Monday, April 13, 2015

Jalan ke Bukit Itu setiap Hari Berubah

jalan ke bukit itu setiap hari berubah, kawan. kita melangkah
pada dadu yang dilempar entah oleh tangan siapa, tapi kita
sudah percaya di sana nasib ditanam dan tumbuh senyap
jalan-jalan yang diterka sebagai denyar pada lipatan gelap
kita tak pernah menyangka sore itu, selangkang lembah
tiba-tiba berkabut basah. dan langkah kita bertebing perangai-
perangai musim gugur yang sangsai. kita tenggelam sempurna
dalam remang sebelum senja selesai. tapi kita terus berjalan
kepada keyakinan masing-masing, dari bisikan-bisikan
dan anuswara lembah, meski di depan kita sempurna gelap!

apabila pagi sudah tiba, kita sepakat akan berjumpa di sebuah
persimpangan waktu, jalan ke bukit yang selalu bergemuruh
aku akan menjadi tengkorak dan engkau akan menjelma pohon
lalu kita bersitatap dan berucap, “yang ditanam dan tumbuh
senyap, di sini kita berjalan kepada lipatan kesunyian nasib
masing-masing.”

sudah berapa ribu tahun kita mencari jalan yang sama, kawan?
sebelum habis, kita akan menjelma sebagai jalan ke bukit itu
tulang-belulangku lesap di jalan ini dan engkau tumbuh sebagai
pohon yang muram. sementara orang-orang akan berjalan di
antara kita. mari saksikan apakah mereka akan saling mengutuk
di jalan menuju bukit itu?


(2009-2015)

0 comments: