dan makna yang bisa dibuat (meaning-making) akan menjadi salah satu yang menyertai laku metafor.

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

Suatu bangsa mempunyai sebuah kekuatan yang tak gampang dilenyapkan, yaitu ingatan bersama (collective memory). Percaya atau tidak, ingatan akan selalu menjadi titik tolak kesadaran imperatif yang melekat dalam tindakan kehidupan suatu bangsa. Secara sosial-antropologis, ingatan bisa dikatakan sebagai hasil metamorfosa dari proses sosial budaya yang panjang, dari benih ideologi suatu negara secara umum, atau ia merupakan hasil konsensus masyarakat yang mereka tangkap bersama sebagai buah dari proses dan kontrak sosial politik. Ingatan bersama menjadi senjata dalam menciptakan gerakan sosial (social movement)—mulai dalam skala kecil hingga bernama revolusi—yang berdasarkan kepada kesadaran etis yang berkembang di suatu masyarakat-negara.

Bisa saja ingatan yang telah tertanam kuat dalam diri suatu bangsa sama sekali tidak mereka sadari secara kritis. Ingatan seperti itu lahir karena faktor kinerja ideologi yang teramat kuat sehingga cita-cita ideologi untuk membentuk kesadaran palsu bisa tercapai. Ini adalah ingatan semu yang sangat membahayakan dan mengancam prinsip integritas humanisme.

Blog, Kopi, dan Ingatan-ingatan

Ibarat awan tebal menunggu hujan. Tentu tak bisa diganggu apalagi dihentikan untuk tidak turun hujan—jika tidak ingin kilat melesat dan membuncah di tengah langit yang gelap seperti itu. Awan adalah kebanggan dan sekaligus cita-cita bagi hujan yang hendak turun untuk bumi. Begitu juga, kiranya, keinginan saya melanjtukan kesukaan sebagai blogger—menuliskan kegelisahan demi kegelisahan, dan pikiran-pikiran yang bahkan berseberangan. Saya seperti hujan itu, saat ini, yang hendak melahirkan dan melejutkan sekian “nafsu” menulis.

Dahulu, saya sempat mengasuh blog demi blog—untuk pikiran-pikiran kecil saya—ada blogspot, multiply, dan wordpress. Tapi kesemuanya menguap begitu saja dan tak terurus. Teman-teman, sebagian, ada yang mengingatkan agar mengurus blog tersebut. Tapi karena beberapa hal, saya lalai mengasuhnya. Dan akhirnya menjadi kenangan!

Saya sering ngeblog di tengah genangan kopi di gelas, atau teh manis yang sabar menemani hingga dingin sekalipun. Karena kopi, atau entah kenapa, seorang penulis kerap kali melanjutkan pengembaraannya, tekun menuliskan pikiran-pikirannya. Dan tak jarang dari mereka menjadi karya besar yang diamini banyak orang. Saya hanya berharap, meski nanti tak ada kopi atau teh, pikiran saya bisa terus lahir dan menuliskannya sendiri—seberat apapun itu!

Sekarang, saya ingin menjaga ruang kecil ini, merawatnya dengan kesabaran dan ketekunan. Kisah-kisah perjalanan dan semua perspektif terhadap apapun yang saya baca akan menjadi bagian dari bunga rampai di sini, menjadi rampai bagi buah pikiran saya sendiri.

Saya tidak ingin sekali tulisan-tulisan saya dipuja hanya karena mentereng dan dipublikasikan di media yang bisa diakses mudah oleh masyarakat umum. Sementara tulisan-tulisan tersebut hanya berumur sekedar, dan bahkan temporal. Habis itu mati tak terlihat juntrungnya. Saya ingin jika suatu nanti, narasi kecil di balik bunga rampai pikiran ini terus lahir dengan sabar dan menuliskan kisahnya sendiri secara tenang dan bersahaja.

Sebagai bagian dari sebuah negeri yang besar, Indonesia, sebagai pemuda yang masih dibangga-banggakan oleh negeri ini, tak akan salah jika saya dan semua kawan-kawan menjadi bagian yang kreatif dalam melahirkan pemikiran-pemikiran positif bagi bangsa dan negara ke depan.

Akhirnya, di tengah bala bencana yang terus tak henti menerjang Indonesia, saya tetap ingin sekali mengucap bismillah, demi kedamaian negeri saya, dan kekuatan pikiran dan sikap yang dipunyainya ke depan.

Bismillah… mari kita menjadi bagian yang kreatif untuk bangsa dan negara ini…

Stuck in Nothingness

Since this morning I’ve been trapped in my messy-narrow room with many untidy books around me. It has been my habit since uncertain long time ago. I guessed it’s predestinate for me as guarantee to my whole life. I just follow my mind to be honest and patient among the silent space, read more books and write many ideas surrounding my mind.


I have learned from prominent writers such as Borges, Gabriel Garcia Marques or even to Marquis de Sade who lived in silence for long life, far away from reality, and they stuck in silence for their lifetime, yet the crowded people outside my room have walked along the way and have talked about nothingness—materialism, money, lust, and so on—by echo sounds which broke my ear down my floor tile.

I often talked to my computer and asked deeply about what is the life’s meaning for me, and also for those who are busy for their personal lives? Unfortunately, a lot of people I knew very well went to their personal and egoistic life day by day and they definitely never care of people in another side even in home country. Here or in another place is liberty, but there in outside of our rush life today is misery. They have no party but crying for their tomorrow’s life which is no hope anymore. They live in ruin and isolated place from any access to get on standard life.

It’s ambiguous side of me but utterly I like it so much. I was born to fight for their rights which are erased by person, people, and state.

In the end of this writing, I always claim “tomorrow is your time” my folks! Let’s stand up for your right!