Saturday, July 13, 2013

Mengkaji Perbedaan


Versi cetak dari tulisan ini ada di Suara Medeka


taken from www.suaramerdeka.com
Hari-hari ini, kehidupan kita sedang berada pada titik paling awas terhadap perbedaan. Perbedaan menjadi korpus sensitif yang banyak mempengaruhi perspektif kita dalam memahami konflik dan sekaligus strategi perdamaian di Indonesia. Artinya, terma perbedaan telah menjadi semacam lokus segala hiruk-pikuk tragedi kekerasan khususnya yang menyangkut tentang agama dan aliran kepercayaan, seperti dalam kasus Syiah di Sampang, Jawa Timur, misalnya.

Belajar dari kasus Syiah di Sampang, saya berhipotesis bahwa perbedaan telah menjadi lokus yang selalu didendangkan oleh logika mainstream anak bangsa dalam melihat konflik (atau potensi konflik) dan kekerasan di Indonesia.

Untuk melihat perbedaan, Indonesia sebagai warisan nation-state, tentu tak terelakkan sebagai laboratorium keberagaman yang tak bisa dipungkiri. Di sana-sini, dalam laku interaksi-sosiologis, kita dengan mudah akan menemukan titik-titik perbedaan yang sangat kentara satu sama lain. Mulai dari bahasa, etnis, tradisi, karakter, agama dan bahkan selera (kuliner). Fakta ini menunjukkan bahwa keberagaman di negeri ini sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Semua orang di bawah cangkang langit ini dengan serentak akan mengakuinya sebagai khazanah kekayaan Indonesia.

Namun pertanyaannya: bagaimana perbedaan-perbedaan itu bersinergi dalam satu ruang dan dicari titik persamaannya sehingga perbedaaan tidak melulu menjadi tention (ketegangan)? Jika konsentrasi pikiran dan paradigma kita selalu terfokus kepada perbedaan, sangat layak bilamana di antara kita merasa sangat sensitif dan awas satu sama lain. Karena tidak bisa dipungkiri perbedaan telah dipahami secara artifisial sebagai kutub oposisi: “Saya Islam, Anda Kristen”, “Saya Syiah, Anda Sunni”, “Saya Ahmadiyah, Anda Muhammadiyah”, Saya Madura, Anda Dayak” dan seterusnya. Artikulasi perbedaan yang merasuk ke dalam pemahaman mainstrem tersebut telah menghukum cara pikir kita melihat fenomena sosial di Indonesia.

Dalam oposisi biner (binary opposition), meminjam istilah Michel Foucault, perbedaan menjadi korpus yag berkebalikan namun berhubungan sebagai dua kategori, seperti hitam dan putih, baik dan buruk. Kelompok A masuk akal hanya karena ia bukan kelompok B, sesuatu menjadi benar kalau ia tidak salah. Bagi Lubis, oposisi biner dihadapkan pada salah satu pilihan “ini” atau “itu” (either/or) sebagai salah satu yang dinyatakan benar (Lubis, 2006). Ketika pendekatan yang kita pakai adalah pendekatan konflik terhadap oposisi biner atas perbedaan, yang muncul adalah ancaman konfrontasi.

Dalam studi psikologi, oposisi biner dipahami sebagai dua hal yang berbeda, yaitu mental dan jasmaniah (mental and bodily). Psikolog Ratcliffe melihat oposisi ini bisa memberikan karakter pada dualisme substansi (to characterize substance dualism), namun menariknya dualisme tersebut (mental and bodily) diperlakukan sebagai non-dualist untuk membedakan antara aspek psikologis dan non-psikologis tentang tubuh (Ratcliffe, 2010). Artinya, mental and bodily jika dilihat dalam konteks yang lebih luas berada dalam satu korpus bernama tubuh. Eksistensi tubuh jika dilihat dari aspek ilmu sosial menjadi semacam titik persamaan dari entitas-entitas oposisi biner yang berbeda tadi.

Titik Persamaan

Untuk  itu, mencari titik persamaan di tengah gejolak perbedaan adalah salah satu jalan kebajikan demi menemukan sumbu sinergis yang bisa menyatukan entitas-entitas yang berbeda. Saya tersadar dengan konflik Syiah yang di Sampang. Konflik ini bisa saya jadikan bahan kajian untuk melihat sejauh mana pentingnya menemukan titik persamaan tersebut. Dari situ kemudian saya berharap bahwa pendekatan pembacaan seperti ini bisa menjadi strategi perdamaian di Indonesia. Analoginya bisa saya jelaskan seperti berikut.

Dalam sebuah kesempatan camp pelatihan bersama anak-anak muda dan mahasiswa dari tingkat pertama kuliah, saya memainkan sebuah game bernama Viva la Difference (Merayakan Perbedaan). Sebagai perayaan terhadap perbedaan, game ini mengeksplorasi realitas tentang perbedaan yang melekat dengan kita. Mulai soal agama, etnis, suku, kedaerahan, hobi, hingga orientasi seksual. Dalam game ini, perbedaan-perbedaan tersebut dibenturkan satu sama lan. Dari game ini terasa bahwa perbedaan terekspos sangat kentara, lalu terbangun gap dan kelompok-kelompok berdasarkan strata dan kategori perbedaan. Tirani mayoritas dan inferioritas minoritas sangat terlihat.

Di akhir acara, game ini dievaluasi sebagai permainan yang cukup menegangkan khususnya ketika peserta semakin diarahkan untuk menunjukkan perbedaan yang (dianggap) tabu dan sensitif, misalnya tentang orientasi seksual. Sebenarnya cukup mudah dipahami kenapa permainan tersebut terasa tengang ataupun tidak adalah bergantung kepada penerimaan dan sikap positif kita terhadap perbedaan itu sendiri. Tapi ingat bahwa tidak semua orang berada di posisi yang secara dewasa dan sadar menerima perbedaan sebagai pernik khazanah kekayaan untuk sesautu yang bernilai estetik bernama keindahan, yaitu sebuah definisi untuk menempatkan perbedaan-perbedaan itu dalam satu lingkup medan yang serasi dan harmonis.

Dalam situasi menegangkan tersebut, di mana antara peserta belum kenal secara dekat tetapi sudah dihadirkan tentang perbedaannya, akhirnya beberapa teman dan saya segera mencari game yang menjadi lawan Viva la Difference. Dengan spontan akhirnya terciptalah game Viva la Youth (Merayakan Pemuda). Dalam game ini semua kesamaan dihadirkan dengan suasana yang cair dan menyenangkan. Apa yang menyamakan mereka? Mereka dengan antusias bersorak di bawah panji persamaan dan kebersamaan sebagai pemuda. Tak ada lagi yang perlu ditegangkan karena mereka sebenarnya adalah pemuda-pemudi yang berada dalam satu spirit berkarya untuk ibu pertiwi.

Dus, memahami titik persamaan—atau lebih tepatnya: apa yang menyatukan kita yang telah bersepakat menjadi Indonesia?—sangat diperlukan demi menemukan spirit untuk menyambungkan dan menyatukan kehidupan kita ke dalam satu ruang perdamaian. Lanskap persamaan kita memang sangat relatif, tergantung dari mana kita melihatnya. Namun, jika perspektif perdamaian yang dipakai kita akan menelusuri satu kesamaan sebagai satu bangsa bernama Indonesia. Mencari titik kesamaan/persamaan bukanlah untuk menyamakan atau meleburkannya menjadi satu, tapi menyatukan beragam perbedaan dalam ruang lingkup kebersamaan. Saya percaya bahwa ruang yang serasi, harmonis, dan non-hegomonis seperti itu adalah cita-cita kita bersama, dan Foucoult memimpikan ruang-georafis tersebut dengan istilah heterotopias.

Pada kasus Syiah di Sampang, saya diteror pertanyaan dan keterheranan ketika menyaksikan warga asli kampung setempat harus terusir. Kenapa ketika menjadi Syiah lalu mereka dijadikan musuh? Apakah Syiah, Sunni dan sebagainya telah menghapus kesamaan identitas mereka sebagai orang Madura yang sesaudara itu?

0 comments: