Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

Friday, August 17, 2018

The Power of Writing

(Naskah tulisan ini merupakan ketik ulang dari buku Melipat Batas yang diterbitkan oleh Diva Press tahun 2013. Saya secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada adinda Arian Widda Faradis yang sudah mempersiapkan tulisan ini sehingga bisa saya unggah ulang ke blog, dengan harapan semoga sepenggal catatan ini bermanfaat bagi pembaca)


Deretan kursi pada sebuah teras di salah satu ruangan kampus Sanata Dharma terisi oleh beberapa mahasiswa yang sedang menunggu. Aku tidak datang terlambat, masih in time juga. Tapi, jelas kalah awal dari mereka yang tengah menyemut di situ. Kupastikan nama dan nomor ruangan, daftar nama interview yang menempel pada setiap pintu ruangan. Ya, namaku ada di sana: B.J. Sujibto.

Sambil menunggu giliran wawancara, aku menikmati suasana kampus yang sebelumnya tidak terlalu kukenal, selain gedung-gedung khusus seminar atau ruangan teater yang terkadang kudatangi di salah satu kampus terbaik dengan latar belakang agama Katolik di Indonesia itu. Sadhar, sebutan akrab Universitas Sanata Dharma, tidak terlalu jauh dari kampusku, UIN Sunan Kalijaga. Kalau diukur lurus, tidak sampai satu kilometer. Kendati demikian, tampak jarang mahasiswa UIN yang sengaja mengunjungi kampus Sadhar atau singgah di perpustakaannya.

Tak begitu lama menunggu, aku dipanggil lalu dipersilahkan masuk ke ruangan. Aku bersalaman dengan sesama orang yang sudah menunggu di dalam ruangan itu. Dia menanyakan nama, alamat, serta kehidupanku dengan bahasa Inggris, dan sesekali dicampur dengan bahasa Indonesia, bahasa kecintaanku tentunya. Proses wawancara itu terus mengalir begitu saja ke berbagai aspek kehidupanku. Karena sudah mengantongi CV-ku, tentu saja Pak Dosen yang mewawancaraiku itu begitu fasih membongkar hal-hal yang mungkin baginya dianggap unik dan distingtif dari diriku. Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan sepertinya sudah menjadi keharusan atau standar umum wawancara, sesuai yang perlu diulik dari semua peserta.
            
“Kamu suka menulis?”
“Batul, Pak.”
“Tulisanmu banyak sekali dan sudah banyak dimuat di media massa juga. Bahkan, sudah dimuat di Kompas juga ya?”
Aku mengangguk.
“Kamu juga sudah banyak memenangkan kompetisi menulis juga, ya?”
Aku meyakinkan lagi dengan sebuah anggukan.
“Bagaimana kamu bisa menulis?”

Deg! Ini pertanyaan tersulit. Karena, Pak Dosen menuntutku menelisik dan menekuri masa silamku yang cukup panjang. Aku harus membuka file-file masa lalu dengan seksama, suatu fase di mana aku bisa memulai segalanya dengan keyakinan dan perjuangan.
                                                                       
***
Sebuah bidik[1] terhampar di depanku. Paman, Kak Muhli, dan Ibu ada di sana. Saat itu, aku dan Kakak sedang aretret[2] rajangan tembakau untuk dikonsumsi sendiri di atas sebidak bidik. Kami biasa menamai tembakau yang khusus dibuat untuk rokok lintingan dengan “tembakau soteran”. Tembakau pilihan dari daun-dan tembakau yang sengaja dirawat secara khusus dari pohon-pohon terbaik.

“Ibu, aku mau berhenti dari pesantren.”
“Arapa, cong?”[3]
“Memang, kemana rencanamu, le[4]?” celetuk kakakku.
“Ke Jogja. Tapi, sebelum itu, aku mau kursus bahasa Ingris dulu di Pare. Kalau sudah yakin dengan kemampuan bahasa Inggrisku, aku akan berangkat ke Jogja.”
“Ibu tidak punya kemampuan apa-apa lagi untuk membantu pembiayaanmu, Nak.”
“Ibu tidak perlu memikirkan uang. Aku hanya butuh izin dan doa dari Ibu. Selebihnya biar aku sendiri yang berjuang.”

Ibu, Kakak, dan Paman terdiam di teras rumahku. Mereka seperti menghela napas. Suasana musim panas di bulan Agustus-September memang membawa angin lembab dan berdebu. Terlebih September adalah puncak musim panas di kampung.

“Iya, lanjutkan saja kalau itu sudah menjadi kemauanmu.”  Paman di seberang pintu yang sedang duduk dengan baju kusam terbuka sedada menimpali.

“Jangan khawatir, Ibu. Aku akan bekerja apa saja demi mencapai cita-cita ini. Kalaupun aku tidak bisa kuliah karena betul-betul tidak punya uang, tidak apa-apa, aku menerimanya. Aku hanya ingin belajar dan menambah pengalaman di kota orang mumpung masih muda.”

Ibu menatapku. Matanya ibarat sebuah telaga bening yang selalu memancarkan semangat. Kedipannya seperti petir yang selalu membangkitkan darah juangku. Aku paham Ibu sangat berat melepasku pergi karena khawatir dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Akan tetapi, semangatku telah menutup semua kekhawatiran itu.

“Iya, Nak. Kalau itu sudah menjadi pilihan dan cita-citamu, silahkan. Ibu akan selalu setia mendoakanmu.”

Dalam semua keterbatasan, aku melangkah dengan penuh keyakinan meninggalkan kampung halaman. Tujuan pertamaku adalah belajar bahasa Inggris di Pare sebagai modal untuk berkompetisi di kota orang. Di Pare, ada paman sepupu dari Ibu, yang menjadi tutor dan punya lembaga kursus bahasa Inggris. Namanya Mr. Bakir. Sehingga, aku tidak terlalu repot untuk sekedar hidup dan belajar gratis di sana. Di samping itu, sepupu ibuku ini memang selalu mendukungku untuk belajar bahasa Inggris karena kemampuan bahasa Inggrisku sangat minim.

Aku sudah benar-benar menyongsong masa depanku sendiri. Aku yakin, akan ada jalan yang terbuka lebar untuk para pencari ilmu sepertiku. Risiko apa pun yang menghadang langkahku adalah cobaan yang harus kuhadapi. Semangat sudah membuncah di dadaku. Aku yakin bahwa siapa pun yang berjuang mencari ilmu di jalan Allah, pasti akan mendapatkan ilmu seluas samudra yang akan memberikan banyak manfaat. Dia tidak pernah tidur untuk memudahkan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang haus ilmu.

Aku tidak ingin melangkah dengan konyol, karena itu aku membutuhkan senjata untuk bertahan. Aku perlu mempersiapkan suatu kemampuan yang bisa kubanggakan sebagai bargaining position di hadapan orang lain. Aku sadar bahwa kemampuan menulisku bisa diandalkan dan aku dapat melanjutkan profesi sebagai penulis. Di samping itu, kemampuan bahasa Inggrisku juga bisa kupupuk lebih rajin lagi. Aku tidak tahu kelak bagaimana Tuhan membukakakn arah hidupku. Namun yang pasti, jalan sebagai penulis adalah satu-satunya yang bisa kubanggakan.

Menulis dan membaca adalah bagian dari masa kecilku. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah terbiasa membawa dan membaca buku-buku cerita petualangan yang ada di perpustakaan SD Inpres. Berlanjut ke pendidikan lebih tinggi di pondok pesantren, semangat membacaku semakin menggila. Kelas tiga MTs, aku sudah memulai menulis puisi dan cerita (sangat) pendek. Akhir kelas tiga, puisiku dimuat di rubrik “Cermin” majalah sastra Horison, lalu secara bergiliran di majalah Annida, Kuntum, dan Sahabat Pena.

Puisi pertama yang dimuat di majalah nasional dan bergengsi itu, untuk judul dan isinya, aku masih sangat hafal, bahkan sampai sekarang. Judulnya “Pelabuhan Raksa”, berisikan tentang  kisah cinta yang kandas di sebuah pelabuhan. Aku sangat menyukai puisi pertama itu. Tak ayal, majalah Horison edisi itu aku bawa ke mana-mana. Kulapisi majalah itu dengan isolasi bening agar tidak cepat rusak. Kusodorkan ke beberapa teman, baik di pondok, perpustakaan, maupun sekolah. Waktu itu, aku tidak tahu sama sekali arti publisitas. Tapi yang pasti, aku ingin mengatakan kepada semua temanku bahwa aku adalah penulis yang karyaku bisa dimuat di media masa yang dibaca oleh banyak orang. Titik !

Hasrat menulisku tumbuh menggebu. Di samping media-media kreativitas menulis yang ada di pondok, tempat di mana aku menghabiskan masa remaja, sangat banyak dan mendukung semua kegiatan jurnalistikku, aku sendiri mulai menggagas untuk menerbitkan sebuah newsletter pertama di pondok. Pondokku bersistem federal ─ seperti negara-negara bagian dalam pemerintahan Amerika atau Australia ─ yang berada di bawah satu yayasan bernama Annuqayah. Di bawah Annuqayah, tersebar beberapa daerah yang berlokus sebagai bagian-bagian kesatuan tapi dengan sistem berbeda. Ada yang dominan salaf, modern, semimodern, dan campuran. Pondokku bernama Daerah Nirmala. Biasanya orang-orang di luar pesantren mengenalnya dengan nama Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Nirmala. Dan, Alhamdulillah, newsletter yang kugagas bersama teman-teman akhirnya terbit juga saat aku duduk di kelas dua aliyah. Aku bersama tiga orang temanku yang menginisiasi penerbitan buletin itu. Kami memberinya nama Newsletter Kejora.

Proses menulisku terus berlanjut dan menggila. Dari puisi kemudian merambah ke cerpen dan artikel. Saat di bangku aliyah, kegemaranku pada buku dan menulis benar-benar berada pada titik ekstase, mencapai puncaknya. Berulang kali, sajak-sajakku dimuat di Horison, bahkan tak tanggung-tanggung di halaman utama. Aku benar-benar bangga. Respons positif dan dukungan dari teman-teman komunitas serta sanggar seni di pondok berhamburan bak laron yang muncul ketika musim hujan tiba.

Semua ini hanya sebuah ujung dari lorong panjang. Aku tidak ingin selesai di sini. Aku ingin mencecap sebuah proses yang sebenarnya. Di sanalah perang itu, di mana ketika aku benar-benar sendiri berjuang melawan keberingasan hidup. Aku ingin melanjutkan mimpiku sebagai penulis di Jogja! Aku ingin tulisan-tulisanku memanggilku ke seantero dunia!

Kalimat-kalimat itu seperti lelatu tapi penuh dengan kilatan tajam. Kuucapkan kalimat-kalimat itu di depan teman-teman komunitas sanggar seni serta teman-teman kru Newsletter Kejora.

Ternyata betul. Perkataan yang sedikit heroik itu telah membawa langkahku ke Jogja pada tahun 2006, tepat tiga minggu sebelum gempa besar melanda Jogja pada 26 Mei 2006. Sebagai pendatang baru di Jogja, dengan hanya mengandalkan kenalan beberapa sahabat baik yang bersedia menampung, aku tertantang untuk segera menjelajah Jogja. Alamat para penulis dan tokoh-tokoh sastra sudah kukantongi. Ada Joni Ariadinata, Zainal Arifin Thoha, Agus Najib, Amin Abdullah, bahkan Amien Rais, dan beberapa nama penulis beken lainnya. Aku tidak tahu bagaimana cara menemui mereka. Namun yang pasti, banyak dari penulis-penulis hebat di Jogja sangat welcome dengan orang-orang baru dan jembel sepertiku. Karena, seperti diceritakan banyak temanku, penulis-penulis hebat itu awalnya senasib sepertiku. Hanya bermodalkan semangat, tekad, dan kemampuan menulis.

Jogja adalah kota yang sangat cocok bagi penulis. Ya, aku berani mengatakan demikian karena denyut kreativitas menulis begitu gemerlap di Jogja. Buku-buku murah. Diskusi-diskusi terhampar luas dan gratis. Kajian-kajian dan seminar kelas nasional pun terbuka lebar. Komunitas-komunitas seni dan sastra tumbuh di semua sudut kota Jogja. Aku yang baru pertama kali sampai di Jogja, takjub dibuatnya.

Dengan sangat ajaib, karena jalan Allah, akhirnya aku bertemu seorang teman yang mengantarku ke sebuah komunitas menulis yang telah kukenal sejak masih di pondok pesantren. Komunitas Kutub, namanya. Dahsyatnya, salah seorang penulis yang aku kagumi, Zainal Arifin Thoha, ada dalam komunitas itu. Semakin mantaplah keyakinanku untuk belajar menulis dan mengembangkan pengalamanku di sana. Pria  yang kupanggil Gus Zainal itu sangat welcome dan mempersilahkanku tinggal di pondoknya. Sayang, aku hanya bertemu dan belajar kepada beliau selama setahun, karena pada 14 Maret 2007 beliau dipanggil kembali ke Rumah Allah dalam usia yang masih muda, tiga puluh lima tahun.

Di Komunitas Kutub, aku benar-benar menggila belajar menjadi penulis. Tahun  2007 hingga 2009 adalah fase di mana aku benar-benar fokus dengan dunia menulis. Karya-karya tulisanku, seperti artikel, esai, timbangan buku, dan puisi nyaris tak bisa dibendung. Mengucur begitu saja menyaingi napasku.

Atas dorongan Gus Zainal dan teman-teman di Komunitas Kutub, aku memberanikan diri untuk mendaftar kuliah. Kala itu, aku tidak mempunyai bayangan mendapatkan uang dari mana. Uang sango[5] dari hasil Ibu menjual ternaknya senilai sejuta rupiah sudah kupakai sebagian untuk makan di Jogja. Sisanya hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah. Dan, sisa uang itulah yang kupakai untuk biaya pendaftaran kuliah.

Akhirnya aku diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ketika registrasi pertama yang mengharuskan mahasiswa membayar uang sebesar satu setengah juta rupiah, aku pusing sejuta keliling, bukan hanya tujuh keliling. Beruntung ketika aku meminta kelonggaran kepada pihak kampus, aku diperbolehkan mencicil dua kali. Pembayaran pertama, aku meminjam uang dari teman-teman yang kukenal di Pare, Kediri, yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jogja. Uang pinjaman itu harus kukembalikan dengan cepat. Semangat ini pulalah yang membuatku memutuskan untuk total menulis.

Di Jogja, tantangan hidup benar-benar terasa, dan aku seperti berperang di sana. Jarak kampus dari tempat tinggalku cukup jauh. Delapan belas kilometer. Aku tinggal di daerah Krapyak, sementara kampusku yang sebenarnya berada di sekitar Timoho, karena terhantam gempa, harus meminjam gedung di daerah Bandara Adisucipto, Maguwoharjo. Jarak yang memakan waktu hingga satu jam perjalanan itu harus kutempuh dengan sepeda ontel. Inilah yang kusebut sebagai “perang”. Di atas sadel sepeda, aku berperang dengan egoku sendiri. Berperang dengan rasa malu. Berperang dengan semua kemalasan. Dan, berperang dengan semua tetek-bengek keakuan yang melenakan. Pesan Gus Zainal kepadaku agar tampil tanpa pencitraan, “Tahi kucing dengan gengsi, tahi kucing dengan malu,” begitu menusukku. Maka, kuderapkan langkah sekuat-kuatnya untuk melawan semua jenis ketakutan dan keterbatasan. Dan ternyata, aku memenangkannya.

Ada kenangan indah yang tak akan pernah kulupakan. Sore itu, aku harus cepat pulang ke Krapyak karena di sana ada diskusi sastra yang harus kuikuti. Namun, aku harus menghentikan kayuhan sepedaku karena hujan tiba-tiba datang. Perlahan, kutuntun sepedaku ke sebuah pohon yang teduh lalu kusandarkan di sana. Kemudian, aku menepi ke sebuah teras kecil. Semacam emperan toko yang sepertinya baru saja ditutup menjelang senja. Di bawah cahaya bohlam ber-watt kecil, kulanjutkan membaca buku-buku yang selalu menyandingi perjalananku hari-hari itu. Waktu itu, aku membaca novel karya peraih Nobel Sastra, Orhan Pamuk, berjudul My name is Red tepat di tengah rintik hujan.

Dan, aku begitu terkejut manakala membuka penanda halaman novel yang ternyata terselip pada bab sepuluh dengan judul “Aku adalah Sebatang Pohon”. Kalimat pertama dan kedua seperti menyergapku begitu dalam, “Aku adalah sebatang pohon dan aku merasa agak kesepian. Aku menangis di tengah hujan.” Tapi tidak, aku tidak menangis waktu itu. Aku hanya tersayat dengan untaian kalimat demi kalimat magis dari tangan novelis ulung asal Turki itu. Saat itu, aku begitu merasakan bahwa berjuang menjadi penulis setali tiga uang dengan berjuang menjadi pembaca yang tekun.

Tahun 2007 hingga 2009, tulisan-tulisanku dimuat di hampir semua media massa di Indonesia, mulai dari Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Suara Karya, Suara Pembaruan, Investor Daily, Kontan, Bisnis Indonesia, hingga Kompas. Di luar Jawa pun, tulisan-tulisanku tayang di Bali Post, Bangka Pos, Serambi, Batam Post, dan Lampung Post. Semua bentuk tulisan kusambangi, mulai dari puisi, cerpen, resensi buku, esai, hingga artikel. Berbagai penghargaan lomba kepenulisan tingkat regional dan nasional kusabet satu per satu.

Aku telah menjadi pemenang!

Akhirnya akan kukatakan dengan lantang bahwa tulisan-tulisanku telah memanggilku ke mana-mana: Sumatra Barat, Jakarta, Semarang, Purwokerto, Australia, bahkan Amerika Serikat.


                                                                           ***
“Iya, Pak. Saya menulis karena saya menyukai dunia tulis-menulis dan membaca. Saya menulis karena saya juga ingin bertahan hidup!”
“Berarti kamu kuliah dan hidup di Jogja berjuang sendiri dengan tulisan?”
“Betul, Pak. Saya ada di Jogja dan kuliah hingga semester enam adalah karena perjuangan saya sendiri.”
“Luar biasa. Kamu sudah membuktikannya. Saya juga kagum dengan kegiatan-kegiatan organisasi yang kamu ikuti selama ini. Selamat berkarya!”

Sosok berkacamata dengan rambut cepak berusia sekitar kepala lima itu menutup sesi wawancara dengan mengepalkan tangan dan menjabat erat tanganku. Seperti ada sebuah harapan kuat yang disematkan dalam jabatan tangan itu. Ya, aku merasakan semangat itu.

Setelah sesi wawancara usai, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa. Semuanya kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa yang telah mengatur segalanya. Yang penting aku sudah berusaha maksimal. Aku harus bersabar menunggu sekitar tiga minggu untuk mengetahui hasil akhir wawancara. Alhamdulillah, ternyata aku lolos dan diterima sebagai grantee[6] IELSP Cohort 7.

Hal lain yang tidak bisa kulupakan sebagai penegasan tentang the power of writing adalah ketika ada seorang teman, former alumni program yang sama, menanyakan tentang tulisan-tulisanku. Aku cukup terkejut waktu ittu, bagaimana dia tahu kalau aku suka menulis? Selang beberapa hari, aku bertemu kembali dengannya dan dia bercerita kalau Mbak Ama, kordinator program IELSP Cohort 7, sempat bertanya tentang diriku dan menyebutku sebagai penulis.

Jrenggg … tiba-tiba aku jadi ingat tentang aplikasi yang kukirimkan untuk program IELSP. Aku ingat kalau aplikasi yang kukirimkan sangat tebal, sekitar tiga ratus halaman. Dalam aplikasi itu, kulampirkan fotokopi sertifikat yang berjumlah sekitar lima puluhan lembar, tulisanku sendiri yang berjumlah sekitar dua ratus halaman lebih, dan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Mungkin, aplikasi itu memecahkan rekor sebagai aplikasi paling tebal sepanjang sejarah IELSP.

Saat ini, aku ingin meyakinkan diriku sendiri dan teman-teman bahwa karya tulis dapat diandalakan dalam sebuah seleksi ataupun kompetisi beasiswa seperti IELSP. Selamat menulis, teman![]


Alumni IELSP Cohort 7,
University of South Carolina, 2010.




[1] Tempat di mana tembakau rajangan didadar sebelum dijemur. Bidik terbuat dari potongan bamboo dengan ukuran sekitar satu kali empat meter.
[2] Nama untuk sebuah pekerjaan, yaitu meletakkan atau mendadar daun tembakau yang sudah dirajang di atas bidik dengan tipis dan rapi.
[3] Madura: Kenapa, Nak?
[4] Madura: panggilan untuk seorang adik atau anak yang usianya lebih muda.
[5] Madura: saku, bekal.
[6] Penerima beasiswa, siswa tugas belajar.

Sunday, September 11, 2016

Teks Sastra Hudan

(Mas Hudan, semoga engkau menemukan blog sudut kecil ini. Saya menuliskannya setelah kita sempat ketemu di Komunitas KUTUB, diskusi, nyracau, gila, dan asyik. Setelah itu kau meninggalkan satu buku berjudul Nabi Tanpa Wahyu, suatu himpunan esai yang telah membuat engkau menjadi buah bibir orang-orang, menjadi kontroversi. Saya bersyukur di kancah kesusastraan Indonesia mempunyai sosok yang ‘licin’ dan ‘blur’ sepertimu. Ini adalah awal bagi suatu proyek masa depan sastra yang sebenarnya [?])

Teks adalah segalanya dan di luar teks tidak ada apa-apa. Itulah ungkapan ekstrem yang sempat terlempar dari sosok cair Hudan Hidayat. Adagium ini pula yang telah menjadi polemik sengit sepanjang paruh tahun 2007. Labih lanjut Hudan menandaskan bahwa nilai apapun tidak dapat menghalangi kebebasan berekspresi. Rupanya, filosofi dan komitmen terhadap konstruksi sebuah teks telah menjadi jalan hidup Hudan dalam menapaki jalan panjang kesusastraan Indonesia. Hingga sekarang, terutama dalam esai-esainya, Hudan tetap meneriakkan pembebasan teks sastra dari klaim dan kepentingan parsial-artifisial-komunal yang telah ikut campur membatasi dan melumpuhkan perkembangan kesusastraan kita ke depan. Teks dalam karya sastra tak ubahnya sebuah ’wahyu’ yang menuntut multitafsir dan bergantung kepada siapa saja yang membacanya.

Setelah meredanya polemik sengit yang sempat “membakar jenggot“ banyak tokoh sastrawan senior terutama Taufiq Ismail, Hudan kembali datang dengan jurus dan ajian-ajian yang lebih sempurna ditatal dalam bentuk kitab. Ia kembali datang dengan setumpuk maskot, sebuah buku kumpulan esai berjudul Nabi Tanpa Wahyu, yang semakin melengkapkan ide-ide cemerlang Hudan yang tercecer. Buku esai ini makin mengokohkan Hudan sebagai sosok tegar yang terus menyiarkan kebebesan menulis dan menafsir teks karya sastra yang disinyalir sebagai teks wakyu itu.

Hadirnya seorang Hudan bagi pentas kesusastraan Indonesia merupakan anugerah yang luar biasa. Hudan datang setelah menjalani berbagai proses dalam kesenian yang ‘berdarah-darah’ dan menawarkan penemuan dari balik pengembaraan panjangnya itu. Hudan menyadari sebelumnya akan nasib kesusastraan kita yang sedang mengalami sakit komplikatif. Dari kondisi carut-marut itulah Hudan bangkit dan membidani dunia kesusastraan dengan intens sehingga melahirkan karya novel yang jauh berbeda dari para pendahulunya, yaitu Tuan dan Nona Kosong yang ditulis bersama Mariana Amiruddin. Novel ini hingga sekarang masih menjadi ‘terdakwa’. Di samping itu, kumpulan dua cerpennya juga ikut menyertainya Orang Sakit dan Lelaki Ikan dan memastika sosok Hudan bukan hanya sekedar menebar omong kosong, seperti banyak dituduhkan oleh para pengkritiknya.

Bagi Hudan, kesusastraan adalah upaya membuat lubang atau terowongan, upaya merekonstruksi dunia. Ia adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan Semesta, juga dengan dirinya sendiri. Terowongan ini membuat dunia semacam pecahan yang tak utuh lagi. Sia-sia menampitkannya. Sebab dalam terowongan itu hadir bermacam lambang dan nilai-nilai (hal 141).

Benar adanya jika sosok Hudan bukan hanya liar-frontal dalam karya-karyanya berupa cerpen, novel dan esai-esai saja. Tetapi keliaran atau “kegilaan”, seperti disebut Nurel Javissyarqi dalam epilognya (hal 197), telah benar-benar hadir dan melekat pada sosok keseharian Hudan. Ia hidup mewakili karya-karya yang dihasilkannya itu. Jika mau diucap: Hudan bukanlah manusia munafik yang bersembunyi di balik karya sebagaimana dilakukan oleh penulis lain. Dia memperjuangkan apa yang telah dituliskannya!

Hudan telah menunjukkan bahwa hidup-dirinya adalah hasil sublimasi dari pergulatan panjang yang menyertai dalam pencaharian proses kepenulisannya, begitu juga yang terlahir lewat karya-karyanya yang sempat mencengangkan publik, terutama ketika lahir novel Tuan dan Nona Kosong. Novel ini, seperti dituturkan Hudan, adalah hasil puncak-klimaks dari masa inkubasi yang mendera Hudan selama kurang lebih 15 tahun yang memaksa memacetkan proses kepenulisannya karena dirinya dituntut harus menjalani lebih serius lagi proses kreatif yang tak berujung demi menemukan nilai kehidupan yang selama ini disamarkan dan dipasung oleh sebagian kelompok dan kepentingan. Dan hal itu pun telah dibuktikan dengan penuh semangat oleh Hudan lewat pemberontakan esai-esainya.

Dalam hal penciptaan karya sastra, Hudan ingin menghasilkan ciptaan yang berfungsi sebagai kenangan (hal. 43), demi kesinambungan proyek kemanusiaan yang sehat dan damai, melalui konstruksi memori dan ingatan. Tentu saja kenangan seperti itu berguna bagi manusia untuk menyempurnakan hidupnya. Itulah yang mendasari usaha Hudan dalam menangkap dan menafsirkan wahyu yang tanpa nabi itu.

Lebih fantastik lagi, dengan usaha serius yang hingga kini konfrontatif, Hudan ingin menuliskan apa saja tentang kehidupan dengan apa adanya. Ia hanya ingin menuliskan seperti apa yang menjadi iman rekan seperjuangannya, M. Fadjroel Rahman, bahwa “kita adalah warga negara bumi manusia dan negara hanya batasan hukum belaka, bukan batasan imajinasi, kreasi…” (hal 17). Maka tidak ayal jika kemudian dari tangan Hudan lahir karya sastra yang tidak biasa dan diklaim banyak orang sebagai “karya syahwat” (tentu terutama oleh Taufik Ismail!).

Kenyataan hidup demikian bagi sebagian orang dinilai sebagai tabu, jelek, dan cacat sehingga tak kurang dari Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—yang paling lihai mengeksplorasi bidang ini—mendapat serangan pedas dari masyarakat luas. Padahal, menuliskan cacat kehidupan adalah menghormati hidup itu sendiri (hal 69). Penalaran ini diakui memang aneh. Tetapi itulah karya sastra, karya yang bermain di ranah metafor dengan piranti bahasa dan simbol sebagai perangkat urgen yang memungkinkan munculnya ambivalensi, multitafsir, dan ambiguitas. Sementara penciptanya (sastrawan) maupun pembacanya (publik) berhak menjadi seorang “nabi” yang bebas menafsirkannya.

Sekarang yang perlu dihadirkan dalam pembacaan karya sastra adalah bagaimana ia dikembalikan kepada hakikat awalnya sebagai sebuah demensi penciptaan yang terbangun di atas papan humanisme. Manusia dan kemanusiaanya menjadi keniscayaan dalam karya sastra, dan perjalanan riwayat kesusastraan itu sendiri. Karya sastra tidak boleh dibawa kepada hal-hal kecil dan ekstrim seperti dilalukan oleh sebagian kelompok. Di sini kita harus berusaha bagaimana sastra dikembalikan kepada konteks kemanusiaan yang universal itu.

Dari itu, Hudan akan selalu hadir menyertai setiap buku yang ada di tengah pembaca. Karena adagium “penulis mati ketika karyanya terbit ke publik” tidak berlaku bagi Hudan. Ia, seperti yang diteriakkannya sendiri, akan mengiringi karya-karya yang telah dilahirkannya. Karena karya, seperti mengutip perkataan Pram, adalah anak yang harus diasuh dan dijaga kesehatannya. Komitmen ini dilakukan Hudan selama 3 tahun dengan berkeliling hampir seantero Indonesia dengan membawa kumpulan cerpen terbitan awal ke tengah pembaca, terutama mahasiswa dan komunitas sastra.

Lebih jauh, buku ini akan menyajikan perspektif yang lebih luas tentang sastra yang diperjuangkan Hudan, terutama sejak setelah masa inkubasinya sekitar tahun 2002. Dalam konteks inilah kita perlu membaca tuntas perihal sosok Hudan dan karya-karyanya demi menghindari truth claim (klaim pembenaran) yang lahir dari tindakan parsial terhadap sebuah teks sastra. Karena bagaimapun, teks sastra adalah serupa wahyu yang tak selesai-selesai ditafsir bersama denyut kehidupan kemanusiaan kita sebagai penerus kenabian.

(Komunitas KUTUB, 2008)

Sunday, November 22, 2015

Surat Motivasi Aplikasi Program MEP-Australia

(Setelah ada beberapa teman ingin membaca surat mutivasi atau dokumen untuk kegiatan MEP (Muslim Exchange Program) yang saya ikuti tahun 2011 di Australia, saya berpikir file ini perlu diselamatkan sebelum hilang atau tertumpuk lapuk. Jika teman-teman merasa perlu membaca sebagai pengkayaan perspektif, dengan senang hati dipersilahkan. Semoga bermanfaat.)  

Sebagai pertimbangan mengapa saya melamar dan berminat program ini, secara komprehensif-kronologis, berikut saya ceritakan tentang “kegelisahan dan pergulatan” intelektual saya sejak pendidikan menengah pertama di pondok pesantren, perguruan tinggi, hingga aktivitas saat ini yang sedang saya geluti. Sejak saya belajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, saya mulai bersinggungan dengan beberapa komunitas diskusi tentang isu-isu keagamaan secara luas. Saya beruntung langsung terlibat dengan banyak organisasi bersama santri-santri senior yang bisa memberikan inspirasi dan sharing pengalaman yang akhirnya melecutkan kreativitas dan minat belajar saya.

Semasih duduk di Pondok Pesantren Annuqayah, periode MTs-MA, saya bisa menyebutkan beberapa organisasi, lingkaran diskusi, dan media penerbitan yang telah menjadi bagian dari proses panjang dalam pergulatan intelektual saya, seperti IKSAPATRA sebagai Seksi Pengembangan Intelektual, Koordinator Diskusi RADIAN ALMERSERY, Forum Malam Selasa, Koordinator Perkumpulan Santri-Penulis Annuqayah, dan menjadi Pimpinan Redaksi Mading ARENA, Pimpinan Umum Jurnal PENTAS, dan Staff Redaksi Majalah PERMAI di salah satu penerbitan LSM ternama di Madura, Jawa Timur, yaitu BIRO PENGABDIAN MASYARAKAT (BPM) PP. Annuqayah.

Di BPM-PPA ini, saya mulai bertemu dengan orang-orang dari luar “area” latar belakang saya. Mereka adalah dari kalangan pemerintahan, jaringan LSM nasional mauppun internasional, dan tamu-tamu penting yang sedang melakukan penelitian. Saya beberapa kali diutus mengikuti workshop dan pelatihan tentang isu-isu sosial dan lingkungan di luar Madura mewakili BPM-PPA. Di BPM pula, saya menemani dua volunteers dari Australia (Margaret Rolling dan John Rolling) yang mempunyai program mengajar Bahasa Inggris di pondok pesantren. Saya kerap bertukar pikiran bersama dua orang ini, dan mereka pula yang telah melecutkan semangat saya untuk terus belajar dan belajar. 

Selama proses tersebut, saya beruntung tetap bergelut dengan buku-buku bacaan dan menulis. Saya menjadi ketua dan pembina Perpustakaan Annuqayah dan Kepala Bidang Pengembangan Kepustakaan di BPM-PPA. Di bidang penerbitan, saya bersama teman menginisiasi penerbitan Buletin KEJORA di lingkungan pondok pesantren sebagai media yang mewadahi kreativitas santri. Kedekatan saya dengan buku dan kreativitas menulis akhirnya mengantarkan saya kepada banyak kesempatan. Sejak Madrasah Aliyah (sederajat SMA) saya sudah banyak memenangkan lomba karya tulis di tingkat kabupaten, dan tulisan-tulisan saya sudah mulai dimuat di media lokal ataupun nasional.

Tahun 2006 saya datang ke Yogyakarta untuk melanjutkan S1. Namun sebelum kuliah, saya harus dihadapkan dengan pembiayaan yang harus saya tanggung sendiri karena orang tua saya (tinggal Ibu sendiri) sudah tidak sanggup lagi membiayai. Saya harus bekerja serabutan dulu. Alhamdulilah saya bertemu dengan sosok kiai muda dan penulis produktif bernama (alm) K.H.A. Zainal Arifin Thaha. Saya diizinkan oleh beliau agar tinggal di gubuk sederhana bernama Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari. Di Yogyakarta, saya bisa lebih bebas lagi berkomunitas baik keseniaan, agama, filsafat, sosial, dsb. Di sini saya terlibat dengan banyak organisasi dan komunitas: pembina di Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Yogyakarta, koordinator Komunitas KUTUB, Koordinator Program Sastra di Tetaer ESKA UIN Sunan Kalijaga, salah satu Person in Charge Youth Program komunitas Peace Generation yang bekerja sama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, American Friends Services Committee (AFSC), Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dll. Kebersamaan saya dengan mereka telah membuka ruang toleransi, multikultural, dan solidaritas sosial antara umat beragama dengan latar belakang yang beragam. Di sini pula saya bisa ikut terlibat di berbagai seminar dan konferensi  nasioanal ataupun internasional.

Sejak di Yogyakarta saya sudah menemukan “mini Indonesia” yang merepresentasikan multikulturalisme dan pluralisme. Di sini saya bisa membuka pemikiran dan perspektif saya yang lebih inklusif melalui pertemuan dan terlibat secara langsung dengan orang-orang dari berbagai latar belakang baik agama, ras, etnis, dan bangsa. Semangat pluralisme ini telah menjadi landasan saya dalam praktik keberagamaan lebih lanjut ke depan. Kantong-kantong keberagamaan yang radikalis, ekstremis, fundemintalis, dan militan coba saya masuki demi membangun jembatan komunikasi dengan nilai-nilai Islam yang substantif dan holistik, mencari arah solusi terhadap praktik keberagamaan yang mereka jalani sejauh ini, untuk kehidupan manusia yang harmonis dan rahmatul lil ‘alamin. Spirit seperti ini telah menjadi bagian terpenting dalam proses kehidupan saya ke depan dengan komunitas yang saya gawangi, bersama orang-orang yang saya temui di setiap saat. Semua ini saya lakukan demi restorasi dan spirit kebangsaan yang secara prinsipil membutuhkan ruang-ruang diskursus yang beragam dan multikultur.

Keran pemahaman tentang multikultarilme dan spirit kebangsaan itu saya temukan secara lebih spesifik ketika bulan Juni-Juli 2010 saya mendapatkan beasiswa dari The Indonesian International Education Foundation (IIEF) dan US Embassy untuk belajar bahasa dan budaya ke Amerika Serikat. Saya tinggal di negara bagian South Carolina, belajar di University of South Carolina, bertemu dan berinteraksi dengan mahasiswa asing, mempresenitasikan budaya Indonesia. Arti keberagamaan dan kebangsaan saya semakin menemukan jawabannya secara holistik ketika saya banyak berkomunikasi dan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar bangsa di dunia.

Jika saya terpilih dalam program ini, saya akan memanfaatkan pertemuan saya dengan berbagai pihak baik personal orang maupun lembaga-lembaga dan organisasi yang ada di Australia; saya akan sharing lebih dalam tentang pengelolaan organisasi dan penguatan jaringan dengan lembaga-lembaga luar. Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2011 ini tentu akan memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi saya untuk berbagi pemahaman dan praktik-praktik riil di lapangan dari pengalaman banyak orang maupun organisasi dari perspektif yang lebih luas.

Setelah terpilih dari program ini, saya akan berbagai pengalaman dengan memberikan suatu perspektif baru tentang organisasi maupun nilai-nilai pemahaman yang overseas sebagai landasan bagi pengembangan organisasi saya di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari dan organisasi lain yang sedang saya geluti. Program ini sangat membantu saya dalam proses transfer pengalaman dan transformasi pemahaman kepada lembaga dan komunitas masing-masing yang saya geluti sekarang. Proses interaksi dialogis yang lebih luas melalui program ini akan memberikan spirit dan nutrisi baru bagi keberlangsungan organisasi.

Masyarakat Indonesia yang saya rancang sebagai tujuan komunikasi dan gerakan setelah program ini adalah para pemuda (youth) karena mereka inilah yang akan meneruskan dan menentukan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Saya akan mengajak para pemuda untuk berbagi dan sharing pemahaman tentang keberagamaan masing-masing demi restorasi kebangsaan. Saya melakukan kunjungan ke organisasi dan lembaga-lembaga pemuda yang ada di Yogyakarta. Sebagai contoh adalah ketika saya dan komunitas Peace Generation melalui kegiatan DO.Ci.Reng (Dolanan Cerita Bareng) melakukan assessment terhadap anak-anak korban erupsi Merapi di Magelang ataupun kegiatan Peace Camp, semacam program immerse yang mempertemukan mini Indonesia dalam satu kegiatan. Saya menemukan banyak pelajaran di sini bahwa pemuda harus menjadi elan-vital yang harus dipupuk kreativitasnya demi masa depan Indonesia.

Jika saya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegaitan MEP kali ini, organisasi/personal yang ingin saya kunjungi:
1.   Chaaban Omar, dari FAMSY Federation of Australian Muslim Student & Youth.
2.   Chair and Administrator of the Australian Federation of Islamic Council
3.   Dr Samina Yasmeen, the University of Western Australia
4.   Fadi Rahman, Muslim Youth Leader, ICRA (Independent Centre of Research Australia)
5.  Professor Abdullah Saeed, Sultan of Oman and Chair of Arab & Islamic Studies and Director of the Centre for the Study of Contemporary Islam.
6.   Ahmed Youssef, President of the Islamic Centre of Canberra
7. Anna Halafoff, Inter-religious & Intercultural Relations– Asia Pacific and Global Terrorism Research Centre at Monash University.
8.   Silma Ihram, Founder & Principal, Noor Al Houda Islamic College.






Tuesday, February 24, 2015

Ziarah ke Museum of Innocence

Versi cetak esai ini dimuat di Jawa Pos edisi 22 Februari 2015

Versi cetak Jawa Pos
Suatu siang menjelang sore hari Jumat, 29 Agustus 2014, tepat 39 tahun setelah cerita cinta yang rapuh dan sintimentil ini mulai ditulis oleh Orhan Pamuk—yaitu seperempat menuju pukul 3 suatu sore hari Senin, 26 May 1975—dalam novel berjudul Museum Kepolosan, saya menjadi pengunjung ke-9.304 di sebuah museum yang mengabadikan kisah cinta dalam novel ini dengan merangkul novel Masumiyet Müzesi versi Turki di dada. Saya mengikuti anjuran Kemal Basmacı, tokoh protagonis, yang meminta kepada segenap pembaca agar senantiasa mendekap novel ini di dada masing-masing bila ingin berziarah ke tengah lokus ketulusan cinta yang menjelma menjadi simbol dan artefak dalam bentuk koleksi-koleksi di sebuah museum dengan nama yang sama: Museum of Innocence di Istanbul.

Friday, December 19, 2014

Prof. Alver’s Class: A Tea-Time Sharing

Prof. Alver
Having chosen an irresistible subject from numerous lists of my master courses at Sociology Department in Selcuk University, namely Sociology of Novel, I believed in myself that it would make easier for me in introduction toward Turkish academic fields. It dares me to face challenging of being master student in Turkey in which Turkish language is the first-intriguing step to be completed. Sociology of Novel, notably approaching sociology by literature perspective, will posit my on-going experiences in reading and examining literary works into more academically-addressed discourse in both as writer and reader.

Wednesday, November 12, 2014

İyiki Doğdun, Orhan!

Photo from digital Jawa Pos
Orhan, hari ini Engkau bisa menikmati imajinasi tanpa batas tentang tanah kelahiranmu sendiri: Istanbul, kota yang telah menempamu menjadi sosok manunggal dengan dunia imaji kota kelahiran; kota yang petanya Engkau simpan dalam ingatan; kota yang menenggelamkanmu dalam prosesi-prosesi kenangan, yang selalu Engkau rindui sebagai siluet melankolia—hüzün, katamu.

Orhan, Sabtu 7 Juni kemarin adalah ulang tahunmu ke-62, usia yang terbilang dangkal untuk mengukur kedalaman karya-karyamu. Aku pelan-pelan memasuki halaman ramahmu, rimbun kata yang ditempa riuh dan peta kota yang jauh, kota kelahiranmu sendiri.

Monday, October 06, 2014

Seni Budaya Nusantara pada 807 Tahun Usia Rumi

waiting for the falling leaves
Ketika September menyapa, bulan yang menandai musim gugur—saat di mana daun-daun beranjak menguning dan pasrah disangkut angin—, Konya bersiap menyambut momentum kehadiran: kelahiran sufi besar, Mevlana Jalaluddin Rumi. September adalah saat di mana Rumi seperti dilahirkan kembali, disapa ribuan manusia dari semua bangsa dan dirayakan dengan kehidmatan-kehidmatan ritual dan doa-doa. Bulan September yang dimitoskan oleh banyak peradaban (seperti perayaan Pabon oleh bangsa Pagan untuk berterima kasih kepada sinar matahari karena sebentar lagi gelap akan datang [impending dark], bangsa Aborigin menjadikan September sebagai momentum meramal astronomi, atau prosesi ritual bagi bangsa Yunani kuno karena dewi Persephone akan kembali ke suaminya Hades, di dunia durjana) terasa semakin mistis dengan kehadiran Rumi. Ia melengkapi mistisisme September!

Namun, tak lama setelah perayaan demi perayaan untuk hari kelahirannya, bulan Desember di awal musim dingin, Rumi kembali dihantarkan menuju singgasana Ilahi. Sebuah malam pengantin di mana ia dijemput oleh Allah.

Tuesday, July 01, 2014

Harga Waktu Malam Hari

Bulan puasa kali saya jalani di negeri orang, Turki, negeri yang mewarisi nama besar Ottoman dengan sebuah peradaban cemerlang dalam rentang abad 13 hingga awal akhir abad 19--sebuah imparator raksasa yang menjelang keruntuhannya diejek sebagai setumpuk "orang sakit dari Eropa". Iya saya menumpang hidup di situ, di negerinya Orhan Pamuk!

Ada satu hal yang cukup saya rasai di tengah kesendirian menikmati semburat cahaya sisa sore yang lamban, yaitu tentang malam, sebuah jeda waktu yang dalam banyak literatur sangat diistimewakan. Agama-agama memosisikan waktu malam hari sebagai sebuah keagungan, begitu juga bagi para pejalan ritual, tirakat, penyair, dan sebagainya. Malam menjadi misteri yang hanya bisa ditembus dengan kekuatan rasa dan moksa.

Kenangan Tentang Kota

(Suatu waktu di musim panas, sekitar awal bulan Juni 2013, sebelum saya mendapatkan kabar tentang diterima-tidaknya aplikasi beasiswa ke Turki, saya iseng menerjemahkan esai berikut dari versi bahasa Inggris yang ditulis oleh Orhan Pamuk (versi asli Bahasa Turki). Setelah tiba di Turki, merasai kultur dan mereguk sedikit pengalaman di tahun pertama, saya menemukan spirit esai Pamuk ini sebagai komplemen bagi dirinya yang berdiri tegak sebagai penulis yang independen--dalam artian membela nilai-nilai yang diyakininya di nyaris semua tulisannya. Saya temukan file ini terselip di folder dan langsung mengunggahnya di sini sebelum lenyap sama sekali.)

Sunday, March 02, 2014

Hati-Hati Plagiarisme!

(Versi cetak esai ini dimuat dı Jawa Pos 02/03/2014 sebagai tanggapan atas tulisan Abdul Waid di koran yang sama Jawa Pos 23/02/2014 di sini).

Plagiarisme: jauhi virusnya, jangan jauhi orangnya!”
@ih_plagiat

Minggu kemarin (Jawa Pos/23/2/2014) rubrik ini menurunkan sebuah ulasan tentang plagiarisme oleh Abdul Waid berjudul Antara Plagiat, Mengutip, dan Menyadur; membahas kasus plagiarisme yang menjerat Anggito Abimanyu, seorang akademisi dan sekaligus pejabat negara. Dengan konsentrasi membahas kasus plagiarisme Anggito, Waid terlihat lalai terhadap hal substansial tentang plagiarisme itu sendiri. Tulisan ini saya anggap perlu sebagai bahan bacaan lebih lanjut dengan memberikan penjelasan yang up to date kepada khalayak pembaca.

Thursday, February 20, 2014

Aile Toplumun Temelidi

Ben şimdi bu kompozisyonla bir aile konusunu anlatıyorum. Bu konu herkes için önemlidir çünkü o toplumun temelidir. Bir toplum aileden başlar. Aile toplumun küçük bir sosyal hayat gibidir. İlk eğitim ailede başlar. Çocuklar toplumda nasıl davranacaklarını, doğruları yanlışları ilk olarak ailesinde öğrenir. Bu yüzden ebeveynlere çok önemli işler düşmektedir.

Her insan farklıdır çünkü her insanın ailesi farklıdır: etnik, ırk, dil ve karakter. Mesela her Tömer’in öğrencisi kültür, karakter ve yetenekleri bakımından faklıdır. Onlar farklı aileden ve farklı ülkeden gelmiştir. Onlar farklı aileden yeni bir hayata gidiyorlar. Onlar burada hep beraber yeni bir toplum olacaklar. Ama karıştırmayın! Her sosyal hayatın toplumsal sözleşmesi ve anlaşması var. Onun ismine sosyal sistem diye biliriz. Bu sınıf da aile ve toplumu anlatmak için çok uygun.

Sosyolojide aile hakkında bir çalışma var yani Aile Sosyolojisi. Sosyolojiye göre etkileşim ve bağlantı çalışmak için küçük sosyal kurum gibi bir aile. Bir toplum sisteminde ailede vardır. Baba ve anne lider olacak ve çocuklarda halk olacak gibi. Buda gösteriyor ki sosyal hayatıda ailenin rolü çok önemli. Bir toplum barış istiyorsa bu aileden başlar.

Sunday, December 15, 2013

Kütüphane

Benim için en iyi mekan kütüphanedir. O insanların hayatı için çok faydalıdır. Teknolojiler, eğitimler, fenler ve uygarlık onun mükkemmel fonksiyonundan dolayı hızla gelişiyor. İslamın ortaçağ tarihlerinde, 8 yüzyıldan 13 yüzyıla Abbasiler Dönemi gibi, kütüphanelerde camiiler kadar özeldir. 

Bir bilgiyi aramak için ilk gittiği yer kütüphanedir. Ben bir şehirde ınsanları "Burada kütüphane nerededir?", dedim. Her zaman kütüphanelerde çok mutluyum.

Konya’da dersten sonra, yurda gitmeden önce, kütüphaneye gidiyorum. Karatay Üniversitesinin Kütüphanesine gittim. Ama orada kitaplar çok az. Selçuk Üniversitesinin Kütüphanesinde, Karatay ve Merkez Kütüphanelerindeki kitaplardan daha çok kitap var. Selçuk Üniversitesinin kütüphanesinde üçüncü katta sosyoloji kitapları çok var. Üçüncü katta bir oda sosyal bilimler kitapları hakkında. Derse girmez isem sık sık kütüphaneye uğruyorum. Bende onların üye kartı var. Gençlik Merkez’inde de kayıt yaptım çünkü orada bir kütüphane var.

Tuesday, December 10, 2013

Benim Adım Kar

This writing in Turkish --looking like in haste to appear-- is my first experience in touching snow ever in my life. Something strange happened when the time of snow-flurry was suddenly coming out of the window in which I sit at the studying room in Alaaddin Dormitory, Selcuklu, Konya, Turkey. Believe me that I never saw how it came down into earth and how it looked like to the people, strange person like me. I experienced a winter, yes I admitted it, when in one short-visit to Australia on June 2011. But snow was never and snow just comes on the peak of mountain on southern Aussie! So it's normal when it was coming and I felt weird of myself.

Sunday, October 27, 2013

Untuk Sumpah Pemuda

Waktu itu, suara mereka bergetar dari relung jiwa dan aorta yang terkepal; sumpah para pemuda dan pemudi yang ingin menyongsong masa depan bangsa dan negaranya bersatu-damai-tenteram dalam kebersamaan dan keberagaman; pemuda dan pemudi yang siap jadi tiang negara. Lihat bagaimana proses mereka sebelum mengumandangkan sumpah, mari cermati bagaimana, di saat sikap kesukuan sangat dominan, mereka terpanggil memahatkan sebuah janji kebersamaan di bawah suatu nama negara yang belum lahir. 

Tapi ruh suara mereka dari waktu ke waktu makin terdengar sumbang, ditekan pelan pada ruang-ruang pengap sebelum dikuburkan, dibiarkan menguap dibubul asap dari sana-sini, tak dihidupkan sebagai sebuah benang merah sejarah, selain hanya sebentuk seremonial-artifisial. Ya, seremonial tanpa penanaman nilai yang berkelanjutan--dan akhirnya sejarah besar sebagai tonggak kebhennikaan ini pun rapuh. 

Saat ini, kami tahu ada Sumpah Pemuda, tapi jangan tanya tentang nilai-nilai praktis yang dikandungnya, atau yang mesti dilakukannya. Selanjutnya, maafkan jika kami harus benar-benar mengingat Sumpah Pemuda hanya karena angka di kalender menunjuk 28 Oktober!

Monday, October 21, 2013

Duh, Rasa Sayange!


Menjelang Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2013 kemarın, saya mendapatkan sebuah hadiah yang secara spontan memaksa saya untuk segera terbangun dan menerawang tentang anggitan nasionalisme yang terkandung dalam hayat. Kejadian itu di akhir September, pada sebuah kelas internasional di mana saya bersama mahasiswa dari berbagai negara sedang belajar di kelas persiapan bahasa Turki di sebuah universitas swasta di kota Konya, Turkey.

Hari pertama akan menjadi wahana perkenalan bagi semua mahasiswa asing yang sedang berkumpul dalam satu kelas. Seperti yang diminta dosen, kami memperkenalkan nama, asal negara, tokoh kebanggaan dari negara masing-masing, termasuk lagu kebanggaan: boleh lagu kebangsaan ataupun lagu-lagu lain yang spesial bagi kami. Saya menyebut Soekarno sebagai tokoh kebanggaan dan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebanggaanç Begitu juga yang dilakukan oleh mayoritas mahasiswa yang berjumlah sekitar 25 orang. Mısalnya dari Afrika banyak menyebut nama Nelson Mandela sebagai tokoh kebanggaan mereka.

İlk Türkçe Kompozisyonum

Endonezya’dan beş arkadaşım ile geldim. Bir kız ve dört erkek var. Onlar farklı bölümlerden aynı üniversite’de yani Selçuk Üniversitesinde okuyorlar. Benim bölümüm Sosyoloji, sosyal bilimler seviyorum liseden beri. Benım araştırmam azınlık, barış sorunları, toplumsal değişim ve barış sağlayıcı. Genellikle barış süreçlerinin sorunları ve çözüm yollarını araştırmak istiyorum. Mümkünse Kürt toplumu hakkında araştıracağım. Türkiye’yi seçiyorum çünkü başkanı Erdoğan altında hükümetin geçiş çok görünür ve zorlu. Şimdi burada Kürt hakkındaki bilgiler Kürt arkadaşlarımdan toplamak istiyorum. Onlardan biri Berivan Koç, benim ılk Kürt arkadaşım. Hem de her zaman sosyal söylemler hakkında gazete ve kitaplar okurum ve bir gün makale ve hikaye yazarım.

Konya’da mutluyum çünkü burası sakin ve sessiz. Kolayca arkadaşlar yaparım. Sınıfta şanslıyım çünkü gerçekten iyi arkadaşlarım ki çok hızlı Türkce öğreniyorum. Oda’da benim Türkçe hocam. O ıyı Türkçe ve Inglizce biliyor. Onun adı Emre ve onun kuzeni. 

Bu bayram ben Türkçe çalıştımı çünkü tek başıma her şey yaparım. Bu bayramda Endonezyalı arkadaşlarım ile Sille’ye gittim. Daha önce sate, soto, rendang, sambal terasi, gulaı kambıng, tengkleng gibi Endonezya yemekleri pişirdik.