Wednesday, January 16, 2013
Ideologi Api
yang terbakar adalah mata mereka yang sembunyi-sembunyi
menatapku
kedipannya seperti gelombang astrofisika yang terdiam di
luar suhu
mereka berlarian membakar tubunya di tubuhku yang kubakar
sendiri
kujerang mereka jadi letupan-letupan asap yang menguap
dari tubuhku
merembes lalu luruh pada gelas lusuh bekas mereka mengasuh
peluh
suatu waktu nanti, mereka menguap kembali, lalu terantuk
basah!
Wednesday, January 02, 2013
Karena Cinta itu Tak Mudah
--to my beloved girl
ini pintu kedua
pada dinding sebuah tahun
tangan yang patah
pengalaman yang rubuh
dan ingatan yang luluh lantak
tiba-tiba datang bersama hujan
sesorean tadi menggigilku
dan juga kamu yang telah
berumah dalam keyakinanku
jika tahun adalah sebuah rumah
ini mungkin pintu keseratus
yang telah kumasuki untukmu
antara pias ragu dan kilat tegar
antara petir dan batu-batu
aku berlayar di tengah deru badai
pikiranku sendiri;
ingatan-ingatanku yang ringkih
“ini adalah jalan pertaruhan,” bisikku
setelah keyakinan yang kurengkuh
adalah perjuangan penuh seluruh
menuju rumah sebuah tahun
pintunya telah kamu buka lebar
lia, izinkan aku berteduh
di seluruh detak jantungmu
sebuah rumah yang kupilih
ketabahan pintu-pintu tahun
yang telah kau rawat untukku
petang itu aku seperti anak kecil
menggigil sehabis hujan-hujanan
lalu bercerita tentang kerikil atau duri
yang tadi sore atau kemarin hari
atau tahun lalu melukai telapak kakinya
dan berdarah dalam ingatannya
karena cinta itu tak mudah
aku selalu jadi seorang bocah
yang terus belajar mencari arah
Monday, December 10, 2012
Pengalaman Banjir Pertama di Kota Imajiner
Senin, 10 Desember 2012, sekitar pukul 14.40 menuju sore. Aku terjebak hujan di tengah jalan pulang dari daerah Kemang ke Kelapa Dua Depok. Dari angkot aku harus menepi dulu di emperan sebuah warung makan untuk beteduh, tepat di seberang sebuah rumah ibadah Pure, jalan menuju perumahan Bukit Cengkeh.
Ohya. Aku sangat lemah mengidentifikasi nama-nama daerah, khususnya di Jakarta. Bayangin, Kelapa Dua Depok saja aku imajinasikan sebagai Jakarta. Padahal bukan. Secara demografi dan pemerintahan berbeda. Tapi entahlah, pikiranku masih saja tidak bisa kompromi bahwa Jakarta dan sekitarnya adalah Jakarta. That's it all!
Di depan mataku hujan gemerincing deras. Bulirannya seperti logam yang memencar di tengah jalanan aspal. Hujan makan sekitar 1 jam!
Ke Jakarta kali ini sebenarnya aku cuma sebentar: menyiapkan bahan-bahan untuk riset di lapangan. Setelah itu minggat lagi ke kota lain: Makassar. Nah, pengalaman kali ini luar biasa karena aku merasakan bajir meski cuma selutut. Tapi setidaknya seru! Pengalaman ini bersanding dengan pengalaman pertama kali aku ke Jakarta. Pertama kali sekitar tahun 2008 awal, saat masih di semester 4, di dekat Istana Presiden, di Jalan Veteran sana, yang hanya selemparan ludah dengan deretan kantor Jaksa Agung dan Istina.
Entah kenapa, kota Jakarta bagiku adalah kota imajiner, tempat semua bayangan dan halusinasi menyerangai. Jangan salahkan aku sebagai pengunjung kota ini bilamana ingatan tentang Jakarta adalah perihal ini: korupsi, banjir, macet, dan kriminalitas. Jangan salahkan pengunjung sebuah kota seperti aku ini, ya! Karena kota sejatinya akan bercerita secara jujur kepada pengunjungnya.
Sekarang aku sudah benar-benar merasakan tentang Jakarta. Terkena banjir adalah cita-citaku untuk merasai kota Jakarta. Sepertinya, tanpa dikena banjir belum merasakan Jakarta!
Hujan reda. Hanya gerimis tipis saja. Aku memanggil ojek untuk kembali ke kantor, di Bukit Cengkeh 2. "Tidak banjir kan, Pak, menuju Bukit Cengkeh Dua?" Aku coba meyakinkan si tukang Ojek. "Iya, tapi dikit."
Akhirnya tubuhku dibawa ojek motor. Jalan di depanku masih hanya dilapisi aliran air sedikit. Ojek melejit. Makin jauh makin air semakin tebal. Semakin tebal. Semakin tebal, dan tebal. "Yakin, Pak, tidak apa-apa?" "Ayok coba aje." Tak sampai 100 meter lagi, ojek mati. Gleg gleg gleg..... Mungkin mesin motor kebanyakan minum air. Motor mati. Jarak arahku masih tinggal separuh. Jarak dari Pure ke tempatku sekitar 2 km. Ehm... motor sudah tak tertolong.
"Sudah, Pak. Aku jalan kaki saja ya. Sudah dekat, kok." Kukasi goceng. Dia tersenyum. "Oh maaf, Dik." Aku paham motor tidak bisa diandalkan. Aku memilih jalan kaki dan menebas luapan air dari kali di sepanjang jalan itu. Ternyata bukan cuma ojek kami yang mati, di sepanjang jalan itu banyak juga motor yang dituntun. Oh.... kaki dalam sepatu basah, celana selutut juga basah. Oh, hatiku basah juga. Ih!
Aku jalan kaki. Di depanku air riuh rendah. Sesekali air naik sepaha ketika ada mobil lewat di sampingku.
Terima kasih Jakarta, eh Depok maksudku, aku sudah merasakan air banjir!
Ohya. Aku sangat lemah mengidentifikasi nama-nama daerah, khususnya di Jakarta. Bayangin, Kelapa Dua Depok saja aku imajinasikan sebagai Jakarta. Padahal bukan. Secara demografi dan pemerintahan berbeda. Tapi entahlah, pikiranku masih saja tidak bisa kompromi bahwa Jakarta dan sekitarnya adalah Jakarta. That's it all!
Di depan mataku hujan gemerincing deras. Bulirannya seperti logam yang memencar di tengah jalanan aspal. Hujan makan sekitar 1 jam!
Ke Jakarta kali ini sebenarnya aku cuma sebentar: menyiapkan bahan-bahan untuk riset di lapangan. Setelah itu minggat lagi ke kota lain: Makassar. Nah, pengalaman kali ini luar biasa karena aku merasakan bajir meski cuma selutut. Tapi setidaknya seru! Pengalaman ini bersanding dengan pengalaman pertama kali aku ke Jakarta. Pertama kali sekitar tahun 2008 awal, saat masih di semester 4, di dekat Istana Presiden, di Jalan Veteran sana, yang hanya selemparan ludah dengan deretan kantor Jaksa Agung dan Istina.
Entah kenapa, kota Jakarta bagiku adalah kota imajiner, tempat semua bayangan dan halusinasi menyerangai. Jangan salahkan aku sebagai pengunjung kota ini bilamana ingatan tentang Jakarta adalah perihal ini: korupsi, banjir, macet, dan kriminalitas. Jangan salahkan pengunjung sebuah kota seperti aku ini, ya! Karena kota sejatinya akan bercerita secara jujur kepada pengunjungnya.
Sekarang aku sudah benar-benar merasakan tentang Jakarta. Terkena banjir adalah cita-citaku untuk merasai kota Jakarta. Sepertinya, tanpa dikena banjir belum merasakan Jakarta!
Hujan reda. Hanya gerimis tipis saja. Aku memanggil ojek untuk kembali ke kantor, di Bukit Cengkeh 2. "Tidak banjir kan, Pak, menuju Bukit Cengkeh Dua?" Aku coba meyakinkan si tukang Ojek. "Iya, tapi dikit."
Akhirnya tubuhku dibawa ojek motor. Jalan di depanku masih hanya dilapisi aliran air sedikit. Ojek melejit. Makin jauh makin air semakin tebal. Semakin tebal. Semakin tebal, dan tebal. "Yakin, Pak, tidak apa-apa?" "Ayok coba aje." Tak sampai 100 meter lagi, ojek mati. Gleg gleg gleg..... Mungkin mesin motor kebanyakan minum air. Motor mati. Jarak arahku masih tinggal separuh. Jarak dari Pure ke tempatku sekitar 2 km. Ehm... motor sudah tak tertolong.
"Sudah, Pak. Aku jalan kaki saja ya. Sudah dekat, kok." Kukasi goceng. Dia tersenyum. "Oh maaf, Dik." Aku paham motor tidak bisa diandalkan. Aku memilih jalan kaki dan menebas luapan air dari kali di sepanjang jalan itu. Ternyata bukan cuma ojek kami yang mati, di sepanjang jalan itu banyak juga motor yang dituntun. Oh.... kaki dalam sepatu basah, celana selutut juga basah. Oh, hatiku basah juga. Ih!
Aku jalan kaki. Di depanku air riuh rendah. Sesekali air naik sepaha ketika ada mobil lewat di sampingku.
Terima kasih Jakarta, eh Depok maksudku, aku sudah merasakan air banjir!
Sunday, December 09, 2012
Jogja dalam Bingkai Puisi
Di mata
penyair Jogja adalah puisi yang tak henti-henti mengalirkan inspirasi. Begitulah
kesan salah satu teman penyair yang berkunjung ke Yogyakarta untuk bertemu
beberapa penyair dan penulis yang dikaguminya di kota gudeg ini. Dia di Jogja
hanya dalam tempo yang singkat: satu minggu saja. Tapi dia sudah mengaku bahwa begitu
banyak puisi yang minta lahir di kota ini.
Cerita
teman di atas adalah salah satu testimoni yang menegaskan bahwa Jogja adalah kota
yang telah menjadi impian para penyair untuk dikunjungi. Untuk sebagian orang,
Jogja Ibarat kota Paris untuk mengabadikan kisah romatisme cinta atau seperti
Vienna untuk menegaskan tentang kesempurnaan musik-musik klasik. Karena di kota
ini begitu banyak sejarah kesenian dan momentum kesusastraan yang tersimpan, di
mana para penyair besar pernah tinggal dan berproses, dan simbolisme Jogja yang
selalu diabadikan dalam karya-karya sastra sepanjang masa. Sepertinya, siapa pun belum merasa sempurna proses
kepenyairannya sebelum menginjakkan kaki di kota yang dikenal sebagai kawah candradimuka
ini.
Monday, December 03, 2012
Menulis Cerita sebagai Kesenangan
(Esai ini ditulis tempo hari sebagai pengantar sebuah kumpulan cerita pendek adik-adik saya di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Tapi saya tidak tahu wujud bukunya macam apa, karena sayangnya saya belum mendapatkan cetakannya :p)
Dalam salah satu novelnya yaitu The Black Book,
yang kemudian menjadi penanda penting lahirnya postmodern style dalam karya-karya selanjutnya, Orhan Pamuk, peraih anugerah Nobel Sastra 2006 menulis begini:“[N]othing is as surprising as life. Except for
writing. Except for writing. Yes, of course, except for writing, the only
consolation.”
Pamuk sungguh jelas
menempatkan dirinya sebagai penulis. Dari beberapa cita-cita yang
diimpikannya—menjadi pelukis, penyair, jurnalis dan bahkan insinyur—Pamuk banting setir
untuk menjadi penulis. Sejak usia 23 tahun dia sudah memilih jalan menjadi
penulis novel. Bisa dipastikan bagaimana proses “berdarah-darah” yang
telah dilalui Pamuk untuk menunjukkan totalitas dan keseriusan dalam menekuni
bidang kepenulisan. Dia bahkan selama lima tahun lebih tidak keluar rumah, mendekam di kamar dengan perpustakaan pribadi keluarga dan sebuah ransel yang berisi buku-buku koleksi ayahnya, membaca dengan tekun, hingga novel pertamanya lahir setelah tujuh
tahun kemudian.
Pamuk adalah seorang
Pamuk, sosok penulis yang hidup di negeri yang berbeda: Turki. Meski
begitu, bukan berarti dia tidak bisa disamai dalam hal spirit kepenulisannya. Kita
bisa membaca jejaknya melalui karya-karyanya sendiri, ataupun dari ulasan-ulasan
orang lain.
Nah, dalam tulisan singkat
ini saya diminta memberikan kata pengantar untuk sebuah antologi cerpen yang,
sepertinya, hanya untuk dokumentasi dan seru-seruan belaka (?), semacam menerbitkan
karya sastra dalam bentuk antologi cerpen karena faktor periodik. Saya katakan
“periodik” karena kecenderungan umum yang terjadi di Annuqayah khususnya di masa saya dulu,
mungkin juga termasuk masa dua penulis dalam antologi cerpen saat ini: Ummul Khaier El-Syaf dan Nurul Alfiyah Kurniawati (?), yang sudah mau lulus
dari jenjang pendidikan SMA di Annuqayah, biasanya menggebu-gebu untuk membukukan
karya-karya mereka sepanjang berproses menulis di pesantren.
Semangat antologi karya
(puisi, cerpen, dll) seperti itu dalam sisi dokumentasi tentu sangat bagus--sebagai bentuk sharing tulisan dan karya kepada teman-temannya yang lebih
muda atau baru masuk ke pesantren. Bahwa kakak-kakaknya pernah berkarya dan membukannya. Namun di sisi lain, cara seperti itu
cenderung tergesa-gesa atau bahkan prematur. Sebenarnya, yang paling penting
dalam menulis adalah berlatih dan terus berlatih. Tak peduli seberapa
capai, lelah, dan bahkan lapar! Itu prasyarat yang harus dilalui
tentunya.
Tapi jangan takut dengan
keprematuran sebuah karya. Karya prematur mencerminkan tahapan dan proses dalam
menulis itu sendiri. Tak perlu takut salah atau tulisan jelek. Keberanian dan tekad kedua calon cerpenis ini adalah kabar baik. Tapi dengan syarat proses menulis terus berlanjut. Kuncinya ketekunan tadi, berlaku untuk profesi dan pekerjaan
apapun, lebih-lebih dalam menulis. Jika kamu sudah menekuni dengan senang dan
sabar profesi apapun yang kamu pilih, karya dan semua hasil pekerjaan yang kamu bikin akan memukau dan sangat hebat pada akhirnya.
Saya percaya anak muda
semacam Ummul Khaier El-Syaf dan Nurul Alfiyah
Kurniawati ini akan menjadi the next short stories writer di masa akan
datang bilamana mereka mampu menekuni dengan sabar dan passion yang kuat.
Karena dari beberapa cerpen yang saya baca, khususnya yang berjudul Percakapan Sepasang Sahabat dan Aku Malang, Ibuku Melintang. Saya sangat suka
cerpen yang pertama, yaitu Percakapan Sepasang Sahabat. Teknik bercerita Ummul dalam cerpen itu bisa dibilang segar dan enak, mengalir, dan mengejutkan.
Ummul seperti lepas bercakap-cakap begitu saja secara langsung dengan
menyembunyikan tokoh-tokoh yang sedang terlibat dalam dialog. Kemasan cerpen
seperti itu menurut saya perlu diapresasi lebih. Sementara cerpen punya Ummul yang
lain tampak biasa-biasa saja, tanpa ada keistimewaan yang mengejutkan.
Sementara itu, Nurul Alfiyah Kurniawati mempunyai kemampuan pelukisan latar
dan penguasaan kosa kata yang lebih bagus dari Ummul. Misalnya dalam cerpen
berjudul Untuk Satu Nama. Teknik yang dipakai Nurul harus benar-benar
detail dengan membangun narasi dalam bentuk fragmen, sehingga pembaca bisa
mengikuti alur yang hendak disampaikan. Cara-cara bercerita seperti ini memang cukup
baik dicoba dan dikembangkan.
Bagi saya, Nurul punya imajinasi bagus dan benar-benar mempunyai sebuah kisah dalam cerpenya.
Ia menuliskan kisah apa adanya dan mengalir enak dengan kemampuan pemilihan kata yang cukup baik,
dan kadang dengan bahasa yang mencengangkan. Misalnya lihat paragraf berikut:
“Aku tidak bisa membenci keindahan kota ini, seburuk apapun kenangan yang
diberikannya. Aku tetap membungkus hatiku untuk satu orang yang sama selama
tiga tahun kurang sehari.Tak peduli harus setia menenggelamkan diri di tengah
keramaian Bucherer demi mencari hiburan, melelehkan kesepianku seperti halnya
salju dan lampu pijar yang melelehkan kesan angker area pemakaman Zhukov.
Ataupun membusuk sekalian di tepi Reuss.”
Saya suka terutama dua cerpen Nurul berjudul Untuk Satu Nama dan Puteri
Bulan. Teknik bercerita Nurul yang berani mencoba hal-hal baru--dan keluar
dari kebiasaan anak-anak sejawat MA menulis cerita—sangat bagus dan perlu
terus dilatih. Nurul sepertinya enjoy ingin bercerita tentang cara-cara lain, misalnya dalam kalimat-kalimat awal pembukaan cerpen Puteri Bulan.
Sekilas dari sedikit cerpen yang dikirimkan dan saya baca, saya bisa menangkap
bahwa si Nurul ini sudah terbiasa dengan bacaan yang lebih luas daripada Ummul.
Dari cerita-cerita yang dibangun seperti
latar, konflik dan simbol-simbol yang diangkat menunjukkan bahwa wawasan Nurul
sudah terlihat beragam dan kaya. Dalam menulis cerpen memang harus seperti itu.
Menjadi penulis (cerpen ataupun novel) harus mempunyai pengetahuan yang kaya,
wawasan luas dan perspektif yang beragam. Itu tentu demi menumbuhkan dan
membubuhkan imajinasi-imajinasi yang cantik dan ciamik dalam cerita.
Namun begitu, Nurul tampak lalai dalam tataran teknis EYD, gramatikal, dan pembentukan
paragraf, sehingga terasa bertumpuk-tumpuk. Entah apakah karena tukang ketiknya saja
yang salah, saya kurang tahu pasti. Tapi cerpen-cerpen Nurul secara wawasan
sudah sangat luar biasa untuk sekelas siswa MA. Nurul tinggal memperbaiki secara teknis
kepenulisan saja. Setelah itu, saya sarankan untuk coba kirimkan ke media-media massa.
Sementara Ummul secara teknis menulis sudah lebih oke. Ummul butuh pengkayaan
dan penambahan wawasan yang kuat untuk memberikan warna yang luas dalam
cerpen-cerpennya ke depan. Caranya tentu dengan banyak membaca karya-karya
orang lain. Tujuannya untuk memperkaya gaya dan bisa mengembangkannya secara maksimal dengan rasanya sendiri kelak. Perlu diingat bahwa tema dalam sebuah cerita tidak akan pernah
bagus kalau cara penyampaiannya, cara bercerita/berkisah, perspektif yang
diambil dan karakter yang dibangun rapuh. Sebagus apapun tema yang akan kalian
tulis, kalau bangunan dan wawasan berceritanya lemah, ya tetap lemah. Dan sebaliknya,
sesederhana apapun tema yang kalian angkat, tapi dikemas dalam bungkus cerita/kisah yang unik, tentu akan menjadi istimewa.
Akhirnya, saya mau menyampaikan salam kreatif buat adik-adik santri di Annuqayah.
Jangan pernah lelah berkarya dan berkreasi (tidak harus dengan tulisan, masih
banyak karya-karya lain yang bisa dijelang) untuk masa depan kalian. Saya
secara pribadi sangat senang adik-adik di pondok terus menulis dan berkarya.
Salam
Yogyakarta, 3 Desember 2012
Sunday, December 02, 2012
Memang "Cuma" Puntung Rokok
Masih ingat dengan semboyan "small is beautiful" kan? Pasti dong. Tinggal klik aja di Google kata kunci itu. Di situ akan tertera nama E. F. Schumache, ekonom Inggris asal Jerman. Di era "tab" ini semuanya bisa berada dalam gengaman--cepat melampaui kilat.
Nah, saya nggak ingin membahas semboyan itu. Saya justru ingin mengatakan bahwa "small is dangerous"! Kenapa tidak? Ceritanya begini: hal-hal besar itu berasal dari hal-hal kecil. Sebelum menjadi "universe", semesta ini hanyalah gumpalan-gumpalan atom; sebelum menjadi manusia, tubuh ini cumalah belesatan sperma dan ovum; dan sebelum menjadi banjir, hanyalah sumbutan-sumbatan kecil pada aliran air, sanitasi, gorong-gorong, lalu sungai yang tersumbat oleh barang-barang kecil (yang kita anggap tak bermasalah) seperti selembar sampah plastik, puntung rokok, dan pembalut yang kemudian menumpuk dan menggunung.
Then, the small things become the biggest one!
Ceritanya saya masih nge-kost. Sejak awal ada beberapa pertemuan dan kesepakatan untuk tidak membuang puntung rokok, bungkus saset sampo, bungkus sabun, dll dalam kamar mandi. Hampir setiap 3-4 bulan kost saya mengadakan obrolan bersama dan membahas hal-hal penting, dan bahkan tak jarang gotong royong bersih-bersih bareng. Itu keren pastinya.
Tapi soal yang satu ini: puntung rokok dan sejenisnya di kamar mandi tak pernah beres! Setiap hari pasti ada. Oh shit! Manusia macam apatah kita ini?
Saya jadi ingat komentar teman di luar sana: "boleh saja kalian mau berak, pipis, mabok, narkoba, ngesex dan bahkan bunuh diri pun asal di kamar, di ruang pribadi dimana tidak mengganggu orang lain. SILAHKAN! Budaya kita sebaliknya: di kamar sendiri di-pel se-mengkilat mungkin dengan aroma parfum kelas dunia, dipoles dengan sedemikian indah sebagai "rumah surgaku", dan dirawat dengan ekstra supercantik, sementara di luar pintu, di halaman, di jalan raya, kita kerap lalai tentang kewajiban sebagai makhluk sosial. Oh.
*Catatan menjelang senja, sehabis boker!
Nah, saya nggak ingin membahas semboyan itu. Saya justru ingin mengatakan bahwa "small is dangerous"! Kenapa tidak? Ceritanya begini: hal-hal besar itu berasal dari hal-hal kecil. Sebelum menjadi "universe", semesta ini hanyalah gumpalan-gumpalan atom; sebelum menjadi manusia, tubuh ini cumalah belesatan sperma dan ovum; dan sebelum menjadi banjir, hanyalah sumbutan-sumbatan kecil pada aliran air, sanitasi, gorong-gorong, lalu sungai yang tersumbat oleh barang-barang kecil (yang kita anggap tak bermasalah) seperti selembar sampah plastik, puntung rokok, dan pembalut yang kemudian menumpuk dan menggunung.
Then, the small things become the biggest one!
Ceritanya saya masih nge-kost. Sejak awal ada beberapa pertemuan dan kesepakatan untuk tidak membuang puntung rokok, bungkus saset sampo, bungkus sabun, dll dalam kamar mandi. Hampir setiap 3-4 bulan kost saya mengadakan obrolan bersama dan membahas hal-hal penting, dan bahkan tak jarang gotong royong bersih-bersih bareng. Itu keren pastinya.
Tapi soal yang satu ini: puntung rokok dan sejenisnya di kamar mandi tak pernah beres! Setiap hari pasti ada. Oh shit! Manusia macam apatah kita ini?
Saya jadi ingat komentar teman di luar sana: "boleh saja kalian mau berak, pipis, mabok, narkoba, ngesex dan bahkan bunuh diri pun asal di kamar, di ruang pribadi dimana tidak mengganggu orang lain. SILAHKAN! Budaya kita sebaliknya: di kamar sendiri di-pel se-mengkilat mungkin dengan aroma parfum kelas dunia, dipoles dengan sedemikian indah sebagai "rumah surgaku", dan dirawat dengan ekstra supercantik, sementara di luar pintu, di halaman, di jalan raya, kita kerap lalai tentang kewajiban sebagai makhluk sosial. Oh.
*Catatan menjelang senja, sehabis boker!







