Friday, October 18, 2013
Lobang Sekularisme
Malam ını, Jumat 18 Oktober 2013, tepat sehari sebelum menginjakkan
kaki di Turki satu bulan silam, saya terantuk pada sebuah peristiwa yang baru
saja terjadi: kami, sebagian dari teman-teman PPI Konya—yang berjumlah sekitar
13 orang—diminta untuk menghadiri undangan orang Turki yang rumahnya,
sebentuk flat sederhana di daerah Meram, disewa oleh teman-teman pelajar
Indonesia. Orang Turki ini termasuk sangat dekat dengan pelajar Indonesia di Konya. Bahkan, konon, orang ini berharap flat
miliknya berlantai tiga itu dipakai oleh anak-anak Indonesia semua....
Pak Faiz, mahasiswa doktoral dan sekaligus sosok yang dituakan dan mengayomi
kami, menelpon saya yang tinggal di sebuah asrama di ujung, tepatnya
di luar keramaian kota Konya. Beliau menanyakan kesiapan saya dan dua teman untuk
menghadiri undangan. Setelah saya komunikasikan—karena bertepatan malam ini
juga ada janjian untuk jemput teman yang sedang liburan ke Kayseri—akhirnya kami
bertiga menyanggupi untuk ikut bersama rombangan yang lain. Meeting point-nya di rumah Pak Faiz. Maghrib kami tiba, shalat
berjamaah, lalu bagi-bagi juz Al-Qur’an untuk kami baca.
Deg! Saya terkesima saat itu. Untuk menutupinya, saya segera pinjam Al-Qur’an
di lantai 3. Saya mulai menerka, peristiwa ini akan menarik dicermati.
###
Sunday, October 13, 2013
Dua SMS dari Dosen
Sekitar tanggal 22 Agustus 2013,
selepas urusan visa untuk studi di Turki selesai, di suatu sore yang sembab—karena udara dan
hawa kota Jakarta—saya duduk di serambi masjid sehabis shalat ashar untuk menunggu
keberangkatan kereta menuju Yogyakarta. Saat itu, saya menabur pandang ke separuh
langit dari sela-sela atap masjid di seberang stasiun Senen. Di tengah keberingasan
raung kendaraan kota, saya merenungi masa silamku, khususnya saat-saat kuliah S1
di UIN Sunan Kalijaga. Masa-masa itu menjadi semacam durasi yang penuh emosi
dalam hidup saya, penuh dengan perjuangan dan pemberontakan. Saya merasakan itu
semua sebagai bagian dari hidup yang tak akan pernah saya lupakan. Masa-sama
itu harus saya tutup dalam memori yang seindah mungkin, sebaik mungkin—tak melukai
siapa pun!
Tiba-tiba terbersit dalam pikiran
bahwa saya harus berpamitan kepada guru (dosen) di univeristas. Saya pamit
baik-baik bahwa mungkin saya tidak sempat bertemu dengan mereka dan mengucapkan
terima kasih atas ilmu dan hikmahnya selama saya ada di meja S1 selama kurang
lebih 5 tahun lebih. Saya kirimkan pesan singkat itu kepada semua dosen yang pernah
mengajar saya. Sejujurnya, saya sangat terharu dengan apa yang saya lakukan
itu. Tidak spesial sebenarnya, tapi saya anggap sebagai kewajiban saya untuk
minta doa dan spirit dari mereka. Saya tidak peduli dibalas atau tidak.
Monday, October 07, 2013
Konya’da İlk Hasta
It’s not so good for me at all, or actually it’s so damn ashamed, when I am
so brave to take the risk during the weird weather by trying or maybe
arrogantly like testing the “other weather” out of my life, in Indonesia as
tropical country, by wearing a slight T-Shirt just like I used do in my country.
Here in Turkey I feel anything is different all about weather. I am enforced to take a breath of a cold air, very cold air! Actually it’s not
my first winter I have ever experienced. I was in short visit to Aussie during
the winter time in 2011. But here I will stay longer, not just a short time like I did
before. So what I’ve done here with “testing the weather” was something silly
and my friend, Asrul, will totally laugh at me since he knows I am in bed rest
for several days. My body is like trampled by this gigantic experience of weather.
So, I have to submit all doctor's saying about my conditionö with this
new-look-like sedative tablet: Benical cold, Rastel 25mg and also Androrex. Yup, it’s my first ill here, like an allergy for cold,
suffering throat (boğaz
hastası) then getting headache and cough!
October 6, 2013. I must go to doctor and fix all things. I am fortunate to
have awesome friends from Indonesia: Asrul, Agung and Ghalib. The last one can
speak Turkish and helps us a lot. I went to university hospital then unfortunately
the pharmacy is not inside. We should bring the recipe outside and buy my
medicine from there. It’s something wondering for me when I know that it could
not provide medicine.
So, I have to submit all doctor's saying about my conditionö with this
But everything I enjoy, even this ill! By now I won’t play a
game. I don’t wanna pay for something I made wrongdoing like this, 17 TL! Simply
crazy!
Friday, October 04, 2013
Epuh Epuh Epuh
Ibu, setiap waktu aku selalu ingin menyapamu, mendengarkan suaramu dan doa-doa yang menguatkan. Doa Ibu telah menciptakan ruas-ruas pengalaman yang kuajalani bersama hari-hari. Apa yang kuhadapi hari ini adalah doa-doa ibu yang tak pernah padam. Ibu adalah harta satu-satunya yang tersisa untukku.
Ibu, malam ini seperti hari-hari lalu aku selalu merinduimu lebih dari segala sesuatu. Semoga Ibu sehat selalu, seperti keyakinanku kepada doa-doa Ibu, tanpa batas ruang dan waktu, mengalir dalam deras daraku. Setiap saat, aku ingin memelukmu dan meyakinkan bahwa anakmu ini sehat-sehat selalu di sini, di kota tua bekas kerajaan Bani Seljuk yang mulai dikunjungi musim dingin, musim yang aneh yang selalu Ibu khawatirkan. Ibu, anakmu sudah belajar untuk bertahan dalam kondisi apapun sejak awal kali Ibu melepasku belajar dan berpetualang di Yogyakarta. Di sini pun sama, anakmu telah memerangi dingin dalam temperatur 2-10 C setiap hari. Dan aku tidak tahu, sebentar lagi musim dingin akan seperti
Aku yakin Ibu pasti merasakan tubuh anakmu yang tergigil dingin, seperti selalu Ibu ceritakan tentang sakit yang mendera anak-anakmu hanya dengan menandai rasa nyeri di payudara kirimu, tempat aku dan anak-anakmu yang lain mengisap darahmu: ASI.
Ibu, terima kasih atas doa yang selalu menguatkan. Semua baik-baik di sini, anakmu hanya belum akrab dengan dingin yang aneh ini.
Ibu, malam ini seperti hari-hari lalu aku selalu merinduimu lebih dari segala sesuatu. Semoga Ibu sehat selalu, seperti keyakinanku kepada doa-doa Ibu, tanpa batas ruang dan waktu, mengalir dalam deras daraku. Setiap saat, aku ingin memelukmu dan meyakinkan bahwa anakmu ini sehat-sehat selalu di sini, di kota tua bekas kerajaan Bani Seljuk yang mulai dikunjungi musim dingin, musim yang aneh yang selalu Ibu khawatirkan. Ibu, anakmu sudah belajar untuk bertahan dalam kondisi apapun sejak awal kali Ibu melepasku belajar dan berpetualang di Yogyakarta. Di sini pun sama, anakmu telah memerangi dingin dalam temperatur 2-10 C setiap hari. Dan aku tidak tahu, sebentar lagi musim dingin akan seperti
Aku yakin Ibu pasti merasakan tubuh anakmu yang tergigil dingin, seperti selalu Ibu ceritakan tentang sakit yang mendera anak-anakmu hanya dengan menandai rasa nyeri di payudara kirimu, tempat aku dan anak-anakmu yang lain mengisap darahmu: ASI.
Ibu, terima kasih atas doa yang selalu menguatkan. Semua baik-baik di sini, anakmu hanya belum akrab dengan dingin yang aneh ini.
Wednesday, September 25, 2013
Memulai Keterasingan Baru
Salah satu hal yang paling berat aku pertimbangkan sebelum
berangkat ke Turki, di samping keluarga kecilku di kampung, adalah seseorang yang selama ini bersamaku, mendukungku
begitu penuh seluruh, dan ada pada setiap ruang-waktu yang tercipta, yang kami ciptakan bersama, dalam hidupku. Ia adalah
byan. Seorang yang melampaui imajinasiku sendiri. Seorang perempuan tabah yang telah mengartikan kehadiranku sebagai pejuang yang tak mau kalah.
Kebersamaan yang lama telah membuatnya menjadi
ada dan semakin utuh sebagai sosok keibuan. Atau aku menemukan cinta seorang ibu juga darinya. Keberadaan itulah yang telah membuatku (dan kita) selalu merasa penuh, mengisi
waktu-waktu dalam kebersamaan. Dari sesuatu yang mungkin tak perlu pada awalnya
menjadi ada dan penuh arti dalam kebersamaan yang saling mengisi dan
menciptakan.
Aku udah lama sekali memulai kisah perjalanan ini, dengan
seseorang yang datang dari rasa kekaguman dan aku menyambutnya dengan sebuah
kisah yang biasa sebagai seorang lelaki yang mengagumi kesunyian. Ia datang menyalakan kebahagian, menemani kesendirian itu dan sekaligus melahirkan karya-karya besar bersama-sama. Dan waktu telah membentangkan ruang untuk belajar
dan memulai sejarah hebat bersama.
Aku pun sadar, aku semakin kuat menulis karena kehadirannya yang menguatkan; menyelipkan mimpi di tengah mimpi-mimpi yang kutabur.
Aku pun sadar, aku semakin kuat menulis karena kehadirannya yang menguatkan; menyelipkan mimpi di tengah mimpi-mimpi yang kutabur.
Ia sekarang lebih dari seorang apapun dalam diriku. Meski kadang
menghilang dalam beberapa waktu dan banyak datang di waktu-waktu yang lain. Menjadi
pelengkap kekurangan dan menambal ruang pengalaman dan tubuhku yang
bolong-bolong.
Sepanjang waktu ia telah melampaui dari seseorang yang
sekedar hanya kucintai. Ia telah berjalan dalam kekagumanku sendiri sebagai bidadari
yang menunjuk langit malam, menandai fajar dan sekaligus menghadirkan matahari.
Di antara tulisan-tulisanku, sebuah diari yang biasa kutulis sepanjang waktu, ia
hadir menjadi ruh bagi setiap kata dan kalimat. Belantara aksara dan imajinasi yang
tumpah ruah dalam setiap tinta waktu yang kupasang sebagai karya, ia ikut
meniupkan ruh di sana, ikut menghadirkan eksistensinya. Setiap keberadaan
diriku, ia hadir sebagai diriku yang lain. Menjadi manunggal dan utuh.
Kuat-kuatlah di sana, byanku. Temani kesendirian kita
dengan kesunyian masing-masing. Dua tahun atau tiga tahun akan menjadi waktu
yang mengancamku, dan menghukum kita dalam jarak yang teramat jauh. Aku di
tanah dua benua selalu akan menjagamu dengan sekuatku sendiri.
Tuesday, September 10, 2013
Muurgedichten: Puisi dan Ruang Kota
Friday, September 06, 2013
Yang Maha Tembakau
| bersama dua adik manisku menyiram tembakau |






