Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Friday, October 18, 2013

Lobang Sekularisme

Malam ını, Jumat 18 Oktober 2013, tepat sehari sebelum menginjakkan kaki di Turki satu bulan silam, saya terantuk pada sebuah peristiwa yang baru saja terjadi: kami, sebagian dari teman-teman PPI Konya—yang berjumlah sekitar 13 orang—diminta untuk menghadiri undangan orang Turki yang rumahnya, sebentuk flat sederhana di daerah Meram, disewa oleh teman-teman pelajar Indonesia. Orang Turki ini termasuk sangat dekat dengan pelajar Indonesia di Konya. Bahkan, konon, orang ini berharap flat miliknya berlantai tiga itu dipakai oleh anak-anak Indonesia semua....

Pak Faiz, mahasiswa doktoral dan sekaligus sosok yang dituakan dan mengayomi kami, menelpon saya yang tinggal di sebuah asrama di ujung, tepatnya di luar keramaian kota Konya. Beliau menanyakan kesiapan saya dan dua teman untuk menghadiri undangan. Setelah saya komunikasikan—karena bertepatan malam ini juga ada janjian untuk jemput teman yang sedang liburan ke Kayseri—akhirnya kami bertiga menyanggupi untuk ikut bersama rombangan yang lain. Meeting point-nya di rumah Pak Faiz. Maghrib kami tiba, shalat berjamaah, lalu bagi-bagi juz Al-Qur’an untuk kami baca.

Deg! Saya terkesima saat itu. Untuk menutupinya, saya segera pinjam Al-Qur’an di lantai 3. Saya mulai menerka, peristiwa ini akan menarik dicermati.

                                                                   ###

Sunday, October 13, 2013

Dua SMS dari Dosen

Sekitar tanggal 22 Agustus 2013, selepas urusan visa untuk studi di Turki selesai, di suatu sore yang sembab—karena udara dan hawa kota Jakarta—saya duduk di serambi masjid sehabis shalat ashar untuk menunggu keberangkatan kereta menuju Yogyakarta. Saat itu, saya menabur pandang ke separuh langit dari sela-sela atap masjid di seberang stasiun Senen. Di tengah keberingasan raung kendaraan kota, saya merenungi masa silamku, khususnya saat-saat kuliah S1 di UIN Sunan Kalijaga. Masa-masa itu menjadi semacam durasi yang penuh emosi dalam hidup saya, penuh dengan perjuangan dan pemberontakan. Saya merasakan itu semua sebagai bagian dari hidup yang tak akan pernah saya lupakan. Masa-sama itu harus saya tutup dalam memori yang seindah mungkin, sebaik mungkin—tak melukai siapa pun!

Tiba-tiba terbersit dalam pikiran bahwa saya harus berpamitan kepada guru (dosen) di univeristas. Saya pamit baik-baik bahwa mungkin saya tidak sempat bertemu dengan mereka dan mengucapkan terima kasih atas ilmu dan hikmahnya selama saya ada di meja S1 selama kurang lebih 5 tahun lebih. Saya kirimkan pesan singkat itu kepada semua dosen yang pernah mengajar saya. Sejujurnya, saya sangat terharu dengan apa yang saya lakukan itu. Tidak spesial sebenarnya, tapi saya anggap sebagai kewajiban saya untuk minta doa dan spirit dari mereka. Saya tidak peduli dibalas atau tidak.


Monday, October 07, 2013

Konya’da İlk Hasta

It’s not so good for me at all, or actually it’s so damn ashamed, when I am so brave to take the risk during the weird weather by trying or maybe arrogantly like testing the “other weather” out of my life, in Indonesia as tropical country, by wearing a slight T-Shirt just like I used do in my country. Here in Turkey I feel anything is different all about weather. I am enforced to take a breath of a cold air, very cold air! Actually it’s not my first winter I have ever experienced. I was in short visit to Aussie during the winter time in 2011. But here I will stay longer, not just a short time like I did before. So what I’ve done here with “testing the weather” was something silly and my friend, Asrul, will totally laugh at me since he knows I am in bed rest for several days. My body is like trampled by this gigantic experience of weather.

So, I have to submit all doctor's saying about my conditionö with this new-look-like sedative tablet: Benical cold, Rastel 25mg and also Androrex. Yup, it’s my first ill here, like an allergy for cold, suffering throat (boğaz hastası) then getting headache and cough! October 6, 2013. I must go to doctor and fix all things. I am fortunate to have awesome friends from Indonesia: Asrul, Agung and Ghalib. The last one can speak Turkish and helps us a lot. I went to university hospital then unfortunately the pharmacy is not inside. We should bring the recipe outside and buy my medicine from there. It’s something wondering for me when I know that it could not provide medicine.

But everything I enjoy, even this ill! By now I won’t play a game. I don’t wanna pay for something I made wrongdoing like this, 17 TL! Simply crazy!

Friday, October 04, 2013

Epuh Epuh Epuh

Ibu, setiap waktu aku selalu ingin menyapamu, mendengarkan suaramu dan doa-doa yang menguatkan. Doa Ibu telah menciptakan ruas-ruas pengalaman yang kuajalani bersama hari-hari. Apa yang kuhadapi hari ini adalah doa-doa ibu yang tak pernah padam. Ibu adalah harta satu-satunya yang tersisa untukku. 

Ibu, malam ini seperti hari-hari lalu aku selalu merinduimu lebih dari segala sesuatu. Semoga Ibu sehat selalu, seperti keyakinanku kepada doa-doa Ibu, tanpa batas ruang dan waktu, mengalir dalam deras daraku. Setiap saat, aku ingin memelukmu dan meyakinkan bahwa anakmu ini sehat-sehat selalu di sini, di kota tua bekas kerajaan Bani Seljuk yang mulai dikunjungi musim dingin, musim yang aneh yang selalu Ibu khawatirkan. Ibu, anakmu sudah belajar untuk bertahan dalam kondisi apapun sejak awal kali Ibu melepasku belajar dan berpetualang di Yogyakarta. Di sini pun sama, anakmu telah memerangi dingin dalam temperatur 2-10 C setiap hari. Dan aku tidak tahu, sebentar lagi musim dingin akan seperti 

Aku yakin Ibu pasti merasakan tubuh anakmu yang tergigil dingin, seperti selalu Ibu ceritakan tentang sakit yang mendera anak-anakmu hanya dengan menandai rasa nyeri di payudara kirimu, tempat aku dan anak-anakmu yang lain mengisap darahmu: ASI.

Ibu, terima kasih atas doa yang selalu menguatkan. Semua baik-baik di sini, anakmu hanya belum akrab dengan dingin yang aneh ini.

Wednesday, September 25, 2013

Memulai Keterasingan Baru

Salah satu hal yang paling berat aku pertimbangkan sebelum berangkat ke Turki, di samping keluarga kecilku di kampung, adalah seseorang yang selama ini bersamaku, mendukungku begitu penuh seluruh, dan ada pada setiap ruang-waktu yang tercipta, yang kami ciptakan bersama, dalam hidupku. Ia adalah byan. Seorang yang melampaui imajinasiku sendiri. Seorang perempuan tabah yang telah mengartikan kehadiranku sebagai pejuang yang tak mau kalah.

Kebersamaan yang lama telah membuatnya menjadi ada dan semakin utuh sebagai sosok keibuan. Atau aku menemukan cinta seorang ibu juga darinya. Keberadaan itulah yang telah membuatku (dan kita) selalu merasa penuh, mengisi waktu-waktu dalam kebersamaan. Dari sesuatu yang mungkin tak perlu pada awalnya menjadi ada dan penuh arti dalam kebersamaan yang saling mengisi dan menciptakan.

Aku udah lama sekali memulai kisah perjalanan ini, dengan seseorang yang datang dari rasa kekaguman dan aku menyambutnya dengan sebuah kisah yang biasa sebagai seorang lelaki yang mengagumi kesunyian. Ia datang menyalakan kebahagian, menemani kesendirian itu dan sekaligus melahirkan karya-karya besar bersama-sama. Dan waktu telah membentangkan ruang untuk belajar dan memulai sejarah hebat bersama.

Aku pun sadar, aku semakin kuat menulis karena kehadirannya yang menguatkan; menyelipkan mimpi di tengah mimpi-mimpi yang kutabur.

Ia sekarang lebih dari seorang apapun dalam diriku. Meski kadang menghilang dalam beberapa waktu dan banyak datang di waktu-waktu yang lain. Menjadi pelengkap kekurangan dan menambal ruang pengalaman dan tubuhku yang bolong-bolong.

Sepanjang waktu ia telah melampaui dari seseorang yang sekedar hanya kucintai. Ia telah berjalan dalam kekagumanku sendiri sebagai bidadari yang menunjuk langit malam, menandai fajar dan sekaligus menghadirkan matahari. Di antara tulisan-tulisanku, sebuah diari yang biasa kutulis sepanjang waktu, ia hadir menjadi ruh bagi setiap kata dan kalimat. Belantara aksara dan imajinasi yang tumpah ruah dalam setiap tinta waktu yang kupasang sebagai karya, ia ikut meniupkan ruh di sana, ikut menghadirkan eksistensinya. Setiap keberadaan diriku, ia hadir sebagai diriku yang lain. Menjadi manunggal dan utuh.

Kuat-kuatlah di sana, byanku. Temani kesendirian kita dengan kesunyian masing-masing. Dua tahun atau tiga tahun akan menjadi waktu yang mengancamku, dan menghukum kita dalam jarak yang teramat jauh. Aku di tanah dua benua selalu akan menjagamu dengan sekuatku sendiri.

Tuesday, September 10, 2013

Muurgedichten: Puisi dan Ruang Kota

Syahdan, di salah satu tembok kota bersejarah, ada puisi “Aku” karya Chairil Anwar, penyair kesohor yang mati muda dan nyaris menjadi kultus sebagai nama besar dalam sejarah kesusastraan Indonesia, potongan teks La Galigo dalam bahasa Bugis, dan puisi Ranggawarsita dengan aksara Jawa terpancang di sana. Dua puisi tersebut terpahat di sebuah tembok kota—sebagai mural—bersanding dengan puisi-puisi hebat dari sastrawan dunia, seperti William Shakespeare, Rainer Maria Rilke, Jorge Luis Borges, Marina Ivanova Tsvetayeva, dan Fakir Baykurt dengan bahasa mereka masing-masing.

Friday, September 06, 2013

Yang Maha Tembakau

bersama dua adik manisku menyiram tembakau
Bagiku, tembakau adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan. Di samping Bapak dan Ibuku petani tembakau, Bapak juga pedagang tembakau di tingkat bawah (jadi pembeli langsung kepada petani). Tipe pedagang seperti Bapakku adalah pengepul, berjumpalitan di bawah, menjadi suruhan pemilik gudang. Maklum jika masa kecilku, di antara halaman rumah dan emperan, mataku selalu bertubrukan dengan gulu'an (bungkus rajangan tembakau yang sudah dikeringkan) dan potongan rajangan tembakau yang dibungkus platik kresek atau dibiarkan begitu saja tergeletak di lantai, di meja, di tempat duduk. Sangat amburadul, sepertinya. Tapi itulah hidupku bersama pedagang tembakau, Bapakku sendiri. Menurut cerita Ibu, Bapakku konon sukses menjadi pendagang (termasuk tembakau, grusuk, dan cabe) sehingga beliau bisa naik haji tahun 1993, saat aku baru berusia sekitar 7 tahun. Kata Ibu juga, Bapakku adalah pedagang yang tidak pernah bermasalah dengan petani, misalnya punya hutan, atau uang pembayaran untuk petani ditunda-tunda.