Wednesday, March 23, 2016

Di Balik Turkish Spirits

It's never too late to start over! Ya, kalimat ini yang terngiang di kepala waktu saya terpikir untuk star-up media berbasis online yang kelak kami kasi nama Turkish Spirits (TS). Sebenarnya saya tidak ingin ada huruf ‘s’ pada kata spirit, tapi karena ditolak Google oleh sebab sudah ada akun serupa, akhirnya dengan rela hati menerima nama Turkish Spirits dengan ‘s’.

Nama Turkish Spirit jelas penuh risiko, dan saya siap menjelaskannya. Misalnya, orang-orang yang detail tahu Turki dan jenis minuman khususnya, mendengar nama ini akan langsung mengarah kepada minuman arak tradisional khas Turki sendiri, yaitu rakı. Tagline rakı  memang Turkish spirit. Coba saja googling, entri pertama di google yang muncul dijamin rakı.

Tapi, bagi mereka yang jauh lebih detail tahu Turki—daripada sekedar menikmati hal-ihwal artifisalnya—saya yakin implikasi nama ini akan memuncratkan makna yang kompleks dan saya rasa semakin komprehensif. Karena Turkish Spirit sendiri adalah judul dari sebuah proyek besar novel yang tak selesai, dan naskah ini terus diperbincangkan hingga detik ini.

Nama Turkish Spirit saya ambil dari judul novel yang tak selesai tadi—penulisnya meninggal duluan sebelum merampungkannya. Novel itu ditulis oleh novelis besar Turki Oğuz Atay dengan judul Türkiye'nin Ruhu. Nah, berangkat dari ide dan proyek besar yang tak selesai itu, saya berpikir untuk sekedar memberikan warna—atau lebih tepatnya mengapresiasi judul itu—ke dalam media penerbitan website ini.

Di sela-sela lelah mengerjakan tesis, saya kemudian memulai situs ini yang awalnya dari blogspot, mengontak teman-teman dekat terlebih dadulu: Hari Pebriantok, Abdul Ghaffar dan Labib Syauqi (mereka semua pelajar dan juga alumni Turki). Lalu saya menghubungi Naelil Maghfiroh (Izmir) dan Durrotul Mas’udah (Kocaeli) untuk saya minta pandangan, masukan dan partisipasi mereka untuk media yang diniatkan untuk media penerbitan kolektif pelajar-pelajar Indonesia di Turki.

Seiring waktu, karena ternyata TS banyak diminati dan interaksi/korespondensi cukup padat, saya berpikir serius untuk membicarakan penerbitan online ini ke depan. Kemudian saya hubungi Roida Hasna Afrilita (Canakkale), Naufal Ubaidillah (Izmir), Kaharuddin Ali (Konya), Didit Haryadi (Istanbul) dan Azahra Nurhabiba (Zonguldak) dan Hadza Min Fadhli R (Eskisehir).

Kenapa harus star-up TS? Secara umum, saya tergerak untuk mewujudkan TS ini karena alasan-alasan berikut:
  • Setelah mendapati banyak foto dan berita hoax tentang Turki baik yang dimuat di media sosial atau di media-media online;
  • Sebagai pelajar ilmu sosial, saya berpikir bahwa kepekaan observasi terhadap fenomena sosial secara umum, rangsangan untuk mencermati dan kemudian sampai pada proyeksi penelitian adalah jalan tunggal ilmuwan sosial. Jadi awalnya saya ingin menyediakan wadah bersama berupa penerbitan online di mana teman-teman pelajar dari jurusan ilmu-ilmu sosial (khususnya dari S1) bisa menulis asyik dengan topik khas dan unik (hasil observasi mereka). Apalagi Turki adalah laboratorium yang superkaya, khususnya bagi pelajar yang mendalami isu konflik dan kekerasan;
  • Melihat banyak karya tulis berbasis blog dari pelajar-pelajar Indonesia di Turki yang bermanfaat dan perlu disatukan yang nanti diharapkan menjadi pusat dokumentasi dan informasi sekaligus tentang Turki;
  • Sebagai proyeksi media bagi para pelajar yang akan menerjemahkan karya Turki ke Indonesia atau sebaliknya.
Tagline TS
“Melenturkan yang kaku, menghadirkan Turki lebih seru.”

Apa Tujuan TS
Karena yang dikenal Indonesia tentang Turki sejauh ini rata-rata isu seputar ‘politik, agama, kekerasab/konflik dan baru-baru mulai hadir film/drama’, TS ingin melengkapi dan menghadirkan Turki lebih lengkap: mengkaver hal-hal yang unik, seru, out of the box dan tentu bermanfaat. Tentu anti hoax! Jadi, distorsi tentang Turki harus menjadi perhatian kita. Nah, TS ada di ranah itu. 

Secara gamblang, TS ingin:  
  • Menampung karya tulis para pelajar Indonesia di Turki;
  • Berbagi informasi/berita hal-ihwal Turki (budaya, studi, ekonomi) dengan menerjemahkan portal berita dari Turki;
  • Menerjemahkan karya-karya penulis Turki yang tak mainstream tapi perlu (misalnya puisi dan cerita-cerita pendek);  
  • Menyebarkan semua tulisan hal ihwal Turki yang positif dan kontributif.

Salam,


Bernando J. Sujibto

2 comments:

Cak Gopar said...

Mantap kali kakak bije ini

Bernando J. Sujibto said...

mantap karena ada dikau nyalain menyan cak haaa