Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang F├╝sun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Sunday, March 27, 2011

Muda yang (Mem)Bangga(Kan)

Youth is not only a leader for tomorrow but also a partner for today.
 (Kofi Annan)

taken by BJ from the photo sessions
Beberapa waktu kemarin, tepatnya tanggal 20-25 Februari 2011, saya mengikuti konferensi pemuda internasional bertajuk Youth Awareness of Climate Change dan dihadiri oleh perwakilan pemuda dari 36 negara (Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika). Di samping mendapatkan pengetahuan tentang pemanasan global dan kondisi terkini ihwal krisis pangan dan semacamnya, saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berbagi bersama representasi pemuda dari berbagai benua. Mereka yang potensial dan mempunyai visi progresif mengenai keberlangsungan masa depan lingkungan ekologi betul-betul mencurahkan semua potensi dan semangatnya demi menyelamatkan kondisi lingkungan dimana laju pemanasan global semakin hari semakin mengancam.

Entah kenapa, setiap kali saya terlibat dan mengikuti suatu forum baik lokal maupun internasional, saya selalu tertantang untuk menuliskannya kembali menjadi sebuah narasi, sebagai buah pikiran dan pengalaman yang saya catat dan saya share ke teman-teman semua. Karena kebiasaan saya, setiap akali mengikuti forum dan kegiatan yang melibatkan banyak elemen dengan kesadaran tentang kemanusiaan yang membanggakan, adalah berkontemplasi dan melakukan flash back terhadap kondisi riil di negeri saya sendiri. Ya, hanya begitulah kemampuan saya untuk saat ini, bahwa perubahan itu akan saya mulai dari dan sejak dalam pikiran, dan perilaku keseharian. 

Dan Lalu Lintas yang Semakin Membunuh

taken from google images
Ketika saya berjalan kaki, seperti sudah biasa saya lakukan hampir setiap hari dari kost ke kampus, ada ketakutan besar yang menghantui saya selama di jalan: yaitu lalu lintas yang semakin gila dan menakitkan. Untuk mencapai kampus, saya harus menyeberangi jalan protokol yang sangat ramai: jalan Adisucipto atau jalan Solo. Sama sekali bisa dikatakan bahwa pejalan kaki tidak punya hak di jalan raya karena pengendara motor khususnya semakin gila-gilaan menancap gas dengan tanpa memudilakan kanan-kiri dan pejalan kaki yang sedang melintas. Bahkan saya harus mengalah menunggu selama 3-4 menit untuk bisa menyeberangi jalan raya. Tidak ada seorang pengendara pun yang berhenti atau pelan-pelan untuk sekedar menyilakan pejalan kaki agar melintas dahulu. Tidak ada!

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat jalanan macet total (traffic jam) pada jam-jam sibuk: sepeda motor dengan kecepatan tak terperikan menyalib kanan-kiri tanpa mempedulikan keselamatan diri dan orang lain; klakson menjerit sana-sini bagai sirine Ambulance; dan ditambah umpatan kotor para pengendara dari semua macam kendaraan? Dalam kondisi seperti itu, saya hanya bisa bergemim melihat kenyataan yang terjadi di Tanah Air tercinta ini, khususnya di kota-kota besar dan terutama di Jakarta.

Tuesday, March 22, 2011

"Kiai Kampungan", he said


After having prayed Jumat this week, I stopped by my neighbor’s simple house whose many books I borrowed, then just killed the time as usual to discuss about latest Islamic issues. As a zealous reader of several books of Islamic literature, he definitely masters the latest issue dealing with Islam like radicalism showed up with booby trabs which terrorize people on two weeks later. He is strikingly enthusiastic to explain the basic knowledge of Islam before going ahead of assuming the motives of terror in advance.  

We know that terrorists’ ways have increased rapidly by lots of ways to kill their enemy, the opposite person or group which become particular target. Modification of bomb terrors speaks that terrorists’ groups are still alive and ultimately creative to set an attack of terror by underground maneuver in which many people are less to know their real movement. They specifically refer to personal as an enemy against their groups. They have seemingly stopped bombarding the enemy with common ways like public bombing attack that has become a trend at past one decade.  They has appointed personality with specific way to maybe reduce a myriad of innocence tolls. Ulil Abshar-Abdalla, Dhani Ahmad, and other are the personals who become a target even though it fortunately failed to kill them. But, we must keep wondering about what another newest way would be the terrorists do then?

Thursday, March 17, 2011

Kampusku Sayang, Kampusmu Malang (Part 2)

Tulisan saya yang dipublikasikan di media Facebook beberapa hari lalu sudah menuai banyak hujatan dan tanggapan panas dari banyak kawan. Tulisan bejudul “Kampusku Sayang, Kampusmu Malang”  itu benar-benar menemukan ruhnya sebagai medan kontroversi, dengan beragam jenis respon: mulai dari yang berkepala dingin dengan mengedapankan akal sehat, membuka diskursus, sharing dan saling koreksi, hingga yang paling mematikan, yaitu menyerang karakter individu! Yang terakhir sungguh suatu yang tidak saya harapkan pada awalnya. Karena saya menulis catatan itu hanya sebagai refleksi dan koreksi bersama semua kawan yang saya kenal, mereka yang telah membantu dan membesarkan saya, mereka yang telah menjadi guru-sahabat saya, dan mereka yang kerap menjadi inspirasi bagi hidup saya. Begitulah tulisan; selalu akan bercakap kepada pembacanya sendiri dan penulisnya, dalam kondisi seperti itu, benar-benar mati atau tidak hadir sedikit pun dalam tulisan itu.

SMS masuk pada 15 Maret 2011, pukul 22:31: 41 WIB, Nomor +6287850071xxx. Ini saya cuplikan isinya dengan tidak mengubah sehuruf pun SMS itu: “Mf sy tdk sepintar ANDA pak BJ, tp bg saya, mendngarkan crta kemudian mengambil kesimpulan bukanlah hal yg bgus buat orang SECERDAS ANDA. Jujus saya KECEWA dg tulisan ANDA. Anda sudah mengecewakan banyak orang. Kuran bkn dlm tulisan Pak, tp mau brpartisipasi, biar tau yg sbnrnya. Apakah Anda seorang pemberani?”

Sunday, March 13, 2011

Kampusku Sayang, Kampusmu Malang

(Info: sehabis tulisan ini diturunkan melalui media FB, caci-maki pun menyeruak dari kalawan para aktivis gerakan di sekitar kampusku. Bahkan orang-orang terdekatku pun ikut berang dan menebar teror dengan sangat berapi-api. Karena tulisan ini, saya bertambah dewasa....)

Hari ini, Senin 14 Maret 2011, di kampusku akan dilangsungkan sebuah perhelatan penting-demokrasi di kalangan mahasiswa yaitu Pemilwa, semacam pemilihan presiden mahasiswa. Ini memang tidak terlalu menyedot perhatian karena memang tidak penting apa-apa. Namun bagi sebagian orang dan kelompok, terutama mereka yang terlibat secara langsung sebagai calon ataupun partai-partainya, kegiatan ini tentu sangat penting karena demi kekuasaan, popularitas dan tentu uang!

Jauh hari, kasak-kusuk tentang momen ini—sekali lagi bagi mereka yang berkepentingan—sangat santer terdengar di sana-sani, di pojok-pojok kampus hingga pun di warung-warung kopi. Ini serupa pertarungan kelas dan status bagi sebagian kelompok, juga ejawantah soal eksistensi. Jika ruang publik seperti ini digunakan secara dewasa dengan asas akademis dan menjunjung idealisme-inteletual yang ideologis, tentu tak ada yang sia-sia dan bahkan sangat bermanfaat bagi semua kalangan baik itu di internal kampus maupun di lingkungan sosial karena, bagaimana pun juga, pengaruh baik dari kampus akan menuju/dirasakan langsung oleh lingkungan sosial-masyarakat.

Friday, March 04, 2011

Kawan dengan Seribu Macam Warna

diambil saat pembuatan 
SIM di Kab. Sumenep

Di suatu petang yang terlanjur biasa, saya mengobrol dengan seorang kawan dari pulau Sumatra sana, seorang perempuan dengan paras, seperti yang saya tangkap dari foto di jejering sosial Facebook, cukup cantik. Dia memulai obrolan pertama kali setelah saling memperkenalkan diri bahwa dirinya sebagai penerima beasiswa dari IIE, program sama seperti yang pernah saya terima bulan Juni-Juli 2010 kemarin: belajar bahasa dan budaya di Amerika.

Jujur, saya lupa nama wanita itu. Nama bagi saya—kadang—tak seberarti daripada apa yang diobrolkan, setidaknya pada saat itu. Percakapan dimulai dari basa-basi soal program beasiswa ke negeri Paman Sam itu: sebuah obrolan standar, tak istimewa, selain berbagi soal persiapan, dan hal-hal apa saja yang mesti dibawa. Obrolan satu langkah lebih lanjut: menanyakan kuliah dan jurusan. Saya tegas soal ini, bahwa saya mahasiswa Sosiologi (hehe meski jadi mahasiswa tua yang tak rampung-rampung kuliah!) di sebuah universitas negeri yang tak terlalu berkelas di Jogja. Namun saya tetap mencintai almamater ini karena sudah terlanjur membesarkan saya dan sekaligus menjerumuskan saya kepada jalan-jalan yang penuh lika-liku!