Ziarah ke Museum of Innocence

Kemal menemukan kebahagian mencintai seorang Füsun dengan segenap warna dan misteri.

Saat itu ibuku menangis

Buat kakakku Hermanto Junaidi yang sedang damai bersemayam di bawah pohon ketapang, tempat aku selalu menjengukmu, saat pulang, atau saat pergi sekalipun.

Indeks Perdamaian Kota Itu Perlu

By measuring the state of peace, we can further our understanding of the social, political and economic factors that help develop more peaceful environments

Tentang Ingatan dan Ideologi

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting” — Milan Kundera (The Book of Laughter and Forgetting).

A Journey: from Border to Border

Midyat is one of a must visited historical places in Mardin beside Old Mardin. Overall this city is cited as paths of the early civilizations named Mesopotamia or far before it—if we talked about Christianity and Jews history as well for its strategic location with rocky hill and plain near the Tigris River.

Tuesday, September 25, 2012

Fragmen untuk Rainbow for Peace

Satu

doc Pisgen
Saya lupa persisnya kapan ide acara gerakan Rainbow for Peace muncul. Sebenarnya kalau mau di-cross check lewat catatan based on social media pasti bisa terlacak. Yang pasti, jauh sebelum bulan Agustus 2012 saya banyak ketemu dengan teman-teman komunitas wa bilkhusus teman sesama Person in Charge di komunitas Peace Generation, khususnya Ema. Di samping membicarakan kondisi PIC yang perlu suksesi, karena dari lima yang bisa aktif hanya bertiga apalagi Nurul sudah mengabdi menjadi pengajar muda di Indonesia Mengajar, obrolan kami biasa mengalir ke mana pun. Dan ide-ide segar itu kerap muncul dalam kondisi di mana pikiran kita dibiarkan bebas berjelajah!

Topik paling biasa di antara kami adalah obrolan tentang isu-isu pemuda dan perdamaian secara umum, bisa sekedar curhat, curcol, ataupun sampai kepada diskusi serius di tempat yang tidak serius semacam ruas warung kopi. Kalau tidak salah di Warung Mbak Sasha kami menonton video-video tentang bullying di Amerika ataupun dari negara lain. Beberapa bulan sebelumnya saya sudah pernah nonton video-video tadi karena rekomendasi dari Ms Ana (thank you Ms). Dan sampailah pada sebuah video dan foto-foto bernama Pink Dot, sebuah gerakan komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) yang pertama kali digagas di Singapore. 

Nah, dari situ kemudian terbersit keinginan kami untuk membikin "Lingkaran Pelangi Manusia" dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional 21 September. Konsep yang kami rancang bukan "warna pink" tapi komposisi "warna pelangi". Kenapa warna pelangi? Karena warna ini menjadi simbol keberagaman, atau kebhinnekaan bangsa Indonesia. Pelangi adalah artikulasi keindonesiaan itu sendiri. Kenapa lingkaran? Karena komposisi lingkaran adalah spirit untuk saling melindungi!

Ide-ide segar ini terus kami tetap komunikasikan dengan teman-teman komunitas. Konsepnya diasah dan dipertajam dengan ditambal di sana-sini. Akhirnya terbayanglah sebuah acara yang tidak segan-segan kami menyebutnya gerakan perdana di Indonesia, yaitu Lingkaran Pelangi Manusia dengan tagline "Rainbow for Peace - the rainbow is you" yang diprakarsai sendiri oleh komunitas Peace Generation dengan mengajak teman-teman komunitas lain di Jogja.


Dua

Benar bahwa yang saya sukai dari kegiatan-kegiatan Pisgen adalah pembelajaran proses yang terjadi di dalamnya. Bukan hasil yang saya pikirkan tapi keyakinan bahwa proses yang matang dan well-prepared akan melahirkan hasil yang matang pula. Atas dasar itu, gerakan Rainbow for Peace mulai kami siapkan, sekitar 2 bulan tapi terpotong sama liburan lebaran. Jadi efektif kerja sekitar 1,5 bulan.

Saya secara pribadi hanya menjadi tim hore saja, meskipun memang sangat sulit karena kekurangan jumlah panitia yang terlibat di dalamnya. Fortunately, kegiatan ini biar banyak dihandle oleh teman-teman Cucu Buaya. Dan luar biasa semangat teman-teman Cubuy berkobar dan menggarap acara ini secara spektakuler. Saya berpikir bahwa setelah acara ini suksesi PIC bisa dilakukan dengan segera.

Tiga
Proses belajar untuk mempersiakan Rainbow for Peace terus masif dan teman-teman Cubuy bisa merasai proses ini, bisa mendapatkan feel-nya. That's all I want personally! Proses mendapatkan feel dari sebuah acara tidak mudah memang. Bagi siapapun yang tidak secara jiwa ikhlas terlibat ber-volunteer ria dengan kegiatan komunitas, feel-nya sulit didapatkan. Tapi semanagt volunteerism inilah yang kemudian menyatukan barisan laskar Rainbow for Peace, dengan sebuah niat demi karya bersama-sama bagi perdamaian pemuda dan kesadaran kebhinnekaan di Jogja dan Indonesia.


Syukur alhamdulilah banyak support positif dari teman-teman di luar komunitas, dan mereka membantu baik berupa finansial seadanya ataupun tenaga sebagai tim kerja bersama kami. Kami yang tidak punya modal dana, tapi hanya modal ide-ide kreatif, terus bergerak dengan keyakinan bahwa karya Rainbow for Peace bisa menjadi karya bagi pemuda sehingga siapaun bisa mendukungnya secara bersama-sama.

Empat

Jreng..... TM Rainbow for Peace pun dimulai, bertempat di GPS UGM. Teman-teman peserta yang datang hampir 70 persen. Wow, luar biasa! Ini passion yang harus tetap dijaga bagi semua pemuda di Indonesia. Saya yang menyaksikan sendiri mereka berlatih sangat terharu dan yakin bahwa acara ini telah menghidupkan semangat dan sekaligus memberikan mereka ruang untuk mengekspresikan kebhinnekaan. Tinggal 2 hari lagi menuju puncak, 21 September!

Lima
Foto: Alam Surya Anggara
Dan..... manusia-manusia pelangi itu pun memadati Nol Kilometer sejak pukl 14, hari Jumat, 21 September 2012. Sebentar lagi lingkaran pelangi manusia itu akan kita saksikan bersama-sama. Tak sabar pastinya saya ingin segera menikmati pemandangan pertama di Indonesia itu. Meski sebelum itu, Pak Polisi sempat marah-marah sama panitia karena menurut versi Pak Polisi dikirain Lingkarang Pelanginya itu pas pukul 14. 00. Padahal tidak, acara falshmob-nya itu pukul 16.00 dan di rundown sudah ada. Mungkin Pak Polisi aja tidak baca rundown kami, atau mereka pingin menyapa kami dengan caranya. Saya, Zita, dan Eny keluar dari kantor Polisi di Nol Km dengan senyam-senyum, meski di hati kecapaian juga.
Foto: Junaedi Ghazali

Kami bertiga, sekitar pukul 14.30 di kantor Pak Polisi bersepakat bahwa pukul 14. 00 teman-teman peserta sudah masuk dalam lingkaran, dan 30 menit kemudian jalan raya Nol Km sudah bersih dari lingkaran pelangi. Wuihh... Pak Polisi emang selalu tegas. Thanks Pak sudah mendukung.
Dan betul, 5 menit sebelum pukul 16.00, Zita sebagai Sei Acara sudah mengomando peserta masuk ke dalam lingkaran. Dan di situlah proses pembuatan pelangi itu. Tapi sayang sekali sodara-sodara saya tidak bisa menontonya langsung karena saya harus menjaga tas titipan peserta yang menumpuk di belakang panggung. Anak-anak Cubuy yang sebelumnya bertugas jaga tas pada berangsek ke dekat titik dimana proses pembuatan lingkaran pelangi mulai dibentuk. Okay saya mengalah dan menjaga tas. Saya bisanya cuma ngeliat dari atas panggung, lumayan jauh dan tidak jelas tapi sangat puas karena acara ini berjalan dengan semarak berat, dan semua orang happy!

Terima kasih teman panitia, volunteer, dan semua personal ataupun instansi yang sudah mendukung. You're the rainbow! See you next year, dear peacemakers!

Link acara Rainbow for Peace: Radar Jogja, Dikpora, dan ini!

Saturday, September 22, 2012

Seru Damai Lewat Flash Mob Pelangi

Tulisan ini digunting dari Koran Radas Jogja.
 
JOGJA - Meningkatnya aksi kekerasan di Indonesia membuktikan rendahnya toleransi. Terlebih, konflik yang terjadi dilatari berbagai sebab terkait banyak hal seperti suku, ras, hingga agama.

Terkait Hari Perdamaian Internasional, Peace Generation mencoba menyerukan aksi damai lewat Gerakan Pelangi Manusia (Flash Mob) di Titik Nol Kilometer Jogjakarta kemarin (21/9). Lewat acara bertajuk The Rainbow is You tersebut, komunitas yang bergerak di bidang resolusi konflik dan perdamaian di kalangan anak muda ini, mencoba menyerukan aksi damai lewat aneka kegiatan. Di antaranya, pertunjukkan musik, tarian tradisional, komedi, sulap, hingga Flash Mob. 


Penanggung Jawab Peace Generation B.J. Sujibto menyatakan, Flash Mob Pelangi menjadi salah satu cara untuk menyerukan aksi perdamaian. Terlebih ketika melihat fakta yang terjadi di Indonesia saat ini. 


Friday, September 21, 2012

Gerakan Manusia Pelangi Peringati Hari Perdamaian Internasional

Dinas Dikpora Prov. DIY - Menyambut hari peringatan perdamainan internasional yang jatuh pada tanggal 21 september setiap tahunnya, "Peace Generation" suatu komunitas yang bergerak di bidang resolusi konflik dan perdamaian di kalangan anak -anak muda memprakarsai pemuda-pemuda di Yogyakarta untuk mengadakan gerakan lingkaran manusia pelangi.

Rainbow for Peace : The Rainbow is You adalah gerakan pertama di Indonesia , Beda, Muda dan Cinta Damai untuk kebhinekaan Indonesia. Filosofi dari lingkaran pelangi ini sendiri untuk menunjukan suatu kebhinekaan. 

Gerakan Pelangi Manusia: “The Rainbow is You”

DAPAT DITERBITKAN SEGERA
SIARAN PERS
Perayaan Hari Perdamaian:
Gerakan Pelangi Manusia: “The Rainbow is You”

Yogyakarta, 6 September 2012 – Dalam rangka merayakan Hari Perdamaian Internasional yang diadakan setiap 21 September, Peace Generation –sebuah komunitas yang bergerak di bidang resolusi konflik dan perdamaian di kalangan anak muda— akan mengadakan Gerakan Pelangi Manusia Rainbow for Peace: “The Rainbow is You” pada hari Jumat, 21 September 2012, pukul 14.00-17.30 WIB, di Nol Kilometer Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan berupa Flash Mob dan pertunjukkan seni. 150 pemuda akan membentuk lingkaran pelangi di tengah-tengah perempatan Nol Kilometer Yogyakarta dan melakukan flash mob. Sebuah bendera merah putih akan dikibarkan di tengah lingkaran oleh 5 pemuda: waria, Bali, perempuan Muslim, difabel, dan Papua. 20 pemuda akan menjadi pembawa Sandwich Board berisi pesan-pesan perdamaian dan menyebar di sekitar lokasi. 30 pemuda lainnya terlibat dalam pengisi acara di panggung yang merupakan pusat informasi serta tempat penyampaian pesan perdamaian melalui media seni: musik, tari, komedi, sulap, dsb.

The Rainbow is You diharapkan dapat menjadi ajang berkumpulnya pemuda dan komunitas-komunitas pemuda di Yogyakarta untuk saling mengenal dan membangun jaringan dalam semangat kebinekaan dan perdamaian, serta menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa setiap individu adalah bagian dari kebhinekaan dan setiap orang perlu menciptakan perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan.

Kegiatan ini terbuka untuk semua, baik pemuda maupun masyarakat umum. Tanpa biaya. Bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi secara langsung dapat mendaftarkan diri terlebih dahulu pada www.peacegeneration.org. Setiap peserta yang terdaftar akan mendapatkan fasilitas berupa kaos sesuai dengan warna pelangi.
-selesai-

Tentang Peace Generation
Peace Generation merupakan sebuah komunitas yang bergerak di bidang resolusi konflik dan perdamaian di kalangan anak muda (youth). Pada 27 Mei-1 Juni 2002, di Pondok Tingal, Magelang, Komunitas Cinta Damai Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM mengadakan Youth Camp for Democracy and Peace (YCDP). Dalam acara tersebut, baik peserta maupun panitia menyadari akan adanya kebutuhan ruang bagi pemuda untuk mengatualisasikan diri, ide-ide, dan kecintaannya akan perdamaian. Maka mereka pun sepakat untuk membentuk komunitas cinta damai bernama Peace Generation yang saat itu beranggotakan alumni panitia dan peserta YCDP.
Keanggotaan komunitas ini bersifat terbuka. Mereka yang peduli dan mau bekerja untuk perdamaian dapat menjadi bagian dari Peace Generation. Meskipun demikian, melalui kegiatan Peace Camp yang diadakan secara rutin, para alumni program Peace Camp akan secara langsung menjadi bagian dari Peace Generation.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:
Utha, Tim Publikasi, HP: 085729331889, e-mail: peacegeneration.jogja@gmail.com, Laman: www.peacegeneration.org 

Sunday, July 29, 2012

Komposisi Masyarakat Damai

Versi cetak artikel ini dimuat di Jurnal Nasional edisi, 16 Juni 2012

PEKAN ini kita, khususnya para penggiat perdamaian di bumi Indonesia, kembali dikejutkan oleh serangkaian kekerasan yang mendera tanah Papua. Sejak Papua bergabung dengan RI tahun 1960-an, konflik dan kekerasan di Papua tidak pernah selesai hingga hari ini. Beragam modus kekerasan dengan kepentingan masing-masing terus tumbuh dengan bentuk berbeda-beda. Penembakan misterius oleh segelintir kelompok menjadi tantangan baru tentang reproduksi kekerasan yang sengaja didesain sebagai bentuk provokasi demi kepentingan masing-masing kelompok yang bermain di tanah Mutiara Hitam itu. 

Friday, July 20, 2012

Metamorfosa Puasa

#HariPertama

membiarkan
balkon ditingkap angin

desirnya tersimpan
pada jendela terbuka
dan langit melengkung
jadi curah hujan
dari sisik halimun

di sini hanya tanah
pasrah pada basah!

Monday, July 02, 2012

Eskalasi Konflik, Kekerasan dan Bayang-bayang Failed State


Dimuat di Bali Post l Senin, 02 Juli 2012 | BP [Opini]

personal doc. bali post
Eskalasi konflik, kekerasan dan ancaman yang dialami warga negara adalah salah satu indikator kuat tentang negara lemah. Negara lemah selalu bungkam menghadapi eskalasi kekerasan dan konflik yang terus berkecamuk di bawah. Hal itu bisa dilihat dari naiknya angka kriminalitas, terorisme internal negara, konflik komunal dan kekerasan sipil yang drastis.

Negara dalam kondisi demikian diombang-ambingkan oleh segelitir kepentingan kelompok yang bebas memaksakan kehendak dan melakukan kekerasan kepada warga negara, khususnya kelompok minoritas. Sehingga negara tampak seperti sebuah rangka kosong yang pincang dan bahkan melapuk.

Akhirnya kekerasan ibarat sebuah sindrom dalam disordered society. Di tengah kondisi bangsa dan negara yang panik seperti sekarang kekerasan akan menjadi ekstase bagi warga yang tidak terakomodasi rasa aman, kenyamanan sebagai warga negara dan impunitas supremasi hukum. Artinya, masyarakat yang hidup di tengah realitas sosial yang patologis akan tertekan dan merasa tidak puas terhadap realitas lingkungannya. Sehingga penyimpangan-penyimpangan seperti tindak kekerasan demi melampiaskan hasrat bawah sadar mereka akan membentuk ekstase yang tak terkendali.

Melihat fenomena di atas, tidak mengejutkan bila kita menyaksikan hasil riset The Fund for Peace bekerja sama dengan majalah Foreign Policy tentang indeks negara gagal (failed state index) yang meletakkan Indonesia di posisi ke-63, yakni posisi 'dalam peringatan' (warning) atau dalam bahaya (in danger), dari 178 negara yang diriset. Karena kenyataan di bawah, negara kita memang tidak mempunyai orientasi jelas dalam memperjuangkan hak-hak warga sipil. Yang sejauh ini dipraktikkan adalah politik transaksional berdasarkan pada kepentingan-kepentingan kelompok sehingga apparatus state tersandera oleh permainan busuk tersebut.

Kegagalan negara
Kekerasan dalam masyarakat semacam ini muncul dari akar masalah yang kompleks. Di samping sistem pendidikan belum settle, peran negara dalam upaya menciptakan kenyamanan bagi warganya adalah faktor penting yang kerapkali terlalaikan. Akhir-akhir ini ada kecenderungan, seperti digelisahkan sebagian pengamat, Indonesia seperti bukan lagi berdiri untuk kepentingan kesejahteraan warganya. Indonesia seolah meninggalkan warganya yang bernaung di bawah payung Pusaka Pancasila. Ada kepentingan-kepentingan baik kelompok ataupun asing yang selalu menjadi prioritas dalam pengambilan kebijakan. Sehingga negara tidak lebih dari sekadar organisasi yang menjadi boneka bagi kepentingan asing yang telah memanfaatkan sumber daya kekayaan bangsa dan negara Indonesia. Seharusnya, negara menjadi pihak yang musti cepat berbenah di tengah kondisi sosial yang semakin sekarat ini.

Johan Galtung (1975) telah memperkenalkan teori kekerasan struktural (structural violence) yang tampak rumit dan kompleks. Negara sebagai sumber kebijakan sistem sosial masyarakat tentu menjadi pemain penting dalam konteks ini, hingga kekerasan domestik dalam rumah tangga sekalipun. Semua itu, dalam perspektif Galtung, merupakan kekerasan struktur yang secara tidak sadar diabsahkan oleh negara sendiri. Artinya, kebijakan-kebijakan yang diambil negara telah ikut andil dalam memperkeruh realitas sosial masyarkat ketika pemerintah masih mendahulukan kepentingan personal dan pihak-pihak tertentu yang saya maksud di atas. Sehingga tugas 'negara' sebagai negara yang sebanarnya telah gagal dipraktikkan.

Sebagai 'perlawanan' dari kekerasan struktural di atas kita perlu memahami teori spiral of violence sebagaimana dikemukakan Dom Helder Camara (1979). Inti teori spiral of violence adalah bahwa kekerasan selalu memroduksi kekerasan baru. Kekerasan yang paling utama adalah ketidakadilan sosial. Karena itu untuk menghentikan produksi kekerasan, maka yang pertama harus dilakukan adalah menciptakan keadilan sosial itu sendiri. Negara adalah institusi yang paling bertangung jawab dan bisa melakukan semua itu. Namun ironisnya, Indonesia ternyata tidak mau cepat berbenah.

Dalam terminologi Daniel Thürer, seorang profesor hukum internasional di Universitas Zurich, kondisi negara yang demikian dikategorikan sebagai 'negara tanpa pemerintahan' (etats sans gouvernement). Fenomena failed state catatan Thürer dapat diidentifikasi dalam tiga perspektif. Pertama, aspek geographical and territorial dalam internal negara yang bergolak dan negara tidak mampu mengatasinya. Kedua, aspek politikal, yaitu ketidakmampuan sistem politik dalam menangani kekacauan (patologis) dan penyakit negara (seperti korupsi) serta politik kebijakan yang tidak memihak kepentingan rakyat banyak. Di sini pemerintahan seperti menara gading saja. Ketiga, aspek fungsional, yaitu absennya badan fungsi yang bisa merepresentasikan semua kepentingan internal ke dalam level internasional, yang piawai menegosiasi secara bilateral dalam upaya penguatan internal suatu negara di mata negara lain.

Negara kita ternyata hampir semua gagal dalam urusan yang disinyalir Thürer di atas. Bukti bahwa kita masih belum mampu mengatasi stabilitas sosial skala internal bisa dilihat dari berbagai konflik berkepanjangan dan tumbuh silih berganti yang mengancam integrasi sosial kita. Demikian juga dengan lobi luar negeri yang selalu ampuh di bawah diteksi negara-negara sekelas Amerika dan kroni-kroninya. Ketidakberdayaan menjadi teritori pun menjadi misal yang sangat mengenaskan bagi masa depan negara ini.

Stabilitas internal negara yang tidak menentu ini perlahan akan mengancam integrasi NKRI kita. Praktik-praktik ketidakpuasan warga terhadap ketidakadilan kebijakan negara akan marak bermunculan hingga pun dalam praktik sipil-meliter yang makin marak akhir-akhir ini. Bahwa ketidakadilan sosial akan memroduksi pemberontakan sipil, dan pemberontakan sipil akan mengundang represi negara.

Efek domino semacam ini akan membentuk siklus dan terus berputar sebelum negara tangkas mengambil sikap demi kesejahteraan (welfare) dan keamanan warga (rakyat).