Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang F├╝sun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Wednesday, June 17, 2009

Anomali Dosen FISHUM UIN Sunan Kalijaga

Sebagai sebuah jejak perjalanan, catatan krusial dan kritis ini harus saya simpan di blog. Saya sudah berekonsiliasi dengan pihak-pihak yang bersinggungan dengan tulisan ini. Jadi, kehadiran foto atas tulisan yang sebenarnya berjudul "Anomali Dosen Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga" tak lebih dari arsip yang harus saya lakukan. Bukan untuk mengumbar atau membuka luka lama, seperti biasa diomongkan banyak orang ketika berhadapan dengan resistensi.....

Saya ingat betul suatu waktu ketika saya berani berbicara langsung, tepatnya berdebat, kepada seorang dosen perempuan. Dia dosen baru yang konon ikut suaminya sebagai dosen UGM dan lalu--daripada nganggur--istrinya daftar dan diterima menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga (entah status dosennya apa saya tidak paham). Dia mengajar Sosiologi Politik. Dan ternyata tidak qualified di mata teman-teman dan aku menyaksikannya sendiri. Dari situlah debat dimulai. Banyak teman-teman di kelas yang terkejut dengan penjelasannya atas pertanyaan-pertanyaan yang waktu itu (sekarang sudah lupa topiknya) dijawab salah oleh si dosen. Dari situ kemudian saya, bersama beberapa teman, berkonsolidasi dengan teman-teman kelas, dan sepakat agar ada dosen baru sebagai penggangti, yang tentu capable dengan matakuliah.

Negosisasi berlanjut dengan Kaprodi Sosiologi FISHUM UIN, dan sekaligus baikot matakuliah bersangkutan. Satu, dua, tiga dan empat kali negosiasi, tidak mendapatkan hasil apa-apa. Kaprodi tidak mencarikan dosen lain (seperti tak ada niat baik), tapi anehnya ketika ujian akhir semester (UAS) ternyata matakuliah ini diujikan. Dan hasilnya, teman-teman mahasiswa jelek semua. Tak ada satu pun yang dapat nilai B. Semuanya C ke bawah. Dari sinilah resistensi itu muncul semakin akut. Negosisasi perbaikan nilai tidak bisa, dan bahkan oleh Kaprodi diledek: "baru sekarang saya menghadapi mahasiswa yang minta nilai berubah," terus tampak seperti dibiarkan saja.

Ada yang kurang disadari, dikira bahwa kami akan diam saja. Tentu tidak. Kami pemuda dengan perjuangan yang tak main-main di tengah loyonya dan tak beresnya orang-orang di balik sistem. Kami menyusun strategi gerakan, hingga demo sebagai ujung akhir untuk mengungkap hal ihwa ini. Sebelum menulis FORUM di bawah ini, untuk merumuskan sebuah gerakan, kami berkemah bareng di Pantai Glagah satu kelas. Dan lahirlah ini, tulisan yang membuatku harus menanggung banyak hujatan, kritikan dan fitnah-fitnah yang disebar se-fakultas setidaknya. Dosen yang sedari awal banyak sudah kerap friksi semakin akut berada dalam kubu yang ikut mengganyang namaku sebagai mahasiswa amoral. Hanya dua dosen dan itu semua laki-laki yang mengertiku, dan mereka telah meredamku dengan sifat gentle. Kepada dua dosen inilah saya harus berterima kasih karena diajari untuk kuat dan tetap tegap.


personal doc