Sunday, October 28, 2012

Satu Bulan untuk Dua Sahabat

A deep condolence to you, Supriadi!

Bulan Oktober mencatat dua nama sahabat saya pada kalander dukacita. Pertama Saudara Taufiq, teman waktu di Pesantren Annuqayah dan lalu di Komunitas Kutub Jogja; kedua teman kelas saya bernama Supriadi, teman di lembaga pesantren yang sama. Mereka pergi di bulan Oktober--Taufiq tanggal 13 dan Supriadi di angka 28 pada kalender Oktober, tepat pada momentum Sumpah Pemuda.

Yang sangat mengejutkan saya adalah sosok sahabat terakhir, Supriadi, yang sudah lama sekali tak berkabar, tapi tiba-tiba kabar kematiannya yang mengejutkan itu hinggap di tengah malam begini, lewat info Twitter yang nge-link ke portal online (http://www.rmol.co/news.php?id=83757). Sosok yang satu ini selalu akan saya kenang, sosok yang sangat loyal kepada sahabat-sahabatnya dan tentu terhadap komunitas-komunitasnya, tak tahu waktu untuk membantu, dan tak kenal lelah untuk mendukung semua kegiatan yang digarap baik oleh organisasi mahasiswa (GMN), sebuah organisasi sayap PAN, ataupun oleh komunitas-komunitasnya dimana dia ada.

Saya ingat waktu itu, sekitar bulan Juni 2009, ketika saya datang ke UIN Syarif Jakarta, dimana dia kuliah di Jurusan Sosiologi, untuk mempertahankan karya ilmiah saya di depan sidang para juri. Waktu itu saya masuk dalam nominasi 10 besar, dan nanti akan diambil juara 1-3 dan harapan. Momentum ini yang mempertemukan saya kembali dengan Supriadi setelah sekitar 5 tahun tidak saling bagi kabar, setelah kami sama-sama melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sosoknya semakin hangat waktu itu. Saya disambut dengan sangat bersahaja, akrab, dekat, dan penuh semangat.

"Kek (panggilan akrab sebagian pemuda di Sumenep), kenapa kamu tidak kasi kabar jauh hari? Biar saya bisa mengumpulkan beberapa teman." Begitulah dia berujar waktu itu. Saya memang tidak mengabari kawan yang satu ini karena saya tidak punya kontaknya dan saya tidak tahu kalau dia ada di UIN Jakarta. Saya cuma kasi kabar teman yang satunya lagi, yaitu Wasil, teman satu angkatan juga.

"Apapun yang bisa saya bantu, akan saya layani kek selama kamu di Jakarta."

Ternyata si doi belum berubah dalam hal persahabatan--itu nilai lebih apalagi dia hidup di ibukota bernama Jakarta yg keras--dan bahkan dia terasa lebih akrab, mungkin karena faktor "rantau" yang menuntut kebersamaan-atas-nama-nasib.

"Semoga kamu dapat juara satu kek." Doa yang meyakinakn saya, karena nanti malam penganugerahan hadiah bagi juara akan dihelat bersamaan dengan Dies Natalis-nya kampus UIN Jakarta. Dan alhamdulilah, saya juara satu di kontes LKTI untuk mahasiswa peguruan tinggi Islam negeri ataupun swasta se-Indonesia itu. Dia sahabat pertama saya di UIN Jakarta yang menyampaikan selamat. Dia menunggu saya di bawah panggung di sebuah ruangan besar, semacam convention hall gitu.

Acara selesai, hadiah uang sejumlah 7,5 juta pun sudah di tangan. Nah ini saatnya saya mengajak dia untuk cari tempat makan dan saya ingin traktir beberapa teman, terutama para nominasi. Saya ingin berzakat sama mereka. Berkat bantuan kawan Rei, panggilan akrabnya, saya mendapatkan sebuah kafe, lupa namanya, di dekat Situ Gintung yang beberapa bulan ssebelumnya tanggulnya pecah dan memakan korban. Dia banyak cerita tentang Situ itu. Sayang sekali karena itu malam hari jadi saya tidak bisa melihat dengan jelas.

Selesai itu, kami berpisah. Tapi sebelum itu kami sudah janjian bahwa besok pagi kami ingin makan pagi bareng dan ingin sekalian tahu kontrakan dia dan teman-temannya. Besok harinya, saya baru sadar bahwa tropi yang saya dapatkan sangat besar, dan ia masih nongkrong di salah satu kantor UIN. Ternyata betul, tropi itu ada dalam kaca, tigginya seperut saya, dengan bahan seperti tembaga. Beratnya sekitar 10 kg! Saya jadi bingung dan tidak sanggup bawa tropi itu ke Jogja. Dengan negosiasi, saya hubungi pegawai rektorat kampus saya di UIN Jogja bahwa tropi yang saya dapatkan tidak mau saya bawa, selain kampus mau menyediakan uang transport/atau ongkos kirim. Oh ternyata kampus saya mau memberikan saya uang transport tambahan untuk ongkos kirim tropi.

Saya masih kebingungan. Masa tropi dengan bingkai kaca mau dikirim via jasa kiriman?

Nah di tengah kebingungan itu, Rei langsung menawarkan diri untuk mengantarkan tropi ini ke Jogja.

"Biar shob (singkatan dari sahabat), saya yang bawakan ke Jogja. Kamu tidak perlu bingung."

Jreg... Saya tercengang dengan penawaran jasa teman yang satu ini. Karena saya tidak pernah menyangka, di tengah (seperti biasa jadi alasan) kesibukan, dia mau membantu saya membawa tropi itu ke Jogja dengan kereta, dan sendiri lagi. Karena saya harus cepat pulang duluan dengan kereta yang sudah di-booking jauh hari.

Tanpa banyak bacot, saya kasikan duit (dari kampus) 600rb ke dia. Terserah dia mau pakai kereta kelas ekonomi, bisnis ataupun ekskutif. Ternyata kawan saya ini pakai kereta ekonomi sehingga telatnya sampai di Jogja terasa. Dalam kereta saya berpikir, inilah arti persahabtan itu: a friend in need is a friend indeed!

Di Jogja dia sempatkan ketemu teman-teman lamanya yang waktu di Jakarta sering dia tanyakan kabarnya (Fathol, Yusri, dan Fakih).

AKhirnya, saya merasa kehilangan sosok teman, sahabat, dan sekaligus guru sejawat. Selamat jalan kawan Supriadi. Semoga amal dan kebaikanmu diterima di sisi Allah....

Jogja tengah malam, 29 Okt 2012

2 comments:

Malihah Al Azizah said...

innalillah, best place for them aminn

Bernando J. Sujibto said...

Amien..

Terima kasih