Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Saturday, April 09, 2016

Tujuh Cerita di Taman Tulip

Pesona Tulip di Alladdin Tepesi, Konya
/1/
Kita tengah memburu aroma keindahan, handai
taman bunga yang tumbuh di tanah redam badai
kenangan lusuh dan kecemasan yang mengintai 
di pundak kita merayap, menyusun sunyi sendiri
tapi lupa aku bagaimana cara tersenyum, handai
di tengah pesona yang kau bawa dari seberang
di tengah aroma yang dipanjat dari tebing Toros
di tengah gelak tawa yang dititipkan di saku celana
para pengungsi
di tengah taman tulip...

/2/
Ke tengah-tengah taman kita datang dengan segala warna
masing-masing, dari lorong rahasia bernama masa lalu
ia yang disembunyikan selalu bercerita lebih jujur, bukan?
pengap sengketa dan kehendak-kehendak yang runtuh
menikmati buah takdir pada setiap ruas warna
hitam legam atau putih bercahaya, kuning atau merah
tetapi di langit, kenapa warna tak pernah berubah? 
Bisik seseorang yang sekali-kali menatap langit

/3/
Di mata seorang pemuda perang terus berkobar
kuncup tulip adalah selongsong peluru yang menembus
dada sanak saudaranya. Ia merapal doa dan sungging naas
pada wajahnya yang menatap tanah kelahiran di selatan
suriah, nama kenangan keindahan yang teramat getas
jadi taman air mata dan darah. Ia tidak pernah lupa
lambaian ayahnya mengiringi mereka pergi mengungsi

/4/
Di mata seorang kakek warna-warni tulip adalah sekantong doa
tersimpan di sudut jiwanya. Dia mamanjatkannya untuk langit
siapa tahu langit menampung warna pelangi dari lapisan tulip
anak-cucunya terbang menjadi bidadari dan tak pernah mendengar
cerita-cerita maha luka dan pekik tangis kepala dihantam timah
di langit tumbuh tulip yang akarnya dibasuh hujan pagi hari

/5/
Di mata seorang gadis aroma tulip adalah sisa kecupan pacarnya
parfum pada kerah bajunya selalu ia ingat sebagai riwayat terakhir
untuk sebuah pengkhianatan, sebelum ia diperkosa demi bukti cinta
demi lelaki bertubuh singa sebelum ia pergi menyisakan gempita
di celah celana dalamnya

/6/
Di mata lelaki tambun tulip adalah luka
setumpuk puja-puji demi menjaga kemegahan
di atas jerit tangis. “Jangan pernah tersenyum
di balik kecantikan bunga ini. Di tanah Anatolia
aku melihat ribuan rakyat kelaparan saat tulip
tumbuh dan ditanam di tubuh kami. Ini kebesaran
bagi orang-orang tuli dan buta!” Ia lalu menjauh
meninggalkanku

/7/
Di mataku, mata yang kupinjam dari keramaian,
tulip adalah maha pesona, privilege tanpa batas
menghimpitku dalam aroma nyeri yang tragis!


Turki, 2014-2015

Catatan:
The Tulip Period (Tulip Era) atau: Lâle Devri (July 1718-September 1730) adalah periode penting dalam sejarah Ottoman, di mana tulip menjadi simbol bagi kepongahan para pembesar Ottoman!


Wednesday, March 23, 2016

Di Balik Turkish Spirits

It's never too late to start over! Ya, kalimat ini yang terngiang di kepala waktu saya terpikir untuk star-up media berbasis online yang kelak kami kasi nama Turkish Spirits (TS). Sebenarnya saya tidak ingin ada huruf ‘s’ pada kata spirit, tapi karena ditolak Google oleh sebab sudah ada akun serupa, akhirnya dengan rela hati menerima nama Turkish Spirits dengan ‘s’.

Nama Turkish Spirit jelas penuh risiko, dan saya siap menjelaskannya. Misalnya, orang-orang yang detail tahu Turki dan jenis minuman khususnya, mendengar nama ini akan langsung mengarah kepada minuman arak tradisional khas Turki sendiri, yaitu rakı. Tagline rakı  memang Turkish spirit. Coba saja googling, entri pertama di google yang muncul dijamin rakı.

Tapi, bagi mereka yang jauh lebih detail tahu Turki—daripada sekedar menikmati hal-ihwal artifisalnya—saya yakin implikasi nama ini akan memuncratkan makna yang kompleks dan saya rasa semakin komprehensif. Karena Turkish Spirit sendiri adalah judul dari sebuah proyek besar novel yang tak selesai, dan naskah ini terus diperbincangkan hingga detik ini.

Nama Turkish Spirit saya ambil dari judul novel yang tak selesai tadi—penulisnya meninggal duluan sebelum merampungkannya. Novel itu ditulis oleh novelis besar Turki Oğuz Atay dengan judul Türkiye'nin Ruhu. Nah, berangkat dari ide dan proyek besar yang tak selesai itu, saya berpikir untuk sekedar memberikan warna—atau lebih tepatnya mengapresiasi judul itu—ke dalam media penerbitan website ini.

Di sela-sela lelah mengerjakan tesis, saya kemudian memulai situs ini yang awalnya dari blogspot, mengontak teman-teman dekat terlebih dadulu: Hari Pebriantok, Abdul Ghaffar dan Labib Syauqi (mereka semua pelajar dan juga alumni Turki). Lalu saya menghubungi Naelil Maghfiroh (Izmir) dan Durrotul Mas’udah (Kocaeli) untuk saya minta pandangan, masukan dan partisipasi mereka untuk media yang diniatkan untuk media penerbitan kolektif pelajar-pelajar Indonesia di Turki.

Seiring waktu, karena ternyata TS banyak diminati dan interaksi/korespondensi cukup padat, saya berpikir serius untuk membicarakan penerbitan online ini ke depan. Kemudian saya hubungi Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Naufal Ubaidillah (Izmir), Kaharuddin Ali (Konya), Didit Haryadi (Istanbul) dan Azahra Nurhabiba (Zonguldak) dan Hadza Min Fadhli R (Eskisehir).

Kenapa harus star-up TS? Secara umum, saya tergerak untuk mewujudkan TS ini karena alasan-alasan berikut:
  • Setelah mendapati banyak foto dan berita hoax tentang Turki baik yang dimuat di media sosial atau di media-media online;
  • Sebagai pelajar ilmu sosial, saya berpikir bahwa kepekaan observasi terhadap fenomena sosial secara umum, rangsangan untuk mencermati dan kemudian sampai pada proyeksi penelitian adalah jalan tunggal ilmuwan sosial. Jadi awalnya saya ingin menyediakan wadah bersama berupa penerbitan online di mana teman-teman pelajar dari jurusan ilmu-ilmu sosial (khususnya dari S1) bisa menulis asyik dengan topik khas dan unik (hasil observasi mereka). Apalagi Turki adalah laboratorium yang superkaya, khususnya bagi pelajar yang mendalami isu konflik dan kekerasan;
  • Melihat banyak karya tulis berbasis blog dari pelajar-pelajar Indonesia di Turki yang bermanfaat dan perlu disatukan yang nanti diharapkan menjadi pusat dokumentasi dan informasi sekaligus tentang Turki;
  • Sebagai proyeksi media bagi para pelajar yang akan menerjemahkan karya Turki ke Indonesia atau sebaliknya.
Tagline TS
“Melenturkan yang kaku, menghadirkan Turki lebih seru.”

Apa Tujuan TS
Karena yang dikenal Indonesia tentang Turki sejauh ini rata-rata isu seputar ‘politik, agama, kekerasab/konflik dan baru-baru mulai hadir film/drama’, TS ingin melengkapi dan menghadirkan Turki lebih lengkap: mengkaver hal-hal yang unik, seru, out of the box dan tentu bermanfaat. Tentu anti hoax! Jadi, distorsi tentang Turki harus menjadi perhatian kita. Nah, TS ada di ranah itu. 

Secara gamblang, TS ingin:  
  • Menampung karya tulis para pelajar Indonesia di Turki;
  • Berbagi informasi/berita hal-ihwal Turki (budaya, studi, ekonomi) dengan menerjemahkan portal berita dari Turki;
  • Menerjemahkan karya-karya penulis Turki yang tak mainstream tapi perlu (misalnya puisi dan cerita-cerita pendek);  
  • Menyebarkan semua tulisan hal ihwal Turki yang positif dan kontributif.

Salam,


Bernando J. Sujibto

Wednesday, February 03, 2016

Betapa Dahsyatnya PPI Turki

.....sebuah cerita kerinduan

Di PPI Turki saya adalah orang luar, serupa seorang eksil. Kalimat wujuduhu ka adamihi mungkin sangat tepat untuk menggambarkan di mana posisi saya di organisasi untuk pelajar terbesar ini. Namun demikian, saya punya cerita tentang dahsyatnya PPI Turki.

Tepat di hari-hari kampanye calon ketua PPI Turki 2014, yang saat itu muncul dua calon (yaitu Arya Sandhiyuda dan satunya lagi Aditya Sasongko), sekitar akhir tahun 2013—hanya beberapa bulan saya tinggal di Turki—saya membuat sebuah pernyataan “menggelikan” bagi sebagian dan mungkin membahagiakan bagi sebagian yang lain.

“Arya, satu suara untukmu,” tulis saya di dinding Facebook grup PPI Turki.

Sebagian teman banyak mempertanyakan pernyataan di atas. Tak banyak neko-neko. Saya hanya ingin memastikan sejauh mana organisasi “mahasiswa di luar negeri ini” memosisikan diri di tengah dinamika intelektual dan diskursus kritis. Sejak awal saya tahu identitas Arya dari mana; saya juga sudah kenyang dengan pengalaman organisasi (pengkaderan dan perebutan massa) mahasiswa ala Indonesia. Apakah organisasi “mahasiswa di luar negeri” ini juga ikut cawe-cawe dengan urusan begini, atau ia mampu berdiri sebagai organisasi mini Indonesia?

Dan sekitar beberapa minggu setelah Arya terpilih jadi ketua PPI Turki, saya dihubungi oleh Arya melalui message Facebook agar bersedia terlibat dalam kepengurusannya. Tapi saya menolak dengan alasan ada banyak teman-teman lain yang butuh belajar dan terlibat dalam organisasi PPI.

Saya mungkin hanya seorang yang sentimentil, mengingat bahwa lembaga serupa ini pernah menjadi lokus untuk memperdebatkan kemerdekaan kita menjadi INDONESIA. Mohammad Hatta mendirikan Indonesisch Vereniging (Perhimpoenan Indonesia), sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan Raden Tumenggung Djaksodipoera tahun 1926 di Belanda. Mereka sengit membicarakan ruh kemerdekaan demi menjadi Indonesia dengan ribuan pulau dan bangsa-bangsa itu.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Cikal-bakal pengkaderan yang dikomandoi oleh Arya, ketua PPI yang saya pilih itu, bermula—di mana PPI Turki menjadi media perebutan massa (yang pada akhirnya) merebahkan diri dan penuh aroma politik. Karena Arya adalah seorang kader politik militan PKS.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Ada seorang teman seangkatan saya (sama-sama mendapatkan beasiswa YTB) bernama Fauzi Ahmad, salah satu didikan terbaik Arya dan teman-temannya. Menurut statuta dan skema beasiswa YTB, angkatan saya yang studi master hanya berdurasi 3 tahun (1 tahun belajar bahasa Turki dan 2 tahun studi formal). Tetapi Fauzi berani mencalonkan diri sebagai ketua PPI Turki dengan masa jabatan 1 tahun ke depan. Dan kasus ini membuat saya terperangah. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Karena yang saya tahu penerima beasiswa Turki atau pelajar di Turki tujuan pertama adalah belajar (menyelesaikan studi) sebaik mungkin. Tetapi, Saudara Fauzi mempunyai semangat berbeda. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini!

Misalnya, kalau Saudara Fauzi beasiswanya diputus oleh YTB (karena sudah lewat masa studi), berarti dia harus menanggung sendiri semua biaya baik di kampus ataupun living cost. Dalam konteks ini, saya sungguh salut, betapa hebatnya pengabdian Fauzi kepada PPI Turki (jika nanti terpilih). Atau dia sudah ditugaskan secara khusus oleh majelis internal kelompoknya? Allah bilir…

Di samping Saudara Fauzi, dua calon yang lain adalah Herry Cahyadi dan Azwir Nazar. Dua calon ini masih punya waktu panjang untuk studi di Turki.

Herry datang jauh-jauh dari Istanbul ke Konya untuk kampanye. Sebuah usaha yang luar biasa. Tetapi sayangnya, yang katanya sok sibuk, Herry datang ke Konya dari İstanbul tanpa sempat ziarah ke makam Rumi. Sebuah pengalaman yang istimewa dan unik di telinga saya. Ini menjadi pengalaman pertama yang saya dengar dari seorang pelajar Indonesia dan muslim. Saya tidak tahu apa alasannya. Apakah kebesaran nama dan kealiman seorang Rumi dan ayahnya—yang dijuluki sebagai sulthanul ulama dan sekaligus menjadi qadi kesultanan Saljuk Anatolia—itu tidak cukup mengetuk hati para generasi muda Muslim seperti kita hari ini?

Untuk Azwir, mohon maaf kita belum berjodoh jumpa di Konya….

Sunday, December 27, 2015

2015: Tiga Ihwal Simbol (atawa Peristiwa) Keagamaan

Satu, ketika menghantar beberapa kawan dari Indonesia yang sedang liburan di Turki terjadi perdebatan dan komplain di lobi motel. Karena ada kekeliruan malam itu rombongan kami tidak mendapatkan kamar. Ketika nada suara di antara kami mulai menghentak tinggi, si penerima tamu motel, "kamu berjilbab dan saya menghormatinya. Tidak perlu dengan suara tinggi seperti itu," berujar dengan sedikit menundukkan kepada dan meletakkan tangan kanannya di dadanya (tanda hormat dalam kultur Turki).
Dua, seorang temannya temanku masuk kamar. Dengan beragam kalimat sumpah serapah (swear words)--dalam keseharian pemuda Turki, Anda akan sangat-sangat mudah menemukan kata-kata kasar menyertai obrolan mereka--ia menunggu temanku yang tengah bersiap-siap. Ketika hendak keluar kamar dan melihat Al-Qur'an yang saya taru di atas lemari, sontak dia berujar "astaghfirullah, taubat ya."

Tiga, larut malam di rumah teman. Kami sedang tidak mengantuk. Dua temanku menyalakan laptop dan membuka salah satu situs live porno. Malam itu satu teman lagi tidak sedang ingin menontonya. Dia minta situs itu ditutup. Karena tidak direpon, dia langsung menyetel lagu religius tepat di sampingnya. Sontak kedua temanku ngomel-ngomel dan menutup jendela situs tadi. Mereka minta lagu itu dimatikan! 

Ini tentu saja hanya kasus-kasus kecil, atau dalam penelitian ilmu sosial disebut sebagai small-case crossword clue. Yang menarik, kejadian ini mengaburkan pikiran saya tentang proyek modernisme dan segenap mitosnya di Turki. Apakah taring rasionalisme yang diusung dari Eropa sudah menancap di kepala bangsanya? Bagi Turki, saya merasa bahwa semua itu adalah sejumput jargon yang tumbuh liar di mana-mana--tanpa akar yang kuat dan pupuk yang cukup--khususnya di halaman para 
borjuis (karena proyek ini dilakoni dan dihembuskan dari ranah elit politik dan kelompok "bangsawan"), tetapi secara partikuler belum (atau sulit) menciptakan akulturasi. Dus, hal-hal partikuler dari interaksi sosial masyarakat tumbuh lepas di luar rencana dan harapan mereka.

Artinya, di lubuk paling dalam hati mereka--yang dibentuk oleh budaya dan tradisi ratusan tahun--ada ruang yang didekasikan untuk melawan, atau setidaknya menjaga struktur kesadaran yang telah terbentuk dari proyek kebaruan-kebaruan yang dirancang mendadak, atau bahkan kasar! Atau, dan itu pasti, ada sesuatu yang lain dan butuh ditelusuri lebih dalam...

Akhirnya, saya berpikir bahwa bentuk-bentuk konservatisme pada setiap orang--apakah sebagai warna kultur atau hanya perilaku personal--adalah justifikasi tentang yang-berjarak-dan-tak-tersentuh dan juga adanya batas-batas dalam setiap diri.

Friday, December 18, 2015

Menunggu Matahari Pulang di Hierapolis

aku sendiri
menunggu matahari pulang di hierapolis
di sebuah kolam mata air teriris bagai kapas
dari atas bukit sebuah kastil menyala cemas

bulan tak sedang indah
pucat di tebing batu-batu kapur

malam ini aku tersesat di jalan pulang
kembali atau pergi adalah bisikan jalang
menyaksikan kaki para peziarah
saling menghapus
timbul dan tenggelam
di jalan-jalan
pandangku rabun

dari dekat, di antara percik air
batu-batu menyala
derap pasukan perang berkuda
menyambut malam yang jatuh
sebagai anak jadah

bulan tak sedang indah
menyusut di sudut altar

di permukaan taman yang putih
aku menyaksikan peri-peri menari
menggandeng tangan para permaisuri
gemerincing air berseri-seri
ini malam sebuah pesta untuk sengketa
prosesi menyambut para pemenang
atau mengenang yang pernah mengisi
linimasa peradaban di labirin berkapur ini

dari atas bukit genderang ditabuh bertalu-talu
pasukan perang, kuda-kuda terbaik disiapkan
ke medan pertempuran, ke tengah sunyi yang raib
para rahib berdoa di biara dan menunggu
bulan yang tak sedang indah
menemui tuhannya

malam makin nyalang
pesta lamat-lamat hilang
aku melangkah
jejak-jejak dari ribuan tahun
tiba-tiba menyala di belakangku
aku akan pergi menuju pesta
atau sengketa yang lain
di jalan-jalan berlumpur, tanpa kastil
di mana sejarah terus saling menampar


Turki, 2015

Tuesday, December 08, 2015

Turki-Rusia dan Para Keledai

Sejak jet tempur Rusia ditembak jatuh oleh Turki pada hari Selasa pagi, 24 November 2015, banyak teman tanya dan sekaligus mencemaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Pesawat Su-24 milik AU Rusia yang ditembak oleh 2 pesawat F-16 milik Angkatan Udara Turki di daerah perbatasan Suriah-Turki, tepatnya di Yayladagi, Hatay itu memang bikin ramai di antara rakyat Turki sendiri. Daripada mengikuti perdebatan antara kedua kubu (Turki/NATO dan Rusia), saya justru lebih mencermati ekspresi dan respon teman-teman di Turki sendiri. Karena dengan begitu saya dapat mempelajari bagaimana mereka memaknai nasionalisme, melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan kekhawatiran-kekhawatiran apa selanjutnya.

Namun begitu, banyak sekali kabar dan berita yang saling menghantam, tentu dengan perangkat kepentingan masing-masing. Ada kelompok yang bermanuver untuk mengambil simpati dan keuntungan, ada yang menyerang, ada pula yang mereproduksi video lama yang tidak ada sangkut pautnya dengan membuat caption baru untuk kepentingan masing-masing.

Saya yang sedang studi di Turki mengamati kondisi begini sungguh miris, dan ternyata cara-cara begitu sudah biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat kita: bermain dengan hoax. Entah kenapa mereka bisa setega itu membuat berita-berita bohong—saya sungguh jadi bodoh menghadapi orang-orang "penyembah hoax" begini.

Ada dua poin penting yang ingin saya sampaikan dalam catatan ini. Pertama soal video. Saya kok tidak dengar kalau video yang saya dalam gambar ini terjadi baru-baru ini di/tentang Turki. Kalau itu benar-benar terjadi akhir-akhir ini selama saya di Turki, inşallah saya tahu. Video ini dipasang caption macam-macam oleh orang-kita untuk mencari simpati bagi negara Turki. Padahal negara besar seperti Turki ini (tidak besar sih, lebih besar Indonesia) tidak pernah secara spesifik menyebut penting Indonesia, lho. Saya tidak ingin  memprovokasi siapapun di sini, tapi sejujurnya nama Indonesia di sini redup tinimbang nama Malaysia. Indonesia hanya dikenal oleh mereka yang pernah naik haji dan bertemu kebaikan orang-orang Indonesia. Atau karena tragedi Tsunami di Aceh. Selebihnya, rasa persaudaraan sesama Muslim. Sementara secara relasi kedua negara—dalam artian kerjasama yang kuat dan simbiosis mutualistik meski sama-sama bercokol di G-20—harus diakui kita masih belum akrab. Mungkin Indonesia belum menganggap Turki penting atau sebaliknya. Tapi jangan salah, serial Turki sudah memukul kita bertalu-talu, tuh! Entah harus bangga atau sedih. Tapi daripada dipilin budaya Korea aku sih pilih dibuai hurem-hurem dari Turki. Sumplek cantik!

Kembali ke video, saya coba menelusuri kira-kira ini kejadian dimana dan kapan. Karena sekali lagi, kalau itu terjadi di Prancis (seperti banyak di-share ikhwan-akhwat Indonesia di Facebook dengan caption “upaya pembunuhan Menlu Turki di Paris.. Subhanallah...”) akhir-akhir ini khususnya setalah ledakan di sana, tentu orang Turki meradang, dong. Tapi kok diam? Saya curiga ini kerja tangan tak bertanggung jawab! Coba lihat dalam spanduk di video itu tertulis 19 (bulannya tidak kebaca) 2013. Setelah saya telusuri ternyata itu terjadi di Bulgaria, sebuah percobaan pembunuhan kepada ketua partai Movement for Rights and Freedoms bernama Ahmed Doğan (keturunan Turki tapi penduduk Bulgaria).

Kedua soal kasus penembakan jet tempur Rusia dan memanasnya hubungan Turki-Rusia. Sejujurnya, saya sulit menempatkan diri dalam kasus ini. Ini jelas butuh pengetahuan politik regional dan tetek bengek relasi hubungan internasional. Kedua kubu punya klaim masing-masing. Versi Turki dan NATO jelas dengan bukti rekaman peringatan 10 kali bahwa pesawat Rusia masuk ke airspace Turki. Versi Rusia itu tidak begitu. Rusia bersikukuh jetnya melintasi ruang udara Suriah. Kita bisa lihat sendiri betapa angkuhnya Putin dan tempramennya dia untuk menjaga harga dirinya sebagai negara blok Timur yang harus dihormati. Itu satu kasus.

Selanjutnya, dari kasus itu berkembang beberapa tuduhan-tuduhan: Turki membeli minyak dari ISIS dengan harga murah (yang kemudian diklaim bahwa Turki ikut mendudukung dana ISIS). Lalu, Rusia minta Turki untuk transparan membuka jaringan pembelian minyak ke publik (wartawan). Beberapa kali truk bantuan (versi media Turki) dari Turki dibom dari udara oleh Rusia sebagai rentetan “balas dendam.”

Sementara itu, pihak Turki sendiri meliris data (dengan bantuan intelejen US) bahwa minyak ISIS juga dibeli Suriah dan dibisniskan ke Rusia. Ada orang bernama George Hashravi, pengusaha minyak kelas kakap berpasport Suriah dan Rusia. Dia yang bermain minyak untuk kedua negara. Sementara Erdogan sendiri memang pernah berkoar-koar baik di Turki sendiri ataupun di luar negeri bahwa Turki tidak membeli minyak dari ISIS.

Kasus ini, bagi saya, adalah soal gengsi kedua blok: NATO diwakili Turki dan Rusia. Yang main di sini banyak kepentingan. Tentu Amerika dan negara-negara Eropa yang sejatinya tidak suka sama Turki. Kalau tidak hati-hati, Turki akan menjadi moncong senapan yang pelatuknya dipegang oleh mereka-mereka itu. Ini proxy war yang efektif dipakai oleh Amerika dan negara-negara Eropa sendiri. Tujuannya jelas: negara yang berpenduduk Islam tidak boleh menjadi kuat, meski mereka sangat-sangat kaya dengan minyak! Ingat, Rusia dan negara-negara Eropa/Amerika tidak suka dengan Turki. Itu pasti dan sudah dicatat dalam sejarah mereka! Dan, hanya tinggal Turki yang bisa dibilang berdiri sendiri dengan filosofi mereka.

Yang lain adalah keledai-keledai yang ditumpangi oleh hantu-hantu yang mengasuh dan membesarkan kesombongan demi kesombongan hafsu hewani mereka! Iya, mereka adalah keledai. Ya, mereka adalah saudara seiman saya: umat Islam!

Dalam situasi operasi intelejen seperti ini, saya tidak tahu dan lebih memilih diam. Karena kubu NATO dan Rusia bagi saya sama-sama setan yang memakai orang-orang kita (warga Muslim) jadi keledai. Itu saja. Tapi karena di Turki banyak keledai (misalnya Anda yang sempat baca cerita-cerita sufi Nasruddin Hoja) dan warga di sini sudah paham filosofinya sejak ribuan tahun silam, mereka dan pemerintah Turki akan hati-hati biar tidak menjadi keledai dengan penumpang gelap para cecunguk NATO atau negara-negara lain yang secara historis ataupun ideologis benci kepada Turki (dan Islam sekaligus).

Menurutku, bagi kita yang ingin mendukung dan membantu Turki, cara terbaik adalah dengan mendukung ekonomi Turki. Di Indonesia silahkan kita konsumsi bahan-bahan impor dari Turki misalnya. Karena saat ini Turki menghadapi tekanan serius dari Rusia berupa embargo ekonomi dengan tidak membeli lagi produk-produk Turki. Atau bagi yang kaya, silahkan datang ke Turki jadi turis (tapi jangan berniat pergi ikut ISIS) dan belanjakan semua duit kalian di sini. Kalau tidak bisa, sebaiknya kita berdoa saja semoga negara Muslim satu-satunya yang kuat ini dan berani melawan arus Barat tetap dimudahkan jalan oleh Allah. Tidak perlu mencari simpati dan manuver tanpa etika kebajikan.

Nah, bagaimana tentang ekspresi orang Turki yang saya singgung di awal? Saya punya proyek kecil tentang “imajinasi musuh” bagi orang-orang Turki. Saya sudah menemukan kata kunci dan topik ini. Insya Allah saya sambung dalam catatan selanjutnya ihwal topik partikular yang satu ini.

Sunday, November 22, 2015

Surat Motivasi Aplikasi Program MEP-Australia

(Setelah ada beberapa teman ingin membaca surat mutivasi atau dokumen untuk kegiatan MEP (Muslim Exchange Program) yang saya ikuti tahun 2011 di Australia, saya berpikir file ini perlu diselamatkan sebelum hilang atau tertumpuk lapuk. Jika teman-teman merasa perlu membaca sebagai pengkayaan perspektif, dengan senang hati dipersilahkan. Semoga bermanfaat.)  

Sebagai pertimbangan mengapa saya melamar dan berminat program ini, secara komprehensif-kronologis, berikut saya ceritakan tentang “kegelisahan dan pergulatan” intelektual saya sejak pendidikan menengah pertama di pondok pesantren, perguruan tinggi, hingga aktivitas saat ini yang sedang saya geluti. Sejak saya belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya mulai bersinggungan dengan beberapa komunitas diskusi tentang isu-isu keagamaan secara luas. Saya beruntung langsung terlibat dengan banyak organisasi bersama santri-santri senior yang bisa memberikan inspirasi dan sharing pengalaman yang akhirnya melecutkan kreativitas dan minat belajar saya.

Semasih duduk di Pondok Pesantren Annuqayah, periode MTs-MA, saya bisa menyebutkan beberapa organisasi, lingkaran diskusi, dan media penerbitan yang telah menjadi bagian dari proses panjang dalam pergulatan intelektual saya, seperti IKSAPATRA sebagai Seksi Pengembangan Intelektual, Koordinator Diskusi RADIAN ALMERSERY, Forum Malam Selasa, Koordinator Perkumpulan Santri-Penulis Annuqayah, dan menjadi Pimpinan Redaksi Mading ARENA, Pimpinan Umum Jurnal PENTAS, dan Staff Redaksi Majalah PERMAI di salah satu penerbitan LSM ternama di Madura, Jawa Timur, yaitu BIRO PENGABDIAN MASYARAKAT (BPM) PP. Annuqayah.

Di BPM-PPA ini, saya mulai bertemu dengan orang-orang dari luar “area” latar belakang saya. Mereka adalah dari kalangan pemerintahan, jaringan LSM nasional mauppun internasional, dan tamu-tamu penting yang sedang melakukan penelitian. Saya beberapa kali diutus mengikuti workshop dan pelatihan tentang isu-isu sosial dan lingkungan di luar Madura mewakili BPM-PPA. Di BPM pula, saya menemani dua volunteers dari Australia (Margaret Rolling dan John Rolling) yang mempunyai program mengajar Bahasa Inggris di pondok pesantren. Saya kerap bertukar pikiran bersama dua orang ini, dan mereka pula yang telah melecutkan semangat saya untuk terus belajar dan belajar. 

Selama proses tersebut, saya beruntung tetap bergelut dengan buku-buku bacaan dan menulis. Saya menjadi ketua dan pembina Perpustakaan Annuqayah dan Kepala Bidang Pengembangan Kepustakaan di BPM-PPA. Di bidang penerbitan, saya bersama teman menginisiasi penerbitan Buletin KEJORA di lingkungan pondok pesantren sebagai media yang mewadahi kreativitas santri. Kedekatan saya dengan buku dan kreativitas menulis akhirnya mengantarkan saya kepada banyak kesempatan. Sejak Madrasah Aliyah (sederajat SMA) saya sudah banyak memenangkan lomba karya tulis di tingkat kabupaten, dan tulisan-tulisan saya sudah mulai dimuat di media lokal ataupun nasional.

Tahun 2006 saya datang ke Yogyakarta untuk melanjutkan S1. Namun sebelum kuliah, saya harus dihadapkan dengan pembiayaan yang harus saya tanggung sendiri karena orang tua saya (tinggal Ibu sendiri) sudah tidak sanggup lagi membiayai. Saya harus bekerja serabutan dulu. Alhamdulilah saya bertemu dengan sosok kiai muda dan penulis produktif bernama (alm) K.H.A. Zainal Arifin Thaha. Saya diizinkan oleh beliau agar tinggal di gubuk sederhana bernama Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari. Di Yogyakarta, saya bisa lebih bebas lagi berkomunitas baik keseniaan, agama, filsafat, sosial, dsb. Di sini saya terlibat dengan banyak organisasi dan komunitas: pembina di Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Yogyakarta, koordinator Komunitas KUTUB, Koordinator Program Sastra di Tetaer ESKA UIN Sunan Kalijaga, salah satu Person in Charge Youth Program komunitas Peace Generation yang bekerja sama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, American Friends Services Committee (AFSC), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dll. Kebersamaan saya dengan mereka telah membuka ruang toleransi, multikultural, dan solidaritas sosial antara umat beragama dengan latar belakang yang beragam. Di sini pula saya bisa ikut terlibat di berbagai seminar dan konferensi  nasioanal ataupun internasional.

Sejak di Yogyakarta saya sudah menemukan “mini Indonesia” yang merepresentasikan multikulturalisme dan pluralisme. Di sini saya bisa membuka pemikiran dan perspektif saya yang lebih inklusif melalui pertemuan dan terlibat secara langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang baik agama, ras, etnis, dan bangsa. Semangat pluralisme ini telah menjadi landasan saya dalam praktik keberagamaan lebih lanjut ke depan. Kantong-kantong keberagamaan yang radikalis, ekstremis, fundemintalis, dan militan coba saya masuki demi membangun jembatan komunikasi dengan nilai-nilai Islam yang substantif dan holistik, mencari arah solusi terhadap praktik keberagamaan yang mereka jalani sejauh ini, untuk kehidupan manusia yang harmonis dan rahmatul lil ‘alamin. Spirit seperti ini telah menjadi bagian terpenting dalam proses kehidupan saya ke depan dengan komunitas yang saya gawangi, bersama orang-orang yang saya temui di setiap saat. Semua ini saya lakukan demi restorasi dan spirit kebangsaan yang secara prinsipil membutuhkan ruang-ruang diskursus yang beragam dan multikultur.

Keran pemahaman tentang multikultarilme dan spirit kebangsaan itu saya temukan secara lebih spesifik ketika bulan Juni-Juli 2010 saya mendapatkan beasiswa dari The Indonesian International Education Foundation (IIEF) dan US Embassy untuk belajar bahasa dan budaya ke Amerika Serikat. Saya tinggal di negara bagian South Carolina, belajar di University of South Carolina, bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa asing, mempresenitasikan budaya Indonesia. Arti keberagamaan dan kebangsaan saya semakin menemukan jawabannya secara holistik ketika saya banyak berkomunikasi dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar bangsa di dunia.

Jika saya terpilih dalam program ini, saya akan memanfaatkan pertemuan saya dengan berbagai pihak baik personal orang maupun lembaga-lembaga dan organisasi yang ada di Australia; saya akan sharing lebih dalam tentang pengelolaan organisasi dan penguatan jaringan dengan lembaga-lembaga luar. Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2011 ini tentu akan memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi saya untuk berbagi pemahaman dan praktik-praktik riil di lapangan dari pengalaman banyak orang maupun organisasi dari perspektif yang lebih luas.

Setelah terpilih dari program ini, saya akan berbagai pengalaman dengan memberikan suatu perspektif baru tentang organisasi maupun nilai-nilai pemahaman yang overseas sebagai landasan bagi pengembangan organisasi saya di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari dan organisasi lain yang sedang saya geluti. Program ini sangat membantu saya dalam proses transfer pengalaman dan transformasi pemahaman kepada lembaga dan komunitas masing-masing yang saya geluti sekarang. Proses interaksi dialogis yang lebih luas melalui program ini akan memberikan spirit dan nutrisi baru bagi keberlangsungan organisasi.

Masyarakat Indonesia yang saya rancang sebagai tujuan komunikasi dan gerakan setelah program ini adalah para pemuda (youth) karena mereka inilah yang akan meneruskan dan menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Saya akan mengajak para pemuda untuk berbagi dan sharing pemahaman tentang keberagamaan masing-masing demi restorasi kebangsaan. Saya melakukan kunjungan ke organisasi dan lembaga-lembaga pemuda yang ada di Yogyakarta. Sebagai contoh adalah ketika saya dan komunitas Peace Generation melalui kegiatan DO.Ci.Reng (Dolanan Cerita Bareng) melakukan assessment terhadap anak-anak korban erupsi Merapi di Magelang ataupun kegiatan Peace Camp, semacam program immerse yang mempertemukan mini Indonesia dalam satu kegiatan. Saya menemukan banyak pelajaran di sini bahwa pemuda harus menjadi elan-vital yang harus dipupuk kreativitasnya demi masa depan Indonesia.

Jika saya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegaitan MEP kali ini, organisasi/personal yang ingin saya kunjungi:
1.   Chaaban Omar, dari FAMSY Federation of Australian Muslim Student & Youth.
2.   Chair and Administrator of the Australian Federation of Islamic Council
3.   Dr Samina Yasmeen, the University of Western Australia
4.   Fadi Rahman, Muslim Youth Leader, ICRA (Independent Centre of Research Australia)
5.  Professor Abdullah Saeed, Sultan of Oman and Chair of Arab & Islamic Studies and Director of the Centre for the Study of Contemporary Islam.
6.   Ahmed Youssef, President of the Islamic Centre of Canberra
7. Anna Halafoff, Inter-religious & Intercultural Relations– Asia Pacific and Global Terrorism Research Centre at Monash University.
8.   Silma Ihram, Founder & Principal, Noor Al Houda Islamic College.