Tuesday, October 09, 2007

Sekilas Guzzainal

Oleh Salman Rusydie, dikliping dari: sini



Bagi sebagian masyarakat Jogja, nama Zainal Arifin Thaha barangkali bukanlah sosok yang asing. Beliau adalah pribadi yang dekat dengan siapa saja, baik kalangan mahasiswa, tokoh organisasi, tokoh agama, sastrawan, para penulis dan tentu saja masyarakat pada umumnya. Mungkin karena kedekatannya dengan berbagai elemen itulah pada akhirnya Zainal Arifin Thaha juga dikenal sebagai sosok yang memiliki multiaktivitas seperti halnya akademisi, sastrawan, penulis buku, muballigh dan juga dosen. Dari sekian banyak aktivitas yang ia jalankan, ada beberapa peninggalan yang masih bisa kita lihat setelah kepergiannya tujuh tahun yang silam, antara lain berupa karya buku dan juga rintisan pesantren mahasiswa Hasyim Asy’arie.



Sebuah pesantren yang didirikan untuk menampung anak-anak muda yang memiliki keinginan tinggi untuk belajar namun terhalang oleh masalah biaya. Dalam hal intelektualitas dan kreativitas, Zainal Arifin Thaha terbilang cukup unik. Ia bisa mendeskripsikan pengetahuannya melalui berbagai bentuk karya seperti halnya artikel-opini, esai, cerpen, puisi dan juga buku-buku kecil berisi motivasi yang ia ramu dari pembacaannya terhadap kitab suci Al-Qur’an, Hadis dan juga kitab-kitab klasik yang biasa diajarkan di pesantren-pesantren pada umumnya.



Pesantren mahasiswa Hasyim Asy’arie sendiri pada akhirnya ia dedikasikan untuk menjadi sebuah wadah yang menampung dan membimbing para santrinya agar memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik. Bahkan beberapa karya diantara para santrinya sudah menghiasi media massa nasional. Sebut saja Muhammadun As, Akhmad Mukhlis Amrin, Mahwi Air Tawar, Bernando J Sujibto, yang karya-karya mereka sering dipublikasikan media bergengsi semisal Koran Kompas dan sebagainya.

Dari pesantren ini pula, lahir sebuah komunitas kepenulisan dengan nama Komunitas Kutub serta LKKY (Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta) Di samping menjadi pengasuh pesantren, dosen, penulis dan penceramah, Zainal Arifin Thaha juga dikenal sebagai seorang trainer yang kerap diminta untuk memberikan motivasi dan bimbingan dalam acara-acara pelatihan. Satu di antaranya adalah program psikoreligius dan religious class program yang biasa diadakan di sekolah-sekolah SMU dan perguruan tinggi menjelang ujian nasional.

Kepribadian Zainal Arifin Thaha yang ramah telah membuat siapa saja merasa nyaman berinteraksi dengannya. Bahkan tidak jarang ada masyarakat, atau sahabat-sahabatnya yang datang untuk mengadukan masalah pribadi dan meminta bantuan untuk mencarikan jalan keluarnya. Selain itu, wawasan keilmuannya yang luas berkat bacaan-bacaannya atas berbagai disiplin ilmu telah menjadikan Zainal Arifin Thaha sebagai pribadi yang terbuka kepada siapa saja dan dekat dengan siapa saja. Bahkan ia termasuk sosok yang sangat dekat dengan para kiai, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

Dan kini, tak terasa sejak tahun 2007 lalu, telah 6 tahun 3 bulan 18 hari, kita kehilangan sosok guru sekaligus sahabat yang sangat kita cintai. Ya, dialah Zainal Arifin Thaha, pendiri dan sekaligus pengasuh pertama Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari. Rasanya, memang baru kemarin kita bersama-sama dengannya. Sebuah kebersamaan, yang dibangun di atas ketulusan, pengorbanan dan dedikasi yang begitu tinggi. Dan kita, sebagai santri, atau siapapun saja yang pernah mengenal akrab kepribadiannya, menikmati betul ketulusannya itu. Sehingga kita, serta merta tak lekas percaya, tergeragap penuh tanda tanya, ketika pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2007 yang lalu, terdengar kabar bahwa Zainal Arifin Thaha yang kita kenal, ternyata telah meninggal.

Cukup beralasan, seandainya kita berharap, orang-orang seperi Zainal Arifin Thaha dapat hidup lebih lama bersama kita. Namun kekuasaan Allah, untuk memanggil kembali hamba-hamba-Nya, baik cepat atau lambat, sama sekali tak memerlukan alasan kita. Zainal Arifin Thaha boleh saja meninggal. Atau seperti dalam bait puisinya melemparkan bangkai badan dari bau semesta. Tetapi, sebagai sosok yang menghikmati betul kata Nabinya, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, ia telah memberi kita sebuah rumus hidup yang ia sendiri menyebutnya sebagai spiritualitas, intelektualitas, dan profesionalitas. Dengan semangat spiritualitas, Zainal Arifin Thaha seperti ingin berkata, “Berdzikir dan beribadahlah kalian agar dalam menjalani kehidupan, hati dan jiwamu menjati tenteram.” Dengan semangat intelektualitas beliau seperti ingin berkata, “Belajarlah yang tekun kalian agar dalam menjalani kehidupan, kalian tak didera bimbang dan salah jalan.” Serta dengan semangat profesionalitas beliau juga seperti ingin berkata, “Bersungguh-sungguhlah kalian dalam menjalankan keduanya, agar apa yang kalian upayakan memberikan hasil yang matang dan tak mengecewakan.” Memang hanya tiga rumus hidup itulah yang seringkali Zainal Arifin Thaha kemukakan. Suatu jumlah yang sangat sedikit bagi medan hidup yang begitu luas.

Tetapi, ia sendiri berujar bahwa “lebih baik bertindak walaupun sedikit daripada berangan-angan untuk berbuat banyak.” Itulah prinsip yang dipancangkan oleh sosok yang Joni Ariadinata menyebutnya sebagai presiden kuburan. Kini, setelah tujuh tahun kepergian Zainal Arifin Thaha, sebagai santri dan sahabatnya, kita berusaha mengumpulkan kembali, serakan-serakan nasehatnya, yang barangkali dapat kita utuhkan serakan itu dalam spirit kita, untuk terus berkreatifitas, untuk berjuang dan berkorban, baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Ya, itulah pelajaran inti, yang ditanamkan di pesantren mahasiswa Hasyim Asy’arie ini oleh beliau. Bahwa untuk menjadi orang yang sukses kita harus berusaha memberikan jalan kesuksesan bagi orang lain. Bahwa untuk menjadi orang yang berhasil kita harus memberikan kemudahan pada orang lain. Maka tak heran, jika pada akhirnya, Zainal Arifin Thaha mengambil keputusan yang berani, untuk mempersilahkan siapa saja menjadi santrinya secara gratis, menempati sebuah tempat yang ia sewa dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Zainal Arifin Thaha, telah mewaqafkan kesempatan hidupnya yang singkat itu, untuk benar-benar berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Dan seperti yang juga kita ketahui, bahwa Zainal Arifin Thaha yang kaya itu, telah meninggalkan gelimang hartanya, untuk hidup bersama dan mengajarkan ilmu agama bagi para santrinya yang miskin dan gembel. Membantu kesulitan santrinya yang jarang mandi dan korengan. Mengajari puisi para santrinya yang kurus dan seringkali hanya makan satu bungkus nasi angkringan. Menyesalkah beliau? Putus asakah beliau? Mungkin saja tidak. Dan itulah barangkali, yang menyebabkan Shihoo Sawai, seorang peneliti komunitas sastra asal Jepang, menyebut Zainal Arifin Thaha sebagai penerus Umbu Landu Paranggi. Sebagai santri atau juga sahabat Zainal Arifin Thaha, kami tidak tahu, apakah pantas beliau disebut-sebut sebagaimana kata Shihoo Sawai itu. Tetapi yang kami tahu adalah, bahwa Zainal Arifin Thaha adalah pribadi yang selalu berusaha menunjukkan kepeduliannya kepada orang lain. Selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Selalu berusaha membantu semampu yang ia bisa pada orang lain. Selebihnya, biarlah Allah sendiri yang memberikan penilaian. Terakhir kali, ada satu pesan penting yang juga seringkali Zainal Arifin Thaha kemukakan: “Bacalah semua buku. Jangan takut. Tuhan bersama orang-orang yang rajin membaca. Dan jangan anggap dirimu berhasil kalau belum memberikan manfaat bagi orang lain. Serta janganlah kalian meninggal sebelum melahirkan banyak karya.” Dan bagi kita, Zainal Arifin Thaha adalah seorang pembaca buku yang rajin. Beliau juga adalah sosok yang telah memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Serta beliau juga telah melahirkan banyak karya yang ditinggalkan. Karena itu, kita yang pernah akrab dengannya, berusaha memaklumi dan mengikhlaskan kepergiannya, sambil diam-diam berusaha meneladani sifat dan sikap hidupnya. Semoga! Amin

0 comments: