Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Wednesday, August 28, 2013

My Monday

It came over my door like a sudden gift to us, the Seroja's rumah kost lads, to look after it, keep it safe as possible as the way it is. It was Monday on mid-June 2013 when it was first time appeared with stunning and lit a bit wicked face, and then became the reason why I named it Monday, due to the bright Monday at the time--to shine spirit around the house and the lads. It knows I love it, snorts when it is around and often comes to sleep with me, near my ear! It's somewhat weird when hearing its deep breath directly.

While feeding it with milk sometimes, I make sure to send it down into the street in the morning, leave by itself, let it find its real world by playing around freely as mammalia does. I know it has its world around me, a lot of interaction with people, but I do not understand enough what it actually wants except feeding and caring as possible. I know, it's logical, that it is assassination if I serve it like human. No way!

I am just pretty sure that some people who, with personal interest or later institutionalized common-sense, say they love pets (animals in general) then serve them like their lives such human are little immoral. You know, as I stated above, they have their own world. Get them back into their lives now and forever! 

Friday, August 23, 2013

Masa Depan Kesunyian

Anakku kelak akan lahir--bukan dari rumah kardus ataupun dari halimun di sebuah pagi yang asing. Ia akan berdiri dalam pusaran hidup ini, hidup yang katanya diperjualbelikan, dirumuskan dalam angka, dinilai dalam hitungan kelas. Ya, hidup yang akan memaksamu berada dalam kubangan materi. 

Jika kamu sudah lulus kuliah, atau apalah namanya kelak, kamu akan dipaksa untuk menerima sebuah tirani mayoritas, semacam kesepakatan bersama--entah dari mana asalnya--bahwa kamu harus merengkuh banyak lembar uang atau kepingan kekayaan. Jika tidak, kamu akan dianggap gagal. Kamu harus pontang-panting mencari materi. Karena kebahagiaan dibangun dari lembar-lembar kekayaan. Kamu benar-benar akan menjadi mesin yang meraung-raung dengan jiwamu yang sungsang.

Namun, aku tentu tak ingin kamu besar dan tumbuh dalam tirani itu. Aku ingin menyelamatkanmu menjadi seseorang yang merasa bahagia dalam kesunyiannya. Kamu tak akan saya tanyakan seberapa duit setiap bulan kamu hasilkan. Tidak. Kamu tidak akan saya tanyakan seberapa tinggi sekolah dan gelar yang kamu rengkuh. Tidak. 

Tidak.

Aku akan menanyakan seberapa banyak kamu sudah mengabdikan hidupmu untuk orang lain, dan kita menjadi keluarga yang bahagia dalam kesunyian waktu, bersama orang lain atau bersama jiwa-jiwa kita sendiri....

Saturday, August 17, 2013

Caring is Friendship

Kisah kali ini khusus buat seorang teman yang tiba-tiba menawarkan sebuah tiket pesawat ke Jakarta. Katanya, sebagai dukungan kepada saya agar mengambil beasiswa master di Turkey yang saya dapatkan tahun 2013 ini. Terima kasih kawan....

Dalam minggu ini saya sedang ada keperluan mengurus visa untuk study lanjutan di Turkey. Saya sejujurnya tidak ada persiapkan banyak uang untuk keperluan keberangkatan ke Turkey. Di samping kesibukan saya sebulan sebelum Ramadhan: menjadi project leader untuk sebuah kompetisi internasional untuk para alumni Amerika (saya ketepatan menjadi alumni IELSP) bernama PlayPlus--yang nyaris menjadi seorang diri berjuang untuk membuktikan bahwa project itu bisa menang dan terpilih di depan meja panel di Washington sana--ternyata lupa bahwa saya juga harus bekerja make money untuk pulang kampung (mudik) dan persiapan mengurus visa, akhirnya betul-betul terjadi dan menimpa saya minggu ini. I have no enough money for visa. I give some of much to my mom for their daily needs in kampung halaman. Dan ketika saya harus mengurus visa, uang saya menipis dan bahkan bisa dibilang habis. Ini jelas konyol. Sebuah perhitungan yang binasa! Saat begitu, saya bingung, pastinya. Tapi saya bukan tipe penyerah kepada keadaan.

Namun, begitulah hidup. Keyakinan saya berkarya setulusnya untuk PlayPlus, yang sekarang sudah menang bersama sekitar 50 proposal dan menyingkirkan lebih dari 800 proposal dari banyak negara di dunia, benar-benar dilihat Tuhan. Ada seorang kawan yang secara langsung meminjamkan duit dan membelikan tiket pesawat saya ke Jakarta. Saya sempat terdiam merenungi semua ini. Dan, saya sangat bersyukur kepada beberapa teman yang telah membantu saya.

Pasti, jika saya jadi berangkat study ke Turkey, grant sekitar $23.000 itu akan saya limpahkan kepada alumni yang menjadi team member saya. Meski sudah benar-benar menjadi pemilik hak project itu, dan tentu dengan grant yang didapatkan, saya tidak pernah kepikiran buat apa uang sebesar lebih dari Rp 200 juta itu. Karena sudah menjadi project leader, saya berkomitmen untuk menyelesaikan semua persiapan di awal biar selanjutnya teman-teman saya bisa lebih mudah dan akan saya habiskan tenaga di awal untuk membantu project ini. Dan terpaksa, pekerjaan saya yang lain pun terkatung. Begitulah indah-pahitnya sebuah pilihan!

Selanjutnya saya percaya, bahwa ketulusan bekerja untuk orang lain akan selalu mendapatkan hikmahnya yang manis, dari Tuhan, alam semesta, dan juga manusia. Terima kasih kawan....

Dirgahayu Indonesiaku yang ke-68!

Friday, August 02, 2013

"Saat Itu, Ibuku Menangis"

Buat kakakku Hermanto Junaidi ...
yang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat akan pergi sekalipun. Sulit membedakan apakah aku sedang pulang atau pergi--ketika semua risalah hidupku ditakdirkan untuk selalu pergi dan berjelajah, sehingga semua hal begitu asing dalam hidupku. Aku seperti sudah dipasrahkan menjadi anak panah bagi angin yang bergemuruh dari semua arah. Saat ini, aku tiba-tiba ingat semua hal tentang masa kecil, tentang Ibu, tentang (alm.) Ayah yang lamat-lamat kita gambar pada segumpalan benang bernama memori, saat aroma lebaran tiba-tiba menyeruak, yang kita bikin seru dengan tawa atau kebengalan kita masing-masing.....

Dari kamar kostku, di sebuah kota yang sangat kau pahami, aku duduk, berkemas; pikiranku berada di antara rumah, ibukota, pulang, pergi, negara orang, tanah kelahiran, rindu, cerita, Ibu--semua datang meringkusku tiba-tiba. Aku tidak bisa apa-apa selain menuliskannya saat ini, dan berharap engkau membacanya entah dengan cara apa. Pun aku yakin, Ibu sudah merasakannya, sebalum aku menuliskan catatan ini.