Tuesday, July 05, 2011

Sapi Australia, Rakyat Indonesia


diambil dari perjalanan Melbourne-Shepparton
(versi lain dari tulisan ini ada di Jurnal Nasional)

Dalam kunjungan saya selama dua minggu di Australia, ada yang benar-benar berbeda dan membikin saya berpikir lebih dalam lagi soal harga diri dan nilai tawar sebuah bangsa, dan tentu dengan peran negara yang menyanggah dan mewadahi martabat mereka di mata negara lain. Dalam konteks ini, saya benar-benar terhenyak mendengar dan menyaksikan sendiri kehebohan rakyat Australia terhadap kekejaman rumah pemotongan hewan (RPH) Indonesia terhadap sapi-sapi ekspor dari Negeri Kangguru itu.

Ada dua hal yang membikin saya tercengang dalam kasus kali ini. Pertama, demonstasi rakyat dan kemudian ditunjukkan oleh langkah kebijakan politik Australia yang tegas terhadap cara pemotongan hewan yang kejam di Indonesia; dan kedua, cara pemerintah Indonesia yang lamban dan bahkan tidak tahu-menahu jika ada salah seorang anak bangsa yang dipancung mati di tanah Saudi Arabia. Kasus ini menyeruak secara bersamaan—di media-media Australia tersiar santer soal sapi dan hak-haknya, sementara di Indonesia advokasi untuk Ruyati tidak berhasil menyelamatkannya—karena itu saya terhenyak pula secara bersamaan

Di Indonesia, kasus ini sepertinya bukan hal yang penting dan bahkan hilang-lenyap begitu saja; media tidak banyak mengekspos berita ini ke publik karena—mungkin untuk publik Indonesia—berita soal sapi masih kalah komersialnya sama kasus-kasus korupsi yang menyembulkan nama-nama seperti Nazaruddin dan Nunun Nurbaetie, sebagai sosok yang datang dan disuruh-pergi, terang dan digelapkan, terbongkar dan ditutupi—suatu cirikhas penanganan kasus korupsi sejauh ini (liha saja kasus Gayus Tambunan yang sekarang sepi peminatnya!).

Lain di Australia. Sejak saya datang ke Australia pada 10 Juni, headline utama di media-media massa Australia baik cetak maupun eloktronik dijejali oleh berita kekejaman dan penyiksaan terhadap sapi di Indonesia. Bahkan berita tentang kekejaman pemotongan sapi di Indonesia masih terus muncul hingga hari Sabtu (25/06) seperti dirilis oleh The Sydney Morning Herald. Harian yang terbit di Sydney ini melaporkan bahwa otoritas industri daging Australia sudah mengetahui ihwal kekerasan terhadap sapi potong di Indonesia sejak tahun lalu. Bagi Australia, masalah sapi menjadi suatu sikap politik tegas yang kemudian berjujung kepada penghentian sepihak impor sapi dari Australia. Hingga hari ini belum jelas kapan batas banning impor sapi Australia ke Indonesia sejak Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig menginstruksikan agar mengkaji ulang ekspor sapi potong ke Indonesia.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa posisi sapi sama pentingnya dengan hak-hak hidup rakyat di sana, atau sebaliknya, posisi rakyat Indonesia tidak jauh berbeda dengan sapi di Tanah Air ini. Ya, saya tidak mau mengatakan ini. Tapi yang saya tahu dari seorang teman in charge selama di Melbourne, Rowan Gould, bahwa negara Australia memang sangat menghargai hak-hak hewan (perikehewanan) dengan peraturan perundang-undangan yang ketat. Bahkan, tutur Rowan, jika kita melihat ada hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing atau kuda yang kurus (rangka tulang rusuknya kelihatan), kita dianjurkan agar melaporkan kepada penegak hukum, dan orang yang mempunyai ternak tersebut akan diproses secara hokum, dan bisa saja masuk pernjara!  

Masalah ini berawal dari program televisi 'Four Corners' ABC pada Senin (30/5/2011), dan berita ini bisa diunduh di jejering sosial Youtube. Dalam tayangan tersebut dimunculkan bagaimana sapi-sapi potong disiksa, matanya dicungkil, ditendang, kukunya dicopot dan pemotongan lehernya dilakukan secara brutal. Dalam tayangan yang berdurasi delapan menitan itu memang menunjukkan cara-cara pemotongan hewan yang tidak beradab, tidak sesuai cara-cara agama ataupun undang-undang yang sudah ada di Indonesia. Berdasarkan dokumen tersebut, Australia menghentikan secara sepihak pasokan sapi potong hidup untuk waktu yang tidak ditentukan.

Otokritik 

Bagi Indonesia, penghentian impor sapi dari Australia harus dijadikan bahan refleksi dan pelajaran penting tentang bagaimana semestinya kita bersikap meski kepada hewan sekali pun. Kita mengakui dan bangga sebagai negeri dengan kekayaan fauna dan flora, sumber daya alam yang berjibun, dan kekayaan-kekayaan peninggalam masa lalu yang besar. Namun kita tidak pernah bangga untuk menjaga, merawat, dan mengembangkannya menjadi suatu kekuatan dan andalan bagi masa depan bangsa. Pada mulanya masalah ini adalah soal etika bagaimana berperilaku kepada hewan secara wajar dan adil. Jika kemudian ada anggapan bahwa kasus ini sudah dimanfaatkan sebagai komoditas politik baik di Indonesia ataupun di Australia, itu adalah persoalan lain sebagai kepentingan-kepentingan sesaat.

Tradisi dan budaya lokal bangsa Indonesia, sebagai warisan luhur peradaban masa lalu, mengajarkan bagaimana kita mencintai dan memelihara hewan ternak, tanaman, dan makluk ciptaan Tuhan di lingkungan dimana kita hidup. Budaya kita melalui perilaku nenek moyang kita mengajarkan tidak ada kamus kekerasan dan pelecehan terhadap hewan dan tumbuhan misalnya. Karena sebagai anak bangsa yang hidup di tanah tropis dan negeri kepulauan, berbagai jenis hewan, ikan, tumbuhan, dan segala jenis ciptaan Tuhan lainnya akan tumbuh subur di sini. Kasus ini memberikan banyak pelajaran bagi kita bahwa hewan juga mempunyai hak dan perlakuan yang layak. Jika hewan saja sudah disiksa sedemikian rupa, bahkan dengan cara-cara yang sadis, bagaimana dengan sikap kita kepada orang lain. Tindakan kita kepada hewan setidaknya akan menjadi cermin tentang sikap dan tingkah laku kemanusiaan kita kepada orang lain.

Kita tidak bisa menafikan posisi Australia bahwa daging sapi dari Negeri Kanguru ini menguasai pasar pemasok sapi hampir 40% kebutuhan daging nasional, seperti pernah dilansir oleh Tempo Interaktif. Melihat angka ini, posisi Indonesia untuk swasembada daging sapi, seperti yang akhir-akhir ini kembali disuarakan, masih perlu dipersiapkan secara matang. Ini tentu akan menjadi masalah krusial bagi kita karena sikap ketergantungan kita kepada barang impor sangat besar.

Political Will

Bagi politik luar negeri Australia, pemberhentian ekspor daging sapi adalah bentuk sikap tegas yang bisa kita lihat. Australia berani kehilangan pansa pasar potensial seperti Indonesia hanya karena demi memperhatikan sikap politik mereka dalam setiap hal apapun. Mereka menunjukkan bahwa sikap politik yang tegas (political will) sangat diperlukan dalam kebijakan apapun, meskipun hanya terkait hal kecil. Ingat bahwa keberanian Australia dengan sikap tegas ini sudah menggelisahkan puluhan ribu para pekerja di sektor peternakan, yang menyebar dari lebih 60 industri daging sapi di Australia.

Meski begitu, Australia tetap hati-hati dan melakukan negosiasi yang serius dalam masalah hubungan luar negeri mereka. Persoalan kecil, jika begitu anggapan kita selama ini tentang kasus kekejaman terhadap sapi potong, bagi Australia adalah masalah serius yang mendasari hubungan dan nama baik yang mereka mainkan di kancah internasional. Australia punya keberanian dan kekuatan lewat kebijakan bilateralnya dengan memutus ekspor sapi ke Indonesia. Jelas sekali bahwa sikap politik tegas seperti ini akan meningkatkan popularitas bilateral dan sekaligus mengangkat martabat suatu bangsa di mata negara lain.

Negara-negara tujuan ekspor daging Australia secara nominal sungguh sangat fantastik dengan mencapai jumlah 132 negara, dan 70 negara di antaranya merupakan pasar daging halal. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor daging halal tersebut di dikawasan Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam. Sementara negara tujuan ekspor daging halal di kawasan Timur Tengah lain Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE). Jumlah yang fantastik ini tentu tidak mau dirugikan atau menurun pansa pasarnya hanya karena sikap dan penyiksaan sapi Australia. Kebijakan ekonomi progresif Australia menjadi pijakan utama mereka untuk menguatkan pasar sapi ke depan. Dan tentu saja simpati dunia juga tercurah kepada sikap politik Negeri Kangguru ini, yang secara tidak langsung akan memudahkan ekspansi pasar daging Australia di dunia internasional. 

Australia sudah menunjukkan sikap politik bilateral yang sangat tegas kepada kita. Sikap politik seperti itu adalah pelajaran yang sangat berharga kepada negeri besar seperti Indonesia demi menjaga harga diri bangsa. Namun, sikap politik bilateral kita masih sangat loyo dan bahkan mengecewakan bangsa sendiri, terutama ketika menangani kasus-kasus penting seperti masalah TKW, korupsi dan kedaulatan negara. 

Akhirnya, saya sadar bahwa suatu bangsa mempunyai kemampuan mengartikan setiap hal apapun sesuai dengan sejarah dan kondisi riil di lapangan. Arti sapi bagi bangsa dan negara Australia tentu beda ketika bangsa ini mengartikannya, dan arti rakyat Indonesia, tentu beda pula ketika negara maju seperti Australia mengartikannya.

Sydney - Yogyakarta, June 2011

2 comments:

Anonymous said...

Sapi dan manusia sama-sama ciptaan Tuhan pastinya. Mari jaga martabat dan harga diri masing-masng.

Bernando J. Sujibto said...

Terima kasih responnya, kawan. Iya itu pasti kita harus menghargai dan menjaga martabat itu. Ini tulisan saya hanya untuk mempertegas "eksistensi" martabat tersebut.

Salam