Thursday, June 30, 2011

Shepparton's Albanian Mosque, Suatu Senja

Chapter 1
Hamdy, Mbak Mila, Bje
Shepparton in solitude. Ya, Shepparton telah menyajikan kesunyian yang istimewa bagi saya, suatu lanskap khusus dengan pengalaman realita hidup rural (pinggiran) dengan atmosfir sederhana yang cukup mengesankan. Shepparton memberikan kesan begitu dalam bagi saya, tentang kesunyian sebuah countryside di Victoria, Australia. Dalam kunjungan saya ke tiga tempat—Melbourne, Canberra dan Sydney—adalah Shepparton yang memberikan warna berbeda. Apalagi ditemani oleh Mbak Mila Sudarsono (koordinator program dan sekaligus in charge selama di Shepparton dan Canberra) yang selalu menyediakan ruang eksploratif, keakraban yang hangat, kepada saya dan teman-teman yang berkunjung di sebuah rural area yang dicuplikkan kepada nama shahibul bait (first settler) pertama di Shepparton, yaitu Sherbourne Sheppard.

Di Shepparton saya bisa bertemu langsung dan mengobrol dengan suku-suku asli dari Aborigin (indigenous people). Bahasa Inggris khas rural Australia, dengan bentuk muiut yang seperti malas bicara dan bahkan seperti diseret-seret dengan pengucapan yang asing,  tersaji dalam percakapan kami.

Menurut saya, Shepparton adalah tujuan kunjungan dalam program MEP yang harus dilanjutkan ke depan. Meskipun hanya sehari dan semalam, kesan selama di sini menempati lubang tersendiri dalam hati. Peserta MEP yang belum sempat datang ke Shepparton mungkin akan berpikiran bahwa program ini hanya untuk komunitas Islam di daerah urban, di pusat kota besar seperti Melbourne atau Sydney yang konon sudah terbentuk komunitas keislamannya.
Masjid kecil, di sebuah persimpangan jalan

Namun, Shepparton bisa berbicara lain jika ditelisik lebih dalam tentang kondisi rill dan dinamika komunitas Muslim dan hubungannya dengan komunitas-komunitas lain agama. Saya belum bisa membayangkan bagaimana kondisi komunitas Islam di sana; bagaimana mereka mengelolanya; lalu kendala apa saja yang terjadi di tengah kehidupan rural seperti itu, di mana mata pencaharian masyarakat mayoritas adalah pertanian. Sekali lagi, sebagai pelengkap horizon pengalaman di Australia dari perspektif lain, Shepparton sungguh luar biasa!
Kesan itu akan saya ceritakan secara khusus di sini. Sekitar pukul 16.00 waktu setempat, saat matahari terbungkus sisik-sisik awan, kami sudah sampai pada sebuah masjid di Shapperton. Kami sengaja mencari masjid untuk shalat jama’ antara Dhuhur dan Asar. Moslem Mosque tertulis dengan kilatan cahaya seperti warna tembaga di atap-depan sebuah bangunan sebagai tanda nama. Dari luar suasana masjid sepi dan hanya kilatan cahaya bohlam kuning menyembul dari dalam masjid. Kami bergegas memasuki masjid, bertemu dengan orang Malaysia, Bangladesh, Kosovo, Albania, Maroko, Turki dan lain-lain. Mereka duduk, mengobrol, dan dzikir sambil lalu menunggu shalat Ashar berjamaah. Mereka menunggu jamaah lain yang masih di jalan (on the way) menuju masjid. 

Habis ambil wudhu, kami pamit untuk melaksanakan shalat duluan—tidak menunggu jamaah karena kami harus cepat-cepat check-in ke hotel untuk persiapan acara besok hari yang cukup padat. Badan kami memang sudah sangat kecapaian karena baru berkendara dengan mobil selama tiga jam dari kota Melbourne sepanjang jarak kurang-lebih 180 km. Satu dari mereka menganjurkan kami agar ikut berjamaah bersama mereka yang masih menunggu imam karena mereka baru ada seminar tentang Islam. Salah satu dari mereka menyilakan kami shalat duluan. Salah satu dari teman saya menjadi imam dan shalat Ashar di-jama’ takhir.
Saya ikut shalat sebagai makmum. Sementara mereka mulai ramai memasuki masjid, suara mereka agak crowded di telinga saya. Jujur, waktu itu saya antara mencoba khusuk dan tidak karena suara-suara cukup menyita telinga saya. Akhirnya, saya mendengar suatu obrolan tentang kami yang tengah melaksanakan shalat di bagian kiri masjid. Logat Inggris-Australia ala middle east begitu kuat, dan tentu dengan suara yang cukup meninggi di antara lingkaran obrolan mereka.

“Mereka datang ke sini, ya harus ikut berjemaah. Tidak bisa shalat dengan cara begini!” Ada suara yang cukup emosional di antara mereka.

Kami selesai shalat dua rakaat. Teman saya, Hamdy sebagai imam, langsung berdiri diikuti teman Rizka untuk melanjutkan shalat lagi. Tapi saya tetap duduk dan bilang: “Bang, kita harus ikut jamaah mereka! Mereka ngomongin kita. Bagaimana pun, kita harus ikut aturan mereka. Di sini kita orang asing! ”

“Ya, saya dengar. Gimana, kita kan sudah shalat ashar!” Dengan gaya yang easy going, Hamdy melanjutkan kalimatnya: “Ya, begilah umat Muslim yang hanya meributkan hal-hal kecil dan bukan esensial.” Saya tahu jika Bang Hamdy agak kecewa dengan gaya mereka.

Saya tetap duduk sehabis shalat dua rakaat sembari memperhatikan orang-orang di dalam masjid yang mulai ramai. Iqomah untuk shalat ashar berjamaah, dan kami akhirnya ikut shalat ashar berjamaah bersama mereka. 

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bagi saya, bahwa “lain lubuk lain pula ikannya” dan “lain ladang lain pula ilalangnya!” Saya sebagai pengunjung, orang baru di komunitas itu, tentu tidak bisa memaksakan cara, norma, dan etika saya sacara sepihak. Meskipun agama kami sebagai orang Muslim di masjid itu, tapi cara mengimplementasikan nilai-nilai keislaman itu yang berbeda, sesuai dengan konteks lokal dan kebudayaan sepetempat. Meskipun kita kerap mengklaim bahwa nilai agama sebagai nilai-nilai universal, tapi universalitas itu tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Ruang dan waktu telah mendefinisikan dan mengartikulasikan suatu nilai ke dalam bentuk perilaku yang riil dan konkrit dengan peran aktor dan pelaksana yang ada dalam setiap komunitasnya. Di sinilah misteri keberagaman, diversitas, dan heterogenitas.

Kita yang tidak bisa mengelola perbedaan akan berhadapan dengan potensi konflik yang tersimpan dalamnya. Friksi-friksi akan muncul dan menghadang proses dialog menuju kesepahaman. Dalam Islam sendiri kita mempunyai sekian banyak aliran dan organisasi-organisasi kemasyarakatan dimana semua itu mengklaim dirinya sebagai kelompok yang benar menurut perspektif mereka tentang Islam. Tak jarang segregasi ini memunculkan pertikaian antarkelompok Islam itu sendiri, seperti kelompok-kelompok keras dan radikal (extremist) yang kerap kali mengancam perdamaian dunia. Extremist Islam ini bukan hanya bermusuhan secara dengan umat agama lain, namun mereka menjadi rival antara umat Muslim sendiri. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan bukan lagi menjadi rahmat, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad, tapi malah menjadi bencana!

Jika umat Muslim sendiri belum bisa menjembatani dialog menuju cross-understanding di tengah pebedaan, Islam akan tertutup (mahjub) oleh umat Muslim sendiri, seperti dikatakan Muhammad Abduh. Saya belajar perbedaan dan merayakan perbedaaan sebagai khazanah identitas masing-masing yang mencita-cita perdamaian dan kesejahteraan di antara mereka. Sekarang masalah-masalah yang terjadi di masyarakat ataupun di dunia Islam justru banyak muncul di internal mereka sendiri. 

Terima kasih telah mengingatkan kami, sebagai pengunjung dari Indonesia, wahai saudara-saudara seiman di Masjid Albania di Shepparton.








Shepparton-Jogja, 19 dan 30 June 2011

2 comments:

Lia Suryanto Singowidjoyo said...

Tulis terus byan, pengalaman yang sangat berarti sebagai inspirasi....

with love,

Bernando J. Sujibto said...

makasih, byan. iya akan saya tulis sebisa mungkin :)