Sunday, April 21, 2013

Dan Ajal pun Tak Pernah Membunuh Visi

foto dari fb tasyriq
Guru dan sahabat saya, Tasyriq, izinkan saya bercerita tentang saat-saat pertama kali saya bertemu denganmu. Maaf kamu pasti tidak akan pernah tahu apa yang saya tulis ini (karena pada awalnya saya merasa tidak penting untuk diceritakan). Tapi setelah kepergianmu, di sebuah hari dimana bangsa ini tengah gegap-gempita merayakan hari bersejarah bernama Hari Kartini, dan di hari itu kamu pergi untuk selamanya, saya tak punya apa-apa lagi selain menuliskan sepenggal kisah yang saya ingat tentang kamu. Tak lebih dari itu. Daripada semuanya lenyap begitu saja dan dimakan angin lalu, lebih baik--sudah menjadi keyakinan saya sebagai penulis--saya menuliskannya demi melawan lupa!


Saya lupa pastinya hari itu tanggal berapa dan bulan apa. Tapi yang pasti, waktu itu akhir tahun 2006, saat Jogja masih membangun di tengah hantaman gempa dahsyat pada bulan Mei di tahun yang sama. Saat itu, di suatu sore menjelang senja, seorang teman mengajakku ke sebuah warung kopi, Blandongan namanya. Di sana, seperti biasa, para aktivis bersua, saling silang ide dan diskusi dengan sangat sadis.

Sebagai mahasiswa baru, saya coba menikmati suasana Jogja dengan gaya dan cara mereka menjalankan laku laiknya mahasiswa pada umumnya. Seorang teman, yang tahu bahwa saya ingin belajar dan menekuni dunia kepenulisan, menunjukkan seorang sosok penuh canda dan tawa di sebuah meja yang hanya selemparan kartu remi.

"Itu Tasyriq, Bung," ujar temanku.

Saya diam sambil menghujamkan pandangan mata ke tubuhmu. Sebenarmya, saya ingin sekali menyapamu. Tapi karena waktu itu kamu sedang sangat asyik mengobrol dengan teman-temanmu, saya memilih diam. Meski begitu, sekali lagi mata saya tetap memeloti gerak-gerikmu. Maklum saya pakai mata awas seperti itu karena kamu sudah saya kenal melalui tulisan-tulisanmu, terutama resensi buku di Jawa Pos sejak saya masih di Annuqayah, tahun-tahun sebelumnya. Pun saat saya di Jogja, kamu menulis resensi buku dengan sangat rajin di rubrik Ruang Baca milik Koran Tempo yang waktu itu sangat keren dan bikin cemburu. Sebagai penulis-yang-masih berlajar, tentu saya sangat tersetrum dengan eksistensimu di media, kala itu.

Ketika mau beranjak pulang dari Blandongan, seperti biasa, teman-teman kadang hanya menjulurkan tangan untuk salaman--mungkin sebagai isyarat keakraban dari jabat tangan. Dan saya mengikutinya sambil memperkenalkan nama. Saya yakin, waktu itu, kamu tidak akan mengingat nama Bje, nama panggilan yang selalu saya pakai setiap kenalan.

Waktu beranjak cepat di sekitarmu, begitu juga di dunia saya. Saya bergelut dan tenggelam dalam proses, meraba-raba jejakmu: belajar menulis resensi buku di Komunitas KUTUB, komunitas yang telah mengaisku dari kebodohan oleh seorang Guru bernama Zainal Arifin Thoha yang juga sudah meninggal. Tahun 2007 hingga 2008 saya lalui dengan sangat ambisius sebagai pembelajar dan pendatang baru di dunia yang sama: rimba kepenulisan. Di tahun-tahun itu pula, saya tidak canggung menyapamu dengan berbagai cara. Pelan-pelan, saya merasakan bahwa kamu adalah pribadi yang hangat, akrab dan kocak.

Sejak saya merasakan itu, saya tak segan selalu akrab.

Puncaknya sekitar tahun 2010, saat kita biasa main futsal bareng, sesekali ngopi bareng, diskusi, dll. Saya mengenalmu semakin dalam ketika lebih intens mengikuti diskusi-diskusi kecil tentang semangat antikorupsi sepanjang tahun 2011. Saat kamu tengah aktif menjadi "martir" di sebuah lembaga non-pemerintah yang menggerakkan visi-misi antikorupsi tapi akhirnya kamu keluar karena kamu menilai di dalamnya banyak praktik KKN itulah yang membuat saya semakin terkesan dalam. Pilihanmu keluar dari LSM antikorupsi itu untuk menegasikan bahwa dirimu tidak ingin berada dalam jamaah pengangkang kasus-kasu korupsi. Saya terhenyak mendengar itu. Tapi akhirnya saya maklum jika ada indikasi korupsi di lembaga-lembaga yang suka berteriak antikorupsi.

Sekitar empat bulan sebelum kamu akhirnya jatuh sakit sekitar bulan Juni 2012 dan divonis kanker darah bernama Leukemia, kamu secara pribadi mengajak saya ketemu di Toman. Saya ingat betul apa yang sedang menjadi mimpimu saat itu: ingin "membangun jaringan kecil" dan perkumpulan yang bergerak dan mempunyai spirit antikorupsi. Tapi pendekatanmu, seperti yang kamu tawarkan, luar biasa: membangun semangat interprener untuk memutus budaya korupsi; membangun kemandirian finansial melalui wirausaha, sehingga dengan begitu, pikiran korupsi dan ketergantungan (dalam bentuk jebakan para elit) bisa diputus. Artinya, jelas sekali bahwa kamu ingin membangun komunitas atau (mungkin serupa) organisasi yang bergerak di bidang antikorupsi namun dibiayai/diongkosi dengan semangat interprener kita sendiri. Kedengarannya memang sulit, tapi saya yakin itu visi yang harus dilakukan oleh Indonesia.

"Saya mulai menyiapkan draft-nya, Bung," yakinmu. "Ayo.. kamu ikut bersamaku. Tidak perlu banyak orang. Jen bisa diajak kalau nanti dia mau. Saya jengah dengan cara lembaga yang sebelumnya saya bekerja. Tak jauh beda dengan ICW. Proyekan semua!"

Saya mengangguk dan mengiyakan semangatmu itu.

Tapi, kamu sudah pergi lebih dulu, sahabat, setelah ketiga kalinya masuk RS Sardjito. Ketika hari pertama kamu masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya dalam hitungan sepuluh bulan, saya merasakan sakitmu sudah melebihi kekebalan tubuhmu: dadamu nyeri, tidak bisa tidur telentang, dan kamu diminta dipijat pelan-pelan di telapak kakimu. Saat itu, tiba-tiba saya ingat satu orang sahabatmu yang waktu sakitmu terakhir sudah tidak mendampingimu lagi, Cak Badrus, karena sudah boyong pulang ke Jember.  Di samping saya hanya ada Agus Comte dan Arif, dan istrimu tercinta baru saja pulang. Hanya kita berempat. Dan saya sempat bercanda: "seandainya bawa kartu remi, kita bisa main poker di sini."

Kamu hanya menyunggingkan senyuman.

Saya senang kamu sempat memejamkan mata, meski kamu mungkin tidak tidur, sejenak di dada saya yang berlapis bantal yang sedikit kasar itu (meski sudah komplain ke petugas, tetap tidak ditukar bantal yang lebih empuk setidaknya). Saat itu, terakhir kamu masuk rumah sakit, kamu tidak bisa bercerita lagi dengan berapi-api tentang jenis penyakitmu kepada teman-teman yang menjengukmu, tidak seperti saat pertama bulan Juni tahun lalu kamu masuk RS. Sardjito, setelah dirujuk dari RSUD. Wirosaban.

Tapi saya yakin, cita-citamu akan dilanjutkan oleh anak muda negeri ini. Semoga!

Selamat jalan guru dan sekaligus sahabat.....

4 comments:

M. Faizi said...

Dia teman bersama kita. Saya mungkin kenal lebih lama dari Anda, tapi Anda lebih dekat mengenalnya, BJ.

Bernando J. Sujibto said...

Terima kasih Ke Faizi. Iya dia juga menjadi teman banyak orang. Terima kasih sudah berkunjung. Tabik...

Malihah Al Azizah said...

Kemaren aku tahu beliau di twitter, tapi dengan berita duka itu.. Semoga diterima semua kebaikannya..

Bernando J. Sujibto said...

Terima kasih sudah berbagi di sini. Ini hanya penggalan ingatan saja... Semoga bermanfaat