Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Friday, August 17, 2018

The Power of Writing

(Naskah tulisan ini merupakan ketik ulang dari buku Melipat Batas yang diterbitkan oleh Diva Press tahun 2013. Saya secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada adinda Arian Widda Faradis yang sudah mempersiapkan tulisan ini sehingga bisa saya unggah ulang ke blog, dengan harapan semoga sepenggal catatan ini bermanfaat bagi pembaca)


Deretan kursi pada sebuah teras di salah satu ruangan kampus Sanata Dharma terisi oleh beberapa mahasiswa yang sedang menunggu. Aku tidak datang terlambat, masih in time juga. Tapi, jelas kalah awal dari mereka yang tengah menyemut di situ. Kupastikan nama dan nomor ruangan, daftar nama interview yang menempel pada setiap pintu ruangan. Ya, namaku ada di sana: B.J. Sujibto.

Sambil menunggu giliran wawancara, aku menikmati suasana kampus yang sebelumnya tidak terlalu kukenal, selain gedung-gedung khusus seminar atau ruangan teater yang terkadang kudatangi di salah satu kampus terbaik dengan latar belakang agama Katolik di Indonesia itu. Sadhar, sebutan akrab Universitas Sanata Dharma, tidak terlalu jauh dari kampusku, UIN Sunan Kalijaga. Kalau diukur lurus, tidak sampai satu kilometer. Kendati demikian, tampak jarang mahasiswa UIN yang sengaja mengunjungi kampus Sadhar atau singgah di perpustakaannya.

Tak begitu lama menunggu, aku dipanggil lalu dipersilahkan masuk ke ruangan. Aku bersalaman dengan sesama orang yang sudah menunggu di dalam ruangan itu. Dia menanyakan nama, alamat, serta kehidupanku dengan bahasa Inggris, dan sesekali dicampur dengan bahasa Indonesia, bahasa kecintaanku tentunya. Proses wawancara itu terus mengalir begitu saja ke berbagai aspek kehidupanku. Karena sudah mengantongi CV-ku, tentu saja Pak Dosen yang mewawancaraiku itu begitu fasih membongkar hal-hal yang mungkin baginya dianggap unik dan distingtif dari diriku. Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan sepertinya sudah menjadi keharusan atau standar umum wawancara, sesuai yang perlu diulik dari semua peserta.
            
“Kamu suka menulis?”
“Batul, Pak.”
“Tulisanmu banyak sekali dan sudah banyak dimuat di media massa juga. Bahkan, sudah dimuat di Kompas juga ya?”
Aku mengangguk.
“Kamu juga sudah banyak memenangkan kompetisi menulis juga, ya?”
Aku meyakinkan lagi dengan sebuah anggukan.
“Bagaimana kamu bisa menulis?”

Deg! Ini pertanyaan tersulit. Karena, Pak Dosen menuntutku menelisik dan menekuri masa silamku yang cukup panjang. Aku harus membuka file-file masa lalu dengan seksama, suatu fase di mana aku bisa memulai segalanya dengan keyakinan dan perjuangan.
                                                                       
***
Sebuah bidik[1] terhampar di depanku. Paman, Kak Muhli, dan Ibu ada di sana. Saat itu, aku dan Kakak sedang aretret[2] rajangan tembakau untuk dikonsumsi sendiri di atas sebidak bidik. Kami biasa menamai tembakau yang khusus dibuat untuk rokok lintingan dengan “tembakau soteran”. Tembakau pilihan dari daun-dan tembakau yang sengaja dirawat secara khusus dari pohon-pohon terbaik.

“Ibu, aku mau berhenti dari pesantren.”
Arapa, cong?”[3]
“Memang, kemana rencanamu, le[4]?” celetuk kakakku.
“Ke Jogja. Tapi, sebelum itu, aku mau kursus bahasa Ingris dulu di Pare. Kalau sudah yakin dengan kemampuan bahasa Inggrisku, aku akan berangkat ke Jogja.”
“Ibu tidak punya kemampuan apa-apa lagi untuk membantu pembiayaanmu, Nak.”
“Ibu tidak perlu memikirkan uang. Aku hanya butuh izin dan doa dari Ibu. Selebihnya biar aku sendiri yang berjuang.”

Ibu, Kakak, dan Paman terdiam di teras rumahku. Mereka seperti menghela napas. Suasana musim panas di bulan Agustus-September memang membawa angin lembab dan berdebu. Terlebih September adalah puncak musim panas di kampung.

“Iya, lanjutkan saja kalau itu sudah menjadi kemauanmu.”  Paman di seberang pintu yang sedang duduk dengan baju kusam terbuka sedada menimpali.

“Jangan khawatir, Ibu. Aku akan bekerja apa saja demi mencapai cita-cita ini. Kalaupun aku tidak bisa kuliah karena betul-betul tidak punya uang, tidak apa-apa, aku menerimanya. Aku hanya ingin belajar dan menambah pengalaman di kota orang mumpung masih muda.”

Ibu menatapku. Matanya ibarat sebuah telaga bening yang selalu memancarkan semangat. Kedipannya seperti petir yang selalu membangkitkan darah juangku. Aku paham Ibu sangat berat melepasku pergi karena khawatir dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Akan tetapi, semangatku telah menutup semua kekhawatiran itu.

“Iya, Nak. Kalau itu sudah menjadi pilihan dan cita-citamu, silahkan. Ibu akan selalu setia mendoakanmu.”

Dalam semua keterbatasan, aku melangkah dengan penuh keyakinan meninggalkan kampung halaman. Tujuan pertamaku adalah belajar bahasa Inggris di Pare sebagai modal untuk berkompetisi di kota orang. Di Pare, ada paman sepupu dari Ibu, yang menjadi tutor dan punya lembaga kursus bahasa Inggris. Namanya Mr. Bakir. Sehingga, aku tidak terlalu repot untuk sekedar hidup dan belajar gratis di sana. Di samping itu, sepupu ibuku ini memang selalu mendukungku untuk belajar bahasa Inggris karena kemampuan bahasa Inggrisku sangat minim.

Aku sudah benar-benar menyongsong masa depanku sendiri. Aku yakin, akan ada jalan yang terbuka lebar untuk para pencari ilmu sepertiku. Risiko apa pun yang menghadang langkahku adalah cobaan yang harus kuhadapi. Semangat sudah membuncah di dadaku. Aku yakin bahwa siapa pun yang berjuang mencari ilmu di jalan Allah, pasti akan mendapatkan ilmu seluas samudra yang akan memberikan banyak manfaat. Dia tidak pernah tidur untuk memudahkan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang haus ilmu.

Aku tidak ingin melangkah dengan konyol, karena itu aku membutuhkan senjata untuk bertahan. Aku perlu mempersiapkan suatu kemampuan yang bisa kubanggakan sebagai bargaining position di hadapan orang lain. Aku sadar bahwa kemampuan menulisku bisa diandalkan dan aku dapat melanjutkan profesi sebagai penulis. Di samping itu, kemampuan bahasa Inggrisku juga bisa kupupuk lebih rajin lagi. Aku tidak tahu kelak bagaimana Tuhan membukakakn arah hidupku. Namun yang pasti, jalan sebagai penulis adalah satu-satunya yang bisa kubanggakan.

Menulis dan membaca adalah bagian dari masa kecilku. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah terbiasa membawa dan membaca buku-buku cerita petualangan yang ada di perpustakaan SD Inpres. Berlanjut ke pendidikan lebih tinggi di pondok pesantren, semangat membacaku semakin menggila. Kelas tiga MTs, aku sudah memulai menulis puisi dan cerita (sangat) pendek. Akhir kelas tiga, puisiku dimuat di rubrik “Cermin” majalah sastra Horison, lalu secara bergiliran di majalah Annida, Kuntum, dan Sahabat Pena.

Puisi pertama yang dimuat di majalah nasional dan bergengsi itu, untuk judul dan isinya, aku masih sangat hafal, bahkan sampai sekarang. Judulnya “Pelabuhan Raksa”, berisikan tentang  kisah cinta yang kandas di sebuah pelabuhan. Aku sangat menyukai puisi pertama itu. Tak ayal, majalah Horison edisi itu aku bawa ke mana-mana. Kulapisi majalah itu dengan isolasi bening agar tidak cepat rusak. Kusodorkan ke beberapa teman, baik di pondok, perpustakaan, maupun sekolah. Waktu itu, aku tidak tahu sama sekali arti publisitas. Tapi yang pasti, aku ingin mengatakan kepada semua temanku bahwa aku adalah penulis yang karyaku bisa dimuat di media masa yang dibaca oleh banyak orang. Titik !

Hasrat menulisku tumbuh menggebu. Di samping media-media kreativitas menulis yang ada di pondok, tempat di mana aku menghabiskan masa remaja, sangat banyak dan mendukung semua kegiatan jurnalistikku, aku sendiri mulai menggagas untuk menerbitkan sebuah newsletter pertama di pondok. Pondokku bersistem federal ─ seperti negara-negara bagian dalam pemerintahan Amerika atau Australia ─ yang berada di bawah satu yayasan bernama Annuqayah. Di bawah Annuqayah, tersebar beberapa daerah yang berlokus sebagai bagian-bagian kesatuan tapi dengan sistem berbeda. Ada yang dominan salaf, modern, semimodern, dan campuran. Pondokku bernama Daerah Nirmala. Biasanya orang-orang di luar pesantren mengenalnya dengan nama Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Nirmala. Dan, Alhamdulillah, newsletter yang kugagas bersama teman-teman akhirnya terbit juga saat aku duduk di kelas dua aliyah. Aku bersama tiga orang temanku yang menginisiasi penerbitan buletin itu. Kami memberinya nama Newsletter Kejora.

Proses menulisku terus berlanjut dan menggila. Dari puisi kemudian merambah ke cerpen dan artikel. Saat di bangku aliyah, kegemaranku pada buku dan menulis benar-benar berada pada titik ekstase, mencapai puncaknya. Berulang kali, sajak-sajakku dimuat di Horison, bahkan tak tanggung-tanggung di halaman utama. Aku benar-benar bangga. Respons positif dan dukungan dari teman-teman komunitas serta sanggar seni di pondok berhamburan bak laron yang muncul ketika musim hujan tiba.

Semua ini hanya sebuah ujung dari lorong panjang. Aku tidak ingin selesai di sini. Aku ingin mencecap sebuah proses yang sebenarnya. Di sanalah perang itu, di mana ketika aku benar-benar sendiri berjuang melawan keberingasan hidup. Aku ingin melanjutkan mimpiku sebagai penulis di Jogja! Aku ingin tulisan-tulisanku memanggilku ke seantero dunia!

Kalimat-kalimat itu seperti lelatu tapi penuh dengan kilatan tajam. Kuucapkan kalimat-kalimat itu di depan teman-teman komunitas sanggar seni serta teman-teman kru Newsletter Kejora.

Ternyata betul. Perkataan yang sedikit heroik itu telah membawa langkahku ke Jogja pada tahun 2006, tepat tiga minggu sebelum gempa besar melanda Jogja pada 26 Mei 2006. Sebagai pendatang baru di Jogja, dengan hanya mengandalkan kenalan beberapa sahabat baik yang bersedia menampung, aku tertantang untuk segera menjelajah Jogja. Alamat para penulis dan tokoh-tokoh sastra sudah kukantongi. Ada Joni Ariadinata, Zainal Arifin Thoha, Agus Najib, Amin Abdullah, bahkan Amien Rais, dan beberapa nama penulis beken lainnya. Aku tidak tahu bagaimana cara menemui mereka. Namun yang pasti, banyak dari penulis-penulis hebat di Jogja sangat welcome dengan orang-orang baru dan jembel sepertiku. Karena, seperti diceritakan banyak temanku, penulis-penulis hebat itu awalnya senasib sepertiku. Hanya bermodalkan semangat, tekad, dan kemampuan menulis.

Jogja adalah kota yang sangat cocok bagi penulis. Ya, aku berani mengatakan demikian karena denyut kreativitas menulis begitu gemerlap di Jogja. Buku-buku murah. Diskusi-diskusi terhampar luas dan gratis. Kajian-kajian dan seminar kelas nasional pun terbuka lebar. Komunitas-komunitas seni dan sastra tumbuh di semua sudut kota Jogja. Aku yang baru pertama kali sampai di Jogja, takjub dibuatnya.

Dengan sangat ajaib, karena jalan Allah, akhirnya aku bertemu seorang teman yang mengantarku ke sebuah komunitas menulis yang telah kukenal sejak masih di pondok pesantren. Komunitas Kutub, namanya. Dahsyatnya, salah seorang penulis yang aku kagumi, Zainal Arifin Thoha, ada dalam komunitas itu. Semakin mantaplah keyakinanku untuk belajar menulis dan mengembangkan pengalamanku di sana. Pria  yang kupanggil Gus Zainal itu sangat welcome dan mempersilahkanku tinggal di pondoknya. Sayang, aku hanya bertemu dan belajar kepada beliau selama setahun, karena pada 14 Maret 2007 beliau dipanggil kembali ke Rumah Allah dalam usia yang masih muda, tiga puluh lima tahun.

Di Komunitas Kutub, aku benar-benar menggila belajar menjadi penulis. Tahun  2007 hingga 2009 adalah fase di mana aku benar-benar fokus dengan dunia menulis. Karya-karya tulisanku, seperti artikel, esai, timbangan buku, dan puisi nyaris tak bisa dibendung. Mengucur begitu saja menyaingi napasku.

Atas dorongan Gus Zainal dan teman-teman di Komunitas Kutub, aku memberanikan diri untuk mendaftar kuliah. Kala itu, aku tidak mempunyai bayangan mendapatkan uang dari mana. Uang sango[5] dari hasil Ibu menjual ternaknya senilai sejuta rupiah sudah kupakai sebagian untuk makan di Jogja. Sisanya hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah. Dan, sisa uang itulah yang kupakai untuk biaya pendaftaran kuliah.

Akhirnya aku diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ketika registrasi pertama yang mengharuskan mahasiswa membayar uang sebesar satu setengah juta rupiah, aku pusing sejuta keliling, bukan hanya tujuh keliling. Beruntung ketika aku meminta kelonggaran kepada pihak kampus, aku diperbolehkan mencicil dua kali. Pembayaran pertama, aku meminjam uang dari teman-teman yang kukenal di Pare, Kediri, yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jogja. Uang pinjaman itu harus kukembalikan dengan cepat. Semangat ini pulalah yang membuatku memutuskan untuk total menulis.

Di Jogja, tantangan hidup benar-benar terasa, dan aku seperti berperang di sana. Jarak kampus dari tempat tinggalku cukup jauh. Delapan belas kilometer. Aku tinggal di daerah Krapyak, sementara kampusku yang sebenarnya berada di sekitar Timoho, karena terhantam gempa, harus meminjam gedung di daerah Bandara Adisucipto, Maguwoharjo. Jarak yang memakan waktu hingga satu jam perjalanan itu harus kutempuh dengan sepeda ontel. Inilah yang kusebut sebagai “perang”. Di atas sadel sepeda, aku berperang dengan egoku sendiri. Berperang dengan rasa malu. Berperang dengan semua kemalasan. Dan, berperang dengan semua tetek-bengek keakuan yang melenakan. Pesan Gus Zainal kepadaku agar tampil tanpa pencitraan, “Tahi kucing dengan gengsi, tahi kucing dengan malu,” begitu menusukku. Maka, kuderapkan langkah sekuat-kuatnya untuk melawan semua jenis ketakutan dan keterbatasan. Dan ternyata, aku memenangkannya.

Ada kenangan indah yang tak akan pernah kulupakan. Sore itu, aku harus cepat pulang ke Krapyak karena di sana ada diskusi sastra yang harus kuikuti. Namun, aku harus menghentikan kayuhan sepedaku karena hujan tiba-tiba datang. Perlahan, kutuntun sepedaku ke sebuah pohon yang teduh lalu kusandarkan di sana. Kemudian, aku menepi ke sebuah teras kecil. Semacam emperan toko yang sepertinya baru saja ditutup menjelang senja. Di bawah cahaya bohlam ber-watt kecil, kulanjutkan membaca buku-buku yang selalu menyandingi perjalananku hari-hari itu. Waktu itu, aku membaca novel karya peraih Nobel Sastra, Orhan Pamuk, berjudul My name is Red tepat di tengah rintik hujan.

Dan, aku begitu terkejut manakala membuka penanda halaman novel yang ternyata terselip pada bab sepuluh dengan judul “Aku adalah Sebatang Pohon”. Kalimat pertama dan kedua seperti menyergapku begitu dalam, “Aku adalah sebatang pohon dan aku merasa agak kesepian. Aku menangis di tengah hujan.” Tapi tidak, aku tidak menangis waktu itu. Aku hanya tersayat dengan untaian kalimat demi kalimat magis dari tangan novelis ulung asal Turki itu. Saat itu, aku begitu merasakan bahwa berjuang menjadi penulis setali tiga uang dengan berjuang menjadi pembaca yang tekun.

Tahun 2007 hingga 2009, tulisan-tulisanku dimuat di hampir semua media massa di Indonesia, mulai dari Kedaulatan Rakyat, Bernas, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Seputar Indonesia, Media Indonesia, Suara Karya, Suara Pembaruan, Investor Daily, Kontan, Bisnis Indonesia, hingga Kompas. Di luar Jawa pun, tulisan-tulisanku tayang di Bali Post, Bangka Pos, Serambi, Batam Post, dan Lampung Post. Semua bentuk tulisan kusambangi, mulai dari puisi, cerpen, resensi buku, esai, hingga artikel. Berbagai penghargaan lomba kepenulisan tingkat regional dan nasional kusabet satu per satu.

Aku telah menjadi pemenang!

Akhirnya akan kukatakan dengan lantang bahwa tulisan-tulisanku telah memanggilku ke mana-mana: Sumatra Barat, Jakarta, Semarang, Purwokerto, Australia, bahkan Amerika Serikat.


                                                                           ***
“Iya, Pak. Saya menulis karena saya menyukai dunia tulis-menulis dan membaca. Saya menulis karena saya juga ingin bertahan hidup!”
“Berarti kamu kuliah dan hidup di Jogja berjuang sendiri dengan tulisan?”
“Betul, Pak. Saya ada di Jogja dan kuliah hingga semester enam adalah karena perjuangan saya sendiri.”
“Luar biasa. Kamu sudah membuktikannya. Saya juga kagum dengan kegiatan-kegiatan organisasi yang kamu ikuti selama ini. Selamat berkarya!”

Sosok berkacamata dengan rambut cepak berusia sekitar kepala lima itu menutup sesi wawancara dengan mengepalkan tangan dan menjabat erat tanganku. Seperti ada sebuah harapan kuat yang disematkan dalam jabatan tangan itu. Ya, aku merasakan semangat itu.

Setelah sesi wawancara usai, yang bisa kulakukan hanyalah berdoa. Semuanya kuserahkan kepada Yang Maha Kuasa yang telah mengatur segalanya. Yang penting aku sudah berusaha maksimal. Aku harus bersabar menunggu sekitar tiga minggu untuk mengetahui hasil akhir wawancara. Alhamdulillah, ternyata aku lolos dan diterima sebagai grantee[6] IELSP Cohort 7.

Hal lain yang tidak bisa kulupakan sebagai penegasan tentang the power of writing adalah ketika ada seorang teman, former alumni program yang sama, menanyakan tentang tulisan-tulisanku. Aku cukup terkejut waktu ittu, bagaimana dia tahu kalau aku suka menulis? Selang beberapa hari, aku bertemu kembali dengannya dan dia bercerita kalau Mbak Ama, kordinator program IELSP Cohort 7, sempat bertanya tentang diriku dan menyebutku sebagai penulis.

Jrenggg … tiba-tiba aku jadi ingat tentang aplikasi yang kukirimkan untuk program IELSP. Aku ingat kalau aplikasi yang kukirimkan sangat tebal, sekitar tiga ratus halaman. Dalam aplikasi itu, kulampirkan fotokopi sertifikat yang berjumlah sekitar lima puluhan lembar, tulisanku sendiri yang berjumlah sekitar dua ratus halaman lebih, dan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Mungkin, aplikasi itu memecahkan rekor sebagai aplikasi paling tebal sepanjang sejarah IELSP.

Saat ini, aku ingin meyakinkan diriku sendiri dan teman-teman bahwa karya tulis dapat diandalakan dalam sebuah seleksi ataupun kompetisi beasiswa seperti IELSP. Selamat menulis, teman![]


Alumni IELSP Cohort 7,
University of South Carolina, 2010.




[1] Tempat di mana tembakau rajangan didadar sebelum dijemur. Bidik terbuat dari potongan bamboo dengan ukuran sekitar satu kali empat meter.
[2] Nama untuk sebuah pekerjaan, yaitu meletakkan atau mendadar daun tembakau yang sudah dirajang di atas bidik dengan tipis dan rapi.
[3] Madura: Kenapa, Nak?
[4] Madura: panggilan untuk seorang adik atau anak yang usianya lebih muda.
[5] Madura: saku, bekal.
[6] Penerima beasiswa, siswa tugas belajar.

Tuesday, April 04, 2017

Di Pengasingan

Kepada Ahmet Kaya

Kurasa
Matahari sudah tak terbit di sini
Di halaman rumahmu. Bulan terkapar
Dan cerita-cerita tak tuntas
Melempar tubuhmu jauh
Terkubur tanah orang-orang

Engkau terus menyapa ibu dan ayahmu
Di tengah ladang luas itu
Gandum ranum dan pancar menjalar
Biri-biri 2,3 tahun. Tomat, cabai dan
daun anggur segar

“Bukan kebab,” ujar ibumu

Tapi lapisan daun anggur pada roti basah
Dan daging hangat diseduh minyak zaitun
—rumah abadi masa kanakmu

Selamat pagi ibuku
Selamat pagi ayahku
Pagi kembali datang
Di rumah tak ada pagi
Di sana hari-hari tak hadir, bukan?*

Kurasa
Engkau memang tak pernah pergi
Kembali dalam bait-bait lagumu
Menemani kegetiran ketakutan
Ketika kematian lebih dekat
Dari seorang kekasih!

Kurasa
Engkau memang tak pernah mati!

2016

***
Sajak di atas diilhami oleh lagu perlawanan Ahmet Kaya (1959-2000) berjudul Dardayım (Aku di Pengasingan). Ahmet Kaya adalah salah satu seniman yang melawan kebijakan pemerintah Turki terhadap suku Kurdi. Karena ditentang keras dan ditolak di negerinya sendiri, ia menjadi eksil di Prancis sejak 1999 dan meninggal di negeri Napoleon itu.
Pancar: (Inggris: Sugar beet), sejenis tanaman berakar buah yang menjadi bahan utama gula di Turki dan negara-negara seperti Rusia dan Ukraina. 
* Penggalan lirik lagu Ahmet Kaya.

Monday, October 10, 2016

Kepada Adikku: Semakin Jauh, Hatiku Semakin Dekat

Selamat Ulang Tahun, Adikku Izza

Di kebun bareng adik-adikku...
Di tengah waktu terus mempersiapkan yang terbaik buat akhir studiku, rinduku kepada ibu, kamu dan keluarga sangat menggebu. Sesegera mungkin, ingin sangat aku ada di samping kalian, mendengarkan cerita dan pengalaman hidup selama ini kita berjauhan. Dan kamu sudah tumbuh dewasa, menjadi mahasiswi dengan beasiswa di salah satu Perguruan Tinggi terbaik. Semua ini adalah buah doa ibu, para guru dan perjuanganmu.

Aku menulis surat ini di tengah-tengah jeda di antara tumpukan buku untuk tesisku, di ruang perpustakaan kampusku. Perpustakaan, nama yang selalu akrab di antara kita, bukan? Di antara kakak kita dan saudara-saudara kita di rumah, perpus adalah warisan abadi. Karena keluarga kita tumbuh dari orang-orang yang suka membaca.

Adikku, aku tergerak harus menyelesaikan surat ini saat aku mendapatkan sebuah kabar tentang kejuaraan yang kamu menangi. Bukan soal kamu juara satu, dapat uang, lalu diucapkan selamat dan gempita di sekitarmu, atau apa-apa. Bukan. Senang, iya. Itu pasti dialami aku sebagai kakakmu. Tapi jauh ke depan, semua itu—kebahagiaan dan kesusahan di tengah perjalanan panjangmu ini—hanya ibarat penanda dan “catatan kaki” bagi lorong hidup yang kamu tempuh. Di situ, kamu harus diam, berefleksi, mengambil pelajaran dan bersyukur. Di tengah perjalananmu ada proses, ketekukan, kerja keras, istiqamah dan kesehajaan.

Adikku, tak ada batas untuk kreativitas. Allah memberikan kita akal, pikiran dan hati adalah agar kita berkarya buat agama, keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Kamu harus tetap semangat dan optimis. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum tegar, tumbuh jadi perempuan yang mempunyai prinsip dan memperjuangkan prinsipmu itu. Kamu mempunyai kemampuan, adikku. Kamu bebas mengembangkan keinginan dan cita-citamu untuk masa depanmu. Nikmati semua prosesmu dengan menyenangkan dan bersyukur kepada Allah. Karena semua itu adalah titipan dariNya.

Adikku, bekal ilmu dan pengetahuan yang kamu punya dari pesantren dan para kiai, jangalah sampai hilang. Kemampuan baca kitab kuning dan bahasa Arab tidak boleh luntur meski kamu belajar di jurusan umum. Seperti pernah aku bilang, kamu akan semakin hebat dan spesial di mata dosenmu dan teman-temanmu ketika kamu mampu menghadirkan referensi (bacaan) dari khazanah peradaban Islam klasik (bocoran: sangat-sangat sedikit dari dosen-doesenmu yang paham sumber-sumber dari kitab klasik). Sumber dan khazanah ilmu pengetahuan dari masa Nabi, masa-masa kejayaan Islam—khususnya yang sesuai dengan jurusanmu, tentang falsafah negara dan kewarganegaraan—sejak Abbasiyah hingga Ottoman ditambah kemampuanmu mengkomparasikan dengan sumber-sumber kontemporer berbahasa Inggris dari Barat akan membuatmu semakin kuat dan bukan “tong kosong”. Aku kakakmu ini yakin kamu akan lebih hebat dariku dan kakak-kakakmu yang lain. Terus asah dan kembangkan kemampuan dan bakatmu. Juga, harus dipegang: tetap tawadhu’.

Bagi orang macam kita, tumbuh dari keluarga pas-pasan dan miskin secara materi, tidak boleh merasa rendah diri. Kita diajarkan untuk tidak mundur atas prinsip dan kebenaran. Kita punya hati yang kaya, pikiran yang luas, keyakinan yang berlimpah dan kasih sayang yang tak terbatas. Kita tumbuh dari keluarga seperti itu, adikku. Insya Allah kamu akan memahaminya pelan-pelan.

Aku memang terbatas melihat perkembanganmu. Kamu kecil, aku di pesantren. Kamu remaja, aku di Jogja kuliah. Dan sampai kini aku semakin berjarak jauh dari keluarga. Aku pula yang memulai bagaimana cara memahami dan mengukur batas antar negara dan benua. Ternyata, semakin aku jauh, hatiku semakin dekat. Kalian di hati selamanya.

Adikku, tetap semangat, tersenyum selalu dan rendah hati ya. Kami menyayangimu, selalu...



Sunday, September 11, 2016

Teks Sastra Hudan

(Mas Hudan, semoga engkau menemukan blog sudut kecil ini. Saya menuliskannya setelah kita sempat ketemu di Komunitas KUTUB, diskusi, nyracau, gila, dan asyik. Setelah itu kau meninggalkan satu buku berjudul Nabi Tanpa Wahyu, suatu himpunan esai yang telah membuat engkau menjadi buah bibir orang-orang, menjadi kontroversi. Saya bersyukur di kancah kesusastraan Indonesia mempunyai sosok yang ‘licin’ dan ‘blur’ sepertimu. Ini adalah awal bagi suatu proyek masa depan sastra yang sebenarnya [?])

Teks adalah segalanya dan di luar teks tidak ada apa-apa. Itulah ungkapan ekstrem yang sempat terlempar dari sosok cair Hudan Hidayat. Adagium ini pula yang telah menjadi polemik sengit sepanjang paruh tahun 2007. Labih lanjut Hudan menandaskan bahwa nilai apapun tidak dapat menghalangi kebebasan berekspresi. Rupanya, filosofi dan komitmen terhadap konstruksi sebuah teks telah menjadi jalan hidup Hudan dalam menapaki jalan panjang kesusastraan Indonesia. Hingga sekarang, terutama dalam esai-esainya, Hudan tetap meneriakkan pembebasan teks sastra dari klaim dan kepentingan parsial-artifisial-komunal yang telah ikut campur membatasi dan melumpuhkan perkembangan kesusastraan kita ke depan. Teks dalam karya sastra tak ubahnya sebuah ’wahyu’ yang menuntut multitafsir dan bergantung kepada siapa saja yang membacanya.

Setelah meredanya polemik sengit yang sempat “membakar jenggot“ banyak tokoh sastrawan senior terutama Taufiq Ismail, Hudan kembali datang dengan jurus dan ajian-ajian yang lebih sempurna ditatal dalam bentuk kitab. Ia kembali datang dengan setumpuk maskot, sebuah buku kumpulan esai berjudul Nabi Tanpa Wahyu, yang semakin melengkapkan ide-ide cemerlang Hudan yang tercecer. Buku esai ini makin mengokohkan Hudan sebagai sosok tegar yang terus menyiarkan kebebesan menulis dan menafsir teks karya sastra yang disinyalir sebagai teks wakyu itu.

Hadirnya seorang Hudan bagi pentas kesusastraan Indonesia merupakan anugerah yang luar biasa. Hudan datang setelah menjalani berbagai proses dalam kesenian yang ‘berdarah-darah’ dan menawarkan penemuan dari balik pengembaraan panjangnya itu. Hudan menyadari sebelumnya akan nasib kesusastraan kita yang sedang mengalami sakit komplikatif. Dari kondisi carut-marut itulah Hudan bangkit dan membidani dunia kesusastraan dengan intens sehingga melahirkan karya novel yang jauh berbeda dari para pendahulunya, yaitu Tuan dan Nona Kosong yang ditulis bersama Mariana Amiruddin. Novel ini hingga sekarang masih menjadi ‘terdakwa’. Di samping itu, kumpulan dua cerpennya juga ikut menyertainya Orang Sakit dan Lelaki Ikan dan memastika sosok Hudan bukan hanya sekedar menebar omong kosong, seperti banyak dituduhkan oleh para pengkritiknya.

Bagi Hudan, kesusastraan adalah upaya membuat lubang atau terowongan, upaya merekonstruksi dunia. Ia adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan Semesta, juga dengan dirinya sendiri. Terowongan ini membuat dunia semacam pecahan yang tak utuh lagi. Sia-sia menampitkannya. Sebab dalam terowongan itu hadir bermacam lambang dan nilai-nilai (hal 141).

Benar adanya jika sosok Hudan bukan hanya liar-frontal dalam karya-karyanya berupa cerpen, novel dan esai-esai saja. Tetapi keliaran atau “kegilaan”, seperti disebut Nurel Javissyarqi dalam epilognya (hal 197), telah benar-benar hadir dan melekat pada sosok keseharian Hudan. Ia hidup mewakili karya-karya yang dihasilkannya itu. Jika mau diucap: Hudan bukanlah manusia munafik yang bersembunyi di balik karya sebagaimana dilakukan oleh penulis lain. Dia memperjuangkan apa yang telah dituliskannya!

Hudan telah menunjukkan bahwa hidup-dirinya adalah hasil sublimasi dari pergulatan panjang yang menyertai dalam pencaharian proses kepenulisannya, begitu juga yang terlahir lewat karya-karyanya yang sempat mencengangkan publik, terutama ketika lahir novel Tuan dan Nona Kosong. Novel ini, seperti dituturkan Hudan, adalah hasil puncak-klimaks dari masa inkubasi yang mendera Hudan selama kurang lebih 15 tahun yang memaksa memacetkan proses kepenulisannya karena dirinya dituntut harus menjalani lebih serius lagi proses kreatif yang tak berujung demi menemukan nilai kehidupan yang selama ini disamarkan dan dipasung oleh sebagian kelompok dan kepentingan. Dan hal itu pun telah dibuktikan dengan penuh semangat oleh Hudan lewat pemberontakan esai-esainya.

Dalam hal penciptaan karya sastra, Hudan ingin menghasilkan ciptaan yang berfungsi sebagai kenangan (hal. 43), demi kesinambungan proyek kemanusiaan yang sehat dan damai, melalui konstruksi memori dan ingatan. Tentu saja kenangan seperti itu berguna bagi manusia untuk menyempurnakan hidupnya. Itulah yang mendasari usaha Hudan dalam menangkap dan menafsirkan wahyu yang tanpa nabi itu.

Lebih fantastik lagi, dengan usaha serius yang hingga kini konfrontatif, Hudan ingin menuliskan apa saja tentang kehidupan dengan apa adanya. Ia hanya ingin menuliskan seperti apa yang menjadi iman rekan seperjuangannya, M. Fadjroel Rahman, bahwa “kita adalah warga negara bumi manusia dan negara hanya batasan hukum belaka, bukan batasan imajinasi, kreasi…” (hal 17). Maka tidak ayal jika kemudian dari tangan Hudan lahir karya sastra yang tidak biasa dan diklaim banyak orang sebagai “karya syahwat” (tentu terutama oleh Taufik Ismail!).

Kenyataan hidup demikian bagi sebagian orang dinilai sebagai tabu, jelek, dan cacat sehingga tak kurang dari Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—yang paling lihai mengeksplorasi bidang ini—mendapat serangan pedas dari masyarakat luas. Padahal, menuliskan cacat kehidupan adalah menghormati hidup itu sendiri (hal 69). Penalaran ini diakui memang aneh. Tetapi itulah karya sastra, karya yang bermain di ranah metafor dengan piranti bahasa dan simbol sebagai perangkat urgen yang memungkinkan munculnya ambivalensi, multitafsir, dan ambiguitas. Sementara penciptanya (sastrawan) maupun pembacanya (publik) berhak menjadi seorang “nabi” yang bebas menafsirkannya.

Sekarang yang perlu dihadirkan dalam pembacaan karya sastra adalah bagaimana ia dikembalikan kepada hakikat awalnya sebagai sebuah demensi penciptaan yang terbangun di atas papan humanisme. Manusia dan kemanusiaanya menjadi keniscayaan dalam karya sastra, dan perjalanan riwayat kesusastraan itu sendiri. Karya sastra tidak boleh dibawa kepada hal-hal kecil dan ekstrim seperti dilalukan oleh sebagian kelompok. Di sini kita harus berusaha bagaimana sastra dikembalikan kepada konteks kemanusiaan yang universal itu.

Dari itu, Hudan akan selalu hadir menyertai setiap buku yang ada di tengah pembaca. Karena adagium “penulis mati ketika karyanya terbit ke publik” tidak berlaku bagi Hudan. Ia, seperti yang diteriakkannya sendiri, akan mengiringi karya-karya yang telah dilahirkannya. Karena karya, seperti mengutip perkataan Pram, adalah anak yang harus diasuh dan dijaga kesehatannya. Komitmen ini dilakukan Hudan selama 3 tahun dengan berkeliling hampir seantero Indonesia dengan membawa kumpulan cerpen terbitan awal ke tengah pembaca, terutama mahasiswa dan komunitas sastra.

Lebih jauh, buku ini akan menyajikan perspektif yang lebih luas tentang sastra yang diperjuangkan Hudan, terutama sejak setelah masa inkubasinya sekitar tahun 2002. Dalam konteks inilah kita perlu membaca tuntas perihal sosok Hudan dan karya-karyanya demi menghindari truth claim (klaim pembenaran) yang lahir dari tindakan parsial terhadap sebuah teks sastra. Karena bagaimapun, teks sastra adalah serupa wahyu yang tak selesai-selesai ditafsir bersama denyut kehidupan kemanusiaan kita sebagai penerus kenabian.

(Komunitas KUTUB, 2008)

Friday, August 12, 2016

Dicari Kejujuran Seorang Penulis

Harıan Analisa, Kamis, 19 Mei 2016
Oleh: Anthony Limtan
[Foto Harian Analisa]
Pekan lalu, media sosial maupun kumunitas penulis Harian Analisa  di facebook ‘ramai’ memperbincangkan seorang penulis yang berstatus mahasiswa melakukan plagiat dalam beberapa tulisannya, termasuk di rubrik Opini. 

Penulis berinisial HKH, bisa dikatakan pemula dan rajin mengirimkan berbagai buah pikirannya, soal politik, ekonomi dan masalah sosial lainnya. Dan namanya juga sering mencuat di berbagai media terbitan lokal.

Namun, seperti pepatah mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Seperti itulah nasib HKH yang namanya sempat mencuat di jajaran kaum intelek kampus dalam menyuguhkan buah pikirannya, kini berakhir dengan  sumpah serapah.

Kejadian seperti ini bukan hal baru lagi yang terjadi di bidang akademis maupun non akademis. Dalam dunia akademis, penjiplakan karya tulis, seperti makalah dan skripsi sudah jamak dilakukan. Kurangnya kesadaran etika dalam mengutip suatu pendapat, sebagian atau seluruhnya menyebabkan terjadinya plagiarisme di kalangan mahasiswa.

Ketika seorang plagiat diklarifikasi redaksi soal keaslian tulisannya, masih saja bisa berdalih dengan mengatakan bahwa dia hanya mengutipnya dari tulisan tertentu. Tapi, jelasnya sering  terjadi mengambil hampir seluruh tulisan milik orang lain dan tanpa menyebut sumbernya.

Di Harian Analisa, redaksi mengoleksi sejumlah nama yang telah dibubuhi tinta hitam. Itu artinya, kejadian ini bukan hal baru yang muncul ke permukaan. Seperti pernah diberitakan dalam media, mereka yang pernah melakukan plagiat bukan hanya mahasiswa tapi juga sudah merambah ke berbagai profesi disiplin ilmu, khususnya dunia akademik, seperti dosen, dekan, maupun orang yang memiliki gelar terhormat Doktor.

Informasi Teknologi

Pemicunya adalah internet. Perkembangan informasi teknologi yang progresif semakin memudahkan seseorang untuk melakukan pembajakan dan tindakan plagiarisme. Hanya dengan melakukan copy paste tulisan orang lain, ubah judul, ubah sedikit kalimat dalam paragraf, jadilah itu tulisan miliknya.  

Mudah sekali bukan ? Tapi berkat perkembangan teknologi yang dapat menelusuri originalitas sebuah tulisan, dan ribuan bahkan jutaan masyarakat pembaca sebagai juri, hal ini seharusnya membuat para plagiat berpikir ulang melakukan perbuatan tercela itu.

Berbagai masukan disampaikan pembaca ke redaksi, ada yang mengatakan, Analisa kecolongan sampai membiarkan seorang plagiat berkarya. Masukan yang lain, mengatakan, sebaiknya tulisan yang akan dimuat diuji dulu melalui sebuah website yang dapat memeriksa keaslian sebuah tulisan.

Kami sampaikan terima kasih atas semua masukan yang diberikan, tujuannya untuk mencegah terjadinya plagiarisme. Namun, kami sampaikan, bukan kami tidak tegas dalam hal plagiarisme bila tidak melakukan pengecekan kembali untuk setiap tulisan yang akan dimuat. Terlalu banyak hal yang lebih penting yang dapat kami kerjakan di meja redaksi daripada harus mencek satu persatu persatu keaslian sebuah tulisan. Ibarat belanja di super market, pengelola membiarkan pembeli mengambil sendiri  produk yang diinginkan tanpa harus dikuntit, diawasi agar tidak terjadi pencurian.

Namun bila konsumen kedapatan mencuri, tentu hukuman moralnya jauh lebih berat daripada sekadar mendapat sanksi fisik. 

Demikian juga plagiarisme. Bila selama ini nama seseorang itu begitu dikagumi karena buah pikiran yang dituangkan dalam tulisan begitu menarik perhatian. Namun ternyata tulisan itu adalah hasil plagiat, saya kira hukuman blacklist bagi penulis itu adalah hal biasa. Namun hal yang mampu meruntuhkan martabat seseorang itu justru hukuman sosial dari komunitas penulis, pembaca, lingkungan akademik. Kata orang, sanksinya biasalah itu, tapi malunya ini mau letak dimana?

Kesempatan seluas-luasnya yang diberikan Analisa untuk penulis pemula untuk menuangkan buah pikirnya, menjadi kado intimewa. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Bukan karena Harian ini kekurangan narasumber sehingga peluang ini diberikan juga kepada mahasiswa.Bukan!

Bisa saja Analisa membuat seleksi ketat seperti koran ternama nasional terbitan Jakarta hanya memberikan kesempatan pada para pakar berbagai disiplin ilmu, semisal dosen, praktisi hukum, pelaku bisnis dan berbabai strata profesi. Namun, terus terang, bila kebijakan ini kami terapkan, penulis pemula atau juga identik dengan mahasiswa akan kehilangan kesempatan belajar menjadi penulis handal.

Harian Analisa berkomitmen memberikan kesempatan itu bagi pemula tanpa mengedepankan status sosial yang dimiliki. Siapapun boleh berpendapat selagi apa yang dituliskan itu bermanfaat bagi banyak orang. Tentu redaksi memiliki kriteria tulisan yang diinginkan, semisal yang lagi hangat dibicarakan (up date).

Namun terlepas dari semua itu, hal yang paling penting adalah kejujuran diri seorang penulis. Kejujuran merupakan dasar untuk menegakkan kebenaran, termasuk menegakkan dan membangun kebenaran ilmiah.

Suatu kejujuran yang hakiki hanya diketahui secara pasti oleh dirinya sendiri, sedangkan orang lain hanya bisa mengetahui ekpresi dari kejujuran itu. Saya yakin, di antara kita pasti ada yang pernah melalukan plagiat, tapi karena takut akan Tuhan, masyarakat pembaca, hati nurani, maka perbuatan tercela itu tidak berlanjut.

Redaksi Analisa memberikan sanksi atas perbuatan plagiarisme, berupa mem-blacklist nama tersebut. Oleh karenanya, para penulis mari berani jujur pada diri sendiri. Jika karya Anda yang selama ini dikagumi pembaca namun pada akhirnya terkuak bahwasanya semua itu adalah palsu, tentu kekaguman itu akhirnya berbuah sumpah serapah.

Jika demikian, masihkah Anda mau melakukan plagiarisme?***


Menyingkap Plagiasi Tulisan di Koran

Harıan Analisa, Kamis, 19 Mei 2016
Oleh: Junaidi Khab

Pada tanggal 8 Mei 2016 bagi dunia literasi mungkin harus menjadi cambukan kembali atas kasus plagiasi oleh salah seorang penulis. Sebenarnya, hal ini bukan isu aktual. Kasus plagiasi sudah pernah terjadi jauh hari sebelumnya. Misalkan di koran nasional Kompas oleh salah satu dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta pada 2014. 

Namun, dengan bijak dosen UGM tersebut mengakui dan melakukan pengunduran dari status dosen UGM, karena hal itu mencoreng almamater. Kasus ini mungkin tidak menjadi jeweran bagi penulis lain. Sehingga, masih tetap ada penulis yang melakukan hal serupa di media massa.

Kejadian plagiasi kini terulang kembali di koran Harian Analisa Medan. Penulis dengan inisial HKH diklaim melakukan plagiasi tulisan milik Bernando J. Sujibto dengan judul “Perkara Prosa di Turki” dengan judul yang tak jauh berbeda. Bernando merupakan penulis asal Sumenep yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Selcuk University, Konya Turki. Sementara HKH merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang katanya ia mahasiswa sastra. Namun, tulisan yang dimuat di Harian Analisa pada Minggu, 8 Mei 2016 di dalamnya mengandung unsur plagiasi.
[Dari Situs Analisa]

Tulisan Bernando ini kali pertama tayang di media online kawakan basabasi.co Yogyakarta, pada 17 Maret 2016. Kemudian diposting secara pribadi di www.turkishspirits.org. Husnul dengan telaten menambal dan mengukir kalimat-kalimat asli dari tulisan Bernando. Judulnya cuma diganti satu kata, “Perkara” diubah menjadi “Masalah” dengan mengurai beberapa paragraf sebagai bumbu. Memang sedap dan enak untuk dinikmati oleh para pembaca. Namun, sebenarnya itu makanan milik orang lain yang diolah, lalu dimakan oleh publik tanpa mendapat ijin dari pemiliknya. Secara kaidah hukum Islam, publik telah menikmati hasil racikan hidangan otak yang haram.

Melihat kasus semacam ini memang sangat memalukan. Seseorang yang (dianggap) sudah dipercaya oleh media ternyata melakukan plagiasi. Terlebih menggunakan status perguruan tinggi yang tentunya bisa mencoreng almamaternya. Memang, ini kita akui sebagai kejahatan intelektual yang sulit dijangkau hukum negara. Tak ada undang-udang yang melindungi suatu karya tulis dengan sempurna, hanya setengah-setengah perlindungannya. Padahal, plagiasi merupakan kejahatan intelektual, yang secara tidak langsung membunuh peradaban yang telah kita bangun dengan baik melalui ilmu pengetahuan.

Namun, keuntungan masih berpihak pada HKH dengan mengikuti permintaan dari Bernando agar mengakui dan meminta maaf kepada publik. Hal itu dilakukan oleh HKH di dinding akun facebook Bernando dengan berterusterang bahwa ia telah melakukan plagiasi atas tulisan Bernando di basabasi.co. 
[Tulisan di Basabasi.co]

Dengan tangan terbuka, Bernando pun memberikan maaf dengan memberi peringatan kepada publik agar pelaku plagiasi yang meminta maaf jangan sampai dijauhi, tapi Bernando meminta agar menjauhi virus plagiasinya saja agar tidak menjangkit penulis-penulis yang lain. Sungguh mulia. Namun, entah pemberian maaf dari Harian Analisa, basabasi.co, universitas tempat HKH menempuh studi, dan pihak terkait lainnya. Hal itu ada dalam kebijakannya masing-masing untuk menyikapi kasus ini.

Bukan Salah Media

Melihat kasus plagiasi tulisan yang terbit di media (koran) dan lainnya, dalam hal ini masih ada dua pandangan. Pertama, publik mungkin akan memandang bahwa pihak yang bersalah itu penulis yang melakukan plagiasi. Kedua, pihak media yang telah ceroboh menerbitkan suatu tulisan tanpa melihat aspek-aspek tulisannya. Namun, publik tentunya sudah tahu dan cerdas untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Terlebih untuk menyalahkan publik memang sangat cerdas.

Dalam hal ini, saya menegaskan bahwa media (koran) yang memuat tulisan dari hasil plagiasi tidak serta-merta bisa disalahkan. Hal itu dengan alasan bahwa setiap media yang berupa koran atau lainnya sebelumnya tentu memberi ketentuan tentang tulisan yang boleh dikirim untuk dimuat. 

Salah satunya yang perlu diperhatikan yaitu tulisan harus asli, bukan hasil jiplakan atau plagiasi. Jika suatu hari ada tulisan yang dimuat, dan tulisan itu merupakan dari hasil plagiasi, pihak media tentu memiliki kebijakan tersendiri sebagai aturan yang ditentukan secara internal.

Mengingat kejadian kasus plagiasi tulisan yang masih terjadi di republik ini, media harus melakukan penyaringan secara ketat untuk menerbitkan suatu karya yang dikirim oleh publik. Memang, usaha ini sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan karena pihak redaktur tentunya tidak hanya menerima satu atau dua tulisan di dapur redaksi. Ada banyak tulisan yang harus dipilah dan dipilih untuk menjadi konsumsi publik. 
[Tulisan Plagiat versi Harian Analisa]
Namun, jika ada usaha yang dilakukan oleh redaktur media, kemungkinan besar kasus plagiasi di negeri ini sedikit-banyak bisa dikendalikan dengan segera memberikan peringatan dan sanksi kepada pelaku plagiasi. Usaha ini bukan serta-merta untuk mematikan kreatifitas para penulis yang melakukan plagiasi, tapi sebagai pelajaran kita semua.

Maka dari itu, menjadi seorang penulis harus benar-benar profesional dengan menggunakan daya kreatifitas sebaik dan semaksimal mungkin. Melakukan plagiasi hanya akan menanam benih-benih kejahatan dan malu kepada publik. 

Selain itu, juga bisa membunuh secara mental jika plagiasi yang dilakukan diketahui publik. Ia bisa merasa terkucilkan dari lingkungannya. Mari, jadi penulis yang benar-benar kreatif dengan menuliskan ide-gagasan inspiratif yang ada di otak kita! ***

Penulis adalah Akademisi, lulusan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumnus #Kampus Fiksi DIVA Press 2016


Saturday, April 09, 2016

Tujuh Cerita di Taman Tulip

Pesona Tulip di Alladdin Tepesi, Konya
/1/
Kita tengah memburu aroma keindahan, handai
taman bunga yang tumbuh di tanah redam badai
kenangan lusuh dan kecemasan yang mengintai 
di pundak kita merayap, menyusun sunyi sendiri
tapi lupa aku bagaimana cara tersenyum, handai
di tengah pesona yang kau bawa dari seberang
di tengah aroma yang dipanjat dari tebing Toros
di tengah gelak tawa yang dititipkan di saku celana
para pengungsi
di tengah taman tulip...

/2/
Ke tengah-tengah taman kita datang dengan segala warna
masing-masing, dari lorong rahasia bernama masa lalu
ia yang disembunyikan selalu bercerita lebih jujur, bukan?
pengap sengketa dan kehendak-kehendak yang runtuh
menikmati buah takdir pada setiap ruas warna
hitam legam atau putih bercahaya, kuning atau merah
tetapi di langit, kenapa warna tak pernah berubah? 
Bisik seseorang yang sekali-kali menatap langit

/3/
Di mata seorang pemuda perang terus berkobar
kuncup tulip adalah selongsong peluru yang menembus
dada sanak saudaranya. Ia merapal doa dan sungging naas
pada wajahnya yang menatap tanah kelahiran di selatan
suriah, nama kenangan keindahan yang teramat getas
jadi taman air mata dan darah. Ia tidak pernah lupa
lambaian ayahnya mengiringi mereka pergi mengungsi

/4/
Di mata seorang kakek warna-warni tulip adalah sekantong doa
tersimpan di sudut jiwanya. Dia mamanjatkannya untuk langit
siapa tahu langit menampung warna pelangi dari lapisan tulip
anak-cucunya terbang menjadi bidadari dan tak pernah mendengar
cerita-cerita maha luka dan pekik tangis kepala dihantam timah
di langit tumbuh tulip yang akarnya dibasuh hujan pagi hari

/5/
Di mata seorang gadis aroma tulip adalah sisa kecupan pacarnya
parfum pada kerah bajunya selalu ia ingat sebagai riwayat terakhir
untuk sebuah pengkhianatan, sebelum ia diperkosa demi bukti cinta
demi lelaki bertubuh singa sebelum ia pergi menyisakan gempita
di celah celana dalamnya

/6/
Di mata lelaki tambun tulip adalah luka
setumpuk puja-puji demi menjaga kemegahan
di atas jerit tangis. “Jangan pernah tersenyum
di balik kecantikan bunga ini. Di tanah Anatolia
aku melihat ribuan rakyat kelaparan saat tulip
tumbuh dan ditanam di tubuh kami. Ini kebesaran
bagi orang-orang tuli dan buta!” Ia lalu menjauh
meninggalkanku

/7/
Di mataku, mata yang kupinjam dari keramaian,
tulip adalah maha pesona, privilege tanpa batas
menghimpitku dalam aroma nyeri yang tragis!


Turki, 2014-2015

Catatan:
The Tulip Period (Tulip Era) atau: Lâle Devri (July 1718-September 1730) adalah periode penting dalam sejarah Ottoman, di mana tulip menjadi simbol bagi kepongahan para pembesar Ottoman!