Wednesday, June 27, 2012

Surat untuk Bapak Dahlan Iskan

Yang terhormat

Bapak Dahlan Iskan

Mungkin surat ini lambat saya tulis kepada Bapak. Tapi daripada tidak sama sekali, saya lebih baik menuliskannya, mengiringi kesibukan dan aktivitas Bapak yang tak kenal lelah dan gigih demi perbaikan tanah pusaka ini ke depan.
Sort of my village

Saya tidak mengerti kenapa ingin sekali menulis surat ini, selain saya bangga menyaksikan kegigihan Bapak yang menembus tembok-tembok bernama sistem dan mainstream. Dan saya semakin yakin menuliskan suara hati ini ketika saya mendengar ada kasus korupsi di balik pengadaan Al-Qur'an di Kemeneg. Kitab suci seakan-akan sudah tidak berarti lagi; nilai-nilai kebaikan sudah dilabrak; dan akal sehat sudah dicederai.

##

Bapak Dahlan, ini adalah tanah air yang harus diperjuangkan demi meraih cita-cita kemerdekaan. Dan sosok seperti Bapak adalah sedikit orang yang mempunyai kesadaran dan kemauan untuk memperjuangkan kemerdekaan itu. Saya yakin Bapak tahu betul bahwa negeri ini belum merdeka, karena penjajahnya kini berkamuflase dari kalangan bumiputra sendiri yang menjadi perpanjangan tangan asing. Dan penderitaan yang sama seperti ketika masa penjajahan, warga negara yang kehilangan hak-hak kewarganegaraan yang semestinya, masih saja menyandera mereka, rakyat kecil nun jauh di sana, di luar pusat keramaian ibu kota. Lalu, cita-cita kemerdekaan yang ditulis di Pembukaan Kitab Undang-Undang 45—ataupun yang terkandung dalam filosofi negara ini: Pancasila—hanya menjadi menara gading yang mulai melepuh!

Bapak Dahlan, tidak mudah melawan musuh dalam selimut, anak-anak negeri sendiri. Lebih baik melawan penjajah dari negeri asing yang sudah jelas garis demarkasinya. Mereka seperti penyamun di sarang buta. Mereka berjejalan di sekitar Bapak lho: ada para koruptor, pengemplang pajak, dan penjahat-penjahat lain yang menggerus kekayaan Tanah Air ini. Menghadapi penjajah dari negeri sendiri adalah seperti  menyantap buah simalakama—maju kena mundur pun kena. Tapi itulah penjajah sebenarnya kita saat ini.

Sekarang Bapak Dahlan berada di garis terdepan untuk menghadapi “musuh-musuh dalam selimut” itu. Tapi Bapak tidak sendirian. Rakyat yang sudah sekian lama menunggu ketulusan perjuangan demi bangsa dan negara akan bersama Bapak. Tetap konsisten, Pak.

Saya kadang berangan-angan bagaimana hebatnya bila negara ini punya pejuang-pejuang baru seperti Bapak, sepuluh orang saja, yang menduduki posisi-posisi penting sebagai simpul negara yang selama ini disumbat oleh para penyamun. Sebenarnya saya yakin ada banyak orang hebat yang masih disimpan dalam kemurnian proses mereka masing-masing. Semoga mereka besok segera lahir dan cepat menyelematkan negara yang mulai dibayang-bayangi ancaman negara gagal.

Kebanyakan para pengendara negara ini (apparatus state) masih terjebak dalam halimun dan keremang-remangan. Ada yang bersih, tapi tidak berani bertidak melawan mainstream atau komprami dengan kejahatan berjamaah; ada orang yang sok reformis atau mereka yang tempo hari menjadi pejuang reformai, tapi cuma ramai dalam omongan atau bahkan mereka terjerembab dalam praktik busuk yang sama dari sistem sebelumnya; ada pula yang bertubuh gagah karena latar belakang dirinya sebagai angkatan bersenjata, tapi justru ia tersandera transkasi politik yang diobok-oboknya sendiri, dan bahkan nyalinya menciut; dan masih banyak jenis-jenis manusia di negeri ini. Namun, sosok seperti Bapak saya katakan sangat langka. Saya tahu Bapak sudah banyak melakukan gebrakan dan perubahan “radikal” di setiap institusi yang Bapak singgahi: PT. PLN, dan lalu sekarang BUMN. Perusahaan BUMN yang Bapak kendarai sekarang tentu menjadi tantangan terbesar, karena di sana banyak sekali “hantu” bergentayangan, memanfaatkan posisi jabatan, lalu menggerus habis kekayaan haram milik negara itu.

##

Nah, yang saya maksud bahwa surat ini terlambat saya tulis untuk Bapak adalah karena saya ingin bercerita tentang tugas Bapak di PLN, yang bisa dibilang sebentar itu, belum menyentuh kampungku. Sambungan listrik di kampungku belum ada. Masyarakat di sini akhirnya numpang pasang kilometer di rumah-rumah tetangga desa sebelah yang jaraknya 2 km atau lebih. Mereka gotong royong membeli kabel hanya demi menikmati sedikit fasilitas dari negara agar mereka tahu bahwa negara Indonesia mulai berubah dan tidak stagnan (atau diam menuju mati)—meski cuma dibuktikan dengan tempias aliran cahaya bernama listrik! Jangan sampai mengobrol tentang jalan aspal. Itu mimpi berikutnya.

Padahal beberapa tahun kemarin, Pak Presiden berjanji bahwa setiap kantor desa akan ada sambungan internet. Aneh bukan? Sambungan listrik ada belum sampai, gimana mau sambungan internet? Untuk kasus ini, saya sempat membuat tulisan lho Pak, judulnya: Di Kampungku, Ternyata SBY Pembohong.

Kampung saya Tanggulun, desa Montorna, kec. Pasongsongan, kab. Sumenep, prov. Jawa Timur. Ini kasus terjadi di Jawa Timur lho, Pak. Lalu bagaimana dengan daerah-daerah terpencil dari luar Jawa? Dan Indonesia itu besar bukan karena Jawa, bukan karena Jawa!

Sebelum sudahi ini, saya ingin berterima kasih karena Bapak sudah berkarya dan melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Semoga tetap konsisten, Bapak.

Salam....

Bernando J. Sujibto

2 comments:

screen said...

tolong copy paste ke blog penggemarnya Pak DIs, mas. Di sana banyak orang yang bisa menyampaikan pesan ini ke Pak Dahlan langsung.
http://dahlaniskan.wordpress.com/

Bernando J. Sujibto said...

Oke terima kasih... biar nanti ku-link ke adminnya... semoga bisa saling share aja.

Salam hangat