Friday, March 04, 2011

Kawan dengan Seribu Macam Warna

diambil saat pembuatan 
SIM di Kab. Sumenep

Di suatu petang yang terlanjur biasa, saya mengobrol dengan seorang kawan dari pulau Sumatra sana, seorang perempuan dengan paras, seperti yang saya tangkap dari foto di jejering sosial Facebook, cukup cantik. Dia memulai obrolan pertama kali setelah saling memperkenalkan diri bahwa dirinya sebagai penerima beasiswa dari IIE, program sama seperti yang pernah saya terima bulan Juni-Juli 2010 kemarin: belajar bahasa dan budaya di Amerika.

Jujur, saya lupa nama wanita itu. Nama bagi saya—kadang—tak seberarti daripada apa yang diobrolkan, setidaknya pada saat itu. Percakapan dimulai dari basa-basi soal program beasiswa ke negeri Paman Sam itu: sebuah obrolan standar, tak istimewa, selain berbagi soal persiapan, dan hal-hal apa saja yang mesti dibawa. Obrolan satu langkah lebih lanjut: menanyakan kuliah dan jurusan. Saya tegas soal ini, bahwa saya mahasiswa Sosiologi (hehe meski jadi mahasiswa tua yang tak rampung-rampung kuliah!) di sebuah universitas negeri yang tak terlalu berkelas di Jogja. Namun saya tetap mencintai almamater ini karena sudah terlanjur membesarkan saya dan sekaligus menjerumuskan saya kepada jalan-jalan yang penuh lika-liku!

Dia menyikut lebih lanjut: pekerjaan! Ya, pekerjaan, suatu kata atau istilah yang sulit saya jawab. Saya tidak tahu persis pekerjaan apa yang sedang saya kerjakan. Untuk kata yang satu ini, saat ini di Indonesia atau mungkin di belahan dunia yang juga sedang membangun, pekerjaan adalah suatu yang absurd, sesuatu yang selalu dibayangkan, dan sulit merumuskan bentuk konkritnya. Yang terbayang dalam benak saya adalah kesibukan, tapi ups, bentar dulu, tentu beda antara pekerjaan dan kesibukan. Apakah pekerjaan bisa bikin kesibukan. atau kesibukan bikin pekerjaan? Mungkin yang dia maksud adalah pekerjaan yang bisa menghasilkan duit?

Saya sangat sulit menjelaskan tentang hal yang satu ini. Sulit sekali. Karena saya dibesarkan di sebuah keluarga di Madura, di kampungku, yang tidak melulu memperhatikan duit di balik sebuah pekerjaan. Pekerjaan dalam bahasaku adalah a lako. Orang kampung tidak pernah memperoalkan a lako. Yang penting a lako, semuanya sudah beres. Apakah dapat duit atau tidak, itu adalah hal “asketis” bagi orang di sekelilingku. Ini mungkin lucu dan bahkan bodoh bagi Anda, saat ini, ketika masih ada orang yang tidak peduli harta. Iya, memang begitulah orang kampung, suatu kehidupan yang tak pernah serakah kepada duit dan harta benda.

Di sini, di kota kata orang, saya (seperti) ditekan menangkar duit sebanyak-banyaknya; mencari, meraup, dan menumpuknya. Sehingga banyak kesibukan harus saya kerjakan. Namun, saya belum paham: apakah itu pekerjaan? Ah, saya tidak hendak memperlebar imajinasi. Sudahlah anda sendiri yang meruncingkannya, soal pekerjaan.

Yang pasti saya jawab. Saya bilang pekerjaan saya adalah menulis, atau menjadi penulis! Karena setiap hari saya disbukkan dengan menulis dan menulis. Dia seperti diam sejenak di ujung sana. Isyarat membalas pesan di kotak obrolan seperti sudah tidak berbinar lagi. Saya biarkan saja dia diam; satu spasi kata pun tak saya tekan!

Oh, ya, Saya perlu memperkenalkan kawan yang sedang menjadi buah bibir-tuts laptopku kali ini. Seperti pengakuannya, dia adakah seorang mahasiswi akuntansi di sebuah universitas di kotanya, di Sumatra Utara sana. Sebelihnya tentang dia, saya tidak tahu. Yang saya yakin dari wanita ini adalah bahwa dia adalah bangsa Indonesia yang setumpah Tanah Air dan sebahasa yang sama.

Apa yang Anda tulis? Setangkai tanya dari seberang datang dengan tanda merah di kotak obrolan dan ketukan bunyi “ntut” sebagai alert menyentil telinga. Saya jawab kalau saya suka menulis banyak hal. Jika sastra (fiksi), saya menulis puisi dan cerita pendek ihwal kesaharian; jika artikel saya suka menulis tentang isu politik dan sosial. Dan masih banyak hal lain yang saya tulis setiap saat meski hanya sekedar mencatat tatal-tatal ingatan yang tanggal atau meski hanya mengendapkan sumpah serapah yang tumpah ruah, dalam sebuah tulisan.

Wah, aku alergi soal isu sosial dan politik seperti itu! Dia membalas dengan sangat tangkas dan cepat. Alergi bagaimana? Alergi mendengar soal begituan! Saya diam beberapa detik, atau bahkan menit. Saya memastikan beberapa hal tentang “isu sosial dan politik”, setidaknya seperti yang sudah menjadi keyakinan dan bahkan mendarah daging bahwa: bangsa ini, apa pun latar belakangnya, harus menjadi bagian yang sadar ihwal isu terutama sosial dan isu politk. Yang terakhir (politik) memang agak anomali dan bahkan memang bikin jengkel banyak orang di negeri ini.

Begini, saya berpikir sejak awal, saya tidak tahu kapan pastinya, bahwa semua anak bangsa harus mempunyai kesadaran berpolitk dalam artian yang benar—mengerti soal bernegara, menyadari hak-hak, berpartisipasi, dan lalu mengawasi bersama. Yang namanya cinta Tanah Air, jelas bahwa kita bersama-sama harus mengawal dan mengayomi negara kita sendiri. Karena, bagi saya, di tengah meruaknya pendidikan politik yang tidak karuan di negeri ini, dimana praktik money politic di sana sini yang ahirnya berakibat kepada pragmatisme rakyak kecil dalam berpartisipasi di kancah politik seperti dalam pemilihan kepala daerah, kesadaran politik yang substantif harus diemban setiap bangsa. Dan, mungkin orang macam kita harus mengambil bagian dalam kesadaran  sosial-politik itu!

Dalam diskusi yang biasa saya lakukan dengan banyak komunitas dan kawan-kawan, saya selalu mengatakan: janganlah alergi kepada hal-hal yang semestinya kita memberikan arti penting bagi pembangunan kesejahteraan. Di sana, kehadiran kita bisa menjadi koreksi, artikulasi positif, dan sekaligus manfaat berantai demi kesadaran bersama untuk kesejahteraan bersama. Dan, mungkin, sekali lagi, orang macam kita benar-benar mempunyai arti bagi bangsa dan negara. Jika kita benar-benar berarti bagi pembangunan bangsa dan negara, hapuslah secepatnya alergi itu.

J.J. Rousseau Kontrak Sosial-nya jelas mengatakan tentang parlemen dan representasi suara rakyat di dalamnya. Sebagai sebuah idealisme, filsof Prancis itu sudah sangat baik ketika coba menjelaskan soal parlemen yang baginya bisa menjadi jembatan ruang dimana rakyat datang, bersuara, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan kebijakan dan arah politik negaranya. Tapi itu hanya ide. Dalam praktiknya tak ayal berbalik arah! Di Indonesia, idealisme tantang parlemen itu sudah berputar (putar) arah dengan tidak jelas. Sehingga, meminjam istilah Muammar Qathafi, seorang pemimpin Libia yang sekarang sedang bergolak (selanjutnya saya akan menulis soal paradoks sosok Qathafi/Qadhafi/Kadafi [pilih sendiri pengucapan yang Anda suka he he…]), bahwa perwakilan adalah penipuan, yang dihasilkan dari suara belian tadi, atau bahkan bisa saja suara rampokan yang dikelola dari hasil korupsi dan kolusi di tengah pragmatisme rakyat dalam politik. Narasi ini namanya, sekali lagi menurut Qathafi dalam The Green Book-nya, demagogic.

Jika kondisi seperti ini, tanpa kehadiran orang-orang terdidik yang bisa mengawal, mau kemana bangsa dan negara ini akan pergi? Apakah kita rela membiarkan negara kita pergi jauh ke antah berantah tanpa rakyatnya, tanpa perhatian penuh cinta dari kita? Bagaimana kondisi sosial kita yang dijebak oleh centang-perentang politik kepentingan (mendulang suara) terus terbiarkan begitu panjang tanpa kehadiran kita, orang-orang yang terdidik itu? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jadinya jika Tanah Air ini dibawa lari oleh para Mafioso, koruptor, dan para penyamun lainnya!

Kotak obrolan masih saya biarkan menganga tanpa ada balasan sepatah kata pun. Saat itu, saya digiring oleh sebuah kenyataan tentang seribu warna kawanku, bahwa tak semua yang ada dalam pikiran saya, meskipun itu etis sebagai nilai-nilai universal, akan menjadi bagian yang seiya sekata bagi orang lain


Saya terpekur lama, seperti ingin menyerah begitu saja, lalu mengucap—seperti kebanyak orang yang menyerah—lanjutan dan ikuti saja jalan pikiranmu, kawanku 

Ditulis saat lampu padam: Papringan, Jogja, 04 Maret 2011







0 comments: