Sunday, March 27, 2011

Muda yang (Mem)Bangga(Kan)

Youth is not only a leader for tomorrow but also a partner for today.
 (Kofi Annan)

taken by BJ from the photo sessions
Beberapa waktu kemarin, tepatnya tanggal 20-25 Februari 2011, saya mengikuti konferensi pemuda internasional bertajuk Youth Awareness of Climate Change dan dihadiri oleh perwakilan pemuda dari 36 negara (Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika). Di samping mendapatkan pengetahuan tentang pemanasan global dan kondisi terkini ihwal krisis pangan dan semacamnya, saya mendapatkan banyak kesempatan untuk berbagi bersama representasi pemuda dari berbagai benua. Mereka yang potensial dan mempunyai visi progresif mengenai keberlangsungan masa depan lingkungan ekologi betul-betul mencurahkan semua potensi dan semangatnya demi menyelamatkan kondisi lingkungan dimana laju pemanasan global semakin hari semakin mengancam.

Entah kenapa, setiap kali saya terlibat dan mengikuti suatu forum baik lokal maupun internasional, saya selalu tertantang untuk menuliskannya kembali menjadi sebuah narasi, sebagai buah pikiran dan pengalaman yang saya catat dan saya share ke teman-teman semua. Karena kebiasaan saya, setiap akali mengikuti forum dan kegiatan yang melibatkan banyak elemen dengan kesadaran tentang kemanusiaan yang membanggakan, adalah berkontemplasi dan melakukan flash back terhadap kondisi riil di negeri saya sendiri. Ya, hanya begitulah kemampuan saya untuk saat ini, bahwa perubahan itu akan saya mulai dari dan sejak dalam pikiran, dan perilaku keseharian. 

Pertemuan pemuda tingkat internasional yang didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, Universitas Gadjah Mada, dan Pemerintah Yogyakarta ini menawarkan sebuah solusi dan kesadaran bersama para pemuda tentang tiga poin penting yang kemudian menjadi Deklarasi Yogyakarta yang dibacakan oleh utusan peserta.

Pertama, pengelolaan lingkungan: belajar dari masa lalu, berkarya untuk masa depan; kedua, inisitatif pemuda tentang konservasi lingkungan, dan ketiga adalah konservasi pro-miskin sebagai a win-win solution. Ketiga tema ini menjadi fokus 150 peserta yang dikemas secara khusus dan fokus untuk menemukan solusi dan spirit pemuda dalam  menghadapi masalah lingkungan ke depan. Yang muncul dan menjadi diskusi paling hangat adalah tetang konservasi pro-miskin dan inisitaif pemuda tentang lingkungan yang menengahkan isu pangan lokal untuk mengantisipasi krisis pangan di tengah ancaman krisis lingkungan yang sangat ekstrem.

Kekuatan utama masa depan dunia adalah terletak pada peran dan karya pemuda. Pengetahuan mendasar pemuda tentang lingkungan dengan berbagai kearifannya menurut budaya dan tradisi masing-masing bangsa akan menetukan inisiatif dan peran penting bagi konservasi lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai bentuk dialog kearifan hidup, pemuda tidak boleh terputus dari benang-benang tradisi dan budaya yang telah membesarkannya dan sekaligus berinisiatif untuk melahirkan invensi yang mendukung penuh bagi berkelanjutan lingkungan seperti masalah ketahanan pangan ataupun konservasi alam sekitar.

Menghadapi krisis pangan ke depan yang mengancam penduduk dunia, dan lebih-lebih mencemaskan ratusan juta bangsa Indonesia, ada salah satu konklusi yang telah menjadi Deklerasi Yogyakarta dalam forum ini. Bahwa penguatan dan pelestarian pangan lokal adalah suatu alternatif yang harus kembali digalakkan dan menjadi bagian integral dalam kultur kehidupan masyarakat Indonesia. Penguatan pangan lokal tentu akan mengamankan penduduk bangsa ini dari kelaparan yang berasal dari daerah-daerah yang secara kultur dan tradisi sudah akrab dengan pangan lokal mereka.

Harus diakui bahwa paradigma pangan di bawah kendali Orde Baru terjerat dalam politik revolusi hijau ala Soeharto yang menyimplifikasi pangan nasional dengan beras semata. Akibat dari kebijakan politik sentralisme pangan tersebut adalah terjadi ketercerabutan tentang pengetahuan dan penguatan pangan lokal yang sediakala telah diproduksi dan dikembangkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Paradigma pengembangan dan produksi pangan kita sekarang harus berorientasi kepada ketahanan pangan lokal dalam negeri sebagai menifestasi wawasan kebangsaan.

Disorientasi

Poltik pangan kita hingga hari ini masih sangat diorientatif; tidak mengakar kepada persoalan mendasar tentang kedaulatan bangsa dan negara. Saya takut kebijakan politik pangan yang berdampak langsung kepada produksi pangan dalam negeri justru ditumpangi oleh politik kepentingan yang biasa terjadi di banyak instansi pemerintah. Politik pangan tersebut bisa dilihat dari kebijakan pemerintah yang baru-baru ini mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 13/2011. Kebijakan melalui PMK ini menurunkan bea masuk (BM) menjadi 0 persen bagi 57 jenis komoditas pangan, termasuk gandum, beras, dan jagung.
Secara nyata, kebijakan ini akan menjadi mimpi buruk bagi produksi pangan dalam negeri, alih-alih berpikir tentang divesifikasi pangan lokal di daerah-daerah. Ketika BM impor pangan menjadi 0 persen, swasembada pangan menjadi mimpi di siang bolong. Karena sudah bisa dipastikan bahwa produksi pangan dalam negeri akan tergencit di tengah bombardir pangan impor. Secara intens dan langsung pemerintah telah mendorong rakyatnya jadi pemakan mi dan roti berbahan baku gandum yang jelas tidak bisa ditanam oleh mereka serta mematikan diversifikasi pangan berbasis bahan baku lokal. 

Sekarang semua itu harus kembali kepada kebijakan dan kemauan politik pemerintah yang populis dan mau memperhatikan kondisi riil rakyatnya. Logikanya sederhana—namun harus cepat ditanggapi secara serius di tengah kondisi menuju krisis pangan global—bahwa jika dalam negeri sudah tersedia diversifikasi pangan lokal kenapa harus impor pangan? Kebijakan pemerintah melalui PMK No 13/2011 benar-benar telah memupus diversifikasi pangan. Ini benar-benar big nonsense bagi Indonesia ketika semua negara berlomba-lomba meningkatkan potensi ekspornya dan sekaligus membatasi dan menekan barang impor masuk ke negara mereka, sementara negeri ini justru menurunkan bea masuk menjadi 0 persen melalui kebijakan tersebut.

Di tengah masyarakat modern yang gemar makanan cepat saji, seperti mi dan roti, pemerintah harus mendorong produk pangan tandingan yang berbasis kepada bahan baku lokal dalam negeri seperti tepung beras (menjadi bihun), tepung ubi (menjadi soba, makanan Jepang), dan tepung kacang hijau (menjadi suun). Kita juga bisa memroduksi roti berbahan baku lokal, seperti tepung beras, tepung jagung (menjadi tortila, makanan Meksiko), dan juga tepung sagu. Di samping itu, diperlukan inovasi-inovasi terkait produksi pangan yang berbahan baku dalam negeri yang terus berkelanjutan. 

Pengetahuan tentang pangan lokal tentu menjadi sangat penting bagi generasi muda bangsa saat ini dalam mengupayakan lahirnya kesadaran tentang khazanah dan diversifikasi pangan yang kita miliki. Diversifikasi tidak akan ditemukan di belahan negeri mana pun. Sekarang pemuda harus menjadi partner utama bagi penguatan dan pengembangan pangan lokal yang nantinya bisa dikelola dalam bentuk produksi lanjutan yang berbahan baku pangan kita sendiri.

2 comments:

Blimadefoundation said...

Luar biasa mas BJ..saya kagum dengan berbagai prestasi yg mas telah capai..
mungkin kapan waktu kita bisa ketemu berbincang2 untuk sekedar berbagi pengalaman, bgitu,,,

Salam,
Made.

Bernando J. Sujibto said...

Oke Made, makasih kamu sudah berkunjung ke rumah keduaku ini. Oke kita masih punya waktu banyak kok untuk mengobrol dan share pengalaman. Aku punya tapi secuil saja hehhee.... semangat ya