Wednesday, April 15, 2015

Ihwal Karya-Karya Sastra yang Meresap dalam Tubuhku

Sekitar medio 2009, saya berjumpa Mas Paox Iben, seorang novelis, guru teater yang sekaligus teman baik yang sengit bila diajak diskusi. Obrolan mengalir begitu saja ihwal sastra. Saya pun menyebutkan beberapa sastrawan yang karyanya saya baca waktu masih duduk di bangku MTs. Dari sekian nama yang saya sebutkan, nama N. Marewo akhirnya menjadi lokus yang saya ulang untuk memastikan sosok yang satu ini. Dengan yakin, Mas Paox bilang jika Marewo ada dan hidup di Lombok, tempat Mas Paox tinggal. Ternyata Marewo adalah teman Mas Paox di Pulau Lombok sana. Sontak saya terheran dan senang. Maklum, salah satu penulis yang saya suka (dan saya membayangkan dia sebagai sosok misterius awalnya) masih ada wujudnya, meskipun dalam 10 tahun terakhir sudah tidak pernah lagi menulis untuk media massa. Saya pun berjanji jika ada waktu main ke Lombok sungguh ingin berjumpa dengan Marewo.

Jika diberikan kesempatan bertemu dan mengobrol langsung dengan para penulis yang telah membentuk dan memantik jalan proses menulis dan proses menapaktilasi hidup, saya akan menyebutkan nama-nama seperti N. Marewo, Ahmad Tohari, Seno Gumira Adjidarma, Budi Darma dan Adek Alwi. Mereka adalah penulis sastra yang awal sekali saya temukan karya-karyanya di antara tumpukan klipingan koran Kompas, Jawa Pos dan Surabaya Post, di samping juga buku-buku mereka yang sudah terbit. Mereka semua saya kenal waktu saya masih tahun pertama dan kedua di bangku MTs.

Foto dari Facebook N. Marewo
Khusus untuk Marewo dengan novelnya berjudul Lambo, saya mempunyai testimoni khusus. Novel ini sempurna menjadi semacam pembuka wawasan "pemberontakan" pada diri saya untuk segera bergegas pergi. Lambo bersama Jiwa-Jiwa Pemberontak-nya Gibran, Ronggeng Dukuh Paruk-nya Tohari dan Perempuan di Titik Nol-nya Sadaawi adalah sederet buku yang saya sadari, khususnya setelah akhir-akhir di Yogyakarta tahun 2012, menjadi semacam “pengusik” yang sempurna.

Lambo tidak mengajarkan “kelas inspirasi” dan menjejalkan “ceramah”. İa menjadi dirinya sendiri yang tak pernah ditumpangi oleh Marewo untuk menceramahi orang lain agar bergerak. Namun Lambo tidak bisa gagal mengusik saya agar segera melangkah dan melampaui... seperti halnya Firdaus di tangan Sadaawi dan Rasus atau Srintil dalam anyaman Tohari—tentu dengan dunianya masing-masing.

Saya menulis catatan ini dengan membayangkan Lambo yang remang dalam ingatan, dan sekaligus tidak bisa langsung ambil novel itu di rak. Maklum lagi di rantau (menjadi Lambo yang lain).

Salam buat Bang Marewo. Semoga dianugerahkan kesehatan senantiasa, dan tetep produktif berkarya.

2 comments:

Hana Nuraini said...

Halo, salam kenal.. saya juga penyuka karya-karya N. Marewo..saya sudah baca Lambo, Pulang, Budak, Legian Kuta, tapi yang paling saya gilai Filmbuehne am Steinplatz.. Novel Filbuehne itu sangat "gelisah".. Berpengaruh sekali dalam pencarian jati diri saya semasa remaja dulu..

Bernando J. Sujibto said...

Terima kasih Hanna Nuraini sudah berkunjung ke blogku... Wah senang sekali mendengar testimoni yang sama darimu. Iya, aku ga baca buku Marewo selain Lambo. Selebihnya aku hanya banyak baca cerita-cerita pendeknya. Tapi benar, dia salah satu penulis yang memikat dan layak dijadikan pelajaran dalam berkarya, apalagi kulihat km juga suka menulis dan baru saja lihat-lihat blogmu. Selamat berkarya....

Salam