Wednesday, February 03, 2016

Betapa Dahsyatnya PPI Turki

.....sebuah cerita kerinduan

Di PPI Turki saya adalah orang luar, serupa seorang eksil. Kalimat wujuduhu ka adamihi mungkin sangat tepat untuk menggambarkan di mana posisi saya di organisasi untuk pelajar terbesar ini. Namun demikian, saya punya cerita tentang dahsyatnya PPI Turki.

Tepat di hari-hari kampanye calon ketua PPI Turki 2014, yang saat itu muncul dua calon (yaitu Arya Sandhiyuda dan satunya lagi Aditya Sasongko), sekitar akhir tahun 2013—hanya beberapa bulan saya tinggal di Turki—saya membuat sebuah pernyataan “menggelikan” bagi sebagian dan mungkin membahagiakan bagi sebagian yang lain.

“Arya, satu suara untukmu,” tulis saya di dinding Facebook grup PPI Turki.

Sebagian teman banyak mempertanyakan pernyataan di atas. Tak banyak neko-neko. Saya hanya ingin memastikan sejauh mana organisasi “mahasiswa di luar negeri ini” memosisikan diri di tengah dinamika intelektual dan diskursus kritis. Sejak awal saya tahu identitas Arya dari mana; saya juga sudah kenyang dengan pengalaman organisasi (pengkaderan dan perebutan massa) mahasiswa ala Indonesia. Apakah organisasi “mahasiswa di luar negeri” ini juga ikut cawe-cawe dengan urusan begini, atau ia mampu berdiri sebagai organisasi mini Indonesia?

Dan sekitar beberapa minggu setelah Arya terpilih jadi ketua PPI Turki, saya dihubungi oleh Arya melalui message Facebook agar bersedia terlibat dalam kepengurusannya. Tapi saya menolak dengan alasan ada banyak teman-teman lain yang butuh belajar dan terlibat dalam organisasi PPI.

Saya mungkin hanya seorang yang sentimentil, mengingat bahwa lembaga serupa ini pernah menjadi lokus untuk memperdebatkan kemerdekaan kita menjadi INDONESIA. Mohammad Hatta mendirikan Indonesisch Vereniging (Perhimpoenan Indonesia), sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang didirikan Raden Tumenggung Djaksodipoera tahun 1926 di Belanda. Mereka sengit membicarakan ruh kemerdekaan demi menjadi Indonesia dengan ribuan pulau dan bangsa-bangsa itu.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Cikal-bakal pengkaderan yang dikomandoi oleh Arya, ketua PPI yang saya pilih itu, bermula—di mana PPI Turki menjadi media perebutan massa (yang pada akhirnya) merebahkan diri dan penuh aroma politik. Karena Arya adalah seorang kader politik militan PKS.

Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Ada seorang teman seangkatan saya (sama-sama mendapatkan beasiswa YTB) bernama Fauzi Ahmad, salah satu didikan terbaik Arya dan teman-temannya. Menurut statuta dan skema beasiswa YTB, angkatan saya yang studi master hanya berdurasi 3 tahun (1 tahun belajar bahasa Turki dan 2 tahun studi formal). Tetapi Fauzi berani mencalonkan diri sebagai ketua PPI Turki dengan masa jabatan 1 tahun ke depan. Dan kasus ini membuat saya terperangah. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini. Karena yang saya tahu penerima beasiswa Turki atau pelajar di Turki tujuan pertama adalah belajar (menyelesaikan studi) sebaik mungkin. Tetapi, Saudara Fauzi mempunyai semangat berbeda. Betapa dahsyatnya PPI Turki hari ini!

Misalnya, kalau Saudara Fauzi beasiswanya diputus oleh YTB (karena sudah lewat masa studi), berarti dia harus menanggung sendiri semua biaya baik di kampus ataupun living cost. Dalam konteks ini, saya sungguh salut, betapa hebatnya pengabdian Fauzi kepada PPI Turki (jika nanti terpilih). Atau dia sudah ditugaskan secara khusus oleh majelis internal kelompoknya? Allah bilir…

Di samping Saudara Fauzi, dua calon yang lain adalah Herry Cahyadi dan Azwir Nazar. Dua calon ini masih punya waktu panjang untuk studi di Turki.

Herry datang jauh-jauh dari Istanbul ke Konya untuk kampanye. Sebuah usaha yang luar biasa. Tetapi sayangnya, yang katanya sok sibuk, Herry datang ke Konya dari ─░stanbul tanpa sempat ziarah ke makam Rumi. Sebuah pengalaman yang istimewa dan unik di telinga saya. Ini menjadi pengalaman pertama yang saya dengar dari seorang pelajar Indonesia dan muslim. Saya tidak tahu apa alasannya. Apakah kebesaran nama dan kealiman seorang Rumi dan ayahnya—yang dijuluki sebagai sulthanul ulama dan sekaligus menjadi qadi kesultanan Saljuk Anatolia—itu tidak cukup mengetuk hati para generasi muda Muslim seperti kita hari ini?

Untuk Azwir, mohon maaf kita belum berjodoh jumpa di Konya….