Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang F├╝sun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Thursday, October 18, 2007

Al Gore dan Nobel Perdamaian

Versi cetak tulisan ini di Media Indonesia, Kamis, 18 Oktober 2007 

TERHITUNG sejak 1901, terdapat ritual tahunan penganugerahan hadiah Nobel untuk perdamaian yang terus mengalir hingga sekarang. Anugerah itu diberikan sebagai penghargaan atas jasa para ilmuwan/tokoh bagi kemanusiaan. Penghargaan itu diberikan setiap 12 Oktober.

Tidak seperti penghargaan Nobel untuk bidang lain, Nobel Perdamaian merupakan entitas yang paling progresif untuk diikuti perkembangannya, khususnya tahun ini. Karena, posisinya berkaitan erat dengan persoalan kemanusiaan universal dan mempunyai sisi yang signifikan bagi kesinambungan kehidupan manusia yang merindukan kedamaian di muka bumi.

Tuesday, October 09, 2007

Sekilas Guzzainal

Oleh Salman Rusydie, dikliping dari: sini



Bagi sebagian masyarakat Jogja, nama Zainal Arifin Thaha barangkali bukanlah sosok yang asing. Beliau adalah pribadi yang dekat dengan siapa saja, baik kalangan mahasiswa, tokoh organisasi, tokoh agama, sastrawan, para penulis dan tentu saja masyarakat pada umumnya. Mungkin karena kedekatannya dengan berbagai elemen itulah pada akhirnya Zainal Arifin Thaha juga dikenal sebagai sosok yang memiliki multiaktivitas seperti halnya akademisi, sastrawan, penulis buku, muballigh dan juga dosen. Dari sekian banyak aktivitas yang ia jalankan, ada beberapa peninggalan yang masih bisa kita lihat setelah kepergiannya tujuh tahun yang silam, antara lain berupa karya buku dan juga rintisan pesantren mahasiswa Hasyim Asy’arie.