Tuesday, June 03, 2014

Kacamata, Keberuntungan dan Teman-teman

"Who knows what will happen then? It's a life mystery either lucky or not we should step forward. Mean anything to pursue values, happiness!”


A few times after having double blast of unluckiness I tweeted above to mark every single experience of my life, to stick it into my mind. My face with glasses was smashed by a ball played by a bunch of friends to warming up just a few minutes before match kick-off. Yes, it was broken and I had a little hurt on face. With 5,5 minus I felt surrounding was suddenly dark. We brought two balls into the pitch. One was used to play with and another we put inside. They guy I don’t know the name asked to play it outside. We permitted. Just a several minutes gone, I saw the ball was already above the pitch which is fully wrapped by strings. I know it would be difficult to pick it and it was right that we went back home without that ball.


Bugün sen çok şanssızsın BJ. Aynı çocuk iki tane sana yaptı (you’re very unlucky today BJ. The same guy made it for you),” my friend said.

                                                                         ***

Sampai di kamar aku berpikir tentang ketidakberuntungan. Sebagai jalan refleksi, aku biasa tiduran dan membiarkan pikiranku mengelana menemui pengalaman-pengalaman masa lalu. Yang datang silih berganti adalah apapun yang dijemput oleh ingatan, pengalaman-pengalaman sebagai pelajaran berharga. Hidup ini benar-benar misteri dalam banyak hal. “Manusia tidak bisa mendahuli takdir,” tiba-tiba ingat pesan ibu. Hidup yang melulu berbalut keberuntungan—atau jarang tidak beruntung dan hidup yang membuat kita kecewa (mungkin)—adalah hidup yang tak lengkap. Orang-orang selalu mengejar keberuntungan karena betapa tidak bisa menghindari ketidakberuntungan. Semakin banyak pengalaman tidak beruntung, membuat kita marah, jengkel dan kecewa atau mungkin hingga frustasi, bersamaan dengan semua itu pelajaran menjadi dewasa adalah paket lengkap sebagai hadiah hidup ini.

Saya tiba-tiba ingat ketika masih bersama teman-teman Komunitas KUTUB di Yogyakarta, bagaimana ketika masih sangat kesusahan untuk mengganti kacamata karena kesulitan ekonomi. Meski lensa kacamata sudah tidak cocok karena minus makin naik, aku dipaksa untuk bersabar hingga ada duit untuk membeli lensa yang sesuai denga tingkat minus. Apakah pengalaman ini adalah ketidakberuntungan? Aku terdiam sembari sekali-dua kali membolak balik dua buku karya Orhan Pamuk yang baru kubeli: Manzaradan Parçalar dan Öteki Renkler.

Selang beberapa detik dari refleksi pengalaman hari ini, atau mungkin di waktu yang bersamaan, aku mendapati colekan Facebook dari seorang kawan dari Kutub sana, Fakih namanya. Teman yang unik, hatinya bersih, sulit untuk tidak menyukai sosok seperti dia. Dan seorang yang nanti akan alim insya Allah. Dia berujar berikut:

"Kau orang luar biasa, kawan. Aku sering menceritakan kisah-kisahmu ke anak-anak Kutub. Tentang ontelmu, tentang tubuhmu yang rapuh, tentang kemampuan bahasamu, tentang kualitas tulisanmu, tentang ilmumu, tentang bahwa kau mau mendengarkan apapun yang tidak kau ketahui dari siapa pun, tentang fasilitas yang membuatmu lebih dari teman2, tentang kedermawananmu, tentang bahwa Cak Kus pernah bilang kau anggota HMJ (Himpunan Mahasiswa Jelikker)...hahahah........aku sekarang lebih sering baca teks fisika bahasa inggris, Je. Aku ingin mengejarmu ke Eropa..huahuahua...."

Dengan kadar pengalaman, aku harus berbijak dengan diri sendiri bahwa pengalaman tidak beruntung adalah kreasi Yang Maha Misteri agar kita sebagai manusia saling menengok satu sama lain; membantu yang tidak beruntung karena kita tahu betapa perihnya luka ketidakberuntungan itu.

0 comments: