Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Wednesday, March 10, 2010

Gus Zainal dan Revitalisasi Kaum Santri

(Catatan Satu Tahun Kematian KH Zainal Arifin Thaha)

Tulisan ini digunting dari blog Fatkhul Anas,seorang sahabat seperjuangan saya di bawah asuhan Gus Zainal.


14 Maret 2007 jagad Yogyakarta kehilangan seorang cendekiawan dan budayawan muda kharismatik. Dialah KH Zainal Arifin Thaha, cendekiawan kelahiran kediri, 5 Agustus 1972. Dalam usianya yang ke-35 KH Zainal Arifin Thaha mangkat menuju kehadirat Ilahi dengan meninggalkan istri tercinta, 5 orang putra serta para santri Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Hasyim Asy’ari. Gus Zainal panggilan akrab bagi KH Zainal Arifih Thaha, adalah sosok manusia istimewa. Beliau selain dikenal sebagai cendekiawan juga merangkum budayawan, penyair, dosen, seniman, bahkan Kyai. Disinilah kepribadian yang luar biasa terangkum dalam diri Gus Zainal. Hanya saja belum sempat melanjutkan cita-cita luhurnya, beliau harus pulang kehadiran Ilahi dalam usia muda.

Wednesday, February 03, 2010

Mendulang Bangsa yang Hilang

Versi cetak di Harian Kompas

Taken from Kompas (2010)
Siapa pun akan bergeming jika menyaksikan banyak bangsa harus lenyap tanpa menyisakan warisan sejarah. Namun begitu, bangsa yang lenyap itu, secara arif, harus diakui keberadaannya dan dihormati sebagai bagian dari proses peradaban manusia.

Keyakinan ini menancap di dada Milorad Pavic, profesor sejarah kesusastraan Universitas Beograd, universitas terbesar dan paling tua di Serbia, yang sekaligus merupakan salah satu penyair kenamaan Yugoslavia. Pavic membuktikan diri dengan menuliskan novel bergaya intertekstual ini. 

Baginya, apa yang ia rangkai dalam karyanya ini sebagai upaya menghadirkan kembali memori masa silam sebuah bangsa yang kini sudah lenyap dari peradaban: bangsa Khazar. Ia mencoba menelusuri berbagai sumber dan gelombang perseteruan bangsa itu. Meski karya fiksi, novel ini tetap menjadi penjentik ingatan kolektif kita pada sebuah bangsa yang sempat mempunyai peradaban gemilang pada masanya.

Tidak bisa dimungkiri, sejarah telah mencatat dengan tinta merah tentang bangsa-bangsa yang lenyap tanpa jejak. Bisa disebutkan beberapa bangsa yang senasib dengan Khazar, seperti Inca (1438-1533) di Peru dan Aztek di Meksiko sekitar abad ke-12. Juga Mohenjodaro, Harappa, dan Arya yang hidup di lembah Sungai Indus (Pakistan sekarang) 2000-1000 SM. Mereka nyaris tidak menyisakan warisan sejarah dan peninggalan. Kebanyakan musnah karena penaklukan, perang, dan ekspansi tanah jajahan, juga tak luput karena bencana alam.

Nama ”Khazar” (Khazaria: Arab) berkaitan dengan kata kerja bahasa Turki yang berarti ”mengembara” (gezer dalam bahasa Turki modern). Pada abad ke-7 M mereka mendirikan sebuah Khaganat (nama kerajaan Khazar) yang mandiri di Kaukasus Utara di sepanjang Laut Kaspia. Pada puncak kejayaannya, mereka dan cabang-cabang mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, dan Georgia), serta daerah Krim. Bangsa Khazar memasuki catatan sejarah ketika mereka memerangi bangsa Arab dan bersekutu dengan Kekaisaran Bizentium pada 627 M (hal 10).

Semesta Religiositas

Menjajaki sejarah Khazar bagai menyelami laut keruh dan bahkan hitam. Kepastian sejarah yang bisa diandalkan belum bisa diyakinkan. Karena itu, hadirnya novel ini menjadi istimewa di tengah kebingungan para sejarawan mencari fakta. Pavic sangat lihai mencampuradukkan sejarah dengan fiksi melalui novel bergenre baru dengan eksperimen-postmodern yang belum dilakukan oleh novelis lain. Cara penyusunan yang unik dan sangat rapi, seperti sebuah ensiklopedia, menjadi keistimewaan yang tinggi dalam novel ini.

Novel ini secara spesifik mengambil fase pergolakan kehidupan Khazar di abad ke-9 M hingga awal abad ke-10 M. Ketika itu terjadi sebuah peristiwa krusial yang menentukan masa depan bangsa Khazar, yang disebut Polemik Khazar. Ini adalah peristiwa perpindahan mereka dari keyakinan asli mereka (tidak diketahui) ke salah satu (juga tidak diketahui) dari tiga agama yang dikenal pada masa lalu maupun sekarang—Yahudi, Islam, atau Kristen. Keruntuhan Imperium Khazar terjadi tak lama setelah perpindahan agama itu. Seorang panglima perang Rusia abad ke-10, Pangeran Svyatoslav, menelan Imperium Khazar layaknya melahap sebuah apel tanpa perlu turun dari kudanya (hal 11).

Polemik Khazar yang melibatkan tiga agama besar di atas menambahkan kecemerlangan novel ini. Kelebihannya karena menyajikan khazanah agama-agama besar di muka bumi yang mempunyai sejarah panjang dalam peradaban kemanusiaan. Semesta religiositas ini sangat menonjol dan dominan di tangan Pavic. Ia mencoba proporsional dalam menyajikan sumber-sumber tentang Khazar dalam perspektif agama Kristen, Islam, dan Yahudi ke dalam tiga jilid, yakni Buku Merah (dengan sudut pandang Kristen), Buku Hijau (dengan sudut pandang Islam), dan Buku Kuning (dengan sudut pandang Yahudi). Masing-masing memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar dan polemik yang menyertainya.

Tiga agama di atas dalam studi agama disebut sebagai agama samawi atau agama yang turun dari langit. Mereka telah menunjukkan dirinya sebagai agama yang mempunyai peradaban penting masing- masing. Ketiga agama di atas lahir dari tanah yang sama, yaitu Jerusalem.

Novel ini mencoba menyeimbangkan dan membangun jembatan dialogis tentang Khazar dari sumber ketiga agama di atas. Dengan demikian, tampak sekali harmoni dan sinergi yang hendak dibangun Pavic. Ia tidak menonjolkan satu agama dalam memberikan keterangan tentang bangsa Khazar. Pavic sangat cerdik dengan melakukan kerja serius untuk mengumpulkan narasi-narasi dari ketiga agama secara adil dan bijak. Karena itu, meskipun ini hanya fiksi, semua orang yang paham tentang sejarah pada masa itu akan merasa puas terhadap mahakarya Pavic ini.

Keistimewaan lain, ketika membaca novel ini, kita dibebaskan untuk memulai dari mana saja, sesuai dengan selera, keyakinan, dan kecenderungan latar belakang masing-masing. Dimulai menurut konteks latar agama, dipersilakan, pun dari tokoh-tokoh ketiga agama yang bisa saja ditemukan dalam novel ini. Namanya saja sebuah ensiklopedia dengan subyek yang sama, yaitu Khazar.

Sebuah Gugatan

Hadirnya novel ini mempunyai makna yang kompleks. Ia bukan saja hanya menghadirkan memori kolektif sebuah bangsa, dengan rekam jejak sejarah dan bekas-bekas peninggalannya. Lebih jauh, novel ini sepertinya ingin menggugat ”mayoritas” atau siapa pun bangsa dan negara yang mempunyai  kekuatan besar. Mereka yang kemudian menggunakan kekuatan itu untuk menghabiskan sebuah suku, agama, bangsa, ataupun negara ”minoritas”.

Dengan novel ini, Pavic ingin menegaskan diri sebagai duta kaum minoritas, terpinggirkan, dan kalah. Ia memberikan pelajaran penting bagi peradaban manusia masa kini tentang bagaimana harus menyikapi khazanah dan kekayaan yang beraneka ragam mengenai sebuah bangsa dan negara. Meskipun tidak secara tersurat membeberkan semua itu, Pavic tetap saja menunjukkannya dengan konsisten, tekun, dan bersabar, yaitu melalui upaya penelusuran tentang jejak sejarah dan sumber penting yang terjadi di balik bangsa Khazar.

Thursday, January 07, 2010

Mobil Baru untuk Kado Menteri

Versi cetak tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, 07 Januari 2010

TAHUN baru mobil baru. Begitulah kenyataan yang telah diterima oleh jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Tahun 2010 tentu akan menjadi tahun indah bagi mereka yang mendapatkan barang mewah tersebut karena kado mobil mewah untuk mereka bukanlah barang yang mudah didapat dan dipakai sembarang orang.

Mungkin hanya pelaku bisnis andal dengan penghasilan tinggi yang siap memiliki sedan Toyota  Crown Royal Saloon, seperti kendaraan para menteri tersebut, karena harga total plus pajaknya Rp 1,3 miliar/ unit. Mobil produksi Jepang yang dibeli untuk perjalanan dinas petinggi negara berjumlah 79 unit. Sebanyak 34 di antaranya untuk menteri,  selebihnya untuk petinggi lainnya seperti DPD dan pejabat setara lainnya.


Sekarang, mobil dengan harga miliaran itu menjadi kontroversi di tengah masyarakat. Rakyat menggugat karena uang yang digunakan untuk mobil dinas tersebut adalah milik rakyat kecil yang kemudian diplot oleh DPR periode 2004-2009 untuk anggaran fasilitas mobil mewah pejabat tinggi negara saat ini. 


Jika seandainya anggaran untuk mobil disederhanakan dan dialihkan untuk pembangunan demi kesejahteraan rakyat, tentu semua lapisan bangsa Indonesia akan sangat respek dan menaruh hormat atas sikap kepahlawanan petinggi negara di tengah penderitaan rakyat dan ketidakpastian kondisi ekonomi ke depan.


Apakah etis para menteri berfoya-foya dengan fasilitas mewah di tengah kondisi rakyat yang memprihatinkan? Seperti kasus ibu di Desa Bangga, Sulawesi Tengah yang melahirkan kembar tiga di kamar mandi hanya karena tidak mampu membiayai jika bersalin di rumah sakit. Ibu tersebut harus berperang dengan maut di ujung Indonesia sana, sementara  menteri menguap bangga di Jakarta. 


Ini adalah cermin salah satu ketidakadilan yang terus membengkak dari tahun ke tahun. Kasus ini hanya sebagian dari setumpuk masalah serupa yang sangat lelah untuk diuraikan satu per satu. Apakah kelaparan dan gizi buruk di Yahukimo sana, ataupun di Manokwari, akan dibiarkan terus berlanjut setiap tahun? Sungguh sangat memalukan di mata rakyatnya sendiri jika kejadian yang sama terus berulang di Tanah Air yang konon kaya raya.


Gugatan rakyat adalah suara realitas yang prinsipil dan terang benderang adanya. Gugatan mereka adalah artikulasi yang harus dipahami secara realistik oleh petinggi negara. Jangan ada yang mendustai dan menutupi kondisi riil yang sudah sama-sama terekspose secara transparan di depan mata. Di sana-sani kesenjangan ekonomi dan sosial masih menganga, infrastruktur pendidikan yang terbengkalai sehingga generasi bangsa ini harus belajar di gubuk yang mengakibatkan kepada kemiskinan dan kelaparan yang tak kunjung selesai. 


Bahkan, setiap tahun bangsa ini harus selalu menerima kenyataan tentang busung lapar dan kondisi infrastruktur pendidikan yang masih terbengkalai. Mereka meratapi getirnya kehidupan di bawah negara kesatuan ini, dan rakyat kita di mana-mana bahkan kehilangan harapan untuk menatap tahun baru 2010. Mereka maklum mengalami hal demikian karena kondisinya yang sudah tragis, sementara struktur negara justru semakin melemahkan kondisi mereka. 


Dalam kondisi demikian, kekerasan tak ayal akan terus tumbuh subur di negeri ini. Keputusasaan dalam hidup yang memaksa pasangan keluarga bunuh diri, membantai anak sendiri, ataupun melakukan tindak kekerasan lainnya adalah bentuk logis dari pupusnya harapan rakyat kecil yang kehilangan lapangan pekerjaan, dan pendidikan yang makin melangit. Sekarang rakyat kecil terus terhempit nasibnya digilas para penguasa sendiri yang sama sekali tidak mempunyai kepekaan sosial.
Ada di manakah nurani petinggi bangsa saat ini? Pertanyaan ini perlu direnungkan bersama di tengah kondisi sosial masyarakat yang masih memprihatinkan. Lolosnya pengadaan mobil tersebut adalah representasi dari nurani para wakil rakyat dan petinggi negara lainnya. Kita bisa memahami nurani petinggi bangsa ini dari gaya mereka berbicara, bersikap, dan memanfaatkan fasilitas negara yang merupakan milik rakyat banyak. 


Jangan-jangan anggaran untuk pengentasan kemiskinan dibelokkan atau dipangkas untuk membeli mobil dinas supermewah tersebut? Secara sederhana bisa dipahami bahwa hadirnya mobil mewah akan mendefinisikan manusia (baca: nurani pejabat) yang menggunakannya. 


Akhir-akhir ini, khususnya di kalangan elite metropolitan, ada kecenderungan bahwa manusia bisa dipahami melalui gaya mereka bermobil, tentu dengan merek yang menjadi gengsi. Manusia-manusia dalam konteks pemahaman tersebut adalah produk murni pragmatisme-kapital dan orang-orang yang menghamba kepada konsumerisme. Apakah para petinggi bangsa ini sudah dijangkiti penyakit ini?
Jika term ini yang dipakai, secara sederhana bisa disimpulkan bahwa petinggi negara, apakah pembuat anggaran ataupun pengguna mobil, telah mendefinisikan dirinya sebagai orang yang tidak mempunyai kepekaan sosial. Karena dalam pikiran mereka sudah menggurita racun kapitalisme dan konsumerisme. Jadi kepuasan materi hanya menjadi tujuan mereka. 


Sesuai Anggaran


Coba kita bandingkan dengan mobil menteri di Malaysia. Di negeri jiran itu, mobil dinas untuk pejabat sebagian besar adalah mobil keluaran Proton, BUMN asli Malaysia. Malaysia hanya meningkatkan spesifikasi agar para pejabat merasa nyaman dan memberikan keamanan lebih.
Yang pasti, kebanggaan terhadap produksi negeri sendiri menjadi nilai lebih bagi Malaysia. Bahkan di Belanda, mobil para menteri  dibebaskan terserah selera mereka. Asalkan harganya sesuai anggaran. Tidak boleh melebihi 44,54 sen euro per km x usia mesin (sekitar Rp 650 juta).
Memang, secara legal formal pembelian mobil itu sah. Tapi secara nurani kemanusiaan atas nama bangsa sungguh tidak etis. Meminjam istilah Laoda Ida, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), mendapatkan jatah mobil dengan miliaran ruiah itu sangat tidak pantas bagi pejabat tinggi untuk saat ini.


Begitu juga penuturan arif seorang Bibit Samad Riyanto yang mengedepankan kejernihan nuraninya dalam menyikapi kontroversi jatah mobil menteri. Bagi Bibit, jika dengan mobil mewah bisa mengurangi kasus korupsi, tentu sangat membanggakan. Namun, sejarah telah mencatat bahwa banyak kasus korupsi di kalangan elite meski fasilitas sudah melimpah. 

Saturday, December 19, 2009

Ilusi Perempuan

--untuk kamu

tak ada yang sakral
tanah yang dirawat tiap hari
dua putik bunga yang mekar
atau sebuah bukit srikandi
selain menyerah kepada ilusi
dan sangsi
kembali

Monday, August 24, 2009

Diari dari Seseorang

(For someone who wrote this note and sent me by email several years ago is one who flattered me at the first time in mylife. So that's why I put this note here on blog as my litany of memories to remark by myself. Someday you can find this wherever you are and keep this as a lesson-learned we had made. I don't wanna edit this such messy writing! I just believe that memory must be kept in mind and writing as well.)

y allah..sungguh sebenernya aq tidak tau menau perasaan q ini seperti apa dan kepada siapa,pada tgl 24- 8-2009!sungguh aq terkejut tatkala ada sms masuk disiang hari yang yang isinya membuat aq kaget.dia adalah beje tanpa aq mengharap dan menyangka tiba2 pengen ketemu sama aq,jujur perasaan q bercampur_campur serasa sama sekali g percaya.dan aq langsung menegaskan dengan membalasnya, y allah.....sungguh merasa bersalah,,karena terlintas dipikiran q klo aq ketemu aq hanya membuatnya bingung,aq takut,sayang dan menghargai dia,karena sudah cukup lama aq berusaha untuk melupakan perasaan q yang pernah q sampaikan padanya,,,akhirnya ketemu juga aq dengan dia...nongkrong di code sambil qt ngobrol,obrolan itu serasa hangat sekali tanpa lagi aq menyadari bahwa aq ada beberapa masalah,entah kenapa aq merasa tenang dan bahagia sama dia,,,melebihi perasaan dan suasana hati q ketika aq dekat dengan maz yang sudah lama jd bagian hidup q,,,beje jg sih,,,,tp aq kan dah cukup lama berusaha bwt menepis perasaan itu.obrolan terus mengalir sampai pd saatnya dia cerita,dan ceritanya membuat aq kaget dan aq merasa sedikit tidak rela...sungguh egois diri q,,,ternyata beje mau mengikat komitment dengan seseorang,,,hehehe...sudah curiga sih sebenernya...dengan tulisan di wall fb nya itu,berkali dia bilang gmn klo aq suka ma km,,,rasanya aq merinding mendengarnya,,,y allah....tidak kuasa aq menatapnya.aq merasakan bahwa dia telah gundah,,,tp bagaimanapun juga aq akan selalu mensupportnya,,,begitupun dia yang selalu membuat aq tegar,,,,oh beje aq ingin jd sahabat terbaikmu.....

Wednesday, July 22, 2009

Dibalik Eksotisme Taj Mahal


Konon, Piramid, dimana tubuh Fir’aun dimumi sebagai saksi sejarah yang hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Mesir, mempunyai pertautan historis yang kaut sebagai representasi nilai estetika peradaban dan kebudayaan manusia. Bangunan-bangunan peninggalan bersejarah (historical heritages) dunia tak lepas dari kegetiran ataupun kebanggaan sejarah yang happening pada masanya. Mereka adalah saksi bisu peradaban manusia untuk masa-masa selanjutnya. 

Tembok Besar China (the Chines great wall), Menara Eiffel di Prancis, dan Candi Borobodor di Bumi Pertiwi adalah bukti kejayaan peradaban manusia di masanya. Bangunan-bangunan di atas termasuk dalam “tujuh keajaiban dunia” (the seven-wonderful world) dan dibangun di atas kesadaran budaya yang luarbiasa. Dalam catatan sejarah, semua menomen bersejarah dunia yang dikagumi hingga sekarang merangkum banyak kisah pahit-getir yang harus dikuak dan diketahui setara dengan kekaguman kita. 

Monday, April 13, 2009

Byan: Awal yang Indah

---sevdigim birinden bir hatıra

Personal doc
Waktu di mana saat itu aku masih anak kuliah semester 3. Aku ingat benar bagaimana pertemuan demi pertemuan aku ciptakan untuk bisa dekat atau sekedar mencari alasan agar aku bisa bersamanya; seseorang yang tidak sengaja hadir dalam hidupku dan begitu aku jaga sampai sekarang; seseorang yang aku sendiri tidak menyadarinya sejak awal bahwa dia begitu berharga. Bahwa dialah orang yang ingin aku pertahankan, bahwa dialah orang yang begitu kuat aku menjaganya dan menunggunya sampai sekarang. Orang yang sudah aku beri komitmen dan kepercayaan untuk kelak menjadi satu-satunya yang akan memberikan separuh hidupnya untuk kebahagiaanku. 

Aku baru menyadarinya,Tuhan menghadirkan beberapa orang yang salah, tidak penting, mungkin menyisakan kenangan pahit. Namun aku percaya orang-orang tersebut telah mengantarkanku bertemu dengan seseorang yang baik dan benar untukku. Dialah Byanku, orang yang kini hadir dalam setiap perjalanan hidupku. ini adalah kisah tentang dia, tentang Byan yang kini dan selamanya selalu menjadi lelakiku. Byan adalah orang yang tidak sengaja aku kenal dari orang yang salah. Saat itu Byan seperti tempat yang disediakan Tuhan untuk hati yang lara, seperti debur ombak yang menyapu pasir pantai, seperti itu pula kehadirannya mampu menghapus duka. Ada semacam magnet yang membuatku terus mendekat kepadanya.

Benar adanya jika aku merasa kehilangan namun di saat yang sama aku telah menemukan Byan. Aku senang bisa di dekatnya. Aku senang bercerita banyak hal atau sekedar mendengar perjalanan hidupnya. Jelas sejak awal aku merasa nyaman, namun aku belum mampu mendeskripsikan apakah itu rasa suka. Aku tidak melihat fisik, harta atau kehebatan lain dari Byanku. Aku hanya mau selalu di dekatnya. Kenyamanan itu tidak aku dapatkan dari orang lain sampai sekarang. Itulah awal di mana Byan kemudian selalu hadir dalam hidupku.

Byan sangat suka membaca, menulis dan sastra. Kamarnya dipenuhi buku-buku yang hampir tidak mampu aku baca walau bertahun-tahun bersamanya. Byan menghabiskan waktu hampir sepanjang hari bersama buku. Aku tidak begitu sulit untuk mencuri waktu bersamanya. Selepas kuliah atau waktu senggang, aku menyempatkan untuk mengunjungi Byan, mengajak makan di luar, menawarinya makanan atau mengajaknya pergi keluar untuk mencari angin. Apapun itu asal bisa bersamanya pasti aku lakukan.

Aku tidak tau apa yang Byan pikirkan tentangku saat itu, aku tidak tau bagaimana perasaan Byan saat itu. apa Byan menganggapku perempuan aneh, gampangan, atau mainan baru atau apa aku tak tau. Ah aku pikir bukan aku tidak tau tapi aku tidak mau tau tentang itu. Aku menutup itu dalam-dalam, aku tidak peduli jika pun Byan tidak suka atau tidak mau ada aku saat itu. Aku mempertahankan kenyamanan bersamanya. Aku tidak memikirkan bagaimana kalau Byan berfikir buruk dll. Yang aku tahu saat itu bahwa aku begitu nyaman dan aku akan bersikap amat sangat baik dengan orang yang membuatku nyaman. Byan selalu memiliki waktu untukku, aku seperti lem yang terus menempel di hidup Byan. Apa aku egois? Aku menunjukan perhatianku pada Byan. Aku melakukan itu tanpa pamrih apapun. Aku juga tidak sedang merebut hatinya. Karena aku sedang tidak peduli dengan rasa suka saat itu. Tapi aku bukan orang yang hanya diam, aku orang yang cenderung menunjukan segalanya, baik suka atau tidak suka. Tapi aku tidak peduli apakah Byan suka atau tidak dengan sikap serta perilaku yang aku tunjukan.

Byan dan aku sudah lama bersama,tanpa status hubungan yang kita jalani namun aku mulai menyadari bahwa kenyamanan itu membuatku takut kehilangan. Itu adalah awal di mana Byan akan menjadi orang yang sangat berharga hingga aku takut kalau Tuhan mengirimkan orang lain untukku.