Friday, February 21, 2014

Testimoni PlayPlus Indonesia

(Saya tulis testimoni ini untuk salah satu rubrik dalam website PlayPlus. Tapi karena website-nya eror dan tidak bisa diakses, saya publis di blog sini dengan sedikit edit).

Bakerja bareng State Alumni baru terjadi kali ini. Sebelumnya saya nyaris tak pernah berhubungan secara intens dengan para alumni IELSP (Indonesia English Language Study Program). Saya diuntungkan “memaksa diri” untuk datang ke Alumni Meeting yang dihelat di Jogja pada sekitar bulan April 2013. Spiritnya hanya satu: karena saya mau ketemu dengan seorang kawan yang satu cohort saat ikut program ke Amerika, Ahyadi namanya. Namun setelah ketemu dengan semua cohort dan grantee IELSP, saya merasa nyaman dan mendapatkan setangkup kehangatan kebersamaan di bawah bendera keluarga alumni. Sehingga ketika ada kabar soal ada kompetisi bagi para alumni bernama Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) yang diselenggarakan oleh Bureau of Education and Cultural Affairs - International Exchange Alumni USAID tahun 2013, saya tidak segan-segan untuk mengontak teman-teman fellow yang sudah saya kenal di Yogyakarta.

Nah, dari pertemuan itulah saya, bersama-sama alumni yang sedang domisili di Jogja, mulai mengobrol sana-sini dan menyusun beberapa topik untuk digarap dalam bentuk proposal. Pertemuan pertama masih mengambang dengan sedemikian banyak topik, namun sudah mengerucut kepada isu-isu yang disukai Amerika (*sebenarnya ini off the record, tapi sudah on the record lol) seperti resolusi konflik, pluralism, dan seputar kultur. 

Ketika mengobrol tetang preservasi tradisi dan kultur, muncul kemudian topik tentang permainan tradisional anak. Saya langsung dengan yakin tertarik mengelaborasi topik ini. Saya yakin itu akan lolos, tinggal kita mampu mengemasnya secara cantik dan ciamik. Karena yang tampak antusias secara verbal cuma saya dan Chandri (meskipun semua teman waktu itu tertarik), akhirnya dua orang ini yang “harus” menjadi project leader-nya. Chandri tidak mau jadi project leader karena sibuk. Karena saya tidak pernah merasa sibuk terhadap semua aktivitas yang saya jalani, dan saya merasa itu sangat bagus impact-nya, saya pun ambil risiko dan tanggung jawab sebagai project leader.

Riset jalan, proposal jalan dan konsep jalan. Alhamdulilah semua project members ikut aktif dan bahu-membahu untuk project ini. Saya senang itu, meski pada suatu titik waktu tertentu saya merasa sendiri, khususnya ketika project ini lolos hingga di tahap voting, setelah lolos dari tahap pertama bersama 114 proposal dengan menyisihkan sekitar 800-an proposal dari seantero dunia. Dari Indonesia yang lolos tahap voting ada 4 proposal. Dan atas keyakinan dan kerja kolektif tim, PlayPlus akhirnya dinyatakan jadi salah satu pemenang bersama 1 perwakilan dari Indonesia dan sekitar 50 dari semua peserta sejagat.

There is unforgotten story behind this submission. Saat itu, saya hendak submit sekitar 3 hari sebelum deadline. Saya kontak Chandri untuk bantu cek bahasa dan kemungkinan ada teledor dari saya. Agak memaksa sih hehe. Dia bersedia meski via chatting di FB. Senang sekali bukan kepalang, ada yang bantu. Sekitar satu jam Chandri off. Saya masih lanjut sembari membuat sebuah keputsan di luar prakiraan tim dan di luar kesepakatan mereka. Apa? Nah inilah yang saya bilang tak-terlupakan itu.  Saya ganti judul project menjadi lebih renyah dan seksi (menurut saya). Awalnya kayak judul makalah gitu. Saya, yang terlahir untuk bergulat dengan kata dan bahasa punya sensitifitas yang bahkan berlebihan terhadap bahasa, tiba-tiba berubah pikiran total. Dari judul proposal awal Education is Fun: Preserving Indonesian Traditional Children Games for Better Child Character and Education menjadi “hanya” PlayPlus. Keputusan yang  tidak mudah, tapi menguntungkan.

Setelah yakin mengubah judul tersebut, terbersit dalam benak bahwa saya adalah seorang otoriter, atau setidaknya di luar kultur demokratis. Artinya, jika proyek ini gagal mungkin saja teman-teman tim akan mendamparku sedemikian rupa. Tapi saya terlalu menjadi seorang yang keras kepala untuk memutuskan sesuatu. Saya ikuti keyakinan dan pengalaman saya sendiri. Jadilah PlayPlus!

Overall, saya harus berterima kasih kepada teman-teman tim yang bersabar dan bekerja dengan sangat keras. Saya banyak belajar kepada mereka. Disambung dengan testimony selanjutnya. Masih ada lho….

Yogyakarta, 30 Juli 2013

0 comments: