Sunday, December 27, 2015

2015: Tiga Ihwal Simbol (atawa Peristiwa) Keagamaan

Satu, ketika menghantar beberapa kawan dari Indonesia yang sedang liburan di Turki terjadi perdebatan dan komplain di lobi motel. Karena ada kekeliruan malam itu rombongan kami tidak mendapatkan kamar. Ketika nada suara di antara kami mulai menghentak tinggi, si penerima tamu motel, "kamu berjilbab dan saya menghormatinya. Tidak perlu dengan suara tinggi seperti itu," berujar dengan sedikit menundukkan kepada dan meletakkan tangan kanannya di dadanya (tanda hormat dalam kultur Turki).
Dua, seorang temannya temanku masuk kamar. Dengan beragam kalimat sumpah serapah (swear words)--dalam keseharian pemuda Turki, Anda akan sangat-sangat mudah menemukan kata-kata kasar menyertai obrolan mereka--ia menunggu temanku yang tengah bersiap-siap. Ketika hendak keluar kamar dan melihat Al-Qur'an yang saya taru di atas lemari, sontak dia berujar "astaghfirullah, taubat ya."

Tiga, larut malam di rumah teman. Kami sedang tidak mengantuk. Dua temanku menyalakan laptop dan membuka salah satu situs live porno. Malam itu satu teman lagi tidak sedang ingin menontonya. Dia minta situs itu ditutup. Karena tidak direpon, dia langsung menyetel lagu religius tepat di sampingnya. Sontak kedua temanku ngomel-ngomel dan menutup jendela situs tadi. Mereka minta lagu itu dimatikan! 

Ini tentu saja hanya kasus-kasus kecil, atau dalam penelitian ilmu sosial disebut sebagai small-case crossword clue. Yang menarik, kejadian ini mengaburkan pikiran saya tentang proyek modernisme dan segenap mitosnya di Turki. Apakah taring rasionalisme yang diusung dari Eropa sudah menancap di kepala bangsanya? Bagi Turki, saya merasa bahwa semua itu adalah sejumput jargon yang tumbuh liar di mana-mana--tanpa akar yang kuat dan pupuk yang cukup--khususnya di halaman para 
borjuis (karena proyek ini dilakoni dan dihembuskan dari ranah elit politik dan kelompok "bangsawan"), tetapi secara partikuler belum (atau sulit) menciptakan akulturasi. Dus, hal-hal partikuler dari interaksi sosial masyarakat tumbuh lepas di luar rencana dan harapan mereka.

Artinya, di lubuk paling dalam hati mereka--yang dibentuk oleh budaya dan tradisi ratusan tahun--ada ruang yang didekasikan untuk melawan, atau setidaknya menjaga struktur kesadaran yang telah terbentuk dari proyek kebaruan-kebaruan yang dirancang mendadak, atau bahkan kasar! Atau, dan itu pasti, ada sesuatu yang lain dan butuh ditelusuri lebih dalam...

Akhirnya, saya berpikir bahwa bentuk-bentuk konservatisme pada setiap orang--apakah sebagai warna kultur atau hanya perilaku personal--adalah justifikasi tentang yang-berjarak-dan-tak-tersentuh dan juga adanya batas-batas dalam setiap diri.

0 comments: