Friday, December 18, 2015

Menunggu Matahari Pulang di Hierapolis

aku sendiri
menunggu matahari pulang di hierapolis
di sebuah kolam mata air teriris bagai kapas
dari atas bukit sebuah kastil menyala cemas

bulan tak sedang indah
pucat di tebing batu-batu kapur

malam ini aku tersesat di jalan pulang
kembali atau pergi adalah bisikan jalang
menyaksikan kaki para peziarah
saling menghapus
timbul dan tenggelam
di jalan-jalan
pandangku rabun

dari dekat, di antara percik air
batu-batu menyala
derap pasukan perang berkuda
menyambut malam yang jatuh
sebagai anak jadah

bulan tak sedang indah
menyusut di sudut altar

di permukaan taman yang putih
aku menyaksikan peri-peri menari
menggandeng tangan para permaisuri
gemerincing air berseri-seri
ini malam sebuah pesta untuk sengketa
prosesi menyambut para pemenang
atau mengenang yang pernah mengisi
linimasa peradaban di labirin berkapur ini

dari atas bukit genderang ditabuh bertalu-talu
pasukan perang, kuda-kuda terbaik disiapkan
ke medan pertempuran, ke tengah sunyi yang raib
para rahib berdoa di biara dan menunggu
bulan yang tak sedang indah
menemui tuhannya

malam makin nyalang
pesta lamat-lamat hilang
aku melangkah
jejak-jejak dari ribuan tahun
tiba-tiba menyala di belakangku
aku akan pergi menuju pesta
atau sengketa yang lain
di jalan-jalan berlumpur, tanpa kastil
di mana sejarah terus saling menampar


Turki, 2015

2 comments:

Salman Rusydie Anwar said...

Semoga damai. agar bulan kembali indah

Bernando J. Sujibto said...

terima kasih cak.. Amien ya rabbal alamin